Kisah Kasih Anak Santri

Kisah Kasih Anak Santri
Bab 29- Hasil Istikhoroh


__ADS_3

Di putarnya keran air yang membuat cairan bening itu turun deras membasahi lantai. Sepasang pemuda dan pemudi sama-sama mengambil air wudhu dari kedua tempat yang berbeda. 


Sajadah lebar mereka hamparkan di atas lantai yang bersih menghadap kiblat. Adam sudah rapi dengan setelan koko dan sarungnya juga peci hitam yang menutup rambutnya. 


Hawa, sudah rapi memakai mukena yang menutup seluruh tubuhnya. Keduanya sama-sama mengucap takbir dengan niat sholat yang berbeda. 


Hawa, berniat menjalankan sholat taubat untuk dirinya. Berharap Allah mengampuni dosa-dosanya baik yang akan datang maupun yang sudah lalu. 


Dua rakaat Adam kerjakan, di waktu malam sebelum tidur. Adam lakukan sholat istikhoroh untuk meminta pertunjuk atas jawaban dari permintaan Yusuf. 


"Wahai Tuhan, Engkau adalah Tuhanku, tiada yang patut disembah melainkan hanya Engkau, Engkaulah yang menjadikan aku dan aku adalah hamba-Mu, dan aku dalam ketentuan dan janji-Mu yang Engkau limpahkan kepadaku dan aku mengakui dosaku, karena itulah ampunilah aku, sebab tidak ada yang dapat memberi ampunan melainkan Engkau wahai Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan apa yang telah aku perbuat."


Dengan khusu nya Hawa panjatkan doa taubat meminta ampunan pada Allah dengan membentangkan kedua tangannya, meluruskan dengan dadanya. 


Dalam doanya ia menangis, membayangkan betapa banyaknya dosa yang ia perbuat. Sungguh menyesal dirinya akan perbuatan maksiat yang selama ini ia lakukan. 


Berbeda dengan Hawa, yang menyesal hingga menangis dalam doanya. Adam, tetap tenang memanjatkan doa istikhorohnya. Berharap Allah akan memberikan petunjuk.


"Ya Allah, sesungguhnya aku meminta pilihan yang tepat kepadaMu. Dengan ilmu pengetahuanMu dan aku memohon kekuasaanMu ( Dari semua persoalanku ) dengan keMahaKuasaan Mu. Aku mohon padaMu sesuatu dari anugerahmu yang Maha Agung. Sesungguhnya engkau MahaKuasa, dan aku tidak kuasa. Engkau mengetahui, sedangkan aku tidak mengetahuinya dan engkau adalah Maha mengetahui hal yang ghaib ya Allah, jika engkau mengetahui bahwa urusan ini ( … ) Adam pun mengatakan hajatnya. Mengatakan tentang Hawa apakah jodohnya atau bukan ) lebih baik dalam agamaku. Dan akibatnya terhadap diriku, sukseskanlah untuk ku mudahkan jalannya, kemudian berikan berkah. 


Akan tetapi jika engkau mengetahui bahwa persoalan ini lebih berbahaya bagiku dalam agama, perekonomian dan akibatnya pada diriku. Maka singkirkan persoalan tersebut dan jauhkan aku dari padanya. Takdirkan kebaikan untuk ku di mana saja kebaikan itu berada, kemudian berilah kerelaanmu pada ku. Aamiin." 


Kedua telapak tangan itu di biarkan mengusap wajahnya. Masih dengan hati gelisah Adam melanjutkan dengan berdzikir. 


*****


Keesokan paginya Hawa dan Adam berpapasan di tengsh lorong kelas. Keduanya sama-sama diam dalam lamunannya. 


Entah kenapa kali ini Adam tidak mengalihkan pandangannya itu yang membuat Hawa heran. Dan Adam terlihat sangat canggung setelah perkataan Yusuf kembali terngiang di telinganya.


"Pagi Ustadz." Sejak kapan Hawa menyapa Adam? Sungguh bukan diri Hawa yang sesungghnya. 


Adam langsung menunduk lalu melangkah melewati Hawa. 


"Tunggu Ustadz!" tahan Hawa, langkah Adam pun terhenti.


"Hm … Ustadz tidak lagi menanyakan hapalan? Bukankah hapalanku belum selesai." 


Ada apa dengan Hawa hari ini. Dalam semalam Hawa berubah. Sosok Hawa yang tidak malas dan tidak mau setor hapaln tapi kini malah mengingatkan sang guru jika hapalannya belum selesai. 


Masih dengan posisi membelakangi, Adam berkata, "Kamu tunggu saja di kelas nanti aku menyusul. Aku harus menyimpan buku-buku ini terlebih dulu." 


Hawa menegok tangan Adam yang penuh dengan tumpukan buku. Hawa pun berinisiatif membantunya. Dengan lancangnya Hawa mengambil beberapa buku di tangan Adam. 

__ADS_1


Namun, bukannya buku yang di sentuh melainkan tangan Adam.


