Kisah Kasih Anak Santri

Kisah Kasih Anak Santri
Bab 80


__ADS_3

Sudah satu minggu Asma hanya berbaring di atas ranjang. Ia pun kesal dan ingin pergi keluar. Namun, Yusuf tidak mengizinkan.


"Mas, Asma ingin ke luar."


"Mau ngapain? Apa ada yang ingin kamu beli?"


Sepertinya Asma bisa menjadikan itu untuk alasan. Membeli sesuatu sambil berjalan-jalan pasti menyenangkan.


"Mas, Asma pengen jalan-jalan."


"Tapi ...."


"Mas gak mau ya? Padahal ini permintaan bayi kita, dia bosan di rumah." Jika mengungkit bayinya Yusuf langsung bangkit untuk mengajaknya pergi. Mungkin saja Asma sedang ngidam dan ingin pergi jalan-jalan.


"Ya sudah. Kita pergi Mas ganti baju dulu." Asma tersenyum senang. Tiba-tiba ia jadi bergairah.


Sepanjang jalan Asma hanya diam sambil melihat-lihat kuliner yang berjajar di sepanjang jalan.


"Apa kamu tidak ingin membeli sesuatu? Mumpung banyak kuliner di sini. Apa perlu kita turun?"


"Tidak perlu Mas. Tidak ada yang ku inginkan di sini."


"Ada rujak apa kamu tidak menginginkannya?" Asma hanya menggeleng.


"Asma mau pergi ke taman hiburan Mas."


"Taman hiburan?" tanya Yusuf Asma pun mengangguk. Benar-benar ngidam yang sangat langka.


Sesampainya di taman hiburan Asma begitu ceria melihat berbagai macam wahana. Dan yang paling Yusuf tidak sukai Asma memintanya untuk menaiki komedi putar atau yang biasa di sebut Turangga-Rangga.


Tentu saja Yusuf sangat malu karena dia bukan bocah kecil yang pantas menaiki wahana itu.


"Asma ...."


Asma langsung cemberut saat Yusuf menolak ajakannya. Terpaksa Yusuf menaiki komedi putar itu demi membuat Asma kembali tersenyum. Sepanjang komedi putar itu berputar Yusuf terus menyembunyikan wajahnya di balik jilbab Asma karena dia malu dengan pandangan anak-anak di depannya.


Akhirnya Yusuf bisa bernafas lega setelah permainan itu berhenti.


"Mas, Kita naik itu Yuk?"


"Astaghfirullah." Yusuf terkejut bukan main saat Asma menunjuk sebuah permainan yang menyerupai seekor gajah. Orang menyebutnya Gajah Beledug. Sebuah wahana yang berbentuk seekor gajah, yang akan di terbang saat permainan itu di gerakkan.


Kali ini Yusuf tidak akan menurut. Karena baginya itu permainan anak TK. Yusuf lebih memilih untuk membujuk Asma dengan yang lain. Tetapi, Asma tidak semudah itu di bujuk.

__ADS_1


"Sayang." Panggilan sayang pun tidak mempan. Asma tetap cemberut.


"Asma, dengerin Mas dulu. Mas malu naik itu lihat saja yang naiknya semua anak kecil. Sedangkan Mas ... lebih baik kita naik wahana lain." Asma terlihat berpikir lalu mengatakan keinginannya lagi tapi bukan naik wahana melainkan sebuah gulali.


"Aku mau itu." Tunjuk Asma pada permen gulali yang begitu besar. Entah kenapa ngidam Asma berhubungan dengan anak kecil. Jika bukan karena ngidam mungkin Yusuf tidak akan melakukannya.


Hembusan nafas kasar Yusuf keluarkan. Hingga senyuman manis yang dipaksakan. Setidaknya membeli gulali tidak begitu memalukan.


"Ayo sayang," ajak Yusuf yang menuntun Asma.


Gulali yang Asma beli menjadi pusat perhatian karena ukurannya yang besar dengan berbentuk hati. Orang-orang menganggap mereka sepasang kekasih yang lagi bucin. Tentu saja Asma tidak lupa mengabadikan momen itu.


