
Sehari Mira berada di pondok. Sejuta pertanyaan ia lontarkan pada Hawa. Entah itu mengenai keseharian di pondok, cara belajar dan apa saja yang mereka lakukan.
pukul 02.30. Mira mendengar suara gaduh yang membangunkan tidurnya. Dilihatnya para santri berbondong-bondong pergi ke mesjid mengenakan mukena dan membawa sajadah.
Untuk pertama kalinya bagi Mira melihat pemandangan itu. 02.30 mau sholat apa mereka di jam segini? Pasti itu yang menjadi pertanyaan bagi Mira. Karena yang dia tahu hanyalah sholat lima waktu.
"Mira kamu sudah bangun?" tegur Asma yang memang satu kamar dengannya.
"Pada mau ke mana mereka?"
"Kami semua mau pergi ke mesjid untuk sholat tahajud dan mengaji hingga waktu subuh tiba. Apa kamu mau ikut?"
Tahajud? Mendengar namanya saja baru kali ini. Mira tidak tahu apa itu tahajud dan seperti apa niat dan sholatnya. Sholat fardhu saja mungkin Mira sudah lupa seperti apa dan bagaimana niatnya.
"Nanti saja, aku tidak tahu seperti apa sholatnya." Perkataan Mira tentu saja membuat Asma tersenyum.
"Untuk gerakkan sholat itu sama dengan sholat fardhu hanya niat yang membedakan dan rakaatnya saja."
"Tapi aku juga tidak tahu seperti apa sholat fardhu."
"Astaghfirullah." Asma terkejut. Bagaimana bisa sholat fardhu saja tidak tahu. Sebenarnya apa saja yang diajarkan kedua orangtuanya. Hingga Asma meragukan agamanya.
"Maaf, apa kamu muslim?"
"Tentu. Aku muslim. Tapi … aku sudah lupa dengan yang namanya sholat. Lagi pula orangtua ku tidak pernah menanyakan atau memerintah."
"Kalau begitu apa kamu mau ikut? Sekalian kita belajar."
"Nanti saja. Aku ngantuk mau lanjut tidur lagi."
"Baiklah. Kalau begitu aku ke mesjid dulu."
Mira kembali ke atas ranjangnya. Melanjutkan mimpi yang tertunda. Hingga adzan subuh berkumandang Mira masih tetap pada ranjang tidurnya.
*****
Rutinitas di pagi hari seperti biasa mereka melakukan piket bersama. Tetapi tidak dengan Hawa, yang masih berbaring di tempat tidurnya.
Pagi ini malas melanda dirinya. Jangankan untuk beberes, bangun dari ranjang saja tidak bersemangat mager alias malas gerak.
"Adam panggil Hawa, suruh sarapan."
"Iya Ummi. Sebentar Adam panggilkan dulu."
Beruntung Hawa memiliki mertua yang sangat baik tidak pernah menuntut dirinya untuk mengerjakan pekerjaan rumah atau hal lain sebagainya.
__ADS_1
Adam memasuki kamar, melihat Hawa yang masih meringkuk di bawah selimut. Dihampirinya oleh Adam yang langsung duduk di atas ranjang.
"Hawa …."
Panggil Adam dengan lembut seraya membelai lembut rambutnya. Hawa yang merasakan sentuhan itu langsung menggeliat. Bibirnya tersenyum menatap wajah Adam di atasnya.
"Aby."
"Sudah nyenyak tidurnya? Bangun yuk kita sarapan dulu."
"Malas By, Hawa nanti saja sarapannya."
"Jangan gitu dong. Jika telat makam nanti sakit lambung lo. Yuk, sarapan dulu Ummi sudah siapin tuh." Dengan sabarnya Adam membangunkan Hawa. Memakaikan jilbab untuk istrinya lalu menuntun keluar.
"Aby Hawa belum cuci muka."
"Gak apa-apa sudah cantik kok."
"Enggak ah, By. Hawa cuci muka dulu."
"Ya sudah, Aby tunggu di sini."
Hawa berlari menuju kamar mandi. Hanya beberapa menit saja Hawa kembali keluar. Adam setia menunggu lalu melangkah bersama menuju ruang makan.
"Hawa kenapa bengong saja sayang? Ayok sarapan," ajak Khodijah pada menantunya.
