Kisah Kasih Anak Santri

Kisah Kasih Anak Santri
Bab 43- Malam Pertama


__ADS_3

Acara pernikahan pun selesai. Semua keluarga dan santri sudah berpulang ke tempat mereka masing-masing. 


Ada rasa bahagia dan sedih yang mereka rasakan. Terutama untuk para santri yang mengagumi Adam, mungkin saat ini mereka merasa kecewa. 


"Hawa beruntung sekali. Ia yang di pilih oleh Ustadz Adam."


"Huuh, sudah pintar, tampan lagi. Masya Allah." 


"Sekarang mereka ngapain ya?" 


"Ya malam pertama." 


"Malam pertama?" 


Ketiga santri Minah, Aisyah, dan Asiyah. Mereka sedang membayangkan temannya yang baru saja menikah. Kata malam pertama, membuat mereka ingin tahu seperti apa itu malam pertama. 


"Syah, malam pertama itu apa sih?" 


"Kenapa di sebut malam pertama?" 


"Mungkin, karena itu malam pertama setelah menikah. Dan di temani suami sah." 


Sontak Minah dan Asiyah langsung melirik pada Aisyah, mereka bertiga kini saling pandang dalam waktu yang lama.


"Berarti Hawa tidur dengan Ustadz Adam dong!" ucap mereka serempak. 


"Uhh … beruntungnya Hawa, di peluk, di sayang, pokoknya gak bisa aku bayangkan. Ada pangeran tampan di sampingnya." 


Namun, kenyataannya tidak seindah yang mereka bayangkan. Di dalam kamar sepasang pengantin baru hanya duduk dalam diam di atas ranjang mereka. 


Hawa yang masih mengenakan gaun pengantin begitupun dengan Adam. Mereka berdua sama-sama canggung dan bingung mau melakukan apa. Keduanya sama-sama gugup terlihat dari aturan nafas yang mereka hembuskan. 


"Saya mau mandi dulu," ujar Adam yang langsung melangkah menuju kamar mandi. 


Hawa bisa bernafas dengan lega, tubuhnya seketika langsung berbaring di atas hamparan kasur yang empuk. Hawa sebenarnya ingin sekali pergi ke asrama dan tidur di sana, tapi Ummi dan Kiyai menyarankan untuk tidur di rumah mereka.


"Kasur ini empuk juga, tidak kaya di asrama," ujarnya seraya melebarkan tangannya menggerakkannya ke atas dan ke bawah. 


Karena nyaman dan empuk kasur itu membuat Hawa, tertidur. Adam baru saja keluar dari kamar mandi sudah berganti pakaian dengan setelan kaos oblong dan celana trening. 


Adam melihat Hawa yang terbaring di atas kasurnya langsung mendekat. Memastikan apa Hawa benar-benar tertidur atau tidak. 


Karena Hawa belum berganti pakaian terpaksa Adam membangunkannya. 


"Hawa, bangun. Hawa!" 


Merasa tubuhnya di goncangkan Hawa segera mengerjap. Sungguh terkejut saat melihat Adam di dekatnya. Sontak Hawa langsung terbangun takut jika Adam melakukan hal yang lain. 


"Ada apa?" Dengan rasa takut Hawa memeluk tubuhnya sendiri.


"Apa kamu akan tidur memakai baju itu? Mandi sana bersihkan tubuh mu." 


"Tidak, aku tidak membawa pakaian ku jadi aku tidur pakai ini saja." 


"Pakaian mu ada di dalam lemari." 


Mendengar jika semua pakaiannya ada dalam lemari Hawa langsung turun dari ranjang dan bergegas menuju lemari yang ada di depannya. Matanya terbelakak seketika saat melihat semua pakaian termasuk segitiga bermuda dan kacamata busanya semua ada di sana. 


"Kamu yang membeli semua ini?" 


"Bukan, Ummi." 

__ADS_1


"Huh." Akhirnya Hawa bisa bernafas dengan lega. Hawa takut jika Adam melihat segitiga bermuda miliknya, itu akan sangat memalukan. 


"Kenapa masih bengong ayo cepat mandi." 


"Tunggu dulu!" tegas Hawa yang berbalik menghadap Adam.


"Masih ingat perjanjian kita? Tidak boleh menyentuh sebelum ada rasa cinta."


Adam memutar bola matanya malas lalu berkata, "Aku tidak akan memaksa mu. Jangan takut aku tidak akan menyentuhmu jika kamu tidak mau. Tapi …." 


"Tapi apa?" tanya Hawa penuh selidik.


Adam berjalan mendekat, membuat tubuh Hawa semakin mundur, menekan lemari di belakangnya. 


"Jika kamu nakal dan tidak nurut aku bisa menyentuh mu kapanpun aku mau. Karena aku berhak atas istriku." Tatap Adam, penuh menggoda membuat Hawa, semakin ketakutan.


"Pergi mandi." 


"Iya, tapi … kamu harus keluar dulu." 


"Untuk apa aku keluar?" 


"Ya … pokoknya keluar." 


Adam menghembuskan nafasnya kasar. Kesal tapi juga kasihan melihat Hawa yang ketakutan. Sepertinya Adam harus bersabar untuk tidak menyentuh Hawa. 


Adam melangkah keluar tanpa mengatakan apapun. Hawa segera berlari untuk mengunci pintu, lalu masuk ke dalam kamar mandi. 


