
Dalam bilik jeruji besi. Anshor duduk termenung. Tatapan kosong dan menerawang entah sedang memikirkan apa.
Kata-kata Asma masih ia ingat. Benarkah Yusuf pria yang datang padanya? Sebaik itukah hingga rela menyekolahkan putrinya. Namun, Anshor masih tidak percaya jika pria yang di katakan Asma adalah orang yang sama.
Hingga Anshor meminta Asma untuk mendatangkan Yusuf.
*****
Yusuf terkejut saat melihat Asma ada di depan rumahnya. Tidak hanya Yusuf Hawa, Adam, juga Marwah berekspresi yang sama.
Hawa merasa heran ada apa Asma datang ke rumahnya. Mungkinkah menemui Adam? Pikiran buruk itu langsung merasuki otaknya.
Mereka semua saling pandang hingga suara Yusuf terdengar.
"Asma."
"Apa kita bisa bicara sebentar, Kak?"
Satu pertanyaan untuk sejuta pertanyaan. Tatapan penuh selidik Hawa pancarkan. Curiga ada hubungan apa kakaknya dengan Asma? Sejak kapan mereka saling mengenal?
"Kalian saling mengenal?" Akhirnya lolos juga ucapan itu dari mulutnya.
"Kalian masuk duluan saja," titah Yusuf pada ketiga manusia di belakangnya.
"Kak Yusuf belum jawab pertanyaanku." Namun, Hawa yang emosi.
"Hawa, ayo masuk sayang. Kakak mu 'kan lagi ada temannya."
"Teman apanya? Masa kak Yusuf berteman sama anak muda."
"Istri Aby gak denger ya? Tadi Mama bilang apa? Jangan membantah orangtua ayok masuk."
"Tapi Aby …."
"Sudah ayo masuk. Kita istirahat." Adam menuntun Hawa, yang kekeh tidak ingin masuk ke dalam rumah. Lebih tepatnya Hawa penasaran pada hubungan Asma dan Yusuf.
Kini tinggal mereka berdualah. Yusuf dan Asma cukup lama saling pandang, hingga akhirnya Yusuf berkata, "Ada perlu apa?"
"Apa Kak Yusuf mau bertemu ayah? Ayah ingin bertemu Kak Yusuf."
Untuk apa? Mungkin itu yang ada di pikiran Yusuf. Namun, Yusuf bukanlah orang yang suka banyak tanya. Tidak tahu alasan apa, tapi Yusuf tetap menemuinya Dan kini dirinya sedang berhadapan dengan laki-laki yang angkuh dan sombong.
Anshor tertegun. Tubuhnya terpaku seketika.
"Apa benar kamu yang menyekolahkan putri ku? Untuk apa? Bukankah aku sudah memfitnah adikmu."
Bibir Yusuf tersungging tipis. Masih tetap sama tidak ada yang berubah dari Anshor. Sombong, jangankan meminta maaf. Berterimakasih saja tidak.
"Apa hanya untuk mengatakan itu anda meminta saya datang? Sungguh membuang-buang waktu. Apa anda tidak tahu cara berterimakasih? Atau cara bersyukur? Saya tidak butuh ucapan terimakasih dari anda setidaknya anda bersyukur pada Tuhan karena masih ada orang baik yang membantu anak anda."
Anshor tetap diam
__ADS_1
"Apa kamu tahu bagaimana kehidupan putrimu? Yang harus putus sekolah dan bekerja bahkan harus merawat ibunya yang sakit. Apa tidak menyesal sama sekali?"
"Apa selama tinggal di sini tidak membuatmu merenungi diri? Anda pasti sudah tahu keadaan istri anda sekarang."
Ya. Anshor sudah mengetahuinya. Keadaan Zaenab yang terganggu kejiwaannya. Yusuf menyayangkan Asma yang memiliki ayah seperti Anshor. Tidak pernah memikirkan keadaan putrinya yang egois memikirkan dirinya sendiri.
Keadaan sudah tidak memungkinkan untuk Yusuf tetap tinggal. Sebelum emosinya meluap lebih baik dia segera pergi. Namun, saat hendak melangkah tiba-tiba …
"Maaf, maafkan saya yang sudah mefitnah adikmu."
Kata 'Maaf' yang Anshor lontarkan yang langsung menghentikan langkahnya. Yusuf berbalik menghadap Anshor, menatap wajah menyedihkan itu dengan tenang.
Apa Yusuf tidak salah dengar? Baru saja Anshor mengakui kesalahannya.
"Aku terlambat mengatakannya. Kamu orang baik, membalas kejahatan ku dengan kebaikanmu pada putriku. Terimakasih sudah membiarkan Asma untuk sekolah. Dan hari ini aku bangga dengan kerja kerasnya. Aku titip Asma padamu."
