
Bulan madu sudah berlalu. Kini Adam dan Hawa sudah kembali ke pesantren. Hari-hari sudah berlalu kandungan Hawa pun sudah semakin membesar. Kini kehamilannya menginjak 6 bulan perut buncitnya semakin terlihat.
Semakin besarnya usia kandungan Hawa. Adam semakin berpikir jika dirinya harus bisa mandiri, pisah rumah tidak dengan orangtua. Mungkin sebagian orang tahu jika Adam hanyalah anak pemimpin pondok dan seorang ustadz yang mungkin penghasilan nya tidak cukup besar.
Namun, tanpa mereka tahu seorang Ustadz juga ahli dalam berbisnis. Hanya saja Adam tidak terlalu fokus pada bisnisnya memiliki tangan kanan untuk mengurus semuanya. Karena Kiyai Abdullah menginginkan Adam untuk menjadi penerusnya mengurus pesantren.
Tapi sekarang Adam akan mencoba berbicara dengan orangtuanya.
"Aby?" panggilnya pada Kiyai yang sedang membaca kitab. Adam pun duduk di samping Kiyai.
"Adam, ada apa, Nak?"
"Ummi mana By?"
"Tadi izin mau ke pasar. Kenapa memangnya Dam?"
"Begini By, ada yang ingin Adam katakan."
"Tentang apa?"
"Adam mau pindah rumah By."
"Pindah rumah? Kemana?"
"Begini By, sebenarnya Adam sudah merintis bisnis dari dulu. Adam ikut teman Adam membuka usaha yang alhamdulillah sekarang bisnis kami berkembang pesat. Sudah waktunya Aby dan Ummi tahu. Dan Adam berniat untuk membeli rumah. Setelah berumah tangga Adam berpikir untuk tinggal di rumah sendiri dan hidup mandiri. Apalagi sebentar lagi Hawa akan melahirkan akan ada anggota baru di keluarga kami."
Kiyai membuka kacamatanya, di simpan di atas kitab yang baru ia baca. Lalu menatap Adam dengan seksama.
"Aby sudah tahu. Namun, Aby tidak ingin bertanya biar kamu yang mengatakannya pada Aby."
__ADS_1
"Dari mana Aby tahu?" tanya Adam heran.
"Dulu kamu sering pergi dari pondok. Sebagai orangtua Aby merasa cemas, apa yang anak Aby lakukan di luaran sana. Saat itu Aby melihat kamu datang ke sebuah restoran. Aby kira kamu hanya ingin makan ternyata kamu melayani pembeli di sana. Saat itu Aby berpikir kamu bekerja. Hingga hampir setiap hari Aby meminta seseorang untuk memantau dan ternyata kamu adalah pemilik restoran itu. Ada rasa senang pada diri Aby karena kamu sudah mandiri, memikirkan bisnis di usia muda. Dan Aby memutuskan untuk membiarkan semua itu berjalan hingga nanti kamu mengatakannya pada Aby. Saat kemarin kamu membeli mobil kenapa Aby tidak bertanya? Karena Aby sudah tahu pasti uang yang kamu dapatkan dari hasil bisnismu."
"Maaf By, Adam baru mengatakannya. Karena Adam takut jika Aby melarang."
"Aby memang menginginkan kamu sebagai penerus Aby. Mengurus pondok. Tetapi Aby tidak bisa memaksa atau melarang karena kamu pasti memiliki impian mu sendiri. Tetapi, jika nanti Aby tiada jangan pernah kamu abaikan pondok pesantren ini yang sudah didirikan kakek mu dulu. Sampai kapanpun pondok ini harus tetap berdiri."
"Iya Aby. Adam tidak akan mengabaikannya. Bagaimanapun pondok ini adalah segalanya bagi kita. Dan insya Allah Adam punya impian untuk membangun rumah tahfiz Aby. Seperti rumah tahfiz yang Adam dirikan di kairo. Dan sekarang alhamdulillah muridnya semakin bertambah."
