Kisah Kasih Anak Santri

Kisah Kasih Anak Santri
Bab 55


__ADS_3

Sebulan sudah berlalu, hasil ujian akhir semester pun sudah selesai. Kini para santri dan santriwati berbondong-bondong melihat hasil ujian mereka. Aura bahagia, mereka pancarkan saat membaca kata LULUS pada lembaran kertas putih. 


Mungkin, dari sebagian mereka ada yang akan pergi dari tempat itu melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Adapun yang tetap berada di sana untuk memperdalam ilmu agama. 


"Aby!" teriak Hawa dari ujung lorong yang begitu menggema. 


Surat kelulusan ia kibarkan yang di perlihatkan pada Adam, yang tengah berdiri di depannya. Setelah ungkapan cinta terucap membuat langkah mereka terasa ringan. Mereka lebih terbuka dalam masalah apapun.


"Bagaimana istri Aby lulus tidak?" 


"Tentu lulus dong Aby, kan gurunya Aby," ucapnya dengan tawa. Belaian lembutpun Adam berikan. 


"Mama dan kak Yusuf pasti senang, terutama Papa. Jika papa masih ada …." 


"Doakan saja. Karena itu sama dengan membahagiakan papamu di akhirat," potong Adam. 


Masih Hawa ingat saat pertama kali masuk pesantren. Bagaimana sikap dirinya yang menolak dan membangkang. Bahkan, Hawa selalu melakukan berbagai cara untuk kabur. Mungkin jika sang ayah masih ada akan ia jadikan hadiah terindah untuk papanya. 


"Istri Aby kenapa melamun? Ingat Papa?" Hawa hanya mengangguk. 


"Besok kita ziarah ya?" 


"Kita ke jakarta?" Adam mengangguk mengiyakan. Tentu saja Hawa senang, yang sudah rindu pada keluarganya. 


*****


"Hawa, aku ingin bicara denganmu." 


Kata-kata itu selalu Asma ucapkan tapi tidak pernah di dengar. Namun, kali ini tidak ada alasan bagi Hawa untuk menghindar sebab Adam yang memintanya untuk menemui Asma. 


Asma sudah mengetahui hubungan Adam dengan Hawa yang mungkin sedikit menyakiti hatinya. Namun, Asma ikhlas dan merelakan tiqdak baik terus menyimpan dendam. 


Di depan teras, di atas kursi bambu mereka duduki. Tempat di mana Asma dan Adam bertemu untuk terakhir kali. Di sinilah mereka bicara. 


Sedetik bayangan itu Asma lupakan. Tidak baik jika terus memikirkan lelaki yang bukan jodohnya dan sudah beristri. 


"Sebelumnya aku mau ucapkan selamat ya Wa, atas pernikahan kalian." 


"Terima kasih," ucap Hawa dingin. Sedetik matanya melirik pada Asma. "Tapi … apa kamu masih ada rasa sama suamiku." Kata suami yang dia ucapkan dengan tegas. 


Asma pun menggeleng dengan sedikit senyuman terlukis di bibirnya.

__ADS_1


"Aku dan Mas Adam tidak ada hubungan apapun. Dan aku tidak punya rasa apa-apa pada Mas Adam." 


"Mas Adam?" 


Kata 'Mas' sangat tidak nyaman Hawa dengar. Itu sangat mengganggu pikirannya. Baginya itu terlalu manis. 


"Maaf Hawa, aku sudah terbiasa memanggilnya Mas Adam. Tapi kamu jangan salah paham. Panggilan itu tidak berarti apapun." 


"Ya sudah, sekarang apa yang mau kamu katakan? Sehingga kamu meminta izin pada Aby." 


"Sebenarnya dari kemarin aku sudah lama ingin mengatakannya. Tentang foto itu, foto yang menyebarkan fitnah saat itu. Aku ingin minta maaf karena itu adalah kelakuan ayahku. Ku harap kamu juga akan memaafkan ayahku." 


Hawa tidak cukup terkejut. Karena dia pun sudah tahu. Marah ataupun benci tidak ada artinya untuk saat ini. Haruskah Hawa memaafkannya?


"Aku sudah tahu. Lagi pula itu sudah berlalu, dan ayahmu sudah di penjara. Tidak ada artinya juga jika harus benci atau marah."


"Jadi kamu memaafkan ku Hawa." 


"Iya," ucapnya datar. Namun, membuat Asma lega. Tidak akan ada lagi yang mengganjal di hatinya. 


Jika kamu melakukan kesalahan, maka meminta maaflah. Dan berikan maafmu untuk mereka yang sudah berani jujur, dan mengakui kesalahannya.


