
"Apa! Tidak-tidak ini tidak sesuai perjanjian."
Hawa tidak terima ketika pihak keluarga memutuskan pernikahannya di percepat. Bukan tanpa alasan Kiyai mempercepat pernikahan itu, semua karena foto itu.
Tidak hanya foto, kedekatan Adam dan Hawa semakin di perbincangkan. Apalagi saat Ustadzah Lili protes atas kedekatan seorang santri dengan gurunya.
Demi menghindari fitnah terpaksa, mereka mengatakan jika Adam dan Hawa sudah bertunangan. Sontak, Lili pun terkejut, ada rasa sedih, marah, dan kecewa karena pria idamannya sudah di miliki orang lain.
"Hawa, bagi Kakak ini keputusan yang benar. Jangan pernah menunda-nunda kebaikan."
"Tapi aku masih sekolah."
"Sebentar lagi kamu akan lulus, dan kita tidak akan mempublikasikan pernikahan kalian sebelum kamu lulus sekolah. Hanya keluarga dan santri di sini saja yang akan tahu hubungan kalian."
"Tapi …."
"Kami sudah memutuskan besok malam kalian akan menikah."
"Besok!" Adam dan Hawa semakin terkejut.
Di dalam kamarnya Hawa terus mondar mandir tidak jelas, hatinya gelisah memikirkan pernikahan yang akan di laksanakan besok.
Hawa berpikir bagaimana caranya pernikahan itu di batalkan, sekeras apapun Hawa berpikir tetap tidak menemukan jalan keluar.
"Ya Tuhan, bagaimana ini. Kalau aku nikah, lalu …. ah, tidak-tidak."
Hawa menepis semua bayangan buruknya. Bayangan saat setelah ia menikah dengan Adam, membayangkan menjadi seorang istri, menikah muda, bahkan saat tidur bersama. Semua bayangan itu mengganggu pikirannya.
"Ah! Tidak-tidak. Gimana kalau aku hamil?"
Bahkan Hawa sampai berpikir sejauh itu. Bagaimana dirinya jika hamil di saat usianya masih muda. Saat teman-temannya sibuk kuliah, Hawa malah mengurus anak sendiri.
"Tidak!"
"Hawa! Kamu kenapa?" tegur Minah, saat Hawa terbangun dari mimpinya.
"Kamu mimpi buruk?"
"Sangat buruk," balas Hawa.
"Makanya Wa, sebelum tidur itu berdoa."
"Pokoknya Ustadz Adam tidak boleh menyentuhku sama sekali," batin Hawa yang masih mengingat mimpi itu.
"Teman-teman!" teriak Asiyah yang baru memasuki kamar. Asiyah sedikit berlari menghampiri Hawa dan Minah.
"Ada apa Asi?" tanya Minah melihat tingkah Asi yang curiga.
"Begini, ada kabar menghebohkan. Kalian sudah dengar belum? Jika Ustadz Adam akan menikah."
"Menikah!" terkejutnya Minah tapi tidak dengan Hawa, yang merasa takut akan ketahuan jika dirinya wanita yang akan di nikahkan.
"Kamu tahu dari mana Asi?"
"Tanya saja Aisyah. Semua santri di sini sudah tahu. Dan katanya calon istrinya adalah santri di sini."
Mata Minah terbelalak seketika. Mulutnya menganga lebar, seolah terkejut. Mereka semua bertanya-tanya tentang siapa santri yang akan menikah dengan Adam. Tapi tidak dengan Hawa yang sangat ingin menghindar.
"Hawa!"
"Iya?"
"Kamu tahu tidak? Kira-kira siapa?"
__ADS_1
"Ti-tidak. Mana aku tahu."
"Iya juga sih. Jadi penasaran."
"Teman-teman aku permisi ke belakang, sepertinya aku sakit perut." Hawa beralasan demi menghindari teman-temannya.
*****
Di rumah Kiyai mereka sedang menyiapkan untuk keperluan besok. Termasuk berkas-berkas yang harus di berikan pada Amil nikah.
