Kisah Kasih Anak Santri

Kisah Kasih Anak Santri
Bab 37- Perjodohan


__ADS_3

Yusuf masih berada di kantor polisi dan baru saja memasuki mobilnya bersiap untuk pergi. Tidak sengaja ia melihat Asma yang keluar dari kantor itu, menggandeng sang ibu yang seperti orang linglung. 


Bu Jaenab masih tidak terima jika suaminya di penjara, dan ia kekeh jika suaminya hanya di fitnah. Bahkan kejadian ini membuatnya semakin benci pada keluarga Kiyai Abdullah dan pesantren An-nur. 


Dengan rasa iba Asma menuntun sang ibu masuk ke dalam mobil. Yusuf hanya memperhatikan dari dalam, tidak tahu apa masalah mereka dan tidak ingin pernah tahu, Yusuf memilih untuk pergi. 


*****


Sesampainya di rumah Bu Jaenab terus menangis tiada henti. Asma, juga bingung mau menenangkannya seperti apa karena dirinya pun sama terpukulnya. 


"Ibu, sudah jangan menangis. Pasti ada cara lain untuk membebaskan ayah." 


"Semua ini karena mereka. Seharusnya mereka tidak melaporkannya pada polisi. Kita masih bisa membicarakannya secara keluarga 'kan." 


"Tetap saja Bu ayah bersalah dan hukum yang bertindak." 


"Kamu bela mereka? Asma sadar! Mereka sudah menyakiti hati mu terutama Adam." 


"Asma, sudah ikhlas Bu. Jodoh hanya Allah yang tahu, jika Mas Adam tidak terima lamaran kita itu artinya Mas Adam bukan jodoh Asma." 


"Lalu sekarang ayah! Bagaimana dengan ayah mu?" 


"Jika Ibu mau, kita bisa pergi temui Adam dan keluarganya. Kita minta maaf atas kesalahan ayah, dan semoga Kiyai mau mencabut tuntutan nya." 


"Minta maaf! Untuk apa? Kita tidak salah dan ayah mu hanya di fitnah." 


Selalu itu yang di katakan Jaenab. Namun, bukti-bukti menguatkan jika Anshor memang bersalah dan akan di tahan selama 9 bulan. 


Namun, baru saja 2 bulan Anshor di tahan hidup mereka berubah drastis. Kekayaan mereka habis seketika, perusahaan yang di miliki juga pailid, karena kabar itu membuat banyak investor undur diri dan mencabut saham nya sehingga perusahaan merekapun jatuh.


Asma, masih bisa berdiri walau hanya hidup sederhana, tetapi sang ibu tidak bisa terima hingga mentalnya pun terguncang. Kini Asma harus merawat ibunya juga menjenguk sang ayah, tidak ada yang membantunya walaupun keluarga sekalipun. 


Setiap pagi Asma akan membersihkan rumah, memasak dan pekerjaan lainnya, karena mereka sudah tidak mampu lagi membayar seorang asisten rumah tangga. 


Sebelum sekolah Asma memberikan sarapan terlebih dulu untuk sang Ibu. Di dalam kamar Jaenab hanya menerawang, tatapannya begitu kosong, di ajak bicarapun tidak pernah menyahut. 


Berulang kali Asma berderai air mata hanya menangisi ibunya. 


"Ibu makan dulu ya." Kata Asma seraya menyendok sesuap nasi dan lauk untuk menyuapi ibunya. 


Baru saja sendok itu akan arahkan pada mulutnya Jaenab langsung mendelik menatap sendok itu menepis dengan kedua tangannya. 


"Ibu! Apa yang ibu lakukan?" 

__ADS_1


"Makanan apa ini? Kamu hanya memberi ibu makan sama telur? Di mana Lastri panggilkan dia, suruh dia masak yang enak." 


Lastri adalah asisten rumah tangganya dulu, kini sudah tidak ada lagi. Namun, Jaenab belum mengetahuinya.


"Ibu Bi Lastri sudah tidak ada. Kita hanya punya telur saja untuk di masak." 


"Kemana Lastri memangnya? Cuti tidak bilang-bilang. Lastri! Lastri!" teriak Jaenab memanggil pembantunya, hingga turun dari ranjangnya.


Asma semakin terisak melihat perlakuan ibunya. 


"Ibu! Ibu sudah, kita sudah tidak punya apa-apa lagi. Tidak ada Bi Lastri tidak ada makanan enak. Sadar Bu sadar!" 


"Kamu bilang apa Asma? Ibu mau makan di luar saja. Ambilkan kunci mobil kita pergi makan di luar." 


Jaenab masih menganggap dirinya paling kaya, padahal mobil miliknya pun sudah tidak ada. Asma, bingung harus berkata apa lagi hingga harus membentak sang ibu karena sudah tidak tahan dengan perlakuan ibunya. 


"Sudah cukup Ibu! Kita sudah tidak punya apapun. Mobil, dan rumah sudah kita jual bahkan perusahaan ayah sudah tidak ada. Itu semua karena ayah yang hidup di dalam penjara!" 