"Maaf Ustadz," ucap Hawa saat menyadari tangannya menyentuh tangan Adam. Dan langsung melepasnya. 


"Biar saya bantu Ustadz." 


Tanpa di pinta Hawa segera membawa buku itu ke ruangan Adam. Sedangkan Adam masih diam, melihat tingkah Hawa yang sangat aneh.


Sedetik tatapannya berpaling pada tangan kiri yang sempat tersentuh oleh wanita yang ia panjatkan dalam doanya. 


"Ya Allah, pertanda apa ini?" ucapnya seraya mengelus-elus dadanya. 


*****


Dengan pasihnya Hawa membaca surah Al-baqoroh sesuai hapalan yang Adam minta. Sesekali matanya terpejam saat ada satu kalimat yang ia lupa. 


Hawa, begitu fokus dengan hapalannya tanpa sadar Adam kini sedang memperhatikannya. 


"Ya Allah, apa dia wanita yang engkau kirimkan untuk jodoh ku. Wanita yang ada dalam mimpi ku, dalam setiap doa ku panjatkan namanya dan engkau selalu hadirkan dia dalam tidur ku. Senyumannya, matanya, kecantikannya, sangat terlihat jelas dalam mimpi ku. Jika memang wanita ini adalah jodoh ku, bantulah hamba untuk menjadi imam yang baik untuknya," ucap Adam dalam hatinya. 


"Ustadz!" panggil Hawa mengejutkannya. Apalagi wajah Hawa kini sangat dekat dengannya. 


"Astagfirullah, menjauhlah dari ku." 


"Ustadz seperti lihat syetan saja. Sampai istigfhar." 


"Habisnya kamu yang ngagetin. Ngapain kamu diam di sini tadi?" 


"Aku cuma ngecek saja. Abisnya Ustadz melamun." 


"Sudah selesai bacanya? Sekarang kamu boleh pergi." 


"Ustadz ngusir?" 


"Siapa yang ngusir memang pelajarannya sudah selesai." 


"Tunggu Ustadz aku ingin bertanya sesuatu." 


Kata Hawa yang kembali duduk di bangkunya. Adam mengernyitkan dahinya menatap heran pada Hawa. Kenapa tiba-tiba anak itu mendadak banyak bertanya.


"Hanya lima menit, saya tidak ada waktu." Kata Adam yang melihat arloji di tangannya. 


"Cepat mau tanya apa?" 

__ADS_1


"Apa Ustadz pernah menyentuh wanita?" 


"Astaghfirullah, pertanyaan apa ini." 


"Aku hanya ingin tahu kenapa Ustadz tidak pernah menyentuh wanita sama sekali. Tetapi di luar sana banyak lelaki yang bersentuhan bahkan saling bermesraan dengan wanita." 


"Sudah jelas jawabannya, Allah melarang sepasang manusia yang bukan mahrom untuk saling bersentuhan." 


"Alasannya? Aku tidak bertanya pada orang lain tapi aku bertanya pada Ustadz. Apa alasan Ustadz tidak menyentuh wanita sedikitpun." 


"Karena wanita adalah mahkota seperti mutiara wanita adalah hiasan, semua tubuhnya adalah perhiasan yang tidak boleh di lihat apalagi di sentuh oleh kaum yang bukan mahrom. Itu sebabnya kenapa wanita di perintahkan untuk menutup auratnya, haram baginya memperlihatkan keindahan tubuhnya pada lelaki yang bukan mahromnya. Dan haram bagi lelaki menyentuh wanita yang akan menjerumuskan kalian pada perbuatan maksiat. Sesungguhnya Allah melarang itu agar kalian para lelaki dan wanita terhindari dari dosa yang amat besar." 


"Sebesar itukah dosanya? Apa Allah akan mengampuninya?" 


"Sesungguhnya Allah Maha pengampun, bagi hambanya yang bersungguh-sungguh bertaubat." 


Hawa menunduk merenungi dosanya.


"Apa ada lagi?" 


"Jika tidak ada aku akan pergi." Adam pun berlalu pergi meninggalkan kelasnya. 


"Ya Allah, ampunilah dosaku," gumam Hawa. 


**** 


"Assalamualaikum." Adam mengucap salam saat memasuki rumahnya. 


"Waalaikumsalam," jawab Ummi dari dalam.


"Ummi Aby sudah pulang?" 


"Belum, mungkin sebentar lagi." 


"Jika Aby sudah pulang beri tahu Adam, ada yang ingin Adam bicarakan pada Ummi dan Aby." 


"Tentang apa?" Khodijah jadi penasaran.


"Nanti Ummi tahu." Adam berlalu masuk ke dalam kamarnya.


Baru saja tubuhnya mendarat di atas ranjang tidurnya. Sebuah panggilan masuk dalam ponselnya. Saat di lihat nama yang tertera, ternyata Yusuf yang menghubunginya.


Adam sudah tahu apa yang akan Yusuf tanyakan. 

__ADS_1


__ADS_2