Kisah Kasih Anak Santri

Kisah Kasih Anak Santri
Bab 28- Berserah Diri


__ADS_3

"Aby Ummi Yusuf pamit."


"Tidak nginap saja Suf, ini sudah malam," tutur Khodijah. Yusuf hanya menggeleng.


"Makasih Ummi lain kali saja. Titip Hawa ya Ummi, jika berbuat salah tegur saja." 


"Iya Suf. Ummi akan jaga Hawa, di sini Hawa pasti baik-baik saja." 


Setelah berpamitan Yusuf pun pergi meninggalkan pesantren An-nur. Di sudut bangunan asrama putri Hawa terus menatap mobil kakaknya yang mulai menghilang. 


Tidak pernah terbayangkan olehnya akan tinggal di sebuah pesantren dalam waktu yang sangat lama. Terkadang Hawa berpikir jika mereka tidak menyayanginya. Tidak ingin mengurusnya, sehingga mengirimnya ke pesantren. 


Namun, setelah di pikirkan kembali. Keluarganya sangat sayang padanya itu sebabnya mereka memperdulikan dan memperhatikan pendidikan juga masa depannya. 


"Kak Yusuf sudah pergi. Papa, apa senang Hawa balik ke pesantren?" monolognya seraya menatap langit malam yang gelap serta bintang-bintang yang berkilauan di atas sana. 


Sungguh berbeda hidupnya sekarang. Hawa yang dulu dengan bebasnya bermain hingga larut malam. Bahkan sebuah club sudah tidak asing lagi baginya. 


Sang ayah selalu marah saat dia pulang. Namun, apa yang Hawa katakan? 


"Aduh Pa, Hawa capek mau tidur. Jangan ceramah terus, bosan tahu gak sih." 


Selalu itu yang Hawa katakan. Tanpa rasa berdosa dirinya mengabaikan perkataan papanya, menentangnya hanya karena pengaruh teman-temannya. 


"Bilang saja Wa, lo mau main atau kerja kelompok. Nyokap lo gak akan tahu lo pergi ke mana." 


"Tapi Sher, lo enak gak ada Nyokap dan Bokap lo di rumah. Sedangkan gue … yang ada di marahin kali Sher." 


"Aduh Wa, lo ini kaya bukan anak dewasa saja. Biar gak ketahuan lo bawa kunci ganda jadi saat lo pulang gak usah gedor-gedor. Gampang 'kan. Pokoknya lo nyesel jika gak ikut. Tempatnya seru banget, semua masalah terlupakan, di sana kita bebas mencurahkan perasaan kita. Joget-joget, bercerita, dan yang paling utama banyak cowok-cowok ganteng Say." 


Sherly terus membujuk dengan berbagai macam cara hingga akhirnya Hawa pun terbujuk rayuannya.


Untuk pertama kalinya Hawa, memasuki sebuah club, masih terlihat takut dan risih. Saat beberapa pemuda dengan lancangnya mendekat dan menyentuhnya. Namun, apa tanggapan kedua temannya?


Sherly dan Mira mereka menertawakannya. Mengganggap dirinya kuper ( kurang pergaulan ).


"Wa lo kenapa sih? Santai saja kali mereka gak akan gigit." 


"Gila ya lo! Terus gue mau gitu aja di sentuh sama tuh cowok. Risih gue." 


"Alah, so alim lo," cibir kedua temannya dengan tawa. 


Mereka lalu bergabung bersama pacar-pacarnya. Menuangkan minuman lalu bersulang. Kecuali Hawa yang hanya diam. Karena Hawa tahu itu minuman haram yang harus di jauhi.


Berulang kali Sherly dan Mira memaksa Hawa untuk minum. Namun, sebisa mungkin Hawa menghindar. Jangankan meminumnya, mencium baunya saja membuat Hawa mual. 


"Ayok Wa sedikit saja." 


"Enggak! Kalian jangan maksa gue dong." 


"Gak asyik lo," sindir Mira, tetapi Hawa tidak perduli. 


"Sher, Mir, gue mau pulang." 


"Bentar lagi masih jam 11 juga. Tunggu bentar ya." 


"Enggak Mir ini sudah malam.* 

__ADS_1


"Hawa lo enjoy saja di sini. Ngapain sih mikirin yang di rumah. Bokap lo gak akan tahu." 


Papanya memang tidak tahu. Namun, panggilan berkali-kali dari papanya membuatnya takut jika papanya nanti pasti memarahinya. 


"Wa, kita dance yuk?" 


"Enggak, ah." 


Sherly dan Mira tidak menghiraukan ucapannya, yang langsung menarik tangan itu ke ruang dansa. 


Mereka bergabung bersama yang lain, menggerakan pinggul, kepala, dan tubuhnya sesuka hati. Tapi tidak dengan Hawa yang tetap diam melihat teman-temannya. 


Hawa semakin risih saat melihat temannya bercumbu di hadapan banyak orang. Bahkan Sherly dengan santainya membiarkan sang kekasih menyentuh setiap lengkuk tubuhnya. 


Sungguh dunia hitam yang menyesatkan. Hawa, berlari keluar dari tempat itu. Namun, tidak menemukan jalannya. Hingga ia bertemu Gio, yang sedang mabuk. 


"Hawa." 


"Gio, lo bisa bantu gue gak? Gue pengen pulang tapi gue gak tahu jalan pulang." 


"Pulang?" ucap Gio tersenyim smirk.


"Oke, ikut gue." 


Hawa tidak sadar jika Gio sudah mabuk berat. Sehingga membiarkan tangannya terus di tuntun oleh Gio. 


Bukannya membawa Hawa keluar, Gio malah membawanya ke tempat yang sepi. Entah itu ruangan bawah tanah, basemant, atau toilet. Pokoknya tempat itu jauh dari keramaian.


