
Kabar Gio di tahan pun sudah ramai di media sosial bahkan ada dalam siaran berita. Namun, Gio mengungkap sebuah pengakuan yang mengejutkan. Jika dirinya tidak sepenuhnya bersalah dan hanya menjalankan perintah.
Pengakuan itu kini membuat ramai jagat maya. Banyak orang yang penasaran siapa orang yang menyuruhnya, dan ada juga yang menganggap itu bohong sebagaian dari mereka tidak mempercayai ucapan Gio.
Namun, bukti CCTV kembali membuktikan. Saat seorang pria yang memberikannya sebuah amplop berupa uang. Orangtua Gio pun turun tangan, tidak terima jika hanya anaknya yang di salahkan. Untuk saat ini mereka semua sedang mencari orang yang bersama Gio, waktu itu.
"Sial! Kenapa jadi seperti ini," umpat seorang pria yang menggerutu dan mengerutuki dirinya sendiri.
Pria itu langsung mengambil ponselnya, di hubunginya satu kontak yang tertera di layar ponsel.
"Kamu sudah tahu beritanya? Kenapa jadi seperti ini?"
" …. "
"Sekarang juga kamu pergi yang jauh. Ingat jangan sampai polisi menemukan mu mengerti!"
Sambungan telepon pun berakhir. Pria itu sangat kesal dan marah, mungkin takut jika dirinya di tangkap.
"Ayah!" panggilan seorang wanita mengejutkannya. Sepertinya wanita itu adalah putrinya.
"Kenapa kamu tidak mengetuk pintu dulu?" cecar pria itu.
"Tadi Asma sudah ketuk pintu dan panggil-panggil Ayah. Karena tidak ada sahutan Asma, membuka pintu kamar Ayah."
"Ada apa?" Dengan ketusnya pria itu bertanya.
"Ibu manggil, kita makan malam."
"Ya, nanti Ayah keluar. O ya, Asma mana ponsel mu?" Tiba-tiba saja pria itu menanyakan ponsel putrinya.
"Untuk apa Ayah?"
"Jangan banyak tanya. Berikan pada Ayah." Secara paksa pria itu mengambil ponsel Asma dan di lemparnya.
"Ayah! Kenapa Ayah melempar ponsel ku?"
"Nanti Ayah berikan lagi yang baru." Kata Anshor, yang merasa tidak berdosa lalu pergi dari kamarnya.
Asma menatap sedih ponsel yang baru saja di lempar oleh sang ayah. Asma tidak mengerti apa yang telah terjadi pada ayahnya.
Tidak hanya Asma, Anshor juga merusak ponsel milik istrinya. Jaenab sangat terkejut juga kesal pada tingkah suaminya, tiba-tiba saja melempar ponsel itu.Tidak hanya itu, Anshor pun melarang mereka untuk menonton TV, mungkin Anshor takut jika mereka melihat berita tentang Gio.
Padahal Gio tidak mengatakan namanya, tetapi ketakutannya sangat berbeda.
"Mas! Ada apa dengan mu? Apa salah ku kenapa kamu merusak semua barang milik ku."
"Sudah jangan banyak tanya akan aku belikan yang baru."
"Tetap saja Ayah, kami butuh penjelasan. Kenapa merusak ponsel ku tanpa jelas alasannya?" Asma, berjalan sambil membawa ponselnya yang rusak.
__ADS_1
"Sudah Ayah bilang jangan banyak tanya!"
Tok, tok, tok.
Suara ketukan pintu mengejutkan mereka semua. Apalagi Anshor yang semakin ketakutan.
Asma akan melangkah untuk membukakan pintu. Namun, Anshor cegah. "Jangan di buka."
"Apaan sih Ayah." Asma langsung menepis tangannya yang di cekal. Anshor tidak bisa berbuat apa-apa saat putrinya membuka pintu.
Di bukanya pintu itu. Asma menatap heran pada kedua pria berseragam di depannya yang mencekal satu orang pria tanpa seragam. Asma tahu betul seragam itu sangat di kenal dan di takuti masyarakat.
"Apa benar ini rumah bapak Anshor?" tanya seorang polisi.
"Iya benar. Ada apa ya Pak?"
"Kami di perintahkan untuk menangkap bapak Anshor."
Sungguh terkejutnya Asma, mendengar ayahnya akan di tangkap oleh polisi. Tapi apa salah ayahnya Asma, jadi bingung.
"Memangnya apa salah ayah saya Pak?"
Tanpa menjawab pertanyaan Asma, kedua polisi itu menerobos masuk ke dalam rumahnya. Anshor yang melihat langsung kelagapan. Ia ingin pergi tetapi tidak bisa karena anak suruhannya ada bersama polisi itu.
