Kisah Kasih Anak Santri

Kisah Kasih Anak Santri
Bab 76


__ADS_3

Sepasang pengantin baru hanya saling diam di atas ranjang. Tidak ada satupun yang memulai pembicaraan. Asma, masih canggung ada seorang pria yang menemaninya tidur. Sedangkan Yusuf dia tidak pandai menghangatkan suasana.


"Asma?"


"I-iya Mas?"


"Apa Mas boleh lihat wajahmu?" Mendengar kata wajah Asma langsung menatap pada Yusuf. Namun, bukan itu yang Yusuf maksud.


"Maksud Mas, jilbab mu"


"Oh, maaf Mas Asma lupa. Soalnya tidak terbiasa membuka jilbab." Itulah maksud Yusuf ingin melihat rambut indah istrinya.


Mata Yusuf membulat dengan sempurna. Ketika melihat keindahan yang tersembunyi di balik kain panjang yang menutupi rambut dan leher jenjangnya. Sungguh beruntungnya Yusuf yang hanya bisa melihat keindahan itu seorang. Tidak ada pria manapun yang dapat melihat kecantikan Asma selain dirinya.


"Masya Allah."


"Jangan melihat Asma seperti itu Mas." Asma menjadi malu ditatap Yusuf tanpa berkedip.


"Maaf." Yusuf segera memalingkan pandangannya. Mereka kembali diam.


"Asma apa Mas boleh ... menyentuh rambut mu? Rambutmu sangat indah."


"Jangankan rambut Mas. Seluruh tubuhku semua adalah milikmu."


"Jadi kamu mengizinkan Mas?" Asma hanya mengangguk sebagai jawaban.


Dengan ragu tangan Yusuf bergerak untuk menyentuh helaian rambut hitam itu. Detak jantungnya mungkin sudah tidak beraturan, tangannya semakin gemetar saat rambut itu sudah teraba oleh jari tangannya. Dihirupnya wangi strowbery yang begitu harum membuat Yusuf semakin ingin menciumnya lebih lama.


"Rambutmu wangi."


"Makasih Mas."


"Kamu cantik, dengan rambut terurai seperti ini."


Bibir Asma melengkung sesaat mendapat pujian dari suaminya itu. Mungkin Asma akan selalu mengurai rambutnya mulai hari ini.


Deg,


Senyum Asma memudar, detak jantungnya semakin berdetak tidak karuan. Kala tangan Yusuf menyentuh wajahnya. Perlahan wajah itu diputar menghadap Yusuf, pandangan mata pun tidak bisa dihindari.


Sedetik Asma terpana melihat ketampanan Yusuf bagaikan pangeran. Bolehkah dirinya memuji? Mata indah sebiru lautan, hidung mancung, bibir tipis yang menawan, sungguh indah ciptaan mu yang membuatnya terbuai hingga tidak sadar bibir menawan itu sudah menyatu dengan bibirnya, entah sejak kapan.


Asma hanya mematung setelah merasakan rasa yang aneh. Namun, dapat menyenangkan hatinya.


Apa tadi itu ciuman pertama?


Mungkin bagi mereka itu ciuman pertama karena baik Asma atau Yusuf tidak ada yang pernah merasakan bagaimana nikmatnya cinta. Di usianya yang matang Yusuf masih ragu dan malu untuk melakukannya.


"Maaf, Mas sudah lancang."


"Ah, t-tidak Mas. M-maksud Asma ... sama sekali tidak lancang," ucapnya dengan malu yang terus menunduk.

__ADS_1


Yusuf tersenyum, baginya tingkah Asma sangat lucu.


"Apa boleh Mas meminta lebih?" Hanya anggukanlah yang bisa Asma lakukan.


"Yakin? Kamu sudah siap?"


"Insya Allah Mas."


Sinyal cinta sudah menyala. Ditatapnya wajah Asma dalam-dalam. Jari tangan itu mulai bergrilya, menyusuri rambut hingga wajahnya. Mata Asma semakin terpejam kala tubuhnya sudah berbaring di atas hamparan kasur yang empuk.


Jari tangan Asma semakin erat meremas kain sprey yang lembut. Saat sedikit demi sedikit pakaian tidurnya terbuka hingga hilang entah kemana memperlihatkan seluruh tubuhnya.


Segera tangan itu menutupi bagian yang amat penting dalam hidupnya. Kacamata busa yang masih melekat dan segitiga biru yang masih menutup aset miliknya.


Yusuf pun hanya diam. Tidak bisa menahan ludah yang terus ditelan.


Huft,


Yusuf langsung menahan tangan Asma yang hendak menutupi badannya dengan selimut.


"Malu Mas."