Di tempat lain Hawa tertawa riang hingga terdengar keluar rumah. Adam yang baru saja pulang mengajar jadi penasaran apa yang sedang istrinya tertawakan.


"Istri Aby sedang apa? Ketawain apa sih?" Hawa segera menoleh pada Adam lalu memintanya untuk duduk di sampingnya.


"Lihat nih By. Ekspresi kak Yusuf lucu." Kata Hawa yang terus tertawa. Adam juga tidak tahan saat melihat foto Yusuf yang menaiki komedi putar membuat Adam tergelak.


"Asma ngidamnya aneh-aneh. Kasihan kak Yusuf."


"Untung ya By, Hawa tidak ngidam seperti itu."


"Untung apa? Kamu juga sama buat Aby pusing."


"Tapi gak bikin Aby malu kan?" Adam mencubit hidung Hawa dengan gemas.


"Kenapa? Perasaan Aby gak keras cubitnya."


"Bukan ini By tapi ini." Tunjuk Hawa pada perutnya. "Dede bayinya nendang."


"O ya?" Adam jadi semangat ingin merasakan tendangan itu.


"Aby sih pake cubit jadi marahkan?"


"Bisa saja. Mungkin dede bayinya lagi kangen sama Aby." Adam mengusap lembut perut buncit Hawa.


"Sebentar lagi aku keluar Aby," ucap Hawa menyerupai anak kecil. Kehamilan Hawa sudah menginjak 7 bulan mungkin tinggal menunggu 2 bulan lagi untuk keluar. Adam sudah tidak sabar ingin melihat buah hatinya terlahir ke dunia.


"Kita belum belanja keperluan bayi 'kan?"


"Udah By. Tapi baru sedikit."


"Kalau begitu kita belanja sekarang." Mereka pun pergi belanja ke mall.

__ADS_1


Berbagai pernak-pernik dan pakaian, acsesoris Adam pilih. Semuanya terlihat lucu membuat Adam ingin membeli semuanya.


"Aby ini terlalu banyak."


"Tidak apa-apa. Justru bagus 'kan?"


"Boros. Itu sifat syetan By."


"Siapa bilang ini boros? Kita membeli pakaian yang bermanfaat. Karena akan terpakai nanti."


"Huh, terserah Aby lah." Hawa sedang tidak ingin berdebat. Lebih baik masuk ke dalam mobil dan bersandar.


"Aby tunggu." Tahan Hawa pada Adam yang hendak memakaikan sabuk pengaman. "Kita ke rumah Mama ya. Kangen udah lama gak pulang."


"Ya udah. Ayo tapi sebentar ya." Hawa pun mengangguk. Adam segera meluncurkan mobilnya menuju rumah Marwah.


****


Yusuf baru saja pulang. Harinya sangat lelah karena menaiki berbagai wahana di taman hiburan. Sesampainya di dalam Yusuf di sambut dengan kehadiran Hawa dan Adam. Tentu saja Yusuf senang karena adiknya datang.


Namun, kesenangan itu hanya sesaat sebelum Hawa mengejeknya karena foto itu.


"Kakak lucu sekali. Bagaimana jika karyawan kakak tahu."


"Hawa!" tatap Yusuf dengan tajam.


"Sebaiknya aku share ya."


"Hawa jangan."


"Tidak, sudah terlanjur."


"Hawa!" Hawa langsung berlari ketika Yusuf mengejarnya. Demi mendapatkan ponsel itu dan menghapus semua foto yang sudah di upload.


"Yusuf, Hawa berhenti! Hawa sudah jangan berlari Nak." Marwah jadi takut melihat Hawa yang berlarian saat hamil. Apalagi kandungannya sudah besar.


Namun, Hawa dan Yusuf tidak mendengarkan. Hingga kecemasan Marwah pun terjadi. Hawa tergelincir saat kakinya tidak sengaja tersandung membuat tubuhnya terhuyung ke depan. Langkah Yusuf langsung terhenti, Marwah tercengang melihat tubuh Hawa yang siap menghantam lantai.


"Hawa!"


"Akh!!"


Bugh.

__ADS_1


"Astaghfirullah aladzim."


"Ya Allah, Hawa."


__ADS_2