Kisah Kasih Anak Santri

Kisah Kasih Anak Santri
Bab 32- Sesuatu mengejutkan.


__ADS_3

Hawa duduk termenung di dalam kamarnya. Masalah itu membuatnya di keluarkan dari pesantren.


Masih teringat jelas saat dirinya pergi, tidak ada satupun yang menahan langkahnya begitupun Adam, yang hanya melihat kepergiaan nya dalam diam.


Entah kenapa Hawa merasakan sakit di relung hatinya. Saat melihat Adam pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun.


"Mereka semua orang-orang yang taat pada agama. Tapi kenapa mereka dengan mudahnya percaya pada satu fitnah. Sama saja, taat agama ataupun tidak, semua sama."'


Kepercayaan Hawa pada agamanya mulai pudar, guru mereka mengajarkan caranya menutup aurat, sholat, puasa, menjaga diri dari yang bukan mahrom, tetapi tidak mengajarkan agar tidak percaya fitnah.


Sekarang yang Hawa pikirkan adalah ibunya, bagaimana jika sang ibu tahu tentang video itu. Cara satu-satunya hanyalah dengan menemui Gio.


"Aku harus temui Gio, dia yang harus bertanggungjawab."


****


Di tempat lain Adam dan Ummi menunggu Kiyai yang tengah berbaring di ranjang pasien. Setelah kejadian kemarin Kiyai langsung di larikan ke rumah sakit. Hingga detik ini Kiyai belum sadarkan diri.


Hati Adam semakin dilema, di saat dirinya ingin mengatakan kabar bahagia atas petunjuk istikhorohnya, keyakinan hati untuk menikahi Hawa tetapi cobaan datang sebelum itu terjadi.


Tuhan memberikan petunjuk dalam mimpinya. Seorang wanita hadir di yakini sebagai jodohnya. Namun, hanya dalam satu malam Tuhan menjadikan wanita itu sebagai penderita hidupnya.


Karena wanita itu keluarganya, dan pondok nya, menjadi hancur.


Namun, Adam teringat perkataan Yusuf yang meyakinkan bahwa fitnah itu tidak benar.


"Saya berani bersumpah Adam, saya yakin adik saya tidak seperti itu. Aku saksi yang melihat kejadian itu. Aku sendiri yang membawa Hawa pergi dari sana. Pria itu memang ingin memeluk dan mendekati Hawa, tapi itu hampir dan tidak pernah terjadi. Seseorang yang mengambil potret itu hanya melihat dari sudut pandang Gio, bukan dari Hawa. Aku harap kamu tidak meragukan adik ku Adam, dan aku masih berharap kamu menerima lamaran ku."


Kata-kata itu masih terngiang di telinga Adam, hingga Adam semakin di buat gelisah.


"Adam apa yang kamu pikirkan?" tanya Ummi Khodijah yang melihat Adam, duduk melamun bahkan seruan nya pun tidak Adam dengar.


"Tidak ada Ummi. Adam hanya memikirkan kesehatan Aby saja."


"Ummi juga tidak menyangka, ada orang yang tega menyebarkan fitnah tentang pesantren kita."


"Maksud Ummi? Apa Ummi meragukan foto itu tidak benar?"


Khodijah tersenyum.


"Hawa, memang nakal, pergaulannya sangat bebas. Tapi Ummi tidak yakin dia melakukan itu pada kita. Coba kamu lihat lagi foto itu Adam, tidak ada sedikit pun raut kebahagiaan dari Hawa, saat di dekati pria itu. Ummi melihat tatapan Hawa yang ketakutan, dan Ummi rasa tidak berpelukan. Lihat saja jarak antara keduanya, masih terlalu jauh. Entahlah Ummi tidak tahu, apakah ini pekerjaan seseorang yang membenci Hawa atau kita. Tapi jika hanya Hawa yang di benci tidak mungkin pesantren kita kena fitnahnya. Apa kamu masih ingat Adam, beberapa hari ini Aby selalu mendapatkan teror, mungkinkah orang itu …."


"Sudahlah Ummi kita jangan berburuk sangka. Hanya Allah yang tahu, kita serahkan semuanya pada Allah. Sekarang kita berdoa untuk kesembuhan Aby."

__ADS_1


"Iya, semoga Aby cepat siuman."


*****


"Gue udah lakuin seperti apa yang lo minta. Sekarang mana bayaran gue."


"Sesuai janji bos gue memberikan uang yang lo minta."


Seorang pria memberikan sebuah amplop pada Gio. Gio tersenyum setelah mengintip uang di balik amplop itu.