Kata-kata itu terus terngiang di telinganya. Kata 'Titip' seolah menjadikan tanggungjawab besar baginya. Seperti ayahnya dulu menitipkan Hawa padanya.
Itu artinya Yusuf harus menjaga dan melindungi Asma.
"Kak Yusuf?" panggilan lembut itu membuyarkan lamunannya.
"Apa sudah selesai pertemuannya dengan ayah? Apa yang ayah katakan?"
"Dia berterimakasih, dia senang kamu bisa lulus."
"Terimakasih ya, Kak. Ini semua berkat Kakak."
"Sama-sama. Semua juga berkat usahamu."
" Nanti. Sekarang aku akan pergi menemui ibu."
"Biar aku antar," ucap Yusuf membuat Asma terdiam.
*****
Di tempat lain Hawa terus gelisah mundar mandir tidak jelas. Memikirkan Yusuf dengan Asma, apa yang mereka bicarakan dan apa yang mereka lakukan.
"Istri Aby kenapa? Kok mondar-mandir terus?"
"Lagi nunggu kak Yusuf."
"Ngapain?" Sedetik lirikan mata tajam ia sorotkan pada Adam. Dengan ekspresi jelek ia melangkah mendekati Adam.
"Ya penasaran dong Aby. Ada hubungan apa kak Tusuf sama Asma."
"Memangnya kenapa kalau mereka ada hubungan? Bukannya bagus ya? Katanya lagi nyari jodoh buat kak Yusuf. Menurut Aby mereka cocok."
"Aby! Hawa gak mau iparan sama Asma."
Mungkin Hawa tidak ingin memiliki ipar yang seumur dengannya. Namun, tidak ada yang tahu jodoh dan takdir Tuhan. Mungkin saja mereka berjodoh.
__ADS_1
Adam meletakkan buku yang sedari tadi di bacanya. Tangannya mulai merangkul tubuh Hawa mendekapnya dengan erat.
"Dari pada cemberut mending …"
"Mending apa Aby? Masih siang lo By."
"Kalau masih siang Aby bisa minta yang lama dong."
"Aby …." Ucap Hawa tertahan saat Adam membungkam mulut itu dengan bibirnya.
Jika sudah begini Hawa pun tidak bisa menahan. Dengan lincahnya lidah itu membelit dan saling menyesap. Tangan itu menarik tubuh Adam yang langsung mengukung tubuhnya.
Hijab syar'i mulai terbuka dan terlempar. Barisan kancing kemeja mulai terbuka, kedua tangan itu mulai bergrliya yang dengan cepatnya membuka seluruh pakaian membuat tubuh nampak polos.
Sedetik ciuman itu Adam lepaskan,
Di tatapnya wajah Hawa dengam teduh.
Kini sentuhan itu menurun, menyusuri leher jenjangnya. Membuat Hawa terbuai hingga menjerit dengan manja. Suara-suara indah yang terdengar membuat Adam semakin bersemangat menyalurkan hasratnya.
"Aby …." jeritnya saat benda milik Adam mulai memasuki lubang surgawinya. Bukannya minta berhenti Hawa semakin mengeratkan pelukannya menahan Adam untuk menyudahinya.
Hingga tiba pada pelepasan terakhir, sebuah cairan hangat di semburkan ke dalam rahimnya.
"Aby!" Hawa, mengerjap merasakan sentuhan hangat itu.
"Aby, kok di masukin di dalam sih!"
"Maaf Aby lupa."
"Aby …."
Hawa takut jika di rahimnya akan cepat berbuah karena semburan vanila itu. Apalagi di hari masa suburnya. Menjadikan benih lebih cepat berkembang.
"Jangan takut 'kan sudah lulus."
"Bukan itu By …"
"Lalu?"
Seperti biasa Hawa meminta lagi. Karena belum merasa puas. Mungkin Hawa sudah tidak peduli lagi akan hamil atau tidak. Hingga mereka melakukannya sampai sore hari.
"Ma di mana Hawa dan Adam?"
"Mungkin di kamar. Dari siang Mama belum lihat. Kayanya mereka belum turun."
"Mengertilah Ma, pengantin baru." Yusuf dan Marwah pun tergelak.
"Tapi mereka belum makan."
"Jangan khawatir Ma, itu mereka." Tunjuk Yusuf pada sepasang sejoli yang baru saja turun dari kamarnya.
__ADS_1
Adam terlihat lesu tidak bergairah. Sedangkan Hawa, terlihat segar dan bersemangat. Tanpa mereka tahu Adam lelah karena istrinya yang meminta jatah berkali-kali.
Sudah Yusuf duga, jejak cinta yang tertinggal di bagian dada Adam. Membuat Yusuf jadi salah tingkah.