
Seorang pria mondar-mandir tidak jelas di depan pondok. Tingkahnya sangat mencurigakan. Sepasang matanya terus memantau pergerakkan para santri di dalam.
"Itu bukannya pria tadi ngapain?" ucap Hawa yang melihat pria itu.
"Sepertinya memang ada yang tidak beres." Hawa melangkah mendekati pria itu. Gerak-geriknya membuat Hawa curiga.
"Pak ngapain di situ?" tegur Hawa membuat pria itu terkejut. Hawa, terlihat tenang karena jarak mereka yang dibatasi pagar.
"Gawat dia gadis yang tadi. Sial! Ternyata dia tinggal di sini. Apa cewek semalam masih ada di sini?"
Entah apa yang sedang diperhatikan pria itu. Netranya terus menyapu setiap sudut pondok. Hingga matanya menemukan Mira gadis yang dia cari. Namun, pria itu bingung bagaimana cara masuk ke dalam pondok itu.
Mira yang sedang berjalan santai akhirnya melihat pria itu. Matanya terbelalak seketika saat melihat pria itu yang akan memanjat pagar. Sungguh sangat nekad.
"Hawa!' teriaknya membuat Hawa berbalik. Namun, tidak menyadari bahaya dibelakangnya.
"Ah!" jerit Hawa saat tangannya di tarik paksa pria itu.
Tentu saja jeritan itu menggemparkan seisi pondok. Para santri yang tengah menjalani aktifitasnya di halaman. Mereka semua terkejut apalagi saat melihat pria itu menodongkan senjata pada Hawa.
Apa maunya pria itu? Mungkin dia menjadikan kesempatan agar mendapatkan Mira kembali.
Ah!
Jeritan kembali terdengar saat senjata tajam itu mengarah pada leher Hawa. Apalagi Hawa yang sangat tegang takut, jika pisau itu menusuknya.
"Aby …." Panggilnya berharap Adam akan datang.
"Ya Allah gimana ini. Aduh itu di todong."
"Tolong! Ada pencuri masuk!"
"Eh Ikhsan jangan tolong-tolongin saja. Samperin bantuin Hawa."
"Aduh! Enggak berani saya. Orangnya bawa senjata."
Ketiga santri saling mendorong. Mereka memang pria tetapi tidak punya keberanian untuk bertanding.
"Hei! Lepasin dia!" Mira memberanikan diri untuk mendekat.
"Jika ingin temanmu ini selamat. Kau harus ikut denganku."
"Untuk apa? Kamu akan saya laporkan pada polisi."
"Silahkan. Mungkin saat polisi datang temanmu ini sudah mati."
"Aby! …."
Bukk
Sebuah tendangan melesat menghantam tubuh pria itu. Hingga tersungkur jatuh ke belakang. Beruntung senjata itu terlempar jauh. Adam langsung menarik tubuh Hawa ke dalam pelukannya.
"Aby …." Bulir air mata hampir saja menetes turun membasahi pipinya. Mungkin ketakutan Hawa membuatnya ingin menangis. Tetapi pelukan Adam menenangkannya.
"Sudah tenang ada Aby di sini."
__ADS_1
"Takut By."
"Sudah jangan menangis. Aby sudah bawakan somay untuk istri Aby." Adam menunjukkan sekantong plastik pada Hawa.
Memang, Hawa menunggu Adam yang membelikannya somay. Saking menginginkan makanan itu Hawa rela menunggu kedatangan Adam di depan gerbang.
Yang tidak sengaja melihat pria itu. Dan tidak menyangka jika pria itu akan memanjat. Adam memberikan somay itu pada Hawa, memintanya untuk menjauh.
"Aby, itu pria tadi. Sepertinya yang menculik Mira." Adam melirik pada pria yang baru saja terbangun dari tanah.
"Sayang Hawa masuk ke rumah ya. Tahu 'kan apa yang harus dilakukan?"
"Iya Aby." Hawa mengangguk mengerti. "Tapi Aby hati-hati," ucap Hawa cemas.
"InsyaAllah Aby akan jaga diri Aby."
Hawa segera pergi menuju rumah Kiyai. Mira langsung menghampirinya, memastikan jika temannya baik-baik saja. Namun, tidak ada waktu bagi Hawa untuk bicara karena Hawa harus segera menghubungi polisi.
"Assalamualaikum Abah, Ummi!" teriaknya saat memasuki rumah yang diikuti Mira.
"Ada apa Hawa? Kok lari-lari."
"Di luar Ummi …."
"Di luar apa?"
"Pria semalam kembali lagi. Pria yang akan membunuh ku," jawab Mira.
"Ya Allah, lalu apa dia masuk?"
"Biar Abah yang hubungi." Kiyai pun segera memanggil polisi untuk datang ke pondoknya.
