
"Adam!"
Khodijah berlari menghampiri Adam yang kini masih harap-harap cemas. Menunggu sang istri yang berada di ruang UGD. Tatapan Adam tertuju pada Azizah yang berada di belakang ibunya. Hingga mereka mendekat tatapan itu tidak berpaling.
"Adam, bagaimana keadaan Hawa?"
"Dokter masih memeriksanya Ummi."
"Semoga janinnya tidak kenapa-napa dan Hawa baik-baik saja," tutur Khodijah yang semakin gelisah.
Tatapan Adam kembali pada Azizah. "Tante, kenapa Hawa terjatuh?" tanyanya.
"Kenapa bertanya pada Tante?" Azizah semakin ketakutan. Bibirnya gemetar, bicaranya pun gelagapan.
"Bukankah Hawa jatuh di depan Tante? Jadi ... Adam pikir Tante tahu."
"Apa kamu menyalahkan ku? Istrimu terjatuh di depanku bukan berarti aku yang menjatuhkannya."
"Apa Adam mengatakan itu? Tidak, 'kan? Adam hanya bertanya apa Tante tahu apa sebab Hawa terjatuh." Azizah semakin tegang.
"Kenapa ibuku yang terus kamu tanya Adam?" Ibrahim merasa jika Adam mengintrogasi ibunya. Pertanyaannya seolah mendesak.
Sedetik Ibrahim merasa tersinggung.
"Sudah-sudah. Kalian ini kenapa? Mungkin Adam hanya ingin tahu ibumu lihat atau tidak Ibrahim. Dan untuk Bu Azizah tolong jangan tersinggung."
Ibrahim salah paham tetapi Azizah ingin segera pergi sebelum Adam mengintrogasi nya lagi.
Seorang Dokter keluar dari UGD. Mengalihkan pandangan mereka semua. Adam yang sudah lama menunggu langsung menghampiri Dokter pria itu.
"Dokter bagaimana keadaan istri saya?"
"Alhamdulillah, tidak ada luka yang serius. Janin dalam kandungannya baik-baik saja. Karena posisi Hawa jatuh terduduk membuat tulang ekornya terbentur cukup keras tetapi tidak menyebabkan fatal. Hanya butuh perawatan beberapa hari saja." Dokter itu menjelaskan jika Hawa harus di rawat.
"Tapi janinnya gak apa-apa kan Dok? Tidak menyebabkan keguguran?" Khodijah masih memikirkan calon cucunya itu.
"Alhamdulillah, janin masih bisa di selamatkan. Kecuali posisi jatuhnya itu telungkup atau perut sang ibu terbentur langsung pada lantai itu akan sangat berbahaya dan bisa menyebabkan keguguran."
Mereka semua mulai memasuki kamar untuk melihat Hawa. Dan terpaksa Hawa harus menjalani perawatan untuk beberapa hari.
Kabar jatuhnya Hawa sudah terdengar di seluruh pondok. Membuat Asma langsung menghubungi Yusuf kakak dari calon iparnya itu. Yusuf yang mendapatkan kabar buruk itu langsung meluncur segera bersama Marwah.
"Asma, Mas mau ke rumah sakit apa kamu mau ikut?"
"Tidak usah Mas. Sebentar lagi malam tidak di izinkan untuk santri keluar."
__ADS_1
"Ya sudah, kalau begitu Mas pergi dulu. Insya Allah setelah dari rumah sakit Mas akan jemput kamu."
"Jemput? Mau kemana Mas?"
"Nanti Mas jelaskan. Sekarang Mas tutup teleponnya dulu ya."
"Iya Mas."
"Assalamualaikum."
"Walaikumsalam." Itulah akhir dari percakapan mereka dalam telepon. Asma masih merenung memikirkan kembali perkataan Yusuf. Untuk apa Yusuf menjemputnya? Apa Hawa akan di bawa ke suatu tempat? Entahlah.
****
"Sherly kamu tega baru memberitahuku. Jadi selama ini kamu ...."
"Iya. Aku hamil Mir, saat mual dan muntah itu aku hamil. Namun, saat itu aku masih merahasiakannya.",
"Siapa yang menghamilimu?"
"Indra Mir!" Mata Mira membulat seketika, Indra lelaki yang sangat ia kenal. Mereka bertemu Indra di sebuah club malam. Indra seorang bartender di sana. Yang selalu melayani mereka menuangkan minuman.
Namun, Mira tidak pernah tahu jika Sherly dan Indra punya hubungan dekat. Hingga temannya itu hamil.
"Indra? Indra bartender itu?"
"Kapan kalian melakukannya? Kenapa aku tidak tahu menahu tentang hubungan kalian?"
"Malam itu ...."
