
"Anak-anak kita istirahat dulu," ujar Soleh setelah mengintruksikan supir bus untuk berhenti di sebuah rumah makan.
"Apa kita mau makan di sini juga Ustad?" tanya salah seorang santri.
"Iya, alhamdulillah kita dapat hadiah dari pimpinan pondok yang akan traktir kita semua."
"Wah! Asyik dong."
Mereka semua bersorak ria, dengan penuh semangat mereka turun dari bus memasuki rumah makan yang memang sudah di booking oleh Adam sebelumnya.
Ustadzah Lili cukup terkejut saat kedatangan mereka semua. Semua santri berbondong-bondong masuk ke dalam rumah makan hingga acara makan Lili pun terganggu.
"Kalian kok bisa ada di sini?"
"Ya mau makanlah Ustadzah. Kapan lagi makan enak."
"Iya, Ustadzah curang, makan sendirian saja," ucap para santri. Lili mencari-cari keberadaan Adam yang sama sekali tidak terlihat.
"Ustadz Adam kemana ya? Kok ke kamar mandi lama sekali."
"Ustadzah Lili cari siapa? Ayo masuk kita makan sama-sama," ajak Soleh yang mendorong Lili untuk kembali ke tempat duduknya. Lili pun sangat marah karena merasa di paksa.
"Apaan sih Ustad dorong-dorong!"
"Maaf, maaf. Saya terlalu bersemangat." Soleh memberikan alasan. Mata Lili mendelik tajam dengan kesal masuk ke dalam rumah makan itu.
"Hawa, bangun." Aisyah menepuk-nepuk bahunya. Karena lelah tanpa terasa Hawa tertidur, tubuhnya menggeliat lalu mengucek kedua matanya.
Hawa masih merasa nyaman tertidur di atas kursi bus, sehingga tidak rela jika harus terbangun.
"Sudah sampai ya?" tanyanya.
"Belum, kita istirahat dulu. Anak-anak sudah pada turun, Ustadz Soleh ngajakin kita makan," tutur Aisyah.
"Iya Wa, ayo cepat." Asiyah ikut menimpali.
"Malas ah, gak lapar. Kalian saja turun aku mau tidur lagi."
"Hawa, kamu gak boleh gitu ayo." Asiyah dan Aisyah menarik kedua tangan Hawa agar Hawa terbangun dari bangkunya.
"Ih, lepasin. Iya aku turun tapi jangan di tarik kaya gini."
"Nah, gitu dong."
Mereka berdua melepaskan tangan Hawa, lalu pergi lebih dulu. Hawa berjalan malas, baru saja ia turun dari bus tiba-tiba sebuah motor berhenti di depannya.
Motor sport yang di kendalikan seorang pemuda tidak lain adalah Adam. Adam membuka kaca helmnya yang hanya memperlihatkan matanya saja.
Hawa masih tercengang, kenapa tiba-tiba Adam ada di depannya.
"Ayo naik," titah Adam. Namun, di tolak oleh Hawa.
"Tidak!" Hawa masih ingat bagaimana Adam meninggalkannya saat di tempat lomba.
"Hawa Aqila Putri!"
"Ngapain suruh naik, bukannya tadi di tinggal. Pergi saja sana."
__ADS_1
Adam mengerti saat ini Hawa masih marah.
"Baiklah, aku minta maaf nanti aku jelaskan sekarang kamu naik dulu."
"Tidak!" Mata Hawa mendelik.
"Ya sudah kalau kamu tidak mau. Tadinya aku mau ngajak kamu jalan-jalan dulu ada bukit indah di sekitar sini."
"Bukit?" Hawa mulai berpikir, sepertinya Hawa mulai tertarik.
"Gak akan di tinggal lagi 'kan?" Tatap Hawa penuh selidik.
Adam membuang nafasnya kasar lalu berkata, "Tidak akan calon istri ku."
"Jangan panggil seperti itu nanti ada yang dengar."
"Lo, kenapa? Memang benar 'kan."
"Sudah ah, cepat jalan bawa aku ke bukit indah itu."
Tanpa di titah Hawa langsung naik ke atas motor Adam. Seketika senyum Adam mengembang, motorpun Adam lajukan secepat mungkin membelah jalanan sunyi dengan pemandangan yang begitu indah dan asri.
Semua santri sibuk menikmati makanannya begitu dengan Soleh. Ustadzah Lili masih celingukan mencari Adam yang belum terlihat lagi.
"Ustadz Adam kemana ya?" gumamnya. Namun, terdengar oleh Soleh.
"Ustadz Adam sudah pulang duluan, katanya ada urusan."
"Kenapa tidak bilang dari tadi Ustadz?"
Lili memandang kesal. Bisa-bisanya Adam pergi tanpa memberitahunya.
"Ustadz Hawa tidak ada," ujar seorang santri membuat Lili terbelalak. Lili yakin jika Hawa sedang bersama Adam saat ini.
"Mungkin Hawa sudah pulang juga. Kalian makan saja habiskan sebentar lagi kita pulang," tutur Soleh. Merekapun kembali menikmati makanannya.
