Kisah Kasih Anak Santri

Kisah Kasih Anak Santri
Bab 67


__ADS_3

"Sherly!"


Tidak peduli teriakan sang ibu Sherly terus berlari meninggalkan klinik aborsi itu. Melarikan diri itulah putusan terbaik.


Sherly memang tidak menginginkan bayi itu. Tapi jika harus aborsi sungguh mengerikan. Banyak sekali wanita yang mati karena melakukan aborsi. Apa ibunya tidak memikirkan itu?


"Tidak! Aku tidak bisa melakukannya. Aku ingin hidup."


"Sherly! Berhenti kamu."


"Mama," gumam Sherly yang berlari lagi.


"Sherly!"


Tidak peduli dengan keselamatannya saat ini. Yang terpenting dirinya lolos dari kejaran sang ibu.


Ah!


Ckiitt! ... Bugh.


Tepat di depan matanya sebuah mobil berhenti. Tubuh gemetar hebat, dada begitu sesak. Bayangan kematian masih di depan mata. Mungkinkah malaikat maut tidak jadi mencabut nyawanya? Ketakutan masih terasa dan nyata.


"Mba baik-baik saja?"


Sedetik kepalanya mendongak pada seorang pria yang berdiri di sampingnya.


"Apa aku masih hidup?"


"Apa? Eh ... Mba!"


Pertanyaan konyol yang Sherly ucapkan. Hingga dirinya jatuh pingsan. Pria itu panik yang langsung membawa Sherly ke dalam mobilnya.


"Ya Allah apa baru saja aku menabrak orang? Apa wanita ini masih hidup?"


Tidak banyak berpikir pria itu segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit.


*****


Yusuf merenung diri setelah mendapat telepon dari adik iparnya. Tangan kiri terus memegang dadanya. Apa yang ia rasakan saat ini? Kecewa, takut, setelah mendengar cerita dari Adam.


"Assalamualaikum Adam? Ya, ada apa tumben telepon jam segini."


" ..... "


"Tidak-tidak, tidak mengganggu sama sekali. Memangnya ada apa?"


" ..... "


"Maksudmu? Kenapa kamu mengatakan tentang Asma?"


" .... "


"Apa Asma menerima lamaran itu?"


" .... "


Gelisah. Itu yang Yusuf rasakan saat ini.

__ADS_1


'Jika kak Yusuf mempunyai niat baik, lebih baik segerakan lah niat baik itu. Jangan sampai kakak menyesal nanti.'


Itulah kata-kata Adam yang diingat olehnya. Dan tentu saja Yusuf menjadi cemas jika Asma menerima lamaran pria itu. Yusuf segera turun dari ranjangnya berjalan menuju kamar mandi dan mengambil air wudhu. Sholat istikhoroh lah yang harus dilakukan saat ini berharap mendapat petunjuk.


"Mama ....."


"Yusuf? Ada apa?"


"Yusuf ingin melamar seseorang."


"Apa? Melamar?"


Diliriknya jam dinding menunjukkan pukul 02.00 masih dini hari mungkin semua orang masih pada tidur. Yusuf malah membangunkan tidurnya dan tiba-tiba mengatakan jika ia ingin melamar seseorang.


"Yusuf, apa kamu bermimpi?"


"Tidak, ini bukan mimpi. Besok pagi Mama temani Yusuf untuk melamar wanita itu," ujarnya lalu melangkah pergi menuju kamarnya. Marwah masih tercengang.


*****


"Aby belum tidur?"


"Baru selesai sholat tahajud,* jawab Adam. " Tidur lagi," titahnya yang mengusap lembut kepala Hawa.


"Hawa libur dulu ya By untuk sholat tahajud nya?"


"Iya, tidak apa-apa." Hawa kembali terlelap.


Drt ... Drt ... Drt ...


Suara ponsel mengejutkannya. Segera Adam mengambil ponsel itu. Dibacanya pesan dari Yusuf.


Adam tersenyum setelah mendapat pesan itu. "Alhamdulillah," ucapnya.


Adam menyimpan kembali ponselnya lalu tertidur. Rasanya hati begitu lega setelah mendapat jawaban dari Yusuf.


*****


"Yusuf memangnya siapa yang mau kamu lamar?"


"Nanti juga Mama akan tahu."


"Kamu ini aneh. Tiba-tiba mau melamar saja.*


"Bukankah Mama ingin sekali Yusuf menikah? Niat baik harus disegerakan."


"Iya. Tapi tidak perlu malam-malam juga mengejutkan Mama." Yusuf tersenyum jika mengingat semalam sungguh sangat lucu.


Di rumah Kiyai Ummi sedang sibuk mempersiapkan jamuan untuk tamu yang Adam katakan. Bahkan Ummi tidak diberitahukan siapa yang akan datang melamar santrinya. Tidak lupa Asma pun diundang untuk hadir karena dialah wanita yang akan dilamar.


"Aby ini ada apa sih? Kok tiba-tiba semua orang sibuk. Memangnya kita akan kedatangan tamu siapa?"


