Kisah Kasih Anak Santri

Kisah Kasih Anak Santri
Bab 75


__ADS_3

Hembusan nafas berulangkali Asma lakukan. Hari pernikahan yang akan berlangsung beberapa jam lagi. Gaun putih syar'i sudah melekat di tubuhnya. Sepatu kaca bening membungkus telapak kakinya. Asma bagaikan seorang cinderella dalam dongeng, dirinya bagaikan seorang putri yang menunggu sang pangeran.


Hati berdebar dengan detak jantung yang tidak stabil. Acara sakral itu belum di mulai tetapi peluh keringat sudah membasahi wajahnya.


"Aduh ini pengantin udah berkeringat saja. Deg-degan yang Mbak," ujar si penata rias yang langsung membenah riasan di wajah Asma.


"Slow Mbak, jangan tegang. Nanti makeup nya luntur kalau begini."


"Orang tegang sendiri Mas."


"Ih ... jangan panggil Mas dong," protes si penata rias yang tidak terima di panggil Mas, padahal dirinya lelaki. Namun, sedikit gemulai. "Eky, panggil aku Eky," tambahnya.


"Bukannya Iki ya namanya? Kok Eky?"


"Ih ... banyak tanya deh. Eky ya E-Eky."


"Iya Mas Eky."


"Ih, pake Mas lagi." Mata itu melotot dengan tajam.


"Iya, Eky maaf," ucap Asma. Membuat si penata rias senyum kembali.


"Ijab kabul belum di mulai udah deg-degan saja. Gimana nanti malam lihat barangnya yang besar. Haha." Si Eky mulai ngaco.


"Barang apaan Eky?"


"Barang pusaka." si Eky makin tertawa. Asma hanya bengong tidak mengerti apa yang diucapkan si penata rias.


Yusuf baru saja sampai di depan rumahnya. Tidak lupa keluarga yang ikut mengiringi. Berbagai jenis hantaran melengkapi iringan keluarga pengantin. Mereka mulai memasuki rumah yang sudah di rias sedemikian rupa.


Yusuf terlihat tampan. Apalagi dengan tuxedo putih dan peci putih yang melekat di tubuhnya. Usianya yang matang tidak terlihat, mungkin bagi yang baru melihat akan menganggap Yusuf seumuran dengan Asma. Padahal usianya sudah kepala tiga.


"Kak Yusuf tegang ya? Gimana nanti malam."


"Apa hubungannya dengan nanti malam?" Hawa tertawa mendengar jawaban dari kakaknya. Setelah menikah pikiran Hawa jadi berkelana kemana-mana. Mengingatkannya pada awal pernikahan.


"Kenapa senyum-senyum?" tanya Adam penuh curiga.


"Enggak apa-apa Aby."


"Bayangin apa hayoh? Jangan-jangan bayangin nanti malam."


"Aby kok tahu."


"Istri Aby ini jadi mesum ya."


"Biarin. Udah nikah ini," jawab Hawa dengan tawa.


Sambutan bagai sambutan mulai diucapkan. Hantaran yang dibawa sudah diserahkan pada pihak mempelai wanita. Yusuf duduk diantara meja yang akan menjadi saksi tempat diucapkannya kata-kata sakral yang akan mengikat janji suci mereka. Kedua saksi, wali dan penghulu sudah siap.


Dijabatnya tangan Yusuf oleh Anshor. Dengan sekali hentakan Anshor mulai membaca, "Saya nikahkan dan kawinkan Ananda Yusuf Bagaskara Putra dengan putri saya Adinda Nafisa Asma Putri Nabila dengan mahar berupa emas sebesar 20 gram dan seperangkat alat sholat dibayar tunai."

__ADS_1


"Saya terima nikah dan kawinnya Nafisa Asma Putri Nabila dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."


"Alhamdulillah, Sah."


Dalam satu tarikan nafas, dengan lantang Yusuf mengucapkan kata-kata sakral itu. Diiringi ucapan hamdalah dan rasa syukur dari para sahabat dan keluarga. Marwah tidak dapat menahan bendungan air matanya. Untuk kedua kalinya dia menyaksikan pernikahan putra-putrinya tanpa suami disampingnya.


Hawa yang melihat itu langsung memeluk sang ibu karena dia pun merasakannya.


"Pernikahan Yusuf sangat diimpikan oleh papa, Nak. Tapi sayang papa mu tidak menyaksikannya."


"Papa pasti melihatnya Ma. Di surga sana." Marwah semakin terisak. Adam yang melihat kedua wanita itu menangis langsung memberikan dua gelas air minum untuk mereka. Berharap hati mereka berdua tenang.


"Minum dulu Ma. Biar hati Mama tenang," ucap Adam memberikan segelas air minum. Lalu memberikannya pada Hawa.


Marwah mulai berhenti menangis saat melihat Asma dituntun oleh Sherly dan Mira. Wajah cantiknya membuat pangling semua orang terutama Yusuf yang terpana.


"Aby!" tegur Hawa dengan wajah cemberut. Kesal, melihat Adam yang terlalu fokus pada Asma.


"Iya sayang."


"Sayang-sayang. Tadi aja ngeliriknya ke sana. Kenapa cantik ya? Nyesel gak nikahin?"


