
Rumah Kiyai kini ramai. Semua keluarga berkumpul atas syukuran kehamilan Hawa dan akan hadirnya cucu pertama. Marwah dan Yusuf pun menginap dalam beberapa hari.
Yusuf yang sibuk sebagai CEO harus tetap bekerja walau sedang di rumah. Bahkan hampir setiap detik selalu dihubungi bawahannya. Namun, Yusuf kesulitan saat sinyal tidak mendukung.
"Halo? Halo? Aish … tidak ada sinyal juga," rutuknya seraya menggoyangkan ponselnya.
"Di sini susah sinyal juga ya."
"Kak, Yusuf sedang apa di sini?" tanya Asma yang tiba-tiba datang.
Yusuf tertegun sesaat. "Mm … ini sedang cari sinyal," jawabnya yang menggaruk kepala yang tidak gatal.
"Di sini asrama putri, Kak. Kalau ketahuan pak Kiyai tidak boleh nanti di marahin."
"Oh, gitu. Maaf enggak tahu. Saya kira masih area asrama putra."
"Kalau mau sinyal bagus. Kakak pergi saja ke ruang IT di sana sinyal bagus karena suka dipakai untuk praktek komputer dan ada wifi juga."
"Oh iya. Makasih ya."
"Sama-sama, Kak."
"Tunggu Asma," tahan Yusuf saat Asma akan berbalik menuju kamarnya. Langkah Asma langsung berhenti lalu berbalik menghadapnya.
"Iya, Kak ada apa?"
Yusuf kebingungan mau bertanya tentang apa. Ingin tanya kabar? Masa iya, dia sudah lihat sendiri keadaan Asma. Lalu untuk apa dia menghentikan Asma?
"Bagaimana kabar ayahmu?"
"Ayah? Oh, mm … Asma tidak tahu karena sudah lama tidak menjenguk ayah."
"Oh."
Kini mereka berdua hanya saling diam. Yusuf sudah kehabisan kata-kata dan Asma merasa kecewa. Berharap yang ditanyakan kabarnya bukan ayahnya.
'Kak Yusuf gimana sih. Kemarin saja minta Hawa nanyain kabar ku. Sekarang sudah ketemu malah kabar ayah yang ditanyakan.'
'Aduh … kenapa jadi canggung gini ya.'
Batin keduanya.
"Kak?"
"Asma?"
Kecanggungan semakin terasa saat keduanya sama-sama salah tingkah.
"Kakak duluan saja."
"Kamu saja yang duluan."
Pada akhirnya sama-sama mengalah.
"Asma permisi mau masuk ke asrama." Akhirnya Asma yang berkata lebih dulu.
"Ah-i-iya silahkan." Ingin rasanya Yusuf mengatakan 'Jangan dulu' tetapi lidah terasa kelu. Yang bisa dilakukannya hanyalah menatap kepergian Asma.
"Kakak ngapain? PDKT?" Suara jutek itu Yusuf sangat mengenalnya. Saat berbalik ternyata Hawa sedang menatapnya penuh curiga.
__ADS_1
"Lagi hamil jangan jutek-jutek."
"Apaan sih, Kak Yusuf ini. Jadi bener Kakak lagi PDKT? Masa cari ipar yang seumuran aku sih."
"Loh, memang kenapa? Allah saja tidak melarang."
"Enggak! Aku gak setuju. Cari yang lebih dewasa sana. Masa di kantor gak ada yang nyangkut. Setarakan kakak ini seorang CEO masa gak ada yang mau." Hawa berkata sambil mendelik.
"Memangnya jemuran nyangkut. Jangan pikir gak ada yang tertarik sama kakak ya. Gini-gini kakak idola banyak wanita."
"Idih! PD. Idola tapi masih jomblo,"
"Dasar adik durhaka. Bukannya ngedoain malah ngeledek."
"Pokoknya cari yang dewasa titik."
"Tahu ah."
"Kok tahu ah?"
"Jodohkan Allah yang tahu. Kalau dapat jodohnya ABG ya gimana lagi."
"Maunya!"
"Aamiin."
"Ih … nyebelin." Hawa cemberut kesal.
Tanpa mereka tahu Marwah memperhatikan dari jauh. Bahkan saat Yusuf bicara dengan Asma.
"Apa mereka selalu seperti itu?" tanya Khodijah yang duduk disamping Marwah sambil menikmati teh.
"Yusuf sepertinya dekat juga dengan Asma?" ujar Khodijah yang melihat kedekatan Asma dan Yusuf tadi.
"Mungkin karena mereka pernah bertemu. Bukankah ayahnya yang memfitnah Hawa dan pesantren ini?" Sepertinya Marwah masih belum bisa melupakan peristiwa itu.
Entah bagaimana jadinya jika Yusuf menyukai Asma. Apa Marwah akan memberi restu atau sebaliknya?
"Saya sangat mengenal keluarganya. Mereka orang baik. Kejadian kemarin karena emosi dan dendam. Belum bisa mengikhlaskan apa yang sudah di takdirkan oleh Allah. Hingga mereka masuk ke jalan yang sesat."
"Dendam? Dendam apa?"
"Maaf kalau itu tidak bisa dijelaskan."