"Kak Yusuf."


"Kak Yusuf?" Hawa merasa heran ada apa kakaknya datang. Dan semua orang sibuk mempersiapkan jamuan seperti akan kedatangan tamu besar.


"Istri Aby kok melamun? Ayo siap-siap dandan yang cantik."

__ADS_1


"Ngapain By. Kak Yusuf yang datang kok semua heboh."


"Istri Aby ini gak pernah kalau gak banyak tanya. Pokoknya hari ini hari spesial. Hari istimewa untuk keluarga kita."


"Makin ngaur saja."


Yusuf dan marwah pun sudah datang. Semua orang berkumpul di ruang tamu. Kiyai dan Ummi yang tahu akan maksud kedatangan Yusuf sangat terkejut. Karena tidak pernah terpikirkan jika Yusuf lah yang akan melamar Asma. Namun, mereka juga bahagia karena bisa melepaskan Asma kepada laki-laki yang tepat yang insyaAllah akan membahagiakannya dunia dan akhirat.


"Assalamualaikum."


Suara salam mengalihkan pandangan mereka pada pintu. Yang dimana Asma sudah berdiri di sana.


"Waalaikumsalam," jawab mereka serempak.


Hawa dan Marwah tercengang dengan kehadiran Asma di antara mereka. Mereka berpikir apa Asma adalah wanita yang akan dilamar Yusuf? Sedetik wajah mereka melirik pada Yusuf, yang begitu ceria dan tersenyum indah melihat calon wanita yang akan di khitbah nya.


Marwah terdiam dan menunduk. Terlihat jelas kebahagiaan pada wajah putranya. Lalu bagaimana dengan masalah yang menimpa keluarganya. Apa ia harus melupakan itu?


Berbeda dengan Marwah yang hanya menunduk. Hawa, memperlihatkan dengan jelas ketidakbahagiaannya dengan ekspresi wajah cemberut. Karena Hawa sangat tidak setuju jika Yusuf bersama Asma.


"Asma, masuk, Nak. Ayo duduk." Ummi menuntun Asma duduk di antara mereka. Asma terlihat bingung ada apa sebenarnya di rumah itu.


"Ini ada apa ya Ummi?"


"Asma, di hari yang baik ini. Kita kedatangan seorang pria yang ingin mengkhitbah mu. Pria itu adalah Yusuf, orang yang mungkin sudah kamu kenali.


Tatapan Asma langsung tertuju pada Yusuf yang ada dihadapannya.


"Semua sudah berkumpul. Nak, Yusuf silahkan utarakan tujuanmu datang ke sini? Dengan maksud apa kamu datang menemui kami," ujar Kiyai.


"Bismillah." Yusuf terlihat gugup. "Terimakasih atas waktunya. Maksud dan tujuan saya datang bersama ibu saya adalah untuk mengkhitbah Asma. Asma maukah kamu menerima lamaranku?"


Ya Allah, apa ini serius kak Yusuf melamarku?, Batin Asma.


"Alhamdulillah niat yang sangat baik. Nak Asma bagaimana denganmu apa kamu akan menerima lamaran Yusuf?" tanya Kiyai.


Asma menghela nafasnya panjang. Lalu melirik pada Marwah dan Hawa bergantian.


"Apa benar kak Yusuf mau melamar Asma untuk dijadikan istri? Kak Yusuf yakin Asma akan menjadi istri yang baik?"


"Menjadi istri yang baik itu adalah tugas suami yang akan mendidik istrinya nanti," jawab Yusuf.


Asma diam sejenak.


"Apa niat baik ini sudah kak Yusuf sampaikan pada ibu dan adik kak Yusuf? Apa mereka setuju?" Yusuf langsung melirik pada kedua wanita di dekatnya. Marwah yang ada di sampingnya dan Hawa berada di depannya.


Ekspresi wajah mereka menandakan jika mereka keberatan. Terutama Hawa yang sama sekali tidak tersenyum.


"Niat baik tanpa restu keluarga tidak akan sempurna dan bahagia saat kita menjalaninya. Mungkin ada kekurangan pada diriku dan keluargaku yang membuat mereka keberatan. Asma sangat berterimakasih pada kak Yusuf dengan niat baiknya walaupun tahu Keluargaku seperti apa. Tapi Asma tidak bisa jika harus menjalani hubungan ini tanpa restu Ibu dan adik kakak."


Sedetik tatapan mereka semua tertuju pada Hawa dan Marwah. Adam menatap sang istri dan Ummi Khodijah menatap Marwah. Mungkinkah Marwah masih enggan membuka hati? Dan apakah Hawa tidak akan pernah memberikan restunya?


...----------------...


Aduh jadi deg-degan nih. Kira-kira apa keputusan Marwah dan Hawa? Apa Yusuf bisa membujuk mereka?


Jangan lupa like dan komentarnya 🙏

__ADS_1


Follow IG author juga ya dini_rtn


__ADS_2