
"Gio!" bentak Hawa lalu menepis tangan Gio yang menggenggam tangannya.
"Kenapa Wa? Apa yang membuatmu marah? Aku hanya menyentuh tanganmu."
"Itu tidak boleh Gio! Kita bukan muhrim."
Gio bangun dari duduknya, tidak terima dengan perlakuan Hawa yang sudah mempermalukannya. Padahal dirinya hanya menyentuh tangannya saja, biasanya Hawa tidak seperti itu.
"Jangan so jual mahal Wa! Gue tahu lo. Lo suka 'kan sama gue?" Gio mendadak emosi.
"Ya, itu dulu." Hawa tidak mengelak ia membenarkan perkataan Gio, jika dulu memang menyukai pria yang jadi idola di sekolahnya itu.
"Apa bedanya dengan sekarang? Lo masih suka gue 'kan?"
"Gue suka sama lo, tapi bukan berarti lo bebas sentuh gue."
"Ck," Gio tersenyum sinis.
"Gue gak ngerti lo mendadak alim begini. Wa lo gak lupa 'kan gue pernah peluk lo. Tapi sekarang lo malah menghindar."
Mata Gio menatap Hawa dengan nyalang, Hawa yang di tatap terus mundur menjauhi Gio yang terus mendekatinya.
Miris, tidak ada satu temannya pun yang datang. Mereka benar-benar sengaja meninggalkan Hawa.
"Gio!" teriak Hawa saat tangannya Gio genggam. Hawa coba lepaskan. Namun, cengkraman Gio terlalu kuat.
Di tariknya tubuh Hawa dalam dekapannya. Seketika bola mata indah itu membulat, saat wajah Gio mulai mendekat mencoba menciumnya.
Hawa tidak bisa berontak, atau pun pergi. Pelukan Gio terlalu kuat.
"Apa yang akan di lakukan Gio," batin Hawa yang mulai memejamkan matanya.
"Ya Allah, Gio."
Plak,
Sebuah tamparan mendarat mulus pada wajah Gio, membuat kepalanya berpaling dan wajahnya begitu merah.
Merasa ada sesuatu yang terjadi Hawa langsung membuka matanya. Sungguh terkejutnya Hawa saat melihat seorang pria yang berada di hadapannya.
"Kak Yu-suf."
Ya, pria itu adalah Yusuf yang sudah berani menampar Gio. Wajahnya sudah sangat merah menahan emosi. Tangan itu masih mengepal kuat sudah tak kuat lagi untuk menghajar Gio yang sudah berani menyentuh adiknya.
"Jangan berani menyentuh adikku!" tegas Yusuf.
Sorot matanya sangat tajam, tangan kanannya langsung menarik tangan Hawa untuk pergi meninggalkan ceffe. Tanpa melirik sang adik Yusuf tetap fokus pada jalanan di depannya.
"Kakak sakit," ringis Hawa saat tangan itu di tuntun oleh Yusuf.
Dengan cepatnya Yusuf melangkah tanpa memperdulikan Hawa, di hempaskannya tubuh Hawa dengan kasar agar masuk ke dalam mobilnya.
__ADS_1
Hawa hanya diam dan menangis. Untuk pertama kalinya Hawa melihat sang kakak yang begitu marah padanya yang tidak pernah di lihat sebelumnya.
Yusuf ikut masuk ke dalam mobil. Di ambilnya alih kemudi, kedua kaki mulai menancap pedal gas dan rem. Kedua tangan mulai memutar bundaran stir di depannya.
Mobil pun melaju dengan cepat. Tidak ada percakapan di antara mereka. Yusuf fokus pada jalanan di depannya. Hawa hanya menunduk sesekali melirik sang kakak di sampingnya. Wajah Yusuf terlihat sangat sangar dan menakutkan. Membuat Hawa tidak berani untuk bertanya.
Sesampainya di rumah Yusuf menarik kembali tangan Hawa, lalu meminta Hawa untuk duduk di sofa yang tersedia.
"Kenapa kamu pergi tanpa memberitahu kakak?"
"Hawa sudah telepon tapi tidak di angkat."
"Lalu!" tegas Yusuf. "Kamu boleh pergi berduaan dengan lelaki?"
"Tidak, kak. Hawa pergi bersama Sherly dan Mira. Di caffe kita tidak sengaja bertemu Gio."
"Lalu di mana temanmu itu?"
"Mereka pergi ke toilet."
