
Tepat setelah adzan magrib Hawa dan Adam sampai di depan sebuah Villa. Panorama indah tetap terlihat apalagi saat menjelang malam.
Hamparan kebun teh hijau begitu terbentang mengelilingi setiap jalanan yang di lewati. Cahaya lampu taman begitu menderang menghiasi hamparan rumput hijau yang halus, menambah kesan cantik pada Villa itu.
Bangunan minimalis, dengan interior kayu dan jendela kaca yang menjadi dinding villa, membuat siapapun nyaman berada di dalamnya. Di atas balkon kamar bisa melihat jelas pemandangan kota kembang di atas sana.
Di tambah dengan bunga-bunga yang tumbuh di sisi villa memberikan kesejukan.
Hawa, langsung terpana melihat keindahan villa itu. Tidak peduli pada Adam yang masih berada di dalam mobil.
Adam, turun dan mengambil beberapa barang di dalam bagasi. Membiarkan Hawa asyik sendiri yang menikmati pemandangan indah itu.
"Luas banget villanya." Kata Hawa yang berlari ke arah belakang menuju kolam renang.
Bukan Hawa namanya jika tidak mengabadikan momen itu. Satu benda pipih ia angkat ke atas, merekam setiap moment dan tempat di sana dalam feed story-Nya.
Tidak lupa potret dirinya yang ia post dalam akun sosmednya. Berbagai macam gaya cantik Hawa tampilkan dengan latar villa yang indah.
Adam geleng-geleng melihat tingkah Hawa, bukannya membantu suami mengangkat barang Hawa malah asyik sendiri.
"Hawa, sudah dulu foto-fotonya."
"Kenapa?"
"Sholat magrib dulu. Ayo cepat masuk kamar bersihkan tubuhmu dulu," ucap Adam lalu menaiki tangga menuju kamar mereka.
"Ih, lagi seneng-senengnya juga," gerutu Hawa kesal. Lalu mematikan ponselnya mengikuti Adam menuju kamarnya.
"Tunggu dulu!" teriak Hawa menghentikan langkah Adam.
"Aku mau kamar kita terpisah. Tidak mau tidur berdua."
"Untuk apa tidur terpisah? Bukankah kita suami istri?"
"Pokoknya aku mau kita tidur terpisah. Di sana masih ada kamar 'kan?" Tunjuk Hawa pada sebuah pintu di samping kamar Adam.
"Yakin mau tidur sendiri? Ya sudah, kalau kamu berani." Kata Adam yang berjalan masuk ke dalam kamarnya.
"Memangnya kenapa? Ya beranilah masa gak berani tidur sendiri." Hawa, langsung membawa kopernya menuju kamar sebelah.
Baru saja Hawa sampai di depan pintu, ternyata kamar itu terkunci rapat. Di karenakan yang mereka sewa paket honeymoon jadi, hanya satu kamar yang tersedia.
Adam baru saja membuka bajunya tiba-tiba terdengar teriakan Hawa, karena melihat setengah tubuh polosnya. Adam, yang terkejut langsung berbalik menghadap Hawa.
Bukannya berhenti, Hawa semakin menjerit.
"Aa!, kenapa tidak pakai baju." Hawa masih menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Hawa, kenapa suka sekali berteriak!"
"Pakai bajunya."
__ADS_1
"Astaghfirullah, baru saja buka baju sudah berteriak seperti itu gimana buka celana."
"Apalagi itu tidak boleh!"
"Sudah, buka matanya. Aby sudah memakai kaos. Ambil wudhu kita sholat magrib berjamaah."
Barulah Hawa menurunkan telapak tangannya. Dan langsung menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Merekapun siap melaksanakan sholat magrib bersama.
*****
Di tempat lain Yusuf tersenyum melihat potret Hawa yang baru saja di upload di story-Nya. Adiknya tersenyum bahagia, Yusuf yakin jika Adam bisa membahagiakan adiknya.
"Syukurlah adikku bahagia, kakak senang lihatmu tersenyum seperti itu Hawa," ucapnya lalu memberi komentar pada feed story adiknya.
[OTW jadi paman deh kakak]
Tulisnya dalam satu komentar.
Tidak berselang lama Yusuf mendapat balasan dari adiknya. Ternyata Hawa sedang online saat itu.
[Apaan sih kak Yusuf ini. Tidak ada kata paman sebelum Hawa jadi aunty]
Tulis Hawa dengan caption amarah. Bukannya tersinggung Yusuf malah tertawa.
"Kakak masih tidak menyangka Wa, kamu sudah menikah," ucapnya yang menerawang lurus ke atap langit kamarnya.