Kini hubungan Asma dan Hawa pun menjadi lebih baik dan dekat. 


"Assalamualaikum Mama … kak Yusuf." 


"Waalaikumsalam." 


Senyuman merekah Marwah pancarkan saat putri yang ia rindukan berada di hadapannya saat ini. Pelukan hangat tidak terlewatkan yang semakin erat seakan tidak ingin terlepas. 


"Mama apa kabar?" pertanyaan itu mengawali pertemuan mereka. 


Pelukan erat perlahan terlepas, satu kecupan mendarat pada kening Hawa dalam waktu yang cukup lama. Sudah lama Marwah tidak melakukan itu pada putri tercintanya. 


"Mama baik sayang. Bagaiman kabar kalian? Adam?" Barulah Marwah menyadari kehadiran Adam. Yang langsung memeluk menantunya itu.


"Kalian kenapa tidak bilang mau datang?" 


"Kami akan pergi ziarah. Sekalian mampir  kasihan Hawa, rindu katanya." 


"Kalau begitu kita ziarah bareng bersama Yusuf. Kalian menginap saja besok baru kita ziarah." 

__ADS_1


"Iya Ma." 


Selain kedatangan Hawa yang membawa kebahagiaan, hasil kelulusan Hawa juga menjadi hadiah terindah untuknya. Hawa menjadi anak yang lebih baik dari sebelumnya.


Tidak hanya Hawa yang ingin menyampaikan kabar bahagia. Asma, juga melakukan hal yang sama walau di dalam penjara. 


Ruangan kusam, sempit, dan tertutup kini kembali Asma datangi. Bukan tempat mewah atau perayaan khusus dan pesta, melainkan ruangan kosong di balik jeruji besi yang menyambut kelulusannya. 


Seorang pria berseragam orange dengan tampang menyedihkan, menatapnya dengan sendu. Bulu-bulu jabrig menutupi rahangnya serta rambut berantakan yang sedikit beruban terlihat sangat tidak terawat. 


"Asma." 


"Ayah." Setitik tetesan bening jatuh membasahi ujung hijab Asma. Sedetik wajahnya menunduk, menyembunyikan tumpahan cairan bening yang turun semakin deras. 


"Jangan menangisi Ayah. Simpan kembali air matamu." 


Anshor merasa gagal karena telah membuat putrinya menangis. Tetapi Asma, tidak bisa menahan bahunya yang bergetar. 


"Sudah Ayah bilang, jangan pernah datang lagi. Kamu akan merasa tersakiti bila melihat Ayah." 


"Salahkah Asma menemuimu Ayah? Hari ini semua anak sedang berbahagia. Mungkin mereka bersenang-senang bersama keluarganya. Tetapi Asma, hanya mengunjungimu saja tidak boleh?" 


Anshor menunduk sedih.


"Asma hanya ingin memberi kabar baik yang mungkin akan membanggakan bagi Ayah dan berharap Ayah senang dengan kabar ini." 


Selembar surat disimpannya di atas meja. Diliriknya surat itu oleh Anshor yang tangannya mulai bergerak untuk mengambilnya. 


"Itu surat kelulusanku. Anak mu ini sudah lulus yang sebentar lagi akan meninggalkan sekolahnya. Dan mungkin akan menempuh pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Namun, itu hanya sebatas harapan entah akan tercapai atau tidak." 


Tatapan bingung Anshor pancarkan. Entah harus bahagia atau sedih dengan kabar ini. Setelah gagal menjadi seorang ayah, menghancurkan keluarga dalam sekejap  tetapi Tuhan mendatangkan putrinya membawa kabar membanggakan.


"Asma, bagaimana kamu bisa mendapatkan surat ini?" 


Sejuta pertanyaan yang ingin Anshor lontarkan. Bukan tidak bahagia, tetapi Anshor tahu jika putrinya sudah tidak bersekolah lagi. Namun, dari mana Asma bisa lulus? Pikirnya.


"Ada seseorang yang baik hati, yang menjadikan putrimu orang hebat. Tidak lagi putus sekolah, bahkan mendorong untuk tetap belajar di masa yang sulit ini. Haruskah Ayah berterimakasih? Tentu, Ayah harus berterimakasih padanya. Apa Ayah tahu siapa orang itu?" 


"Siapa?" 


"Yusuf Putra Bagaskara seorang kakak dari wanita yang telah Ayah fitnah." 

__ADS_1


Terbelalaknya Anshor, ketika mendengar nama itu mengingatkannya pada seorang pria yang datang mengunjunginya beberapa bulan lalu. 


__ADS_2