Kisah Kasih Anak Santri

Kisah Kasih Anak Santri
Bab 53- Cemburu


__ADS_3

Hawa terbangun, dilihatnya luar jendela yang sudah terang. Jarum jam menunjukkan pukul 06.30 membuat Hawa langsung mengerjat terbangun dari ranjangnya.


Sebentar lagi masuk kelas sedangkan dirinya belum bersiap-siap.


"Aby kenapa tidak bangunkan sih! Bisa terlambat aku." Hawa menggerutu.


"Istri Aby sudah bangun? Mau kemana?"


"Ih Aby … kenapa tidak bangunkan? Hawa harus masuk kelas, kan masih ujian."


"Sudah tidak usah masuk kelas."


"Kenapa?"


"Bukannya istri Aby sedang sakit? Aby sudah izin pada Ustadzah Lili biar nanti Aby bawakan kertas ujiannya. Hawa kerjakan saja di rumah."


"Enggak bisa gitu dong Aby. Nanti timbul kecemburuan sosial, mereka pasti mikir yang aneh-aneh."


"Aneh-aneh gimana?"


"Mentang-mentang istri Ustad, menantu pemilik pondok bisa kerjakan tugas di rumah. Mereka pasti berpikir seperti itu Aby."


"Istri Aby ini suudzon saja." Dengan gemasnya Adam mencubit hidungnya. "Belum tentu yang kamu pikirkan sama dengan yang mereka pikirkan," sambung Adam.


"Udah ah By, Hawa masuk kelas saja."


"Yakin? Perutnya gimana?"


"Gak apa-apa kok By udah gak sakit. Nanti Hawa minum obat saja. Ya sudah Hawa mau mandi dulu."


Adam mengangguk membolehkan. Dilarangpun tidak ada gunanya Hawa pasti tetap kekeh untuk masuk kelas. Memang disayangkan jika harus melewati waktu ujian.


*****


"Assalamualaukum." Salam Hawa saat memasuki kelas.


Suasana kelas sangat hening, tapi ada ketiga temannya dan satu santri yang entah siapa karena membelakanginya.


"Kalian tidak menjawab salamku?"


Sedetik mereka menoleh pada Hawa. Hawa tercengang melihat seorang santri di depannya. Santriwati yang selalu bersitegang dengannya, dan masa lalu dari suaminya.


"Asma!"


Asma kembali lagi ke pesantren. Entah apa yang membuat Asma tiba-tiba datang lagi. Dan mengejutkan teman-temannya.

__ADS_1


"Maafkan aku Kak. Tidak ada maksud Asma menyembunyikan identitas ayah. Asma hanya takut jika Kak Yusuf dan Bu Marwah benci pada Asma jika tahu yang sebenarnya. Namun, Asma tidak bisa menyembunyikan ini selamanya karena hati Asma merasa bersalah."


Asma mengatakan kebenaran tentang ayahnya yang telah memfitnah Hawa adik Yusuf. Entah Yusuf menerimanya atau tidak yang jelas dia tidak berkata sedikitpun.


Asma mungkin tidak salah, tapi kesalahan ayahnya masih belum bisa di terima walaupun hatinya sudah memaafkan. Apalagi sikap Anshor yang angkuh yang sampai saat ini tidak pernah mengakui kesalahan yang sudah di perbuat apalagi meminta maaf.


"Terimakasih atas kebaikan kalian, tapi Asma tidak pantas menerima kebaikan itu."


Asma memilih untuk berhenti dari pekerjaannya. Dan pergi dari kediaman Yusuf.


Marwah hanya diam, bagaimanapun fitnah itu telah membuat putrinya dipandang sebelah mata oleh semua orang. Dan Marwah belum melupakan fitnah itu.


"Kenapa kamu tidak jujur dari awal?"


Yusuf pasti merasa kecewa merasa dibohongi. Namun, Yusuf tidaklah sekejam itu mengusir Asma dari rumahnya. Mengingat Asma sebatang kara, ayah yang di penjara dan ibunya yang sakit dan Yusuf tidak mungkin membiarkan Asma tertidur di jalanan tanpa mendapatkan pendidikan yang layak.


Yusuf, memutuskan untuk mengirim Asma ke pesantren berharap kehidupannya lebih baik dari kedua orangtuanya. Dan disinilah Asma sekarang.


"Asma!" panggilan Aisyah, Minah, dan Asiyah membuyarkan lamunannya.


Sekarang Asma bingung, harus bahagia atau sedih. Bagaimana pandangan mereka jika tahu hidupnya yang sekarang. Untuk sekolah saja ditanggung oleh orang lain.


"Asma apa kabar? Kita senang kamu kembali." Itu menurut mereka tapi tidak dengan Hawa, yang sangat tahu bagaimana perasaan Asma pada Adam.


"Oh, jadi teman kalian datang lagi. Pantesan kalian mengabaikan salamku."