"Jika lo butuh gue lagi, gue siap membantu." Orang itu hanya mengangguk lalu pergi meninggalkan Gio.


Dengan bangganya Gio, menghitung lembaran uang yang baru saja ia dapatkan. Entah untuk apa Gio, menggunakan uang itu.


"Lo sudah memalukan gue Wa, sekarang lo tanggung derita lo."


Gio, masih menyimpan dendam saat Yusuf menampar dirinya. Gio memasukan amplop itu ke dalam tasnya lalu pergi.


Pria yang memberikan uang itu memasuki sebuah mobil, yang sudah di tumpangi seorang pria. Lalu duduk di bagian kemudi.


"Semua berjalan lancar. Dia menawarkan pekerjaan lagi Bos."


"Anak muda zaman sekarang tidak akan menolak uang. Mungkin aku akan membutuhkannya lagi nanti, sekarang antarkan aku ke tempat biasa."


Mobil itu pun melaju meninggalkan sebuah taman yang menjadi pertemuannya.


Hawa sudah sampai di rumah Gio, hanya menaiki taksi dan pergi sendiri. Dalam waktu bersamaan Gio, pun datang menaiki motor sport nya.


Gio menghentikan motornya di depan Hawa, lalu turun dan menghampirinya.


"Hai? Tumben lo ke rumah gue ada apa?"


"Jangan pura-pura gak tahu!" ketus Hawa, Gio masih terlihat santai.


"Santai Wa, kenapa lo marah-marah? Masuk dulu kita minum dulu."


"Enggak usah." Tolak Hawa Tegas.


"Apa maksud ucapan lo Gio? Lo nyebarin fitnah tentang gue. Kita gak pernah pacaran dan gue bukan kekasih lo."


"Lalu apa yang kamu inginkan?


" Gue ingin lo katakan pada semua orang bahwa ucapan lo waktu itu tidaklah benar."

__ADS_1


"Hawa, ngapain sih lo bikin ribet. Udah, kita jadian saja bereskan."


"Nyesel gue dulu pernah suka sama lo. Ternyata lo seperti ini Gio. Gue yakin kebenaran akan terungkap nanti."


Setelah mengatakan itu Hawa, berlalu pergi meninggalkan rumah Gio. Hawa sangat kesal ternyata teman-temannya tidak ada yang peduli padanya. Namun, percuma saja menyesali hal yang sudah terjadi.


"Papa, kenapa hidup Hawa seperti ini? Apa ini hukuman Hawa, karena telah durhaka pada papa."


Hawa, menangis dalam perjalanan pulangnya. Untuk pertama kalinya Hawa, menangis dan menyesali perbuatannya.


"Hawa pikir mereka teman-teman yang baik tapi ternyata tidak, mereka bukan teman yang baik. Seperti apa yang papa katakan."


Hawa, mengingat lagi apa yang orang tuanya katakan. Jika teman-temannya bukanlah teman yang baik yang akan membawa pengaruh buruk padanya. Dulu selalu Hawa abaikan, tapi sekarang Hawa baru menyadarinya.


Suara deringan ponsel menghentikan tangisannya. Dihapusnya air mata itu dengan tangannya sebelum akhirnya Hawa, menjawab panggilan itu.


"Halo, Kak?"


Dari cara memanggilnya sudah di pastikan yang menghubunginya adalah Yusuf. Sepertinya Yusuf mencarinya.


"Lagi di jalan, Kak," lanjut Hawa. Dan entah apa yang di katakan Yusuf setelah itu.


"Kenapa dengan Mama, Kak?" Hawa tiba-tiba kaget. Sepertinya memang terjadi sesuatu pada ibunya. Namun, Yusuf tidak menjelaskannya.


"Iya, Kak. Sebentar lagi Hawa sampai."


Sambungan telepon pun di tutup. Hawa segera meminta supir taksi untuk lebih cepat lagi.


*****


Gio, baru saja akan melangkah memasuki rumahnya. Tiba-tiba sebuah mobil berhenti membuat langkah Gio tertahan.


Turunlah beberapa pria yang berseragam. Pria itu menghampiri Gio, yang tengah berdiri menatap mereka.


"Dengan saudara Gio?"


"Iya."


"Anda di tangkap." Sebuah borgol mengikat kedua tanganna membuat Gio heran.


"Apa? Saya di tangkap apa salah saya!"


"Anda bisa menjelaskannya di kantor."

__ADS_1


Kedua polisi itupun membawa Gio, masuk ke dalam mobilnya.


__ADS_2