Sebuah deringan ponsel membuyarkan lamunannya. Pada malam hari Yusuf masih saja menerima panggilan dari kantornya.
Namun, perusahaan yang Yusuf kelola belum membuka lowongan untuk para pekerja hanya saja staff itu ingin membantu temannya yang sedang membutuhkan. Dengan begitu Yusuf mengizinkan dan meminta orang itu menghadapnya besok.
"Baiklah, saya lihat besok. Kamu suruh saja dia datang menemui saya."
Staff itupun sangat berterimakasih padanya. Setelahnya sambungan teleponpun di tutup.
*****
Hawa terlihat kesal dan cemberut. Komentar Yusuf membuat mood-Nya hilang.
"Kenapa sih yang di omongin anak terus, cucu terus. Masa di usia ku yang masih muda harus gendong bayi. Ih …." Hawa bergidik ngeri.
"Ada juga kak Yusuf yang kasih aku ponakan!" sungutnya.
Terlintaslah dari benak Hawa untuk menjodohkan kakaknya itu. Hawa tersenyum licik saat Adam masuk ke dalam kamarnya.
"Kenapa senyum-senyum?" tanya Adam yang merasa heran.
"Aby, duduk di sini." Tepuk Hawa pada sisi tempat tidurnya.
Kening Adam mengerut, tidak biasanya Hawa bertingkah seperti itu. Biasanya Hawa akan ketakutan jika dirinya mendekat.
"Tumben, gak sabar ya mau buat cucu untuk Ummi?" goda Adam yang langsung duduk di samping Hawa.
__ADS_1
"Apaan sih! Gak ada hubungannya," elak Hawa. "Aby, apa ada salah satu santri yang di rasa cocok untuk kak Yusuf?"
"Untuk apa?"
"Untuk aku jodohkan dengan kak Yusuf. Biar kak Yusuf cepat nikah dan punya anak. Biar Mama gak minta cucu terus."
"Kenapa nunggu kak Yusuf? Kita bisa buatkan cucu untuk Mama dan Ummi." Adam mulai menggoda.
"Ih, apaan sih."
"Kenapa? Bukankah tadi kamu sudah tidak sabar pegang burungnya?"
"Burung? Burung apa?"
Hawa semakin takut dan mundur karena Adam terus mendekat. Tatapan Hawa terus tertuju pada bawah perut Adam. Matanya terbelalak seketika, saat mengingat kejadian tadi sore saat di dalam mobil.
"Bu-burung."
Katanya yang menatap fokus bawah perut Adam. Sesuatu di dalam celana Adam terlihat berdiri dan menegang dan menonjol. Membuat bayangan liar berkelana dalam pikirannya.
Adam semakin mendekat, dan hanya berniat menggoda Hawa. Tidak menyadari burung miliknya yang sudah menegang.
Tubuh Hawa semakin mundur, bayangan benda keras kembali terbayang.
"Aaa! tidak-tidak!" teriak Hawa yang langsung melempar Adam dengan bantal dan guling.
Hawa segera turun dari ranjangnya dan berdiri di ujung sudut kamar seraya memeluk sebuah bantal.
Adam yang mendapat lemparan bantal hanya bisa membuang nafasnya kasar. Sungguh sulit untuk mendapatkan hak miliknya. Walaupun Adam tidak berniat untuk melakukannya sebelum Hawa benar-benar siap.
"Hawa! Bisa diam tidak jangan berteriak."
"Abis itu!"
"Itu apa?"
"Itu." Hawa terus menunjuk pada bawah perut Adam. Mata Adam mulai mengikuti kemana arah telunjuk Hawa, yang saat dilihat, sungguh malunya Adam melihat burungnya yang sudah berdiri.
Segera Adam berbalik dari pandangan Hawa untuk menyembunyikan burungnya.
"Kok, bisa segede itu?"
"Itu karena kamu terus menggoda. Burungnya jadi bangun."
"Lalu bagaimana cara menidurkannya?" Polosnya Hawa yang bertanya seperti itu. Adam, menjadikan kesempatan itu untuk menakuti Hawa.
Adam, berbalik menghadap Hawa dan semakin mendekati Hawa.
"Kamu harus tanggung jawab Hawa." Tatapan Adam menakutkan.
"Tanggungjawab? Ah! …. tidak-tidak!" Hawa mengerti apa yang di maksud Adam.
__ADS_1
Hawa semakin berlari saat Adam akan memeluknya. Di malam pertama honeymoon bukannya saling melepas hasrat dan cinta, mereka hanya saling mengejar dan berlari di dalam kamar.