
Untuk pertama kalinya Hawa sarapan bersama keluarga Kiyai. Banyak sekali hidangan yang di sediakan untuk sang menantu yang tertata rapih di atas meja.
Perlakuan Ummi dan Kiyai begitu lembut mengingatkan Hawa pada kedua orangtuanya terutama pada papanya yang sudah tiada. Apalagi saat mendengar Ummi menawarkan satu menu pada Kiyai, Hawa mendadak sedih karena kesukaannya itu sama dengan kesukaan papanya.
"Hawa, kenapa bengong sayang di makan sarapannya jangan malu-malu." Karena terlalu lama memikirkan papanya Hawa, tidak sadar jika dirinya lama melamun.
"Iya, Ummi."
"Jangan malu-malu, apa perlu aku suapi?" bisik Adam yang mulai nakal karena selalu menggoda Hawa.
"Tidak usah, aku bisa makan sendiri!" ketus Hawa yang langsung melahap makanannya.
Ummi dan Kiyai hanya senyum-senyum melihat sepasang pengantin baru di depannya. Mereka tidak tahu apa Hawa dan Adam sudah saling mencintai? Atau sudah melakukan kewajiban sebagai suami istri? Mereka mengerti jika tidak mudah bagi Hawa dan Adam untuk saling menerima. Namun, mereka berharap semoga Hawa dan Adam tetap bahagia walau menikah karena di jodohkan.
"Adam? Hawa? Ummi dan Aby tidak bisa memberikan hadiah untuk kalian. Hanya doa yang bisa Aby berikan. Tapi, Aby dan Ummi hanya bisa memberikan ini semoga membuat kalian bahagia."
Kiyai, memberikan sebuah amplop pada Adam yang tidak tahu apa isi amplop itu. Adam pun mengambilnya dan membukanya. Sebuah tiket paket honeymoon yang mereka berikan. Sungguh tidak pernah Adam bayangkan akan mendapatkan hadiah indah itu.
"Villa Istana Bunga," ucap Adam saat membaca tiket di dalam amplop itu.
"Villa itu berada di kota bandung. Walaupun bukan tempat mewah setidaknya kamu bisa membawa Hawa jalan-jalan, kalian akan menginap di sana selama tiga hari."
"Menginap? Tapi Ummi Hawa ada kelas sepertinya Hawa tidak akan ikut," elak Hawa berharap akan menggagalkan acara honeymoon itu.
"Kalian 'kan baru menikah masa harus masuk kelas. Selama tiga hari kamu libur dan Adam kamu juga libur mengajar. Bukannya Ummi dan Aby tidak mau membelikan tiket berlibur yang jauh. Karena sebentar lagi akan ujian Hawa tidak bisa libur lama-lama jadi, Ummi memilih kota yang dekat saja untuk berlibur."
"Terimakasih Ummi, Aby. Ini hadiah terindah untuk kami." Hanya itu yang bisa Adam ucapkan. Pemberian seseorang terutama pemberian orang tua tidak boleh di tolak karena itu akan menyakiti hati Ummi dan Aby nya.
Berbeda dengan Hawa yang belum bisa menghargai pemberian orang lain.
Adam dan Hawa pun bersiap-siap. Banyaknya satu koper yang mereka bawa. Mobil yang akan mengantarkan mereka pun sudah siap. Adam memilih menyetir sendiri tanpa supir. Sore itu juga mereka pergi ke kota Bandung.
"Kami berangkat dulu Ummi, Aby."
Adam berpamitan pada Kiyai dan Ummi. Begitupun dengan Hawa. Walau malas untuk pergi tetap saja Hawa tidak bisa melakukan apapun, benar-benar tidak bisa membantah sekarang.
"Hati-hati ya. Segera buatkan cucu untuk Ummi."
__ADS_1
Sontak Hawa dan Adam jadi salah tingkah. Bahkan ucapan Ummi itu membuat Hawa terbayang-bayang akan malam nanti saat di Villa.
Diliriknya Adam yang fokus mengendalikan bundaran stir, tatapannya tetap tertuju pada jalanan di depannya. Jalan yang mereka lewati masih jalanan kota yang padat akan kendaraan roda dua dan empat.
Cukup melelahkan, tetapi setelah tiba di kota kembang mata mereka hanya akan di suguhkan dengan panorama-panorama indah, asri dan sejuk. Seperti Villa Istana Bunga yang terletak di kota Lembang. Sungguh tidak akan ada yang kecewa jika berkunjung ke Villa itu.
"Ada apa Hawa?"
