Kisah Kasih Anak Santri

Kisah Kasih Anak Santri
Bab 58-


__ADS_3

Maaf ya, kemarin bab 57 ada kesalahan copy. Dan maaf masih ada typo karena author tulis pakai handphone jadi suka ada yang tertekan huruf lain. Makasih juga buat reader yang sudah komen dan ingatkan kesalahan auhtor 🙏. 


Bab 57 sudah di revisi ya silahkan baca lagi 🙏. 


**********************************************


Ummi Khodijah dan para santriwati segera menghampiri. Membantu wanita itu untuk berdiri. Dari sebagian mereka membawa selimut yang sengaja di tutupi pada tubuh wanita itu. Menyadari para santrinya yang melihat.


"Tenang ya Mba di sini aman."


"Terimakasih," ucap wanita itu lalu mendongak, memperlihatkan wajahnya. Hawa terkejut mengenal jika itu temannya.


"Mira!" 


Wanita itu adalah Mira teman sekolahnya. Namun, bagaimana Mira bisa ada di tempat ini. Area pondok yang jauh dari kotanya. 


Flashback On


"Dia ngajakin gue ketemuan!" 


Girangnya Mira saat mendapat DM dari seorang pria yang dia kenal dari akun sosmednya. 


Sosmed ( sosial media ) siapa sih anak muda yang tidak mengenal sosial media. Instagram, facebook, dan masih banyak aplikasi-aplikasi canggih lainnya yang digunakan saat ini. 


Yang memudahkan mereka untuk bersosialisasi. Mendapat teman baru atau bertemu saudara yang jauh dari tempatnya. 


Tidak hanya saling membalas pesan. Merekapun bisa melihat rupa dan wajah yang berteman dengannya. Bisa juga melihat keseharian yang dilakukan teman-temannya. 


Seperti Mira yang baru satu minggu ini mendapat teman baru dari akun instagramnya. Seorang pria yang tampan dan bergengsi tentu akan membanggakan jika Mira memperkenalkan pada kawannya. 


Apalagi saat melihat story-Nya yang membuktikan jika pria itu adalah orang hebat dan keren sempurna baginya. Dengan mudahnya Mira dibujuk untuk bertemu dengan pria itu. 


Dia tidak memikirkan apakah pria itu baik atau tidak. Karena tidak sedikit orang menyalahgunakan akun sosmed untuk kepentingan sendiri dan tidak sedikit dari mereka yang tertipu karena dibodohi.


Saking antusiasnya Mira menyetujui ajakan pria itu begitu saja. Tidak peduli tempat pertemuan mereka jauh dari kotanya.


"Bogor." 


Ya! Pria itu mengajaknya bertemu di kota Bogor. 


Mira sempat mengajak Sherly untuk menemaninya. Namun, Sherly tidak bisa karena hal lain. 


Mira sudah bersiap-siap merias wajahnya dengan cantik. Tidak lupa busana yang digunakan trendy. Namun, tidak menjaga penampilannya yang selalu terbuka. 


Rok mini, serta jaket jeans yang menutupi tank top nya. ( Kaus tanpa lengan ). Tas dan kunci mobil disambarnya di atas nakas lalu pergi.

__ADS_1


Tanpa rasa takut Mira pergi ke kota Bogor menggunakan mobilnya. Mereka bertemu di suatu tempat, seketika dirinya terhipnotis pada pria itu yang memang sangat tampan. Hingga Mira menurut apa saja kata pria itu. 


Menyerahkan kunci mobilnya lalu membawanya ke tempat yang jauh dari kota menuju puncak. Semakin memasuki puncak jalanan terlihat sepi, barulah Mira menyadari dan mulai curiga. 


Ternyata pria itu berniat mencuri mobilnya. 


"Kenapa kita berhenti di sini?" 


"Ini tempat yang nyaman untuk kita berdua sayang." 


"Apa si loh! Berani nyentuh gue." Mira marah, saat pria itu memeluknya tanpa izin. 


Namun, amarahnya itu membuat emosi si pria semakin memuncak. Mira semakin berteriak saat pria itu menariknya dengan paksa. Apa dia akan di perk0sa? Mungkin saja. Mustahil jika pria itu tidak tergoda dengan tubuhnya. 


"Tolong!" 


"Diam!" 


Hanya kata tolong yang bisa Mira teriakan. Namun, tidak ada satupun yang datang menyelamatkannya. Keadaan sangat sepi Mira segera berlari menjauh. Tidak peduli tubuhnya kini hanya mengenakan tank top. 


Angin malam yang menusuk kulitnya seakan tidak terasa, langkahnya terus berlari tidak peduli pada harta miliknya yang tertinggal. 


Berharap pria itu tidak mengejar, tetapi … Mira semakin gemetar saat senjata tajam melengkung diayunkan oleh pria itu. Yang ada dalam pikirannya saat ini adalah kematian.


