
Satu bulan sudah berlalu. Asma, sudah mulai mengikhlaskan kepergian janinnya. Semua keluarga memberikannya semangat. Untuk tetap ceria dan tidak sedih lagi. Namun, semua keluarga termasuk Asma belum mengetahui jika dirinya mengidap kanker rahim.
"Sebentar lagi kamu lahiran dong Hawa?"
"Iya, tinggal menunggu satu bulan lagi." Pembicaraan Asma dan Hawa yang sedang berbincang. Asma ikut senang sebentar lagi Hawa akan melahirkan. Terkadang Asma pun merasa sedih karena sudah kehilangan bayinya.
"Asma, apa kamu sudah ada tanda-tanda untuk hamil lagi?"
"Belum. Lagi pula setelah operasi kami belum melakukannya lagi."
"Kenapa? Memangnya tidak boleh?"
"Tidak. Dokter membolehkan asal sudah tidak ada lagi darah yang keluar dari rahim. Dan kami sudah mengecek kembali jika darahnya sudah bersih. Tapi kakakmu belum berani."
"Kak, Yusuf ini. Bukannya program lagi malah gak mau. Kamu tenang saja Asma nanti biar aku yang katakan pada kak Yusuf."
"Jangan Hawa. Malu."
"Kak Yusuf tuh yang suka malu-malu. Sudah tenang saja biar kak Yusuf urusanku."
"Terkadang aku sedih. Kak Yusuf sudah dewasa dan pasti sangat mengharapkan seorang anak. Semua teman-temannya pasti sudah memiliki anak tapi kami malah kehilangan anak kami."
"Jangan sedih. Sebentar lagi kak Yusuf pulang bekerja. Kamu siap-siap sana mandi yang wangi, dandan yang cantik biar kak Yusuf tergoda dan kalian melakukannya deh."
"Apa kamu sering melakukan itu pada Adam?"
"Tanpa digoda pun Mas Adam, selalu minta." Seketika mereka berduapun tertawa.
Asma pergi ke kamarnya, menjalankan apa yang Hawa perintahkan. Mandi yang bersih, memakai parfum biar wangi, merapikan ranjang dan sprey, menyemprot kamar dengan wangi-wangian.
"Semoga Mas Yusuf suka," ucap Asma penuh harap.
"Assalamualaikum." Akhirnya Yusuf pun datang.
"Waalaikumsalam Mas." Asma segera menyambutnya. "Mas pasti capek pulang kerja. Sini Mas tas-Nya." Yusuf menatap Asma dengan heran, lalu mencium aroma kamar yang berbeda.
"Tumben wangi."
"Biar gak bau apek Mas. Asma baru saja selesai beres-beres. Biar nanti jika Mas istirahat juga nyaman."
"Kamu juga wangi?"
"Karena Asma sudah mandi Mas. Mas mau mandi Asma sudah siapkan airnya."
__ADS_1
"Ah, tidak-tidak. Sini sebentar, jujur sama Mas ada apa ini? Tidak seperti biasanya?" Asma mulai malu dan ragu mengatakan keinginannya. Namun, dengan berani Asma berkata, "Mas, kita sudah lama tidak seperti ini. Berduaan, berbicara sedekat ini. Setelah operasi itu Mas Yusuf selalu menjauh seolah takut akan menyakitiku. Kenapa Mas? Bahkan kita sudah lama tidak melakukan hubungan."
Yusuf terdiam. Sebenarnya dia menjauh karena takut tidak bisa menahan hasratnya sedangkan Yusuf belum berani menggauli Asma yang sudah di vonis kanker. Bukan merasa jijik, tetapi takut menyakiti tubuhnya.
"Mas kenapa?"
"Kamu kan baru selesai operasi. Mas takut nanti luka operasi mu berdarah lagi. Karena gerakan yang kita lakukan. Melakukan hubungan intim itu butuh tenaga loh." Goda Yusuf.
"Ih, Mas Yusuf. Tapi Asma sudah sembuh sekarang. Tidak ada salahnya 'kan Mas kita berusaha lagi? Semoga saja aku bisa mengandung lagi."
Kamu memang bisa mengandung, tapi ... aku tidak ingin kamu menahan rasa sakit lagi, batin Yusuf.
"Mas?" Asma menyentuh lembut tangan Yusuf.
"Mas mandi dulu ya." Yusuf tetap menghindar.
"Kenapa Mas? Kenapa kamu berbeda setelah aku keguguran. Apa kamu memiliki wanita lain Mas?" Entah kenapa pikiran buruk itu terlintas di benaknya.