"Syukurlah, niatmu sangat mulia." Ditengah obrolan mereka Khodijah datang membawa beberapa barang belanjaan yang di bawa seorang santri ke dapur. Melihat anak dan suaminya sedang duduk santai Khodijah langsung menghampiri.
"Aby sama Adam sedang ngapain?"
"Sini Ummi duduk," ucap Adam. "Kita hanya mengobrol saja Ummi," lanjutnya.
"Ngobrol apaan?" tanya Khodijah setelah duduk.
"Kenapa pindah? Di sini juga luas. Apa Hawa tidak nyaman?"
"Bukan begitu Ummi. Sekarangkan Adam sudah berumah tangga jadi ..."
"Sudahlah Ummi biarkan saja anak kita hidup mandiri," sanggah Kiyai. Lalu menceritakan tentang keberhasilan Adam selama ini membuat Khodijah bangga. Tidak pernah menyangka jika putranya itu memiliki usaha kuliner.
"Kapan-kapan bawa Ummi ya."
"Insya Allah Ummi. Kalau tidak ada halangan besok kita semua pergi ke sana. Hawa pun belum tahu jika Adam memiliki sebuah restoran."
"Boleh. Ummi ingin makan di restoran putra Ummi sendiri. Memangnya menu apa yang Adam rekomendasikan?"
__ADS_1
"Restoran kami hanya menyediakan masakan sunda intinya masakan tradisional ala nusantara tidak ada makanan prancis, turki dan semacamnya. Tapi insya Allah Adam akan membuka cabang baru dengan menu masakan timur tengah. Mungkin yang Adam ambil masakan dari mesir karena sudah lama juga Adam tinggal di sana dan cukup tahu apa saja makanan khas mesir. "
"Bagus kalau begitu. Ummi selalu dukung."
****
Keesokan paginya Adam mengajak keluarganya pergi ke restoranNya. Ummi, Kiyai dan Hawa mereka menatap takjub pada tempat itu yang sangat ramai di kunjungi dan masakannya yang begitu enak. Mereka juga di sambut oleh beberapa pelayan yang melayani mereka.
Tidak hanya Hawa yang mengunjungi tempat usaha suaminya. Asma pun di bawa Yusuf ke perusahaannya. Pernikahan mereka sudah jalan 4 bulan tetapi belum ada tanda-tanda kehadiran sang buah hati.
"Mas, kenapa Asma harus ikut? Mas juga kan harus kerja terus ngapain Asma di sini?"
"Kamu bisa tunggu Mas di ruangan, atau keliling perusahaan. Nanti akan di temani Ririn sekretaris Mas."
"Ya udah deh Mas. Di rumah juga bosan." Yusuf dan Asma pun melangkah menuju ruangan CEO.
Selama Yusuf meeting Asma hanya duduk diam di dalam ruangannya. Hingga ia bosan dan ingin berkeliling perusahaan di temani Ririn sekretaris Yusuf.
Saat di tengah gedung Asma merasakan pusing pada kepalanya. Padahal dirinya sehat-sehat saja dan tidak meninggalkan sarapan. Asma selalu makan tepat waktu.
"Bu Asma tidak apa-apa?" tanya Ririn begitu khawatir.
"Tidak apa-apa. Hanya sedikit pusing. Oh iya, jangan panggil aku ibu panggil saja Asma."
"Saya tidak berani Bu." Ririn merasa tidak sopan jika harus memanggil isteri bos Nya itu dengan sebutan nama. Walau usia Asma lebih muda darinya.
"Kalau begitu biarkan saya ambilkan minum. Bu Asma di tinggal sebentar tidak apa-apa?"
"Tidak apa-apa. Aku akan tunggu di sini." Ririn segera berlari menuju dapur yang jaraknya cukup jauh. Sedangkan Asma masih melihat-lihat area perusahaan. Namun, tiba-tiba rasa pusingnya tidak bisa lagi ditahan.
__ADS_1
"Bu Asma!" Entah apa yang terjadi. Ririn tiba-tiba berteriak.