"Bukan gitu Wa, tadi kita …"


"Ah, sudahlah. Teman kaliankan memang Asma yang sangat kalian rindukan." Hawa berlalu pergi meninggalkan kelasnya. Berdiam diri di tengah taman.


"Kenapa sih tiba-tiba dia datang. Bagaimana kalau Aby melihat, apa Aby akan … ah, sudahlah Hawa jangan berpikir aneh-aneh. Lebih baik sekarang fokus untuk ujian."


*****


Di dalam kelas.


"Asma bagaimana kabarmu? Kita melihat berita jika …."


"Ya! Apa yang kalian lihat itu benar. Ayahku dipenjara karena memfitnah Hawa dan pesantren ini. Apa kalian akan membenciku juga?"


"Kata siapa? Kami tidak berhak membencimu Asma, setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan begitupun ayahmu. Kamu juga tidak tahu jika akan terjadi hal seperti itu 'kan. Justru kami sangat prihatin dengan ujian yang sedang kamu hadapi. Yang sabar ya Asma."


"Terimakasih," ucapnya yang kembali terdiam.


Kelas sudah di mulai. Hawa kembali masuk ke dalam kelas dan bertemu pandang dengannya. Segera mungkin Hawa memalingkan wajahnya dari pandangan Asma.

__ADS_1


Seorang guru pengawas masuk ke dalam kelas. Mengalihkan pandangan kedua santri tersebut. Entah memang kebetulan atau takdir Asma yang bertemu lagi dengan Adam yang menjadi pengawas pagi ini.


Adam yang belum menyadari kehadiran Asma, sedetik tertegun saat pandangan mereka bertemu. Tanpa Adam sadari Hawa memperhatikan pandangannya. Tatapan Hawa begitu membunuh hingga tidak sadar satu kertas ujian habis di coretnya.


"Hawa!" tegur Aisyah yang melihat selembaran kertas ujian Hawa. Aisyah yang membagikannya langsung mengganti dengan yang baru.


"Hawa, sadar jangan dicoret-coret ini kertas ujian."


"Berisik!" ketus Hawa membuat Aisyah tercekat.


Waktu istirahatpun tiba, semua santri berhambur meninggalkan kelas. Adam sengaja mengakhirkan diri untuk menunggu Hawa. Dan Asma sengaja mengakhirkan diri agar bisa bertegur sapa dengan Adam.


"Apa kabar Ustadz?"


Hawa langsung mendongak melihat Asma yang sudah berdiri di hadapan meja suaminya. Hatinya semakin di cabik-cabik saat mereka saling bicara entah apa yang mereka bicarakan.


"Tuh 'kan. Ih … nyebelin," umpatnya dalam hati.


Asma pergi meninggalkan kelas, barulah Adam berdiri menggampiri Hawa yang masih duduk di bangkunya.


Baru saja Adam ingin mengajak Hawa makan siang bersama. Namun, yang diajak malah berlalu pergi tanpa basa-basi.


"Kenapa dengan Hawa? Apa aku melakukan kesalahan?" pikirnya saat mendapat tatapan mendelik dari Hawa.


Tidak peduli pada Adam, Hawa terus melangkah menuju kantin. Amarahnya semakin naik saat berpapasan dengan Asma.


"Hawa tunggu," ucap Asma saat Hawa hendak menghindarinya.


"Ada apa?" tanyanya dengan jutek.


"Bisa kita bicara sebentar? Ada yang ingin aku bicarakan." Asma teringat pesan Yusuf yang harus meminta maaf pada Hawa.


"Sejak kapan kita saling bicara!" Kecemburuan Hawa membuat sikap juteknya kembali lagi.


"Aku serius ingin bicara denganmu."


"Aku juga serius tidak ingin bicara denganmu!" tegas Hawa.


Asma hanya diam saat Hawa melewatinya. Belum mengetahui kesalahannya saja Hawa sudah seperti itu apalagi jika tahu kebenarannya. Bagaimana sikapnya nanti.


"Nanti saja deh aku bicara dengan Hawa, sekarang aku ingin menemui pak Kiyai terlebih dulu," ucapnya yang melangkah menuju rumah Kiyai.


"Ih … nyebelin banget sih. Perutku sakit lagi aduh …." Hawa meringis lagi merasakan nyeri haid Nya. Selera makannya jadi hilang di tambah lagi kecemburuan Nya pada Adam.


"Jadi males masuk kelas lagi. Mending pulang sajalah. Ah! tidak, kalau aku pulang ke rumah Kiyai nanti ketemu Aby. Aku kan lagi marah, mending pergi ke klinik saja."

__ADS_1


Sepertinya Hawa benar-benar cemburu dan marah. Sampai-sampai tidak ingin bertemu dengan Adam. Entah karena sedang datang bulan membuat mood-Nya berubah-ubah dan emosinya yang tidak terkendali.


__ADS_2