Asma langsung mengecek ponsel Yusuf. Curiga jika Yusuf memiliki simpanan. Karena sikap Yusuf yang berbeda membuat Asma curiga. Ditambah lagi dengan password ponselnya yang diubah.
"Mas Yusuf mengubah password-nya?"
"Asma? Sedang apa dengan ponsel Mas?" Asma segera berbalik menghadap Yusuf yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Menyembunyikan maksudmu?"
"Kenapa Mas ganti password-Nya? Apa karena ada wanita lain?"
"Astaghfirullah Asma! Kenapa berkata seperti itu?"
"Buktinya Mas ganti pasword. Dan Mas menjauh dari Asma, selalu menghindar dan tidak mau berhubungan. Apa itu karena wanita lain Mas?"
"Asma!" Bentak Yusuf penuh emosi. Wajah Asma terlihat memerah mata yang berkaca-kaca. Bahkan bentakan Yusuf terdengar hingga luar.
"Mah ada apa dengan kak Yusuf?" tanya Hawa pada ibunya. Marwah pun tidak tahu apa yang terjadi untuk pertama kalinya Marwah mendengar pertengkaran mereka.
Yusuf segera menurunkan pandangannya. Nafas Asma masih merasa sesak. Hatinya begitu perih saat Yusuf menatapnya dengan tajam hingga membentaknya.
"Maafkan Mas. Maaf sudah membentak mu." Kata Yusuf yang berjalan mendekati Asma lalu memeluknya.
Punggung Asma bergetar hebat. Isakan tangis semakin keras. Yusuf semakin merasa menyesal karena sudah membuat Asma menangis.
"Maafkan Mas Asma. Tidak ada niat untuk membentak mu. Mas bersumpah tidak ada wanita selain dirimu. Mas tidak pernah berkhianat Asma."
__ADS_1
Tangisan Asma semakin keras. Diakhiri dengan ringisan. "A-Ah ... Mas sakit?"
"Asma, ada apa?"
"Sakit Mas," ucapnya dengan tangisan. Yusuf semakin panik ketika Asma terus memegang bawah perut ya. Hingga akhirnya Asma pun pingsan.
"Asma! Asma!" Segera Yusuf mengangkat tubuh Asma. Membawanya segera ke rumah sakit.
"Yusuf, ada apa ini? Apa kalian bertengkar? Kenapa dengan Asma?" Marwah merasa khawatir saat Yusuf mengendong tubuh Asma keluar dari kamar.
"Kak Yusuf apa yang terjadi pada Asma?" Hawa pun ikut bertanya. Namun, pertanyaan dari keduanya tidak ada yang dijawab.
"Yusuf!" bentak Marwah. Membuat Yusuf menghentikan langkahnya sesaat. Lalu berbalik pada Marwah.
"Yusuf akan membawa Asma ke rumah sakit. Kalian bisa menyusul jika mau." Setelah mengatakan itu Yusuf pun pergi.
****
"Yusuf, bagaimana keadaan Asma?" tanya Marwah saat sudah datang bersama Hawa.
"Dokter masih memeriksanya Ma," ujarnya.
"Sebenarnya ada apa dengan kalian? Mama dan Hawa mendengar teriakan mu. Apa kalian bertengkar?"
"Hanya sedikit kesalahpahaman."
"Kesalahpahaman apa?" Yusuf diam sejenak. Mencoba menatap ibu dan adiknya. Haruskah ia mengatakan apa yang terjadi pada Asma? Ingin sekali ia merahasiakan semua ini. Tapi ... tidak ingin terjadi lagi kesalahpahaman.
"Asma salah paham. Dia menuduhku memiliki wanita lain."
"Kenapa Asma bisa berpikir begitu? Apa ada yang kamu sembunyikan Yusuf?"
"Mungkin sikap kak Yusuf yang berbeda." Hawa menimpali. "Asma bilang kak Yusuf tidak pernah menyentuhnya setelah operasi itu. Sedangkan operasi itu sudah sangat lama, kan?"
"Jadi selama ini Asma bercerita? Apa saja yang sudah kamu katakan pada istri kakak Hawa? Sehingga Asma menuduh Kakak yang tidak-tidak?"
"Hawa tidak mengatakan apapun." Yusuf terlihat marah. Tatapannya membuat Hawa takut.
"Sudah Yusuf. Jangan menatap adikmu seperti itu. Sekarang katakan apa yang kamu sembunyikan dari Mama? Pantas saja Asma selalu curiga karena sikap mu itu mencurigakan. Katakan Yusuf!"
"Aku menghindarinya bukan karena wanita lain. Tapi karena Yusuf tidak ingin melukainya. Asma ... mengidap kanker rahim."
"Astaghfirullah." Hawa dan Marwah pun terkejut.
__ADS_1