Kisah Kasih Anak Santri

Kisah Kasih Anak Santri
Bab 64


__ADS_3

"Assalamualaikum Ummi?" 


"Walaikumsalam," seru Ummi yang menjawab salam. "Siapa yang datang malam-malam begini," monolognya. 


Ummi baru saja selesai sholat isya. Dibukanya kain mukena lalu melangkah keluar. Khodijah berjalan menuju pintu utama yang saat dibuka ternyata salah satu santri yang datang. 


"Maaf Ummi ganggu." 


"Iya ada apa?" 


"Ada yang mencari Hawa Ummi." 


"Siapa?" tanyanya yang menengok ke belakang santri itu.


"Orangnya tidak ada di sini Ummi. Dia tunggu di gerbang." 


"Siapa malam-malam datang? Suruh masuk saja dan tunggu di sini. Ummi tidak akan mengizinkan Hawa keluar apalagi keluar gerbang." 


"Baik Ummi saya akan coba."


"Sebentar," ujar Ummi menghentikan langkah kaki santri itu yang kembali berbalik padanya. 


"Pria atau wanita?" tanya Ummi.


"Wanita Ummi." 


"Oh iya. Jika bisa kamu bujuk saja untuk masuk. Tidak baik wanita malam-malam di luar." 


"Iya Ummi." 


Setelah santri itu pergi. Khodijah melangkah masuk ke dalam menuju kamar Hawa. Kebetulan Adam dan Kiyai masih berada di mesjid. 


Tok, tok, tok.


"Hawa!" panggilnya setelah mengetuk pintu. Tidak berselang lama pintu pun terbuka. 


"Iya Ummi?" 


"Di luar ada yang mencarimu. Ummi juga tidak tahu siapa." 


"Pria atau wanita?* 


" Wanita."


"Iya, Ummi nanti Hawa ke sana. Mau ambil jaket dulu." 


"Ya sudah, Ummi tunggu di sini biar Ummi temani." 


Hawa masuk sebentar untuk mengambil jaketnya karena malam ini terasa sangat dingin. Lalu pergi keluar ditemani Ummi. 


"Dimana Ummi kok gak ada?" 


"Mungkin masih di gerbang. Padahal Ummi sudah suruh dia masuk." 


Tak berselang lama datanglah sebuah mobil yang berhenti di depan rumahnya. Ummi dan Hawa tercengang saat melihat seorang wanita dengan celana pendek sepaha dan hoodie yang menutup tubuh atasnya. 


Wanita itu benar-benar tidak tahu atau tidak peduli saat masuk ke wilayah santri. Apalagi Ummi yang gelisah melihat suami dan putranya berjalan dari ujung sana menuju rumah. 

__ADS_1


"Aduh, gimana ini. Jangan sampai Aby dan Adam lihat." 


"Ummi dia teman Hawa." 


"Ya sudah suruh masuk dulu. Ambilkan rok atau gamis untuk menutupi kakinya. Jangan sampai nanti santri lain lihat." 


"Kalau begitu ambilkan saja handuk atau sarung Ummi." 


"Ah, iya. Itu ada sarung," ujarnya yang mengambil sarung yang dijemur. Lalu menutup pada kaki wanita itu. 


"Ini apa-apaan Wa?" 


"Sudah Sher, kamu pakai saja nanti aku jelaskan." 


"Aku mau bicara denganmu Hawa." 


"Kita duduk saja dulu si sana." Tunjuk Hawa pada kursi di depan teras.


"Sher, lo kenapa ada di sini? Mau kemana sebenarnya?"


 


"Gue bingung Wa. Gue harus cerita sama siapa. Gue hamil Wa." 


"Apa!" 


"Sst … jangan keras-keras. Nanti kedengaran Ummi mu." 


"Mertuaku maksudnya?" 


"Mertua? Lo udah nikah?" Sherly merasa terkejut karena tidak tahu pernikahan Hawa. 


"Aby, Abah sudah pulang?" 


"Iya. Ada siapa Wa?" 


"Itu teman Hawa Abah." 


"Tidak diajak masuk?" 


"Tidak Abah. Teman Hawanya mau diluar." 


"Ya sudah Abah masuk dulu." 


"Iya Abah." Kiyai pun masuk ke dalam rumah. Tetapi tidak dengan Adam yang merasa pernah melihat Sherly. 


"Aby sepertinya pernah melihat." 


"Iya Aby. Teman Hawa yang ngajakin nonton konser." 


"Ah, iya. Apa sekarang mau nonton konser juga?" 


"Tidak Aby. Dia hanya datang untuk bertemu." 


"Baguslah. Awas kalau nonton konser." 


"Enggak Aby Enggak. Curiga terus." 

__ADS_1


"Bukan curiga tapi waspada. Ya sudah Aby masuk dulu." 