Sedangkan untuk para wanita mereka sedang menghias rumah secantik mungkin. Mereka tidak mengundang jasa WO ( Wedding Organizer ) karena memang pernikahan mereka hanya di gelar secara sederhana dan hanya akad nikah saja.
Berbeda dengan si calon pengantin yang sama-sama gelisah. Adam hanya berdiam diri di dalam kamarnya. Yang di lakukan nya hanyalah mengaji dan sholat. Berharap dengan semua itu hatinya akan tenang.
Adam tidak ingin Hawa merasa terpaksa dengan pernikahan ini.
"Adam?"
panggilan Ummi Khodijah membangunkannya dari hamparan sajadah. Adam berdiri lalu melipat sajadah itu dan berjalan menuju pintu untuk membukanya.
"Iya Ummi," jawab Adam saat pintu sudah terbuka.
"Kamu sedang sholat Adam?"
"Sudah selesai."
"Aby memanggilmu. Ada tamu dari KUA, mereka penghulu yang akan menikahkan mu besok. Temui mereka."
"Iya Ummi."
Adam pun berjalan menuju ruang tamu.
"Adam, duduklah Nak." Panggil Kiyai yang menepuk tempat duduk di sebelahnya, Adam pun langsung mendaratkan bokongnya.
"Masyaallah masih muda dan tampan," ujar seorang pria yang akan menjadi penghulunya besok.
"Begini, saya cuma mau mengatakan. Untuk pernikahan Adam dan Hawa mungkin kami tidak akan memberikan surat nikah terlebih dulu. Karena usia pengantin wanita masih di bawah 20 tahun, takutnya nanti ada masalah ke depannya kami tidak ingin itu terjadi. Kami akan memberikan surat nikah setelah usia Hawa menginjak 19 tahun. Kalian tenang saja pernikahan akan tetap berlangsung."
"Bagaimana baiknya saja asal pernikahan anak saya tetap berjalan dengan lancar."
Menurut agama tidak ada batasan usia untuk menikah yang penting mereka yang di nikahkan sudah baligh. Namun, tidak menurut hukum yang menyarankan bagi perempuan menikah di usia 19 tahun. Itulah kenapa pernikahan Adam dan Hawa tidak akan di berikan surat nikah dan akan di berikan setelah usia Hawa sudah cukup.
Mungkin mereka juga tidak akan mendaftarkan nya secara hukum negara, dan hanya akan menikah secara agama.
Setelah berbincang-bincang Adam kembali ke kamarnya. Saat tiba di depan pintu Adam bertemu dengan Ummi Khodijah yang juga ikut masuk ke dalam kamar untuk mengatakan sesuatu.
"Adam, besok adalah pernikahanmu. Ummi tidak bisa memberikan apapun untuk mu. Ummi hanya bisa memberikan ini, Ummi harap kamu akan memberikannya pada istrimu nanti."
Ummi Khodijah menyerahkan sebuah kotak persegi panjang. Yang sederhana dan rapuh juga kusam. Adam berpikir mungkin Ummi Nya hanya memberikan barang miliknya yang sederhana.
Namun, saat di buka ternyata dalam kotak kusam itu terdapat sebuah kalung berlian yang Ummi nya simpan.
"Masyaallah Ummi ini indah sekali, Ummi yakin mau memberikannya untuk istri Adam?"
"Ini adalah kalung pemberian nenek mu dulu. Dan sekarang Ummi berikan padamu untuk istri mu. Ummi harap kamu bisa menjaga barang ini, dan Ummi akan sangat senang jika Hawa memakainya."
"Terimakasih Ummi. Insyaallah Hawa pasti menyukainya."
"Aamiin. Ya sudah sekarang kamu tidur siapkan mental mu untuk besok. Jangan sampai salah baca ijab kabul." Khodijah tertawa Adam hanya tersenyum.
Berbeda dengan Adam yang masih bisa tenang. Sedangkan Hawa, hingga malam tiba dia tidak bisa tidur. Yang terus memikirkan hari esok.