"Gio, ngapain kita ke sini. Bukannya lo mau bawa gue keluar." 


"Tunggu dulu, kita santai dulu di sini." 


"Sst …." Gio meletakan jari telunjuk pada bibirnya. Mata sayu itu menatap nyalang pada Hawa di depannya. 


Dengan beraninya Gio memeluk Hawa, lalu mengecup bibirnya. Dalam sedetik Hawa, terbujuk rayuannya, lelaki yang ia idolakan. 


Tatapan Gio, dan cintanya mampu menghipnotis dirinya, tetapi segera tangan itu mendorong tubuh Gio, bersamaan dengan kedua mata yang membulat sempurna. 


Hampir saja Gio menjamah tubuhnya jika Hawa tidak segera bertindak.


"Apa yang kamu lakukan Gio!" 


"Why? Kamu juga menikmatinya 'kan?" 


"Ini gak bener. Semua orang di sini gak bener." 


"Hawa!" teriak Gio saat Hawa berlari meninggalkannya. 


Hawa duduk melamun di ranjang tidurnya. Dengan satu tangan yang terus menyentuh bibirnya. Jika mengingat masa itu entah kenapa Hawa merasa berdosa. Lalu di mana saat dulu? Kenapa tidak ada sedikit rasa berdosa dalam hatinya. 


Hawa mulai berpikir apa Tuhan akan mengampuninya? Apa yang akan di lakukan Yusuf jika tahu bibirnya sudah tidak suci lagi. Mungkinkah Yusuf akan marah? 


"Hawa kenapa melamun?" tanya Aisyah yang kebetulan belum tidur. 


"Sebentar lagi. Aisyah boleh aku bertanya? Apa Allah akan mengampuni dosaku walaupun itu sangat besar? Aku sadar, dulu aku bukanlah gadis baik-baik. Banyak sekali larangannya yang selalu aku lakukan, apa Allah akan mengampuniku?" 


"Allah Ta'ala adalah maha pemaaf. Insyaallah sebesar apapun dosa hambanya jika mereka bertaubat dengan sungguh-sungguh dan berjanji tidak akan melakukannya, insyaalah, Allah akan mengampuni dosa hambanya." 

__ADS_1


"Bagaimana caranya bertaubat?" tanya Hawa dengan sungguh-sungguh. 


Dengan senang hati Aisyah pun memberitahukan Hawa tentang cara-caranya sholat taubat. 


****


Di sisi lain, Adam duduk melamun di dalam kamarnya. Entah apa yang sedang Adam lamunkan, mungkinkah permintaan Yusuf itu yang mengganggu pikirannya. 


Tok, tok, tok.


Suara ketukan pintu mengejutkannya, membuat Adam menoleh pada pintu kamarnya. Terlihat Kiyai yang berdiri di ambang pintu, karena pintu itu terbuka tidak sengaja Kiyai melihat Adam sedang melamun.


"Aby." Panggil Adam.


"Boleh Aby masuk?" 


"Masuklah By," tutur Adam yang langsung menurunkan kedua kakinya dari ranjang. 


Kiyai Abdullah langsung duduk di samping Adam.


"Kamu sedang memikirkan sesuatu? Aby lihat kamu melamun saja." 


"Tidak ada yang di pikirkan By. Perasaan Aby saja itu." 


"Apa kamu memikirkan darah itu? Kamu masih terkejut?" 


Darah yang sempat memenuhi kamar Kiyai, ternyata memenuhi kamar Adam juga. Sepulang dari mesjid Adam ingin merebahkan tubuhnya sesaat sebelum sholat isya. 


Namun, saat baru membuka pintu, Adam di kejutkan dengan banyaknya darah di dalam kamarnya. Bau anyir yang menyengat membuat dirinya mual. Dengan segera Adam memanggil Aby nya. 


Ummi pun membersihkan tempat itu lalu Adam dan Kiyai membacakan doa di dalam kamarnya. 


"Tidak By Adam memikirkan hal lain." 


Adam memikirkan tentang perkataan Yusuf. Namun, belum bisa bercerita pada Aby nya. Mungkin setelah ia memutuskan, baru lah berkata pada orang tuanya.


"Kamu tidak ingin bercerita?" 


"Belum siap By. Insyaallah nanti Adam akan cerita pada Aby dan Ummi." 


"Kamu ini. Aby jadi penasaran apa yang akan kamu ceritakan." 


"Adam juga penasaran By, sebenarnya siapa yang mengirim guna-guna itu pada keluarga kita. Orang itu sudah keterlaluan, meneror bahkan tadi … bisa tiba-tiba ada darah di kamar Adam." 


Kiyai Abdullah hanya membuang nafasnya kasar. Lalu menyentuh pundak Adam dengan lembut.


"Sebenarnya tadi sore juga kamar Aby mendapatkan kiriman yang sama, tapi sudah Aby bersihkan." 


"Kenapa Aby tidak bilang? Aby …." 


"Sudahlah, kita serahkan saja pada Allah Ta'ala yang maha melihat apapun yang terjadi pada hambanya. Kita tidak tahu siapa yang sudah berbuat dzolim pada kita tapi Allah … dia maha tahu. Aby tidak memikirkan perkara itu, Aby hanya memikirkan keselamatan keluarga Aby. Insyaallah dengan sholat setiap waktu, berdzikir, mengaji, marabahaya itu akan Allah jauhkan." 


"Tapi Aby bagaimana jika para santri juga terancam." 


"Doakan saja semoga tidak terjadi apa-apa pada santri kita." 


"Semoga saja By." 

__ADS_1


Cobaan selalu saja datang pada hamba-hamba Allah yang sholeh.


__ADS_2