
"Loh, Yusuf kok Asma gak keluar?"
"Kita sarapan di kamar saja Ma."
"Ouh." Cukup itu yang Marwah katakan. Marwah mengerti mungkin Asma masih malu-malu karena belum terbiasa.
Yusuf membawa dua piring nasi goreng ke dalam kamar. Asma segera turun dari ranjang membantu Yusuf membawakan nampan.
"Sini Mas."
"Makasih."
"Maaf ya Mas Asma belum bisa nyiapin sarapan."
"Tidak apa-apa. Oh iya, apa kita mau bulan madu? Kira-kira kamu mau pergi kemana?"
"Bulan madu? Gimana Mas Yusuf saja. Asma ikut."
"Ya udah, nanti kita cari tempatnya ya. Sekarang habiskan dulu sarapannya."
****
Jari tangan Yusuf terus menggeser mouse dalam layar laptopnya. Melihat-lihat tempat honeymoon yang mungkin cocok untuk mereka berdua. Dari luar kota hingga luar negri banyak sekali tempat-tempat yang bagus untuk sepasang pengantin baru.
"Mas Yusuf sedang apa?" tanya Asma yang baru saja masuk ke dalam kamarnya.
"Sini duduk. Mas lagi pilih-pilih paket bulan madu. Kamu dari mana?"
"Dari bawah memenin Mama ngobrol."
"Ouh." Asma pun duduk di samping Yusuf, melihat-lihat layar laptopnya.
"Memangnya kita mau bulan madu kemana?"
"Mas bingung. Banyak banget tempat yang bagus. Kira-kira kemana ya? Eropa atau timur tengah?"
"Kita mau ke luar negri Mas?" Yusuf mengangguk.
"Kalau begitu kita ke Makkah saja sekalian umroh. Tidak hanya liburan kita juga bisa beribadah. Aku ingin sekali pergi umroh, melihat rumah Allah."
"Boleh juga. Liburan sambil beribadah masya Allah istri Mas ini mulia sekali niatnya. Kalau begitu kita pilih timur tengah saja. Begini ... Mas ingin mengajak Hawa dan Adam apa boleh?" Mengingat kecemburuan Hawa beberapa waktu lalu kini Yusuf juga akan mengajak adiknya itu pergi berlibur.
"Ajak saja Mas. Jadi Asma punya teman 'kan."
"Makasih ya. Kalau begitu Mas telepon dulu Adam."
Yusuf pun segera menghubungi Adam tentang liburannya itu. Namun, Adam belum memberikan jawaban mengingat Hawa sedang hamil muda jadi Adam memilih untuk konsultasi dulu pada Dokter. Apalagi sekarang Hawa mulai merasakan mual.
__ADS_1
"Mungkin besok ya, Kak. Adam kabari lagi setelah pulang dari Dokter."
"Ya sudah, Kakak tunggu ya Adam." Sambungan telepon pun ditutup.
Keesokan harinya Adam membawa Hawa ke rumah sakit menemui Dokter kandungan. Selain memeriksa kesehatan janin Adam juga menanyakan perihal kepergiaannya nanti dan Dokter tidak memberatkan dan mengizinkan Hawa pergi tetapi dengan tetap menjaga kehamilannya. Ada makanan yang harus dihindari dan tidak boleh lelah.
"Baik Dok, terimakasih. Saya akan selalu jaga isteri dan calon bayi saya." Adam dan Hawa meninggalkan ruangan Dokter.
"Sebentar, Aby mau telepon dulu kak Yusuf." Hawa hanya mengangguk lalu duduk di kursi tunggu.
"Assalamualaikum, Kak. Adam mau kasih tahu insya Allah Adam dan Hawa ikut. Kira-kira kapan ya berangkatnya? .... baik, kak. Assalamualaikum." Sambungan telepon pun di tutup..
"Apa yang kak Yusuf bilang?" tanya Hawa melihat Adam sudah mematikan teleponnya.
"Besok. Kak, Yusuf sudah beli tiketnya."
"Kalau begitu kita pulang Aby. Kita siap-siap."
"Semangat bener istri Aby ini."
"Tentu, Kan mau liburan."
****
Makkah
Adam, Hawa, Yusuf dan Asma mereka sudah sampai di kota Makkah. Kini mereka sedang menuju sebuah hotel untuk bermalam. Suasana tandus dan gersang menjadi pemandangan baru bagi mereka.