"Kok ngomong gitu. Aby cuma lihat saja semua orang juga lihatnya ke sana."


"Bohong!" ketus Hawa. Yang merajuk dan melangkah pergi meninggalkan Adam. Semenjak Hamil Hawa semakin besar rasa cemburu. Entah kenapa hatinya selalu kesal melihat Adam melirik wanita lain.


Adam segera melangkah mengikuti istrinya yang masih merajuk.


Hawa berlalu pergi meninggalkan tempat acara. Adam hanya bisa bersabar menghadapi Hawa yang sedang marah. Jika dipikirkan sikapnya seperti anak kecil yang sering marah.


"Lo Adam kemana By?" tanya Khodijah yang tidak melihat putranya.


"Tidak tahu Ummi. Biarkan saja mungkin bersama Hawa."


Dan benar saja sekarang Adam sedang membujuk Hawa. Dengan menyuapi makanannya.


"Makan dulu nanti bayi kita lapar."


"Gak mau."


"Masa cuma masalah itu masih marah. Kita masuk ke dalam yuk? Nanti Ummi dan Mama nyariin."


"Enggak. Bilang saja Aby mau lihat Asma."


"Astaghfirullah." Ternyata masa lalu Adam dan Asma tetap masih membuat Hawa cemburu. Hingga sampai pulang ke rumah Hawa masih diam dan cemberut.


Ummi dan Kiyai pun bertanya ada apa dengan mereka. Sebab selama di tempat acara Hawa hanya diam. Adam tidak mengatakan apa-apa yang hanya bilang jika Hawa sedang PMS.


Adam membiarkan Hawa sendiri. Tidak menyapa, atau menegur. Hingga malam hari Adam langsung tidur tidak membujuk ataupun mengajak Hawa bicara.


Hawa semakin murung menurutnya Adam tidak peka. Padahal Adam hanya ingin membiarkannya saja.

__ADS_1


Tiba-tiba Hawa merasa mual dan pusing. Mungkin karena Hawa belum memakan apapun dari pagi.


"Mm ... Mmm ...." Hawa sudah tidak kuat. Merasa ada sesuatu yang mengganjal kerongkongannya yang ingin segera dimuntahkan. Segera Hawa berlari ke kamar mandi, cairan bening dalam mulutnya langsung keluar hingga mengenai pakaiannya.


Untuk pertama kalinya selama ngidam Hawa merasakan pusing dan mual yang amat hebat hingga tidak bisa berhenti muntah.


"Aby!" Barulah Hawa tersadar jika dirinya sangat membutuhkan Adam saat ini. Mulut yang sedari tadi terkunci kini terbuka lagi memanggil nama suaminya.


Hoek ... Hoek ... Hoek ...


Hawa semakin lemas, perutnya semakin perih hingga ia menangis karena tidak tahan. Suara tangisan itu terdengar hingga membangunkan Adam yang tertidur.


"Siapa yang menangis?" tanyanya yang belum menyadari hilangnya Hawa dari tempat tidur.


"Astaghfirullah Hawa!" Adam segera berlari ke arah kamar mandi. Menghampiri Hawa yang masih memuntahkan isi dalam perutnya.


"Pelan-pelan jangan dipaksakan." Dengan sabarnya Adam memijat tengkuk leher istrinya hingga Hawa mulai merasa membaik. Adam segera memangku tubuh Hawa yang mulai melemah itu ke atas ranjang.


Adam mengambil air hangat untuk diberikan pada Hawa. Namun, setelah minum Hawa malah menangis.


"Kenapa menangis? Masih ada yang sakit?"


"Aby tega, Hawa panggil-panggil malah tidur."


"Ya Allah, maafkan Aby ya ... maaf sekali. Tadi Aby ketiduran. Maaf ya sayang." Adam mengecup kening Hawa lalu menghapus air matanya."


"Jangan nangis ini sudah malam nanti kedengaran Ummi."


"Aby marah?"


"Enggak. Bukannya kamu yang marah sama Aby."


"Terus kenapa Aby gak ngomong-ngomong."


"Kapan? Hawa saja yang banyak diemin Aby. Ya sudah Aby tidur saja." Kata Adam yang diiringi tawa membuat Hawa malu jadinya.


"Aby, lapar."


"Astaghfirullah. Aby baru ingat kamu belum makan. Sebentar Aby ambilkan dulu."


"Emang Aby mau masak apa?"


"Tunggu saja," ucap Adam dengan senyuman lalu melangkah pergi keluar kamar. Saat kembali Adam membawa satu potong kue brownis dan salad buah. Adam sengaja membawanya saat di acara pernikahan kakak ipar. Karena Adam tahu jika Hawa menginginkan makanan itu tetapi karena gengsi dan marah membuat Hawa tidak nafsu makan.


"Bukannya itu ...."


"Mm ... mau tidak? Kalau tidak mau ya sudah Aby habisin."


"Jangan. Hawa mau tapi suapin."


"Iya, ini Aby suapin." Kini Hawa tersenyum kembali. Begitupun dengan Adam yang senang karena Hawa tidak lagi marah.

__ADS_1


__ADS_2