****
Hawa baru saja sampai di bukit indah sebuah tempat wisata yang banyak di kunjungi. Mereka tidak datang ke tempat yang sepi yang hanya ada mereka berdua saja.
Tapi Adam membawa Hawa ke tempat yang ramai.
Sebuah bukit yang sangat indah, siapapun yang mendatanginya akan terpesona dengan kebesaran Allah.
Dari ketinggian 5 meter mereka bisa melihat gunung-gunung yang di selimuti awan. Hamparan pohon cemara berjajar rapi di sana. Daun-daun yang hijau menyejukkan siapapun yang berteduh di bawahnya.
Tidak sedikit dari mereka mengabadikan momen ini. Sebuah benda pipih mereka angkat ke udara mengambil lebih banyak potret mereka. Berbagai gaya mereka tampilkan, senyuman indah bersama orang terkasih.
"Indah sekali."
"Inilah kebesaran Allah. Tidak ada yang melebihi ciptaannya. Gunung-gunung yang tinggi terlihat kokoh sangat mengagungkan, pohon-pohon yang tumbuh hijau dan tinggi melindungi kita dari panas. Ciptaan Allah yang paling di kagumi. Lihatlah mereka." Tunjuk Adam pada sekumpulan anak muda yang memotret diri mereka, dengan latar belakang gunung dan awan.
"Tapi, ciptaan yang indah itu akan sangat menakutkan jika sedang marah."
"Memangnya gunung bisa marah?" tanya Hawa polos.
"Kenapa tidak? Gunung, awan, laut, berhak marah pada manusia yang tidak taat lagi pada Robbi mereka. Allah SWT adalah pemilik semesta ini. Bumi, dan langit. Semua ciptaannya akan tunduk padanya."
__ADS_1
"Tapi bagaimana cara gunung marah? Mereka bukan manusia yang punya perasaan akan marah saat tersinggung, atau menangis saat terluka."
Adam, tersenyum tipis.
"Coba lihat dan bayangkan, abu panas, lahar api, dan guncangan dahsyat yang akan kita rasakan. Itu adalah salah satu kemarahannya dan kamu bisa bayangkan para manusia yang kini tersenyum mereka berlari ketakutan, menangis, memohon pertolongan. Naudzubillah."
"Itu musibah, dan gunung yang aktif akan meletus kapanpun. Bukan karena marah atau tidak."
"Musibah adalah sebuah teguran dari Allah untuk hambanya. Jadi kita harus menjaga bumi ini dengan baik jangan menodainya."
"Sudahlah jangan mengatakan tentang musibah. Sekarang foto aku."
"Foto? Mana ponselmu."
"Aku tidak membawa ponsel, pakai ponselmu saja Ayo!"
Dengan malasnya Adam mengambil ponsel dalam sakunya. Di arahkannya pada Hawa yang kini sedang berpose sekeren mungkin.
Hijab syar'i yang beterbangan di terpa angin membuat hasil foto lebih cantik lagi.
"Ustadz mana ponselnya. Sekarang kita foto berdua."
"Tidak! Aku tidak mau foto."
"Sayang sekali tempatnya indah begini. Masa tidak di foto, sini kameranya."
Hawa langsung merampas ponsel milik Adam lalu mengambil potret mereka berdua.
Adam, tersenyum masam memandangi layar ponselnya. Menatap cantiknya seorang wanita yang ada dalam foto itu.
"Masyaallah tabarakallah."
Suara Kiyai mengejutkannya. Membuat Adam langsung menurunkan ponselnya.
"Aby!" Kiyai hanya tersenyum lalu duduk di samping Adam.
"Jangan lama-lama menatapnya nanti kamu khilaf. Kapan kalian foto berdua? Aby tidak tahu."
Adam mendadak gugup.
"Hm … maaf Aby. Adam terpaksa karena Hawa, yang langsung memotret bukan Adam."
"Kalian pergi berdua? Aby dengar kemarin kalian sampai hilang dari rombongan. Aby percaya kamu tidak akan melakukan hal yang melarang agama. Kalian memang sudah bertunangan tapi … jika kalian pergi berdua seperti itu, Aby takut mendatangkan fitnah."
"Kami pergi ke tempat ramai bukan yang sepi. Dan kami tidak hanya berdua masih banyak orang lain."
"Iya, Aby tahu. Tapi jika seperti itu akan banyak orang yang tahu hubungan kalian berdua. Dan Aby tidak akan bisa lagi menutupinya. Kalian belum sah menjadi suami istri Aby takut akan ada fitnah baru lagi yang datang."
"Maafkan Adam Aby. Adam tidak akan melakukannya lagi."
"Adam, setelah Aby pikirkan pernikahan kalian harus di segerakan." Mata Adam terbelalak seketika.
...----------------...
Hayo Adam, gimana tuh! bisa-bisa besok nikah nih. Hehe.
Terimakasih yang masih stay, jangan lupa like, vote, komentarnya ya. Kasih hadiahnya juga dong hehe ...
__ADS_1