Suasana kota Makkah juga ramai, para pedagang kaki lima berjajar di pinggiran tidak jauh berbeda dengan di Indonesia. Mereka saling berteriak menawarkan dagangannya.
"Sudah sampai,* ucap si sopir taksi dengan bahasa Arab. Yusuf, Adam, Hawa, dan Asma pun segera turun di depan sebuah hotel yang begitu megah dan besar. Hotel itulah yang Yusuf pilih karena jarak yang dekat dengan masjidil haram.
Pemandangan indah ka'bah terlihat jelas pada jendela kamar.
" Masya Allah indahnya." Siapapun yang melihat Ka'bah akan merasa bahagia.
"Sekarang kita istirahat dulu. Besok kita mulai menjalankan ibadah umroh." Yusuf dan Adam berbeda kamar. Namun, kamar mereka berdampingan. Perjalanan yang cukup jauh sangat melelahkan membuat mereka harus beristirahat. Apalagi Hawa yang sedang hamil sering cepat lelah.
****
"Aby haus."
"Kita ambil minum dulu." Adam melangkah mendekati sebuah keran yang sudah tersedia cup minum di sana. Namun, Hawa tidak tahu jika itu air minum hingga ia melarangnya.
"Aby, kok air minumnya ini?"
"Ini memang air minum."
__ADS_1
"Ini keran By."
"Memang iya. Di sini seperti ini tapi ini air untuk minum bukan untuk wudhu." Hawa mengira jika itu air wudhu yang keluar dari keran. Seorang lelaki datang mengambil air minum lalu diteguknya. Dan lagi-lagi Hawa sangat heran.
"Aby kenapa mereka minum sambil diri? Bukannya gak boleh?"
"Kata siapa? Bacalah ini." Tunjuk Adam pada sebuah catatan yang terdapat pada dinding. Dalam catatan itu menjelaskan jika syarat-syarat meminum adalah satu, membaca bismillah, kedua pakai kaki tangan kanan untuk memegang gelas, ketiga baca alhamdulillah dan ke empat simpan gelas bekas minum di sisi kiri karena di mekkah tepatnya di masjidil haram tempat air minum berjajar, ada dua tempat gelas yang di tumpuk. Satu sisi kanan yang dimana gelas bersih diambil jika akan minum. Dan satu sisi kiri letak gelas kotor yang dipakai habis minum.
"Jadi tidak ada larangan untuk minum harus duduk atau berdiri." Hawa hanya mangut-mangut mendengar penjelasan itu.
"Ini minumlah." Hawa pun meminumnya.
Setelahnya melanjutkan kembali kegiatan ibadah umrohnya hingga berada di hajar aswad. Setelah kegiatan selesai mereka kembali ke hotel. Kondisi Hawa yang sedang hamil merasa cepat lelah dan pegal.
"Pegal?"
"Iya."
"Sini Aby pijitin."
"Makasih Aby."
"Aby lihat hari ini gak mual? Dede bayinya baik ya."
"Alhamdulillah By semenjak di Makkah, dede bayi gak ngeyel. Senang kali By di ajak umroh berkeliling ka'bah."
"Alhamdulillah."
"Oh iya By. Bukannya besok hari terakhir ya?".
" Iya. Besok kak Yusuf mengajak kita berlibur ke Dubai. Aby jadi malu masa semua ditanggung kak Yusuf."
"Ya, gak apa-apa By. Kak Yusuf 'kan kakak Hawa. Lagian kita gak minta."
"Kamu ini. Nanti uang kakakmu habis bagaimana?"
"Ih Aby ini. Gak akan habis hanya karena ngajak kita berlibur. Kak Yusuf 'kan CEO."
"Aby jadi kepikiran untuk jadi CEO juga."
"Emang Aby punya pengalaman kerja di perusahaan?"
"Belum tahu Aby sih. Gini-gini juga Aby pintar dalam berbisnis."
"Masa! Oh iya, memangnya bisnis apa sih By yang Aby jalani sama teman Aby?"
"Nanti deh Aby kasih tahunya."
__ADS_1
"Aby gitu deh."
"Nanti Aby bawa istri Aby ini ke perusahaan." Hawa semakin penasaran perusahaan apa yang Adam kelola.