Flashback On
Kehidupan Sherly tidak seindah yang dibayangkan orang lain. Terkadang ia kesepian, memiliki harta berlimpah tidaklah menjamin kebahagiaannya. Ketika semua temannya menjauh dia tidak memiliki tujuan hidup. Bahkan orangtuanya tidak peduli.
Hanya tempat itulah yang menjadi teman setianya. Club malam.
*Hei, sayang sendirian saja?" sapa Indra si bartender.
"Lagi kesel. Semua temanku pergi bahkan orangtuaku tidak peduli mereka tidak pernah ada waktu untukku."
"Masih ada aku santai saja. Aku kekasihmu akan ku buat kamu bahagia malam ini."
"Buktikanlah, buatlah aku bahagia malam ini."
"Tentu." Senyum manis terlukis, Indra memberikan segelas wiski, minuman yang jarang ia pesan. Biasanya Sherly hanya akan memesan mocktail minuman non-alkohol yang tidak menyebabkan mabuk.
__ADS_1
"Cobalah ini, minuman yang paling enak."
Seteguk wiski itu Sherly minum. Aroma dan rasanya cukup aneh. Namun, membuatnya ketagihan. "Tambah lagi. Ini enak sekali." Tambah dan tambah terus hingga habis 3 botol wiski.
Hubungan mereka baru berjalan tiga minggu saja. Peluk cium sudah biasa bagi mereka. Namun, Indra tetap menginginkan tubuh Sherly seutuhnya. Hingga pada malam itu dirinya tega memberikan segelas wiski untuk Sherly, tanpa diduga Sherly menghabiskan 3 botol sekaligus membuat kewarasannya hilang.
Sherly sangat mabuk berat, Indra membawanya ke sebuah kamar kos yang ia tempati. Dan tega melakukan pel ece han pada Sherly. Hingga Sherly tersadar ia sudah berada di tempat asing bukan kamarnya.
"Dimana aku?" Sherly terbangun setengah sadar. Ia melihat seorang pria yang tidur disampingnya. Dengan keadaan tubuh yang telanjang.
"Indra!"
Marah dan kecewa itu yang Sherly rasakan. Sebebas apapun dirinya, kehidupannya, tetap saja tidak akan merelakan kesuciannya direnggut sebelum ada ikatan pernikahan. Namun, janji manis yang Indra ucapkan membuatnya lupa akan penyesalan. Indra berjanji akan menikahinya jika hamil. Dengan begitu rasa takut masih menghantui jika orangtuanya akan marah.
Namun, jangankan marah bertanya keadaannya saja tidak. Padahal putri mereka tidak pulang saat semalam.
"Mama, Papa kapan pulang?"
"Kemarin," jawab mereka singkat lalu fokus kembali pada gedjet masing-masing.
Kemarin. Berarti semalam ada di rumah apa mereka tidak menyadari putrinya tidak pulang?
"Kenapa kalian tidak bertanya kenapa aku tidak pulang semalam?" Sherly sangat berharap orangtuanya khawatir. Namun, jawaban mereka tidak seperti yang dibayangkan.
"Apa kamu baru saja ditinggal orangtuamu? Kamu sudah besar bukan anak kecil lagi yang harus kami cari. Kamu akan pulang jika sudah puas bermain itu sebabnya Mama dan Papa tidak khawatir."
Jawaban itu membuat hatinya sangat sakit. Tidak perlu lagi bertanya jawaban mereka menunjukkan jika dirinya tidaklah berarti. Sherly menganggap orangtuanya tidak peduli dengan apa yang sudah dia lakukan. Hingga dirinya berontak, melakukan pergaulan bebas, club malam sudah menjadi tempat sehari-harinya. Hingga Sherly melakukan hubungan terlarang dengan Indra hingga dirinya hamil.
Flashback Off
"Lalu kenapa tidak meminta pertanggungjawabannya?"
"Dia laki-laki pecundang. Setelah keadaanku seperti Indra menghilang entah kemana. Bahkan nomor ponselnya tidak aktif. Saat itu aku bingung harus cerita pada siapa? Orangtuaku tidak mungkin akan mendengarkan. Hingga langkah kakiku membawa ke tempat ini. Pesantren inilah yang menolongku, hingga aku dinikahkan dengan lelaki yang begitu dan tulus."
"Jadi kamu sudah menikah? Kapan?" Lagi-lagi Mira tidak diberi tahu kabar bahagia itu.
"Siang tadi," jawab Sherly cengengesan.
"Kalian tega lupakan aku." Mira merajuk.
"Maaf. Pernikahan itu tidak direncanakan. Dan aku tidak pernah menyangka akan menikah hari ini."
"Tidak Hawa, tidak kamu sama saja. Kalian menikah tidak memberitahuku. Seharusnya kita foto-foto."
"Oh iya, aku baru ingat. Hawa masuk rumah sakit."
__ADS_1
Mira terkejut, lagi-lagi kabar buruk yang dia dapat.