Seketika langkah Jaenab terhenti saat mendengar ungkapan Asma. Jaenab kembali mengingat bagaimana dukanya ia saat kehilangan seluruh hartanya. 


Jaenab duduk terdiam di bawah lantai, wajahnya kembali bersedih. Asma, langsung menghampirinya dan membawa ibunya ke dalam kamar.


****


Mereka sudah rapih dengan pakaiannya, begitupun keluarga Hawa yang sudah siap menyambut besannya. 


Hawa masih belum di beritahu siapa calon nya. Dan Hawa sempat menolak untuk di jodohkan, tetapi karena bujukan sang ibu


Hawa, terpaksa menyetujuinya. 


Kini Hawa masih berada di dalam kamar, memikirkan cara untuk membatalkan perjodohan itu. 


"Bagaimana ya caranya agar cowok itu nolak dan membatalkan perjodohan ini? Ya Allah kenapa sih harus di jodohkan. Aku masih bisa kok cari jodoh sendiri. Hawa pikir Hawa!" 


Tubuhnya terus bolak balik tidak jelas. 


"Hawa," panggil Marwah, memasuki kamar Hawa. 


Marwah tersenyum melihat kecantikan putrinya yang memakai gamis syari berwarna putih dengan hijab berwarna abu. 


Marwah berjalan semakin dalam, memuji kecantikan putrinya, hingga Hawa terbang melayang karena pujiannya itu. Dalam seketika bayangannya terjatuh saat mengetahui jika sang calon suaminya sudah tiba. Dan ada di lantai bawah untuk menunggunya.


Hawa semakin gugup dan ragu. Berkali-kali Marwah menarik tangannya terasa begitu berat. Karena Hawa mencoba mempertahankan diri untuk tidak bergerak 

__ADS_1


"Hawa!" 


"Hawa, belum siap Ma. Bilangin saja Hawa tidak enak badan." 


"Hawa, jangan buat Mama malu. Ayo!" 


Bibir Hawa mencebik saat di tarik paksa oleh ibunya. Wajahnya terus saja menunduk tidak ingin melihat sang lelaki yang akan di jodohkan dengannya. 


"Maaf ya lama," ujar Marwah setelah duduk.  


"Tidak apa-apa Bu, kami mengerti," jawab Ummi Khodijah. "Hawa apa kabar, sehat?


Hawa langsung mendongak. Matanya seketika terbelalak saat melihat kedua gurunya terutama Adam.


"Ummi, Kiyai, kalian ada di sini?" Hawa yakin pasti mereka akan membawanya kembali ke pesantren. Namun, tanpa Hawa tahu mungkin mereka akan membawanya setelah khitbah itu. 


"Hawa jaga sikap mu salamlah dulu," titah Yusuf. Hawa pun langsung menurut. Setelah Hawa kembali duduk barulah Yusuf berkata, 


"Hawa, kakak sudah bilang semalam 'kan? Kakak sudah melamar seseorang untuk mu pria itu adalah Muhammad Adam Alfatih, orang yang selama ini mengajarmu." 


Hawa terkejut. "Apa! Tapi Kak, usia kami jauh beda, masa Kakak jodohkan Hawa dengan guru Hawa. Ustasdz! Pasti Ustadz yang meminta perjodohan ini. Bukan Kak Yusuf." 


"Hawa dengar!" 


"Tidak Kak, pokoknya Hawa tidak mau, Hawa masih sekolah belum siap untuk menikah." 


"Hawa dengarkan Kakak dulu." 


"Tidak!" 


"Sudah, sudah, kalian jangan bertengkar. Yusuf, tenanglah." 


Kiyai melerai adu mukut mereka. Hawa masih menatap kesal bahkan tidak sudi menatap Adam. Adam, tetap diam dan tenang. Sudah bisa ketebak jika akan seperti ini, Hawa tidak akan menerimanya. 


"Hawa, kami menjodohkan kalian bukan untuk menikahkan kalian dalam waktu dekat ini. Tapi kami hanya ingin menyampaikan kabar baik dan menyegerakan nya. Kedatangan kami ke sini untuk mengkhitbah mu bukan untuk menikahkan mu dan kita akan menundanya sampai kamu lulus." jelas Kiyai.


"Hawa, dengarkan Mama. Ini adalah salah satu amanat papa menikahkan kalian berdua. Adam, lelaki yang insyallah akan menjadi imam yang baik untuk mu. Yang bisa melindungimu sebagai papa mu." 


"Tapi Ma?" 


"Sepertinya kalian butuh waktu bicara. Bicaralah bawa Adam ke belakang." 


Marwah, memgusulkan agar Adam dan Haw saling bicara untuk mengenal satu sama lain. Berharap pembicaraan itu akan meluluhkan hati Hawa.

__ADS_1


Mereka berdua pun menuju halaman belakang. Hawa duduk di sebuah bangku sedangkan Adam, hanya berdiri seraya menatap tanaman hias di sana. Hawa merasa kesal karena Adam, acuh tak acuh. 


__ADS_2