
"Yusuf! Yusuf!"
"Ada apa Mah? Kok teriak-teriak?"
Wajah Marwah begitu bahagia setelah mendapatkan kabar dari Khodijah tentang kehamilan Hawa. Namun, Yusuf belum mengetahuinya karena baru saja pulang dari kantor.
"Kenapa senyum-senyum Mah?" Yusuf menatap curiga pada ibunya. Baginya tingkah ibunya sangat aneh. Riang dan sangat ceria.
"Alhamdulillah, sebentar lagi kamu jadi paman dan Mama jadi nenek." Yusuf tertegun sesaat. Mencoba memahami apa yang Marwah katakan.
"Apa Hawa hamil?" tanyanya yang menatap sang ibu. Marwah pun mengangguk sambil tersenyum.
"Serius Ma Hawa hamil?"
"Mama baru saja dapat telepon dari Bu Khodijah."
"Alhamdulillah. Kalau begitu kita harus ke pondok sekarang."
"Iya. Tapi kamu baru pulang. Mandi dulu."
"Iya Mah."
"Kamu seneng mau punya ponakan?"
"Ya senenglah Mah."
"Lalu kapan kamu mau nikah?" Lagi-lagi itu yang Marwah tanyakan. Yusuf jadi bosan.
"Yusuf mandi dulu ya Mah," ucap Yusuf yang langsung melangkah menuju kamarnya demi menghindari pertanyaan itu.
"Dasar. Di tanya kapan nikah malah kabur," gerutu Marwah.
*****
"Pelan-pelan turunnya," ujar Adam saat Hawa akan turun dari motornya.
"Aby sih … pake motor. Kenapa gak pake mobil saja. Motornya tinggi lagi."
"Kan mobilnya di pakai Abah sama Ummi."
"Beli!"
"Iya, kalau sudah ada rezekinya nanti Aby beli."
Hawa benar-benar tidak bisa menahan ucapannya. Bagaimana jika Adam merasa tersinggung. Namun, kesabaran Adam sangat luar biasa yang tetap tersenyum walau istrinya terus menggerutu.
Hari ini Adam membawa Hawa ke bidan terdekat. Karena rumah sakit sangatlah jauh. Adam hanya ingin memastikan benar apa tidak jika istrinya sedang hamil dan berapa usia kandungannya.
Merekapun berjalan memasuki klinik itu.
"Ayo sayang." Adam selalu menuntun tangan Hawa untuk berjalan.
*****
"Usia kandungannya sudah 4 minggu ya pak. Alhamdulillah janinnya sehat, dan ibunya juga sehat. Tolong diperhatikan saja pola makannya dan jangan terlalu capek," ujar seorang bidan yang sudah memeriksanya.
"Iya Bu."
"Tuh 'kan By. Ini pasti gara-gara Aby keluarin di dalam," bisik Hawa yang mengingat saat malam sunahnya setelah masa haidnya berakhir.
Sudah pasti itu waktu subur baginya dan Adam lupa mengeluarkan cairan vanilanya dan malah mengeluarkannya di dalam. Bu bidan yang mendengar itu langsung tersenyum.
"Sekarang 'kan sudah jadi. Masa harus diulang," balas Adam yang semakin ngaur.
__ADS_1
"Ih … Aby."
"Sudah-sudah. Malu tuh sama Bu bidan," tunjuk Adam pada bidan di depannya yang tersenyum.
"Ini saya berikan vitamin tolong diminum setiap harinya," ujar Bidan itu yang memberikan beberapa obat.
"Bu, apa boleh jika kami melakukan hubungan suami istri saat istri saya hamil? Apa itu tidak akan berpengaruh?"
"Boleh-boleh saja asal jangan terlalu sering. Disarankan 3 kali dalam seminggu. Dan jangan aneh jika Mba Hawa selalu meminta. Karena meningkatnya hormon progesteron dan estrogen yang cukup drastis. Hal itu membuat ibu hamil jadi lebih bergairah dalam melakukan hubungan intim," jelas Bidan.
Hawa menjadi malu karena sindiran bidan itu.
"Ih … Aby. Ngapain sih tanya gitu malu tahu." Seketika bidan dan Adam pun tergelak. Hawa sangat lucu.
Setelah lama bercengkrama Adam dan Hawa pun pamit meninggalkan klinik itu.
"Kita langsung pulang ya? Nanti Mama dan Kak Yusuf keburu sampai."
"Tunggu dulu By."
"Ada yang mau dibeli?"
"Iya sih By. Hawa mau martabak By kayanya enak deh."
"Martabak?"
Adam dibuat bingung lagi. Soalnya tidak ada tukang martabak di siang bolong. Biasanya mereka akan buka pada sore hari. Namun, demi Hawa Adam akan mencarinya.
Sepanjang jalan tidak Adam lihat penjual martabak. Yang ada hanya gerobaknya saja. Hawa sudah kesal dan juga kepanasan karena mengelilingi kota menggunakan motor.
"Kita berhenti dulu ya."
Adam segera menghentikan motornya. Berteduh di sebuah warung. Wajah keduanya sudah memerah karena terik matahari.
