
Semua orang di buat terkejut. Jatuhnya Hawa sangat menegangkan, hingga Hawa pun tidak mampu membuka mata. Sedetik matanya terbuka, merasa aneh karena yang dilihat adalah atap langit bukan lantai dasar.
Seharusnya saat ini tubuhnya menghantam lantai tapi kenapa berbalik?
"Adam!" teriak Yusuf, Marwah, dan Asma karena posisi Adam kini di bawah tubuhnya.
Adam langsung menarik tubuh Hawa saat akan terjatuh. Namun, kini tubuhnya yang terhantam lantai. Mungkin kepalanya terbentur keras. Tetapi Adam masih bisa menahannya.
"Aby!" Hawa segera bangun dari tidurnya setelah tahu jika Adam lah yang menopang tubuhnya.
"Adam kamu tidak apa-apa?" tanya Yusuf khawatir.
"Tidak apa-apa kok kak." Adam bangun dengan satu tangan yang terus menyentuh kepalanya. Mungkin Adam merasakan sakit karena benturan.
"Aby! Aby maafin Hawa."
"Lain kali jangan lari-lari lagi!" ucap Adam dengan sedikit tegas. Hawa hanya menunduk. "Iya By."
"Sudah-sudah. Yang penting sekarang semua selamat. Adam, Hawa, kalian masuk ke kamar istirahat."
"Iya Ma. Makasih."
****
"Aby sini Hawa lihat kepalanya takutnya kenapa-napa."
"Enggak apa-apa kok. Cuma terbentur saja."
"Maafin Hawa ya By?"
"Sudah jangan minta maaf lagi. Lain kali hati-hati. Keselamatan bayi kita adalah hal yang utama."
"Iya. Hawa gak akan ulangi lagi." Hawa merasa menyesal.
"Anak Aby baik-baik saja 'kan? Tidak kaget? Maafin mama mu yang nakal ya."
__ADS_1
"Aby ...." Adam tertawa. Hawa terus mengusap perutnya yang begitu buncit.
"Oh iya By. Tubuh Hawa semakin berat By tidur juga gak nyaman."
"Kenapa gitu? Nanti kita cek ke dokter saja ya?" Hawa mengangguk.
****
Yusuf duduk bersandar pada ranjangnya. Peristiwa tadi membuatnya takut. Mungkin Yusuf tidak akan memaafkan dirinya jika kehamilan Hawa bermasalah gara-gara peristiwa tadi.
"Mas, lamunin apa?" tanya Asma yang baru saja keluar dari kamar mandi. Menghampiri Yusuf yang terlihat gelisah.
"Tidak apa-apa Mas hanya lelah," jawab Yusuf.
"Mikirin yang tadi ya?" Yusuf hanya menghela nafasnya berat tidak mengatakan apapun. "Mas, juga sih ngapain kejar Hawa. Lain kali jangan gitu lagi."
"Insya Allah tidak akan," jawab Yusuf.
"Mas ...?" panggil Asma lembut. "Kok, aku haid lagi ya Mas?"
"Istirahat dulu. Mungkin kecapean dan jangan banyak gerak." Asma kembali merebahkan tubuhnya. Sedih rasanya ia tidak bisa melayani suaminya dan malah menyusahkannya.
"Mas, akan telepon dokter dulu." Begitulah keadaan Asma. Hampir setiap minggu Yusuf khawatir dan selalu mendatangkan dokter.
Hawa yang baru tahu keadaan iparnya merasa heran. Karena kehamilan seperti itu sangat jarang dialami.
"Apa rasanya sakit?" tanya Hawa pada Asma. Asma hanya menggeleng dan tersenyum. Memang rasanya tidak sakit, tetap saja perdarahan saat hamil mencemaskan.
****
Keadaan Asma semakin parah dan harus di bawa ke rumah sakit. Yusuf dan Marwah semakin khawatir. Perdarahan yang di alami Asma tidak berhenti. Hingga rasa sakit yang Asma rasakan.
Lama Yusuf menunggu dengan gelisah. Akhirnya dokter keluar membawa kabar buruk untuknya. Dengan rasa menyesal dokter harus menyampaikan jika Asma mengalami keguguran. Yusuf, yang mendengar itu tidak bisa menahan tangisnya.
"Yang sabar ya Pak." Dokter mencoba menguatkan lalu kembali ke dalam ruang operasi. Karena darah yang ada di dalam perut Asma harus di bersihkan.
__ADS_1
Yusuf duduk termenung.
"Yusuf?" panggil Marwah.
"Asma keguguran Ma. Aku kehilangan bayiku."
"Sabar ya, Nak. Insya Allah setelah ini Allah akan memberikanmu rezeki, keturunan lagi." Yusuf harus ikhlas menerima ujian ini.
****
"Aby, Abah, Ummi?" panggil Hawa pada mereka yang sedang berkumpul di ruangan.
"Hawa. Sini duduk." Hawa pun ikut bergabung tetapi hatinya sangat gelisah.
"Ada apa Nak?"
"Aby, Hawa baru saja dapat kabar. Jika kak Asma, mengalami keguguran."
"Inalillahi wa innailaihi rojiun," ucap mereka bersamaan.
"Kapan?" tanya Ummi.
"Hawa baru saja dapat telepon dari Mama."
"Ya Allah. Kasihan sekali mereka harus kehilangan bayinya."
"Memang, kandungan Asma sangat lemah Ummi. Selama kehamilan Asma selalu mengalami pendarahan. Tapi Hawa tidak menyangka jika mereka akan kehilangan bayinya."
"Tidak ada yang tahu apa rencana Allah. Semua yang terjadi atas kehendak Allah. Kita sebagai manusia hanya bisa berharap. Namun, pada akhirnya tetap kembali pada Allah," tutur Kiyai. Hawa merasa sedih, Adam hanya bisa mengelus pundaknya dengan lembut.
Tidak ada yang tahu apa yang terjadi pada kehidupannya. Namun, Adam selalu berharap kandungan Hawa selalu baik-baik saja dan sehat hingga lahiran nanti.
"Besok kita melayad. Dan untuk acara syukuran bulanan lebih baik kita tunda. Setidaknya tunggu 7 hari meninggalnya bayi mereka."
Adam dan Kiyai setuju dengan apa yang Umminya katakan. Rencananya mereka akan mengadakan syukuran 7 bulanan kehamilan Hawa tetapi tidak tahu akan ada kabar buruk seperti ini. Mereka memilih untuk menundanya karena tidak mungkin juga jika harus mengadakan syukuran saat ada keluarga yang sedang bersedih. Mereka pun sama-sama pergi berta'jiah..
__ADS_1