"Jangan kamu pikir kakak bisa di bohongi. Apa saja yang sudah kamu lakukan di caffe tadi?"
"Maksud kak Yusuf?"
Hawa tidak tahan melihat tatapan kakaknya itu. Hawa mengerti apa yang Yusuf maksud. Mungkin Yusuf mengira Hawa sudah melakukan hal mesum lainnya.
"Aku tidak melakukan apa pun dengannya."
Hawa diam tidak bisa mengelak. Memang Hawa tidak melepaskan pelukan Gio, bukan berarti Hawa menginginkannya. Melainkan tangan Gio semakin kuat.
"Jika kakak tidak datang apa kamu akan membiarkan wajahmu itu di sentuh laki-laki itu? Hawa ingat! Kamu seorang wanita yang harus menjaga kehormatan mu."
"Kenapa kakak begitu marah! Aku tidak melakukan apapun dan aku masih menjaga kehormatan ku. Aku menuruti apa yang kak Yusuf bilang. Menutup aurat dan aku tetap memakai pakaian ini walau pergi bersama temanku."
"Kakak tidak sayang selalu saja marah."
"Hawa!"
Hawa berlari menaiki anak tangga menuju kamarnya, tidak peduli dengan panggilan Yusuf.
Di banting nya pintu kamar dengan keras, tubuhnya ia lempar ke atas ranjang king size nya. Wajah itu ia tenggelamkan pada benda kenyal yang menopang tubuhnya, sedetik tangisannya pun pecah.
Yusuf mengusap wajahnya kasar, seraya mengucapkan istighfar. Untuk pertama kalinya Yusuf memarahi Hawa.
*****
"Gio di mana Hawa?" tanya Sherly dan Mira sepulang dari toilet.
Bukannya menjawab Gio malah pergi mengabaikan kedua temannya itu.
"Sial!" rutuknya yang memukul dashboard mobilnya.
__ADS_1
Di tatapnya wajah yang memerah bekas tamparan Yusuf. Membuat Gio tidak terima, seumur hidup tidak pernah ada yang berani menamparnya.
"Lihat saja nanti. Gue akan balas lo Wa, karena sudah mempermalukan gue."
Gio langsung membawa mobilnya pergi. Entah kemana.
*****
"Hawa!" panggil Yusuf yang mengetuk pintu.
Hawa masih setia menenggelamkan wajahnya, enggan menyahut panggilan kakaknya.
Yusuf pun masuk lalu mendekat ke arah ranjang.
"Sudah, jangan menangis. Kakak marah karena kakak sayang sama kamu. Mulai besok kakak antarkan kamu ke pondok."
Mendengar nama pondok Hawa langsung terperanjat. Tidak peduli wajahnya yang sembab karena tangisannya.
Segera Hawa protes tidak ingin kembali ke pondok. Namun, apa daya Yusuf tetap pada keputusannya. Lama-lama Yusuf sudah seperti papanya saja yang tetap kekeh pada keinginannya.
"Tidak mau. Hawa tidak ingin kembali."
"Tidak bisa membantah. Besok kamu harus kembali ke pondok. Kakak tidak ingin kejadian tadi terulang lagi."
"Kakak!"
"Dengar Hawa. Sekarang tanggungjawab kakak sangat besar padamu. Kakak takut tidak bisa menjaga adik wanita satu-satunya. Karena kakak akan sibuk dengan perusahaan, kakak tidak bisa terus memantau kamu."
"Lalu apa bedanya dengan tinggal di pesantren? Kakak tetap tidak bisa memantau aku 'kan?"
Yusuf menghela nafasnya panjang.
"Di sana ada banyak orang yang menjagamu."
"Tapi, Kak."
"Menurutlah Hawa. Kamu ingat apa kata Papa 'kan?"
Hawa hanya diam.
****
Di tempat lain, seseorang sedang melihat-lihat sebuah potret. Dalam potret itu terlihat seorang wanita berhijab tengah bersama seorang pria.
Potret hasil jepretannya sendiri. Entah apa yang akan di lakukan dengan potret itu.
"Hasil yang bagus. Bisa aku manfaatkan," ucap orang itu tersenyum sinis.
Dengan cepatnya satu potret di upload dalam laptopnya. Sepuluh jari tangannya mulai bergerak menari-menari di atas keyboard.
Rentetan aksara yang tercipta hingga beberapa paragraf. Bersama sebuah foto yang langsung ia upload. Dalam seketika foto itu terkirim.
__ADS_1