"Iya Aby." 


Setelah Adam pergi Hawa duduk lagi di samping Sherly. Hawa penasaran dengan siapa temannya itu hamil. Sudah tidak heran jika Sherly, mengalami hal itu karena melihat dari pergaulannya sangatlah bebas. Namun tidak menyangka jika sampai hamil.


"Itu bu-bukannya Ustad yang waktu itu?" Sherly mengingat kejadian waktu itu. Saat akan menonton konser dan Adam menghentikannya. 


"Iya itu Ustadz Adam yang sekarang adalah suamiku." 


"Jadi kamu nikah sama dia?"


"Iya. Sudahlah kalau diceritakan panjang. Sekarang katakan siapa yang menghamilimu?" 


Sherly terdiam. Siapa lagi yang akan melakukan itu selain kekasihnya. Hanya saja pria itu tidak ingin bertanggung jawab. 


"Gimana dong Wa? Gue bingung. Kalau nyokap dan bokap gue tahu gimana?" 


"Ya … jalan satu-satunya mereka harus tahu Sher." 


"Bisa mati gue Wa. Mereka pasti marah." 


"Justru itu. Mereka akan meminta pacarmu untuk tanggungjawab." 


Sherly masih menimbang-nimbang ucapan Hawa. Walau Sherly punya niat untuk menggugurkan kandungan itu.


"Jangan menggugurkannya anak itu tidak dosa. Lebih baik kamu beritahukan semua pada ayah dan ibumu. Mereka pasti ngerti walaupun pasti marah." 


Sherly, pun bingung. 


"Sher, ini sudah malam. Tidak mungkin 'kan kamu pulang. Kamu nginap saja di sini. Biar aku antar kamu ke kamar." 


"Wa?"


"Iya." 


"Apa kamu senang dengan hidupmu yang sekarang? Berada di kota santri, tinggal di sini hingga menikah. Apa hidupmu merasa lebih baik?" 


"Hidupku jauh lebih baik dari sebelumnya. Hubungan keluarga lebih dekat, harmonis, dan mempunyai suami yang baik. Beda dengan kehidupanku yang dulu. Terkadang aku menyesal karena papa sudah tidak ada. Dulu aku selalu membantahnya, mengekang, tidak peduli nasehatnya. Sekarang aku berpikir ternyata nasehatnya dulu itu karena dia cinta sama putrinya. Tidak ingin aku terjerumus ke lembah hitam. Dan kemungkinan bisa berakhir sepertimu Sher," ucap Hawa. 


"Aku merasa menyesal Wa. Indra hanya ingin tubuhku saja tapi tidak mau bertanggungjawab. Sekarang aku yang bingung. Apa dosaku akan diampuni? Setelah aku banyak melakukan maksiat dan dosa. Apa Tuhan akan mengampuniku?" 


Mungkinkah Sherly menyesal? 


"Allah maha pemurah lagi maha pengampun. Berzina salah satu dosa yang sangat besar dan yang paling Allah benci. Tapi Allah akan mengampuni dosa itu dengan satu alasan." 


"Apa?" 


"Dulu rosulullah pernah bertemu dengan seorang pria. Pria itu menangis di dalam mesjid. Rosulullah pun bertanya pada pria itu kenapa? Apa yang membuatnya menangis? Pria itu berkata, 'Ya Rosulullah aku telah berdosa, aku telah melakukan dosa besar. Apa Allah akan mengampuniku?' Rosulullah pun bertanya, 'Dosa apa yang sudah kamu lakukan wahai sahabatku?' Pria itu menjawab jika dia telah melakukan zinah. Sungguh terkejutnya rosulullah hingga ia menangis dan marah pada pria itu karena zina yang dilakukannya adalah dosa besar. Tetapi apa yang Allah katakan? Allah mengampuni dosanya karena apa? Karena pria itu sudah mengakui dosa, menyesal dan bersungguh-sungguh akan bertobat dan berjanji tidak akan melakukannya lagi. Allah pun sama akan mengampuni dosa mu jika kamu sudah menyesali perbuatan itu dan berjanji tidak akan mengulanginya  bersungguh-sungguh untuk bertaubat." 


Air mata Sherly, jatuh membasahi pipinya. Perkataan Hawa mengingatkannya pada masa lalu. Pergaulan bebas yang menjerumuskannya ke dalam lembah hitam. Dan berakhir hamil. 


"Aku ingin taubat Hawa. Bantu aku, aku janji tidak akan mengulanginya lagi dan aku sangat menyesal." 


"Sungguh?" Hawa ingin memastikan. 


"Sungguh." Sherly menjawab dengan anggukan.

__ADS_1


"Alhamdulillah."  Hawa tersenyum senang. Akhirnya kedua temannya kembali ke jalan yang benar.


*****


__ADS_2