Khodijah tidak akan mengatakan masalah keluarganya. Biarlah dirinya yang tahu tentang keluarga Asma, karena tidak baik jika harus mengatakan keburukan orang lain.
"Bukannya Yusuf belum menikah? Kenapa tidak kita jodohkan saja dengan Asma. Mungkin saja mereka cocok dan jodoh." Khodijah memberikan saran. Namun, sepertinya Marwah kurang setuju.
"Bagaimana mungkin? Ibunya sakit jiwa dan ayahnya di penjara. Apa tanggapan orang nanti? Aku tidak mau Yusuf jadi bahan olokan."
"Saya yang bertanggungjawab. Jika Asma menikah saya dan suami siap menjadi walinya. Jangan hanya karena kesalahan orangtua kita juga harus menghukum putrinya. Asma tidak bersalah dan tidak tahu tentang masalah itu. Saya lebih mengenal Asma, saya tahu bagaimana sifatnya."
Marwah terdiam yang memikirkan perkataan Khodijah. Setiap orangtua pasti ingin jodoh yang terbaik untuk putranya. Begitupun dengan Marwah.
Yusuf terdiam. Merasakan setiap debaran jantungnya. Apa ia memiliki rasa pada Asma? Yusuf masih tidak mengerti.
*****
"Aby kemana sih! Katanya ketemu temen tapi kok lama. Apa Aby ketemu ceweknya? Ih … jangan sampai."
__ADS_1
Hawa kembali ngedumel. Karena Adam belum juga kembali. Tanpa Hawa tahu Adam sedang melihat-lihat mobil di sebuah dealer. Mungkinkah Adam ingin membelinya?
"Apa dengan yang ini bisa?" tanya Adam yang menunjuk sebuah mobil sedan di depannya. Baginya ukuran mobil itu sangat cukup untuk mereka berdua dan anak mereka nanti setelah lahir ke dunia.
"Bisa pak. Mungkin bapak hanya menambah 50 juta." Adam terlihat berpikir, lalu melirik motor sport yang berada tidak jauh darinya.
Adam berencana menukar mobil itu dengan motornya. Namun, Adam merasa berat jika harus merelakan motor itu. Tetapi jika dipikirkan Adam lebih membutuhkan mobil untuk keluarga kecilnya.
Jika anak mereka sudah lahir tidak akan muat juga jika harus menaiki motor untuk berpergian.
"Ya sudah saya ambil." Keputusan sudah Adam ambil. Dengan yakin Adam merelakan motornya demi mobil itu. Berharap Hawa akan senang.
"Aby? Aby darimana?"
Baru saja sampai Hawa sudah melontarkan pertanyaan.
"Lo motor Aby mana?" Barulah Hawa menyadari jika Adam datang menaiki mobil bukan motor sportnya.
"Aby baru nyampe. Masuk dulu buatkan Aby kopi ya? Sekalian kita bicarakan motor sama mobil ini."
Hawa mengangguk lalu melangkah menuju dapur. Sedangkan Adam duduk di teras seraya memandang mobil barunya. Hatinya sangat sedih belum bisa merelakan si jaguarnya.
"Ini Aby teh-Nya," ucapan Hawa mengejutkannya.
"Makasih ya. Sini duduk," Adam menepuk kursi di sebelahnya.
"Ada apa By? Motor Aby kemana? Kok pulang bawa mobil? Ini mobil siapa?"
"Aduh, banyak juga pertanyaannya. Aby harus jawab yang mana dulu nih?" ujar Adam sambil bercanda.
"Ih … Aby Hawa serius."
"Iya-iya." Adam tersenyum lalu berkata, "Motor Aby sudah ditukar dengan mobil ini. Karena Aby pikir sekarang ini yang kita butuhkan adalah mobil. Mulai sekarang kalau mau jalan-jalan, ke bidan, kita gunakan mobil ini bukan si jaguar lagi."
"Jadi … motor Aby dijual?"
"Mmm … lebih tepatnya ditukar." Kata Adam yang cengengesan.
"Aby … apa Aby ikhlas kehilangan motor Aby? Pasti itu motor kesayangan Aby 'kan."
"Insyaallah Aby ikhlas."
"Aby …" Hawa merasa bersalah. Mungkinkah karena perkataannya kemarin Adam rela menjual motornya.
"Kok nangis? Seharusnya seneng dong 'kan punya mobil."
"Kemarin Hawa cuma bercanda kok By. Aby tidak perlu jual motor demi untuk membeli mobil."
"Bukan karena itu kok. Dengerin Aby dulu … alahamdulillah Aby dapat rezeki hari ini. Bisnis Aby dan teman Aby lancar dan tadi teman Aby memberikan uang hasil dari bisnis kita. Karena Aby sudah janji mau beli mobil untuk istri Aby tercinta. Semua yang Aby lakukan ini demi membahagiakan istri Aby."
"Aby …."
"Sudah-sudah jangan nangis jelek ah. Kalau motor semoga saja nanti ada rezeki lebih kita bisa miliki jaguar lagi. Sekarang kita pakai si merah dulu ya?" Si merah yang di maksud adalah mobilnya.
"Ngomong-ngomong bisnis apa By? Kok Hawa gak tahu?"
"Kasih tahu gak ya?"
"Ih … Aby." Adam semakin tergelak, lalu memeluk Hawa yang masih merajuk.
__ADS_1