Hawa bingung jika mengatakan tidak mau takut menyakiti mertuanya yang tidak menghargai masakannya sama sekali. Namun, lidah dan perutnya tidak berselera melihat nasi goreng itu saja tidak membuat nafsu makannya tinggi.
"Istri Aby kenapa? Mau Aby suapin?"
Hawa langsung menggeleng saat Adam menyodorkan nasi itu pada mulutnya.
Tidak hanya Adam, Ummi dan Kiyai pun merasa heran.
"Hawa, kenapa? Sakit?"
"Mungkin sedang tidak enak badan Ummi," seru Kiyai menambahkan.
"Apa ada yang sakit?" Adam jadi ikut panik karena pagi ini semangat Hawa tidak seperti biasanya. Bahkan untuk bangun saja sangat malas.
"Biar Ummi panggilkan dokter ya?"
"Tidak usah Ummi," sanggah Hawa yang memang tidak merasakan sakit. Hanya saja pagi ini dia ingin memakan sesuatu. Namun, malu untuk mengatakan.
"Kalau begitu kenapa tidak mau makan? Apa kamu mau makan yang lain, Nak?" tanya Ummi lagi untuk memastikan.
__ADS_1
"Hawa mau makan bubur Aby," bisiknya pada Adam. Sungguh Adam merasa berdosa karena tidak memahami apa keinginan istrinya.
"Ya Allah, Hawa kenapa tidak bilang sama Aby. Ya sudah kalau gitu Aby belikan buburnya dulu."
"Tunggu By."
"Kenapa? Apa ada tambahan?"
"Ikut, Hawa mau jalan-jalan sebentar sebelum makan bubur."
Seketika Ummi dan Kiyai tersenyum mendengar keinginan Hawa. Keinginan yang tidak terlalu sulit, tetapi sulit dikatakan. Adam dan Hawa pun pergi bersama menyusuri indahnya kota santri yang terdapat di atas puncak pegunungan dikelilingi tumbuhan.
Sungguh sangat indah dan sejuk. Perjalanan pagi hari yang dimanjakan pemandangan hijau.
"Aby tukang buburnya masih jauh ya?"
"Enggak kok, bentar lagi kita sampai tuh di ujung sana." Tunjuknya pada sebuah gerobak bubur yang mangkal di bawah pohon. Sepertinya bubur itu sangat enak karena dikerumuni banyak orang.
"Mau makan di sini atau bawa pulang?"
"Di sini saja By."
Adam pun segera memesan satu porsi bubur untuk istrinya. Hawa duduk di sebuah bangku yang memanjang menghadap jalanan. Senyum merekah Hawa tampilkan saat semangkuk bubur berada dihadapan nya. Wajahnya terlihat ceria saat menghirup aroma khas bubur sayur itu.
Dengan lahapnya Hawa memakan suap demi suap bubur tanpa menawarkan pada suaminya mau atau tidak. Mungkin karena terlalu nikmat Hawa lupa menawarkannya.
"Eh, Aby tidak makan bubur?"
"Aby sudah sarapan tadi di rumah. Kayanya enak banget buburnya sampai lupa sama Aby." Hawa hanya cengengesan.
"Gak tahu By tiba-tiba saja kepengen makan bubur. Jadi gak enak sama Ummi udah masak nasi goreng tapi gak dimakan."
"Gak apa-apa Ummi pasti ngerti. Kalau ada apa-apa bilang jangan kaya tadi."
"Iya By."
Setelah membayar Hawa dan Adam kembali melanjutkan perjalanan menuju pondok. Namun, di tengah-tengah perjalanan mereka melihat seorang pria yang bersandar pada mobil sedan merah. Pria itu terlihat garang dan mencurigakan.
Adam biasa saja melewatinya dengan santai yang terus menuntun Hawa. Tapi tidak dengan Hawa yang terus menatap mobil itu merasa kenal siapa pemiliknya.
"Itu seperti mobil Mira," pikirnya. Yang kembali berbalik melihat mobil itu walau sudah jauh. Tanpa disadari tingkahnya itu membuat pria sangar itu curiga memperhatikannya.
"Siapa wanita itu? Apa dia mengenali ku? Sepertinya tidak," ucap pria itu yang mengasah senjatanya.
"Gue harus temukan gadis semalam. Sepertinya dia masih ada di dalam pondok itu." Pria itulah yang mengejar Mira semalaman.
__ADS_1