*****
__ADS_1
Malam yang di tunggu-tunggu pun tiba. Semua orang sudah berkumpul di rumah Kiyai, begitupun dengan Yusuf yang sudah siap menjadi wali.
Di dalam kamar Hawa masih di rias oleh salah satu wanita. Walaupun hanya ijab kabul dan di adakan secara sederhana tetap, Hawa di rias sebagaimana seorang pengantin.
Gaun putih Syari yang di kenakan, menambah kesan cantik pada tubuhnya. Makeup minimalis yang sederhana memancarkan aura pada wajahnya. Sungguh siapapun akan terpesona melihatnya.
"Masyaallah cantiknya putri Mama."
"Cantik! Cantik apaan. Hawa gak mau nikah Ma."
"Eh, jangan nangis dong sayang. Nanti makeup nya luntur, wajah mu jelek nanti."
"Aku masih sekolah Ma. Gimana kalau aku hamil."
Sontak Marwah dan petugas WO tertawa mendengar celotehan Hawa.
"Kalau hamil ya alhamdulillah Mama punya cucu."
"Mama!" rengek Hawa.
"Ya kamu aneh-aneh saja. Masa takut hamil, 'kan sudah punya suami ngapain takut. Sudah ah, jangan nangis jelek nanti." Marwah kembali merapikan riasan pada wajah putrinya.
Adam dan Yusuf sama-sama menghela nafas panjang sebelum ijab kabul akan di lakukan. Untuk pertama kalinya Yusuf menjadi wali di acara pernikahan, membuatnya sedikit gugup.
Apalagi Adam yang akan mengucapkan ijab kabul untuk pertama kalinya.
Kedua tangan mereka saling menjabat, Yusuf menjabat dengan erat tangan Adam, seketika tangan itu di hentikan, bersamaan dengan kata-kata sakral yang di ucapkan.
"Saya nikah dan kawinkan ananda Muhamad Adam Alfatih dengan adik saya adinda Hawa Aqila Putri dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan emas sebesar 20 gram di bayar tunai."
"Saya terima nikah dan kawinnya Hawa Aqila Putri dengan mas kawin tersebut di bayar tunai."
Dalam satu tarikan nafas Adam membaca kata-kata sakral itu dengan lantang.
"Alhamdulillah, bagaimana saksi sah?"
"SAH" ucap mereka semua di iringi dengan kedua tangan yang di usapkan pada wajah.
Begitupun dengan Marwah yang melakukan hal yang sama.
"Alhamdulillah, Hawa ayo sayang kita keluar."
"Malua Mah, Hawa di sini saja."
"Kenapa harus malu 'kan ada Mama. Ayo."
Dengan terpaksa Hawa, di tuntun sang ibu keluar menuju tempat di mana ijab kabul di ucapkan. Para santri yang mengintip sangat penasaran dengan wajah mempelai wanita.
Seketika mereka terbelalak saat melihat teman mereka Hawa ada di sana mengenakan baju pengantin. Ustadzah Lili yang melihat Hawa keluar langsung menangis dan pergi dari tempat itu.
Raut wajah bahagia terpancar di wajah Kiyai, Ummi, dan Yusuf. Tapi tidak dengan Hawa, yang semakin cemberut.
Adam seketika terpana melihat kecantikan santrinya yang kini sudah sah menjadi istrinya. Masih terlintas bayangan-bayangan di mana mereka pertama kali di pertemukan.
Hawa yang selalu membuatnya kesal, Hawa yang nakal, bar-bar dan suka membantah. Tidak pernah terbayangkan jika santri itu kini adalah yang menjadi istrinya.
"Ehm, jangan bengong. Aku akui adik ku sangat cantik," goda Yusuf membuat Adam semakin tegang.
...----------------...
Ciee Adam ... Pengantin baru. Gitu daja udah gugup apalagi nanti malam pertama hehe ...
Jangan lupa like, komentar, dan Vote nya
__ADS_1
Terimakasih 🙏