Adam baru menyadari tatapan Hawa, yang terus meliriknya. Hawa yang ketahuan curi pandang langsung memalingkan wajahnya detik itu juga.
"Hawa jika di tanya suami itu jawab. Ada apa melihat Aby seperti itu?"
Aby? Kata Aby membuat Hawa ingin mual. Baginya itu terlalu lebay. Dari Ustadz menjadi panggilan Aby.
"Tidak ada apa-apa, memangnya tidak boleh melirik sebentar?"
"Jangankan sebentar lama juga boleh. Tapi jangan lama-lama nanti kamu jatuh cinta sama Aby."
Bibir Hawa seketika tersungging, matanya membulat, membuat ekspresi jelek. Bagi Hawa Adam terlalu narsis, sangat jauh dari bayangan jika dirinya akan jatuh cinta pada Adam.
"Kalau ngekhayal jangan ketinggian. Siapa yang akan jatuh cinta, yang ada sebel."
"Ih, PD. Orang aku kebayang ucapan Ummi kok."
"Ucapan Ummi yang mana?" Sedetik Adam melirik Hawa lalu fokus kembali pada jalan di depannya. "Apa ucapan Ummi yang minta cucu?" lanjut Adam.
Hawa jadi gugup dan salah tingkah.
"Terus apa yang kamu lihat?"
"Tidak ada," jawab Hawa yang pura-pura tidak melihat Adam. Padahal Adam tahu jika Hawa terus melihat tubuhnya terutama bagian bawah perutnya.
Entah apa yang Hawa bayangkan. Namun, bukan Adam namanya jika tidak bisa menggoda Hawa.
Tangan Adam mulai nakal. Ditariknya tangan Hawa yang diarahkan ke bawah perutnya. Hawa terkejut bukan main saat tangan itu mendarat di atas sebuah benda kenyal dan keras.
Seketika matanya terbelalak yang langsung menarik kembali tangannya. Membuat Adam terkejut hingga hilang kendali.
__ADS_1
"Aaaa! Apa itu?"
"Hawa!"
"Awas!" teriak Hawa saat mobil mereka hampir saja menabrak truk di depannya. Beruntung Adam bisa mengendalikan mobilnya yang di lempar ke samping kiri.
Sedetik mereka tertegun, masih merasa terkejut. Adam menjadi emosi karena tingkah Hawa bisa saja mencelakai mereka.
"Hawa yang kamu lakukan tadi itu berbahaya!"
"Ma-maaf."
Tubuh Hawa masih merasa gemetar. Bayangan punggung truk masih terlintas di benaknya. Entah apa yang terjadi jika Adam tidak langsung bertindak.
Adam menghentikan mobilnya sesaat. Melihat tubuh Hawa yang gemetar, Adam semakin merasa bersalah apalagi sudah membentak istrinya.
"Maafkan Aby Hawa, Aby tidak ada maksud untuk membentakmu. Maafkan Aby."
Bukannya lebih tenang, Adam malah semakin panik karena Hawa tiba-tiba menangis. Entah karena terlalu takut atau trauma.
Adam jadi bingung apa yang harus dilakukannya. Namun, Adam berusaha menenangkannya.
"Hawa, sudah jangan menangis. Kita tidak apa-apa, tidak terluka tenang ya."
Adam berusaha menenangkannya. Dipeluknya Hawa dengan lembut. Hawa tidak berontak ataupun melepaskan pelukannya, membuat Adam semakin lama mendekapnya.
"Kita pulang saja, jangan di lanjut perjalanannya."
"Jangan." Hawa langsung melepas pelukannya, Hawa tidak ingin liburannya gagal. Bagaimanapun juga Hawa ingin merasakan sejuknya dan indahnya kota Bandung, dari pada harus diam di pesantren.
"Kita sudah sampai sejauh ini dan mungkin sebentar lagi akan sampai. Jika kita kembali nanti Ummi akan kecewa."
"Kecewa karena tidak jadi buat cucu?" goda Adam lagi.
"Apaan sih. Udah ah, jangan ngomongin itu terus cepat jalan." Ketus Hawa yang langsung memalingkan wajahnya ke luar jendela.
Adam semakin di buat ketawa melihat wajah Hawa yang kian memerah. Karena tidak ingin membuat istrinya kesal Adam pun melanjutkan perjalanannya lagi.
__ADS_1
"Tadi apaan ya keras, kenyal, gede lagi. Ih … masa segede itu." Batin Hawa yang bergidik ngeri seraya membayangkan benda keras yang sudah di sentuhnya tadi.