Malam pertama yang seharusnya menjadi indah, malam yang di impikan dan di tunggu-tunggu sepasang pengantin, tapi tidak dengan Adam, yang harus menyendiri di depan teras seraya menyeruput teh hangatnya. 


"Adam, sedang apa di sini Nak?" panggil Kiyai yang tidak sengaja melihat Adam di luar.


"Eh, Aby. Lagi pengen nyantai dulu sambil minum teh. Sini duduk Aby." 


Adam hanya tersenyum.


"Hawa sedang mandi dulu By." 


"Oh, pantesan. Gimana sekarang ada teman tidur?" goda Kiyai.


"Gimana apanya By?" 


"Anak muda zaman sekarang suka pura-pura. Sudah malam cepat masuk ke kamar nanti Hawa cari-cari lagi." 


"Iya Aby. Habisin tehnya dulu." 


"Ya sudah Aby duluan ya." 


"Iya By." 


Adam segera menyeruput tehnya, lalu kembali masuk ke dalam. Jam sudah menunjukkan 11 malam, semua orang sudah tertidur. 


Saat Adam akan membuka pintu, pintu kamar terkunci rapat. Sepertinya Hawa lupa membukanya. 


"Pake di kunci segala. Hawa buka Hawa!" 


Di dalam kamar kembali gugup saat mendengar suara Adam. Segera Hawa memakai jilbabnya membenah kasurnya yang di batasi dengan guling. 


"Hawa apa kamu sudah tidur?"


"Iya, sebentar!" 

__ADS_1


Hawa berlari menuju pintu lalu membukanya.


"Kenapa di kunci?" tanya Adam setelah pintu terbuka.


"Takut ada yang masuk." 


Adam hanya menggeleng, lalu mengunci pintu kembali. 


"Sudah malam cepat tidur." 


"Tunggu!" teriak Hawa yang berlari ke sisi ranjang. 


"Ini guling batasannya. Tidak boleh ada yang keluar batas," lanjutnya.


"Ini kamar ku kenapa kamu yang atur?" 


"Aku kan istrimu." 


"Kamu mengakui sebagai istriku, berarti tidak ada batasan dalam tidur. Dan malam ini aku berhak mendapatkan hak ku sebagai suami." 


"Oh tidak-tidak, sesuai perjanjian kita. Tidak akan saling sentuh sebelum ada rasa cinta." 


Malas sekali Adam meladeni ucapan Hawa. Tidak ingin ribut apalagi berdebat Adam mengalah dan tidur lebih dulu membelakangi guling yang menjadi pembatas. 


Hawa ikut berbaring, dengan ragu ia menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Tubuhnya langsung berbalik membelakangi Adam. 


Sudah ada pembatas tetap saja hatinya gelisah dan takut. Namun, Hawa buang jauh-jauh kecemasan itu, memejamkan mata berusaha untuk tidur. 


*****


Adam mengerjap merasakan ada sesuatu yang mengganjal junior miliknya. Kepalanya sedikit terangkat, bola mata itu turun ke bawah hanya untuk melihat ada apa di bawah sana. Dan siapa yang menindih burung miliknya. 


Bola mata Adam semakin membulat saat melihat tangan Hawa ada di atas burungnya. Bibirnya menggertak menahan sesuatu yang berkedut di bawah sana. Mungkin burungnya akan terbangun karen mendapat sentuhan dari sang pemilik. 


"Astaghfirullah." 


Dengan perlahan Adam mengangkat tangan Hawa dari atas burungnya yang kini mulai menegang. Namun, bukannya lebih baik perasaannya semakin lebih buruk karena kini tubuh Hawa berbalik menghadapnya dan memeluk tubuhnya. 


Hati Adam semakin tidak karuan. Debarang jantungnya semakin terpacu lebih cepat. Sekujur tubuhnya ada aliran-aliran listrik yang menjalar. Entah Adam bisa menahan hasratnya atau tidak. 


"Ya, Allah cobaan apa lagi ini. Hawa  kamu yang membuat pembatas tapi kamu yang melewatinya," gumam Adam lirih. 


Pelukan Hawa semakin erat membuat Adam semakin sulit untuk melepasnya. Satu gerakan saja bisa membuat bibir keduanya saling menyatu. Karena wajah Hawa sangat terlalu dekat. 


Seketika Adam pun tergoda melihat bibir ranum itu. Walau sebagian kepalanya tertutup hijab tetap saja, kecantikan Hawa menggodanya. 


Berkali-kali Adam menelan air liurnya sendiri. Mencoba melepaskan, tetapi tidak bisa. 


"Ya Allah, apa aku akan berdosa jika mencium istri ku diam-diam," batin Adam yang berharap bisa menyentuh bibir ranum itu. 


"Tidak-tidak, itu tidak akan dosa. Hawa adalah istri ku aku berhak atas dirinya. Yang penting aku tidak memaksanya."


Lagi-lagi Adam melirik pada Hawa.


"Bismillah, Hawa maafkan suami mu ini."


Dengan lembutnya benda kenyal itu mendarat dengan sempurna. Adam mengecupnya dengan lembut. Namun, hanya sesaat yang akhirnya ia lepaskan lagi.


Bagi Adam itu sudah cukup, dari pada nanti Hawa terbangun dan marah padanya. 


Dalam waktu yang lama mata indahnya tidak berhenti menatap Hawa. Satu tangannya di biarkan membelai lembut wajahnya.

__ADS_1


Sedetik senyumannya terlukis.


"Terimakasih, terimakasih sudah menjadi istriku," ucapnya lalu memeluk Hawa dengan erat.


__ADS_2