"Ini minum dulu," ucap Adam yang memberikan sebotol air mineral. Hawa pun meneguknya.
"Besok saja ya kita cari. Atau nanti malam saja. Sekarang tidak ada yang jual martabak."
"Ih … Aby. Hawa maunya sekarang. Malam kelamaan."
Dimana lagi Adam harus mencari penjual martabak. Hampir semua membuka tokonya dari sore hari. Tetapi Hawa tetap kekeh.
Suara deringan ponsel membuyarkan lamunan Adam. Segera ponsel itu ia ambil dalam sakunya. Ternyata dari Yusuf. Sudah bisa dipastikan mereka sudah sampai di pondok.
Adam menjawab panggilan itu yang mengatakan jika Hawa ngidam martabak dan tidak ingin pulang sebelum menemukannya.
"Adam lebih baik kamu bawa pulang saja Hawa. Biar nanti kakak bantu carikan. Jika siang-siang begini tidak akan ada yang buka."
"Adam akan coba bujuk Hawa semoga mau pulang."
"Ya sudah, kalau ada apa-apa hubungi kakak."
"Iya, kak terima kasih."
Sambungan telepon pun di tutup.
"Ada apa Suf? Dimana Hawa?" tanya Marwah setelah Yusuf mematikan teleponnya.
"Belum mau pulang. Lagi cari martabak katanya. Hawa ngidam.
"Lo emangnya ada yang buka?"
"Nah itu. Tidak ada."
__ADS_1
"Kasihan Adam."
*****
Yusuf berkeliling pondok seraya menunggu kedatangan Adam. Langkahnya terhenti saat di depan asrama putri. Sedetik lirikan matanya tertuju pada satu pintu yang diyakini kamar Asma.
Entah kenapa Yusuf rindu dan ingin bertemu Asma. Dalam waktu bersamaan Asma keluar dari kamarnya. Berjalan menyusuri setiap kamar santri hingga saat ingin berbelok. Pandangan matanya tidak sengaja bertemu dengan Yusuf.
Mereka berdua langsung menurunkan pandangannya setelah sadar yang mereka lakukan. Yusuf merasa canggung dan Asma merasa malu.
"Lo kemana kak Yusuf?" tanya Asma dalam hati. Saat mendongak Asma sudah tidak melihat Yusuf lagi di tempat itu.
Ada rasa kecewa. Namun, tidak tahu apa arti rasa itu.
"Ya Allah Asma. Tidak mungkin kak Yusuf ada di sini. Mungkin saja itu bayanganmu." Asma mengira jika itu hanya bayangan semata.
Tanpa dia tahu Yusuf masih berada di sana, bersembunyi dibalik tembok.
"Kenapa juga aku ngumpet?" pikir Yusuf yang merasa heran pada dirinya.
*****
Akhirnya berkat tukang warung Adam bisa bertemu dengan penjual martabak. Dan kini mereka menunggu martabak itu selesai dibuat.
Aroma pisang dan keju membuat Hawa lebih semangat. Rasa lelahnya seketika hilang.
"Maaf ya Bang, saya jadi ganggu." Mohon maaf Adam pada penjual martabak.
"Tidak apa-apa Pak. Namanya juga ngidam kasihan jika tidak di turutin."
"Iya Bang."
"Ngomong-ngomong anak ke berapa?"
"Anak pertama Bang."
"Wah, alhamdulillah semoga sehat bayinya. Yang sabar ya orang ngidam itu banyak maunya. Kadang ngeselin juga. Seperti saya dulu harus naik pohon orang demi mendapatkan buah yang dipetik langsung dari pohonnya."
"Sulit juga ya Bang."
Ternyata Hawa mendengarkan curhatan para lelaki itu. Namanya juga orang hamil setiap mendengar apa saja, akan selalu mau.
"Buah mangga Bang?" tanya Hawa. Abang penjual itu hanya mengangguk.
"Hawa juga mau dong By. Dipetik langsung dari pohonnya kayanya enak."
Mata Adam terbelalak. Belum juga selesai menghabiskan satu martabak sudah menginginkan makanan lain.
"Sayang, nanti ya. Kita 'kan sedang nunggu martabak matang."
"Ya Aby dong yang cari. Biar Hawa saja yang nunggu martabak."
"Astaghfirullah." Dengan entengnya Hawa berkata. Adam semakin dibuat pusing. Beruntung si penjual martabak siap membantu mengantarkan pada tetangganya yang memiliki pohon mangga.
Namun, Hawa ingin makan buah itu langsung di bawah pohonnya. Terpaksa Adam membawa Hawa ke tempat itu. Adam merasa gelisah karena membawa Hawa dengan motornya. Jalan seharian mengelilingi kota.
Hingga Adam menghubungi Yusuf agar datang. Mereka bertukar kendaraan. Yusuf mengendarai motornya dan Adam membawa Hawa pulang dengan mobil.
Adam tersenyum tenang saat melihat wajah teduh Hawa sedang terlelap.
"Sepertinya aku butuh mobil sekarang. Karena tidak mungkin membawa Hawa naik motor terus. Kasihan nanti kepanasan," ucapnya.
Sepertinya Adam akan mempertimbangkan keinginan Hawa kembali.
__ADS_1