Suasana di luarpun semakin gaduh. Pertengkaran Adam dan pria itu membuat tegang semua orang. Para santri mencoba untuk membantu Adam. Mencari benda apa saja yang bisa dijadikan senjata.
"Ikhsan ayo kita bantu."
"Benar-benar tuh orang cari masalah ya."
"Kalian ini ngomong saja. Lakuin!" hardik Idris yang langsung berlari menuju Adam yang kini pergulatan itu semakin sengit.
Ah!
Tidak sedikit para santriwati yang menjerit saat senjata tajam itu terayun dan hampir mengenai Adam. Berapa kali Adam menghindar. Tetap, pada akhirnya Adam pun terkena goresan pisau itu.
"Ustadz Adam!" teriakan para santri memekakan telinga hingga terdengar ke dalam rumah. Membuat Hawa panik.
"Aby!" teriaknya yang semakin gelisah memikirkan keadaan suaminya.
Adam, sempat meringis karena tangannya terluka. Namun, Adam masih bisa bertahan. Luka itu tidak seberapa baginya dibandingkan keselamatan para santri di sini.
"Ustadz Adam tidak apa-apa?"
"Eh Ikhsan! Kamu itu malah nanya, tidak lihat apa Ustadz Adam terluka."
"Ssst … kalian ini malah berantem. Bukannya tolongin!" hardik Idris pada kedua temannya Ikhsan dan Ujang. Mereka terus bercanda di saat seperti ini.
__ADS_1
Hingga tidak sadar jika si pria itu sudah mendekat. Dan hampir saja melukai mereka jika tembakan polisi terlambat mengenai kakinya.
Beruntung polisi itu datang di waktu yang tepat. Yang langsung mengarahkan senjatanya mengenai lutut si pria hingga terpincang-pincang.
Para anggota berseragam itu langsung menangkapnya. Para santri segera berkerumun membantu Adam yang terluka. Sungguh peristiwa yang menegangkan membuat mereka semua trauma.
*****
"Aby bilang bisa jaga diri. Kenapa terluka?" hardik Hawa.
Namun, terlihat jelas kecemasan pada dirinya. Dengan perlahan Hawa, membalut luka pada telapak tangan Adam dengan pelan.
"Aw … pelan-pelan."
"Ini juga pelan-pelan By. Lain kali jangan sok jagoan ngadepin penjahat sendirian."
"Siapa yang sok jagoan? Jadi lelaki itu harus berani. Masa istri Aby dalam bahaya tidak bisa lindungi."
"Iya, tapi jangan sampai terluka. Kalau gini Hawa yang ngerasa salah."
"Sekarang udah enggak, kan sudah di obatin sama istri Aby penuh dengan cinta," goda Adam yang mencubit hidungnya.
"Ih … Aby. Masih saja bisa gombal." Adam tertawa renyah menggoda Hawa sudah menjadi hobinya. Seketika Adam teringat somay yang dia beli.
"Somay yang tadi Aby beli mana? Sudah dimakan?"
"Hawa lupa nyimpen By. Tidak tahu dimana. Mungkin di dapur kali ya By."
Dan benar saja saat mereka ke dapur somay itu sedang di makan oleh pak Soleh yang terlihat sangat menikmatinya. Tentu saja Hawa mencebik, merasa kecewa karena somay yang diinginkan bukan masuk ke dalam mulutnya melainkan mulut orang lain.
"Aby …." Hawa merengek.
"Besok Aby belikan lagi ya?"
"Enggak mau! Maunya itu."
"Ya gimana dong sudah dimakan sama Ustadz Soleh."
"Ya, Aby suruh Ustadz Soleh muntahin." Adam terbelalak keinginan Hawa benar-benar tidak masuk akal. Yang tetap kekeh ingin memakan somay yang sudah Ustadz Soleh makan.
Adam semakin bingung.
"Istri Aby ini kenapa? Kok marah-marah. Ya tidak mungkin dong Ustadz Soleh harus muntahin. Jorok, yang ada gak enak. Emang mau makannya?" Wajah Hawa semakin cemberut.
"Besok Aby belikan lagi yang banyak. Atau ganti menu saja gimana?"
Hawa sempat berpikir. Terlintaslah sebuah makanan di benaknya.
"Ya udah gak apa-apa."
Adam tersenyum merasa lega sebab istrinya tidak lagi marah. Namun, senyum itu hanya sebentar sebelum Hawa berkata, "Hawa mau rambutan."
"Rambutan?"
"Iya, rambutan."
__ADS_1
Adam semakin pusing dengan keinginan Hawa. Bukan tidak bisa atau tidak mau membelikan. Namun, buah rambutan tidak ada setiap bulannya yang akan ada jika sudah musimnya. Dan saat ini belum musim buah rambutan. Darimana Adam bisa mendapatkannya.