"Aku ini suami mu. Sudah seharusnya aku melihat seluruh tubuhmu."


"Tapi Mas. Mmm ..." ucapnya tertahan saat benda kenyal itu saling menyatu. Bibir menawan itu semakin liar dan ganas menyusuri wajahnya. Yang membuat Asma tidak tahan dan lama-lama ingin merasakan hal yang lebih lagi.


Akhh !!!


"Kenapa?" Yusuf terkejut mungkin Asma pun terkejut saat sebuah benda menyentuh aset miliknya.


"Apa itu benda pusaka?" tanya nya membuat Yusuf heran.


"Asma, benda pusaka apa?"


"Itu yang tadi Mas. Yang kena ...." Yusuf tersenyum.


"Sekarang izinkan benda pusaka ini memasuki lubang surgawi ya?"


"Lubang surgawi Mas?"


"Sudah, sekarang kita mulai lagi ya. Nanti kamu akan merasakannya."


"Rasanya gimana?"


"Mungkin sedikit sakit di awal karena benda pusaka tidak bisa masuk dengan mudah butuh perjuangan. Sekarang tutup lagi matanya ya? Jika merasakan sesuatu kamu pegang saja punggung Mas dengan erat," bisik Yusuf.


Asma hanya melakukan apa yang Yusuf perintahkan. Hingga saat benda pusaka itu sudah melewati pintu surgawinya teriakan pun tidak bisa dihindari.


Segera Yusuf membekap mulut itu dengan bibirnya agar teriakan itu tidak terdengar.


"Mas ...."

__ADS_1


"Maaf. Pelan-pelan ya." Semakin memperlambat hentakkan nya rasa perih yang dirasakan Asma lama-lama berubah menjadi nikmat.


*****


Pergulatan semalam membuat mereka lelah hingga adzan subuh tidak terdengar. Yusuf baru bangun saat jarum jam menunjukkan pukul 05.00 setelah tersadar Yusuf bergegas pergi ke kamar mandi untuk mensucikan diri.


Asma mulai menggeliat. Rasa perih masih terasa, diliriknya ranjang di samping yang tidak terlihat Yusuf di sana. Asma mencari-cari dimana suaminya itu.


"Mas Yusuf mana ya?" Saat hendak bangun keluarlah Yusuf dari kamar mandi yang hanya menggunakan handuk melilit pinggangnya.


Aaa ... !!!


Teriak Asma yang langsung menutup wajahnya. Yusuf terkejut, beruntung handuknya tidak melorot.


"Ada apa?" tanyanya panik.


"Mas kok gak pake baju." Hampir saja jantung Yusuf copot. Dikira ada apa ternyata karena melihat penampilannya yang setengah memakai handuk.


"Mas baru selesai mandi. Ini baru mau pakai baju. Kenapa di tutup begitu semalam bukannya sudah lihat?" Yusuf menatap penuh rayu. Asma langsung menurunkan kedua tangan yang menutupi wajahnya. Pipinya terlihat merah merona.


"Itu kan beda."


"Oh beda. Lebih suka yang malam atau sekarang?"


"A ... a ... Ah, Mas Yusuf." Asma semakin tersipu malu dan Yusuf malah tertawa.


"Ya sudah sekarang mandi, nanti kita waktu subuh habis kita sholat berjamaah Mas tunggu."


"Iya." Asma menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang tidak memakai sehelai benang pun. Berjalan seperti pinguin merasa ada yang mengganjal di bagian area sensitifnya.


"Kok jalannya gitu?" Sedetik Asma melirik pada Yusuf. Ada rasa malu dan kesal bercampur aduk. Yusuf bukannya peka malah meledek.


"Bukannya Mas Yusuf yang buat aku begini," ucap Asma dengan nada kesal lalu melangkah pergi memasuki kamar mandi. Yusuf yang mendengar itu langsung tertawa.


****


"Yusuf?" panggil Marwah yang mengetuk pintu.


"Iya Ma."


"Sarapan dulu. Ajak Asma untuk sarapan."


"Iya Ma."


Yusuf langsung melirik pada Asma disampingnya. Namun, Asma menolak keluar dari kamar. Dia malu karena jalannya seperti pinguin. Dan masih merasa perih saat berjalan.


"Sebentar saja yuk!"


"Gak mau Mas. Malu ... masih sakit juga."


"Ya udah deh. Mas keluar sebentar nanti kita sarapan di kamar saja."

__ADS_1


"Tapi Mas, jangan bilangin Asma sakit karena semalam ya?" Yusuf langsung tergelak.


"Iya, sayang." Kata sayang membuat pipi nya semakin memerah. Asma semakin tersipu malu.


__ADS_2