"Benar! Dia bos mu."
"I-iya Pak."
Asma dan Jaenab menahan kepergian ayah dan suaminya. Tapi tidak ada yang bisa menahan petugas polisi. Mereka pun hanya pasrah dan menatap sedih kepergian Anshor.
"Ibu Ayah?"
"Kita akan segera menyusul ayah mu." Kata Jaenab seraya memeluk Asma.
****
Hawa, merasa bahagia karena ibunya sudah membaik. Bahkan sudah bisa bercanda dengannya. Yusuf pun sudah menjelaskan tentang fitnah itu bahkan mereka sudah tahu jika Gio sudah di penjara.
Dan kini mereka meminta Hawa kembali ke pesantren. Namun, Hawa belum memberikan jawaban. Kejadian itu membuatnya sakit hati karena tidak ada yang mempercayainya.
"Hawa, jangan dendam seperti itu. Mereka juga tidak tahu kalau itu tidak benar. Dan mereka pun kena dampaknya, tetapi sekarang semua sudah selesai. Kebenaran sudah terungkap."
"Memangnya kenapa sih Ma, kalau Hawa tinggal di rumah. Hawa janji gak akan nakal lagi. Dan Hawa tidak akan melepas hijab ini."
Marwah hanya tersenyum.
"Begini Hawa, sebagai muslim kita tidak hanya menutup aurat saja, tetapi perlu ilmu dan terus belajar untuk menjadi lebih baik. Seorang guru atau ustadz yang mereka anggap sudah pintar, selalu memberi wejangan, didikan untuk para muridnya. Dan semua ilmu yang mereka sampaikan tidak lain dari hasil belajar mereka. Lagi pula kamu masih sekolah sebentar lagi lulus, jika kamu di rumah mau apa?"
"Ya aku bisa bantu Mama, sekarang 'kan Mama sedang sakit aku bisa bantu Mama beres-beres, memasak, kalau untuk sekolah bisa sekolah di tempat biasa."
__ADS_1
"Kamu yakin emang bisa masak?"
"Bisa dong Ma. Hawa pernah bantu Ummi memasak."
"Benarkah? Alhamdulillah anak Mama sekarang sudah mau belajar memasak. Tapi saat Mama suruh kamu tidak pernah mau."
"Itu 'kan dulu Ma. Sebelum Hawa masuk pesantren."
"Nah, ini yang Mama suka, di pondok kamu bisa melakukan yang tidak kamu lakukan. Kamu lebih baik, penurut, pokoknya kamu jadi lebih solehah. Balik lagi ke pondok ya?"
Hawa membuang nafasnya kasar. Tetap saja ibunya ingin ia kembali ke pesantren. Marwah tersenyum melihat raut wajah putrinya yang sedang kesal.
Tidak berselang lama Yusuf masuk ke kamar ibunya, sepertinya sudah menjawab telepon.
"Sudah teleponnya Suf? Dari siap?"
"Dari Kiyai Abdullah." Marwah terkejut juga senang mendengar nama itu tapi tidak dengan Hawa yang memasang wajah jutek.
"Apa yang di katakannya?"
"Mereka meminta maaf atas masalah kemarin karena telah meminta Hawa pulang. Insya Allah mereka akan datang silaturahmi ke rumah setelah keadaan Kiyai membaik."
"Memangnya kenapa dengan Kiyai?"
"Kiyai Abdullah sakit Ma, karena syok dengan masalah kemarin."
"Ya Allah, Yusuf sampaikan maaf Mama pada mereka. Jika foto itu tidak beredar mungkin tidak akan seperti ini."
"Mama! Kenapa Mama minta maaf?" Hawa tersulut emosi. Dia tidak terima jika ibunya meminta maaf karena baginya keluarganya tidak salah.
Namun tidak bagi Marwah, karena foto itu membuat fitnah menyebar.
"Hawa jika kamu tidak pergi ke caffe itu, dan bertemu dengan Gio, mungkin kejadian itu tidak akan terjadi. Sekarang kamu pikirkan apa kita tidak salah?"
Hawa langsung diam.
"Sudahlah, Hawa pergi ke kantin belikan makanan untuk kakak sekalian untukmu juga," titah Yusuf.
Hawa pun pergi menuju kantin. Yusuf langsung duduk di depan Marwah, di atas bangku yang sempat Hawa duduki.
"Ada apa Suf? Kenapa meminta Hawa keluar. Padahal Mama masih ingin bicara padanya."
"Sudahlah Ma. Ini ada yang lebih penting yang ingin Yusuf katakan."
"Apa?"
...----------------...
Kira-kira apa yang di katakan Yusuf?
__ADS_1
Jangan lupa like, vote dan komentarnya ya
Terimakasih 🙏☺