Mungkinkah ajal akan menjemputnya? Tidak. Tentu saja Mira tidak ingin mati di tangan pria itu. 


Mira sangat bingung. Tempat itu terlalu asing. Sedetik netra nya melihat jalanan kosong, sunyi, mengingatkan ya pada Hawa. Dulu saat akan pergi menonton konser Mira ingat betul ini jalan ke tempat Hawa mondok. 


"Hawa."


Segera ia berlari menuju pondok pesantren Annur. 


"Tolong! Tolong!" 


Dengan nafas yang tersengal-tersengal Mira terus teriak dan berlari. 


"Tolong! Tolong!" 


Teriakannya semakin keras. Berharap ada seeorang yang muncul, menolongnya.


"Masuk Mbak ke sini!" teriak Adam.


Mira mulai tenang. Akhirnya ada orang yang mendengar teriakannya. Segera ia berlari memasuki pondok hingga lupa keadaan tubuhnya yang sekarang. Namun, Mira tidak peduli. Dari pada mati di tangan pria itu lebih baik menahan malu. 


Flashback Off

__ADS_1


Mira di bawa ke rumah Kiyai. Hawa membawa ke dalam kamarnya. Tubuhnya masih bergetar di tengah malam yang dingin Mira harus membersihkan diri dengan mandi. Tidak lupa Hawa memberikan pakaiannya yang pernah di bilang kuno oleh Mira.


Hawa tidak menyangka jika temannya akan mengalami hal buruk seperti itu. Namun, Hawa bersyukur temannya masih selamat.


"Minum dulu Mir." Hawa memberikan segelas air hangat. Diseruputnya oleh Mira. 


"Terimakasih." Mira menyimpan kembali cangkir itu setelah meneguknya.


"Mir, seharusnya kamu tidak percaya dengan pria itu. Sekarang banyak orang yang menipu. Masih beruntung kamu tidak sampai di lecehkan."


"Hampir. Hampir terjadi Hawa. Sebenarnya bukan masalah itu. Tapi … pria itu memilki senjata. Aku takut jika aku akan mati sekarang." 


"Sekarang kamu sudah selamat. Tenang ya, ada aku di sini." Peluk Hawa dengan Hangat, seraya mengusap lembut punggung Mira. 


"Kamu tahu gak Mir, apa penyebabnya pria itu tidak bisa menahan godaan dari tubuhmu. Coba lihat pakaian yang kamu pakai. Sangat mengundang nafsu."  


Hawa membeberkan pakaian setengah jadi itu padanya. Mira merenung, apa benar pakaiannya itu mengundang nafsu. Namun, Mira merasa nyaman saat memakai pakaian syari yang menutup tubuhnya. 


"Wa, bagaimana menurutmu tentang pakaian ini?" 


"Kenapa? Ya tentu cantik. Awalnya aku juga tidak betah tapi lama-lama semua terasa nyaman. Kamu pasti bisa kok. Coba perlahan." 


Mira merasa malu mengingat dulu pernah menghina pakaian itu.


"Tapi … apa tidak akan diejek? Teman-teman kita tidak memakai pakaian seperti ini." 


"Di kota kita mungkin pakaian ini terlihat biasa saja, kuno dan aneh. Tapi di tempat ini mereka akan menghormati dan lebih menghargai wanita yang menutup auratnya. Kamu tahu tidak kenapa wanita muslim harus menutup aurat memakai hijab?" 


Mira hanya menggeleng.


"Di sini ada dua pakaian." 


Hawa menghamparkan satu pakaian terbuka yang sempst Mira pakai. Dan pakaian syar'i nya yang Hawa letakkan di atas kasur. Mira masih diam memperhatikan apa yang akan Hawa lakukan. 


"Menurutmu laki-laki akan lebih menyukai pakaian mana?" 


"Inilah Wa." Tunjuk Mira pada pakaiannya. "Lebih trendy," lanjutnya.


"Benar apa yang kamu bilang. Tentu saja lelaki akan memilih pakaian ini. Kamu tahu kenapa? Yang mereka lihat bukanlah pakaiannya tapi … tubuh di balik pakaian ini. Yaitu tubuh kita yang kita perlihatkan. Tidak ada lelaki yang tidak tergoda melihat paha mulus, kaki halus, dan dada yang menonjol. Mereka pasti mendekat agar bisa menyentuhnya. Tapi … jika kamu memakai pakaian ini." Tunjuk.Hawa pada baju syar'i nya. 


"Jangankan laki-laki, perempuan saja akan menunduk hormat. Lebih menghargainya. Mereka tidak akan semudah itu mendekat, karena ada pakaian ini yang menghalangi. Membuat mereka malu." 


Mira tertegun. Hawa, memakaikan hijabnya untuk Mira. Mira menatap takjub dirinya pada cermin. 


...----------------...

__ADS_1


Terimakasih yang selalu stay menunggu update dari thor tiap hari. Jangan lupa like, vote, komentar dan hadiahnya makasih 🙏


__ADS_2