
Hawa pun pergi menuju kantin. Yusuf langsung duduk di depan Marwah, di atas bangku yang sempat Hawa duduki.
"Ada apa Suf? Kenapa meminta Hawa keluar. Padahal Mama masih ingin bicara padanya."
"Sudahlah Ma. Ini ada yang lebih penting yang ingin Yusuf katakan."
"Apa?"
Sebelum menjawab Yusuf celingukan ke belakang, memastikan jika Hawa benar-benar sudah tidak ada.
"Begini Ma. Sebelumnya maafkan Yusuf karena tidak izin pada Mama. Beberapa hari lalu Yusuf, menemui Adam anaknya pak Kiyai, dan Yusuf telah melamar Adam untuk Hawa."
"Maksudnya? Kamu menjodohkan Hawa dengan Adam?"
"Iya Ma. Karena Yusuf yakin Adam calon imam yang baik untuk Hawa."
"Bagaimana jawabannya?"
"Alhamdulillah mereka setuju. Dan nanti setelah Kiyai sembuh mereka akan datang untuk mengkhitbah Hawa."
"Tapi apa Hawa setuju?"
"Hawa belum tahu Ma, nanti kita katakan jika sudah pasti mereka akan datang. Lalu bagaimana dengan Mama apa setuju?"
"Mama percaya keputusan yang kamu ambil itu adalah keputusan terbaik untuk adik mu Mama setuju saja."
"Terimakasih Ma, semoga Hawa juga setuju."
"Setuju apa?" seru Hawa yang baru saja pulang dari kantin. Masuk ke dalam kamar sambil menjinjing kantung plastik makanan untuk sang kakak.
Namun, Hawa mendengar perkataan Yusuf, yang terakhir. Marwah dan Yusuf saling pandang bingung mau menjawab apa. Namun, Yusuf terlihat santai.
"Kalian ngomongin apa sih? Jangan bilang mau anterin aku ke pesantren." Kata Hawa yang duduk di samping Yusuf.
"Iya," jawab Yusuf. "Sekalian mau nikahin kamu sama Ustadz di sana." Kata Yusuf sambil terkekeh.
"Ih, kakak ini ngomong apaan sih! Aku ini masih sekolah belum waktunya nikah."
"Lo, bukannya kamu yang bilang mau nikah sama Ustadz di sana."
"Ya, itu cuma … gak harus sekarang juga kali Kak. Nikah itu butuh usia matang, sekolah saja belum selesai."
"Katanya kamu mau diam di rumah, Mama memperbolehkan kamu diam di rumah ya kalau sudah nikah," ujar Marwah menimpali.
Hawa semakin kesal mendengar perkataan ibu dan kakaknya.
"Kaya zaman Siti Nurbaya saja di jodohin," ketus Hawa dengan bibir mencebik. "Nih, makan jangan ngomongin jodoh-jodoh mulu. Dari pada sibuk nyari jodoh buat aku lebih baik kak, Yusuf yang nyari jodoh," sindir Hawa.
"Adiknya di suruh nikah Kakak sendiri belum nikah." Yusuf langsung terdiam saat di singgung Hawa. Marwah, tertawa renyah melihat tingkah kedua anaknya itu.
__ADS_1
Namun, tiba-tiba Marwah kembali sedih, karena teringat suaminya. Bagaimana nanti jika anak-anaknya menikah tanpa seorang ayah yang mendampingi.
"Mama kenapa nangis?" Hawa dan Yusuf panik, tiba-tiba melihat ibunya menangis.
"Ada yang sakit?" tanya Hawa lagi. Marwah hanya menggeleng.
"Mama hanya teringat papa kalian. Jika kalian menikah, tidak akan ada yang mendampingi Mama."
"Walau papa sudah tidak ada, tapi papa selalu ada di antara kita. Jangan sedih masih ada Yusuf yang dampingi Mama jika Hawa menikah."
"Kak Yusuf!"
Lagi-lagi Yusuf mengatakan hal yang membuat Hawa kesal. Hawa yang kesal, Yusuf yang senang karena menggoda adiknya. Dan Marwah tertawa.
*****
Di rumah sakit lain Adam dan Ummi Khodijah sedang berkemas karena Kiyai sudah di perbolehkan pulang.
Kiyai pun tidak sabar ingin segera pulang ke pondoknya. Melihat lagi para santrinya, mengikuti setiap aktifitas mereka. Namun, tiba-tiba ada seseorang menghubungi Adam, yang menghentikan kepulangan Kiyai karena sudah di tunggu di tempat lain.
Sesuatu kabar bahagia juga kabar buruk bagi mereka.
"Aby ini dari kepolisian, Adam angkat dulu."
Kiyai memberikan anggukan. Adam segera menjawab telepon itu. Cukup lama Adam bicara, wajahnya terlihat sangat serius. Sebelum akhirnya pembicaraan pun selesai dan sambungan telepon pun terputus.
"Ada kabar dari kepolisian tentang teror itu, dan sekarang mereka sudah menemukan orangnya. Dia ada di kantor polisi dan kita di minta untuk ke sana."
"Kalau begitu kita langsung pergi ke sana," usul Kiyai.
"Tapi Aby, Aby baru sembuh. Lebih baik Adam antarkan Aby dulu, lalu Adam yang pergi ke kantor polisi."
"Tidak Adam, kita pergi sama-sama. Aby juga ingin bertemu orang itu, ingin bertanya apa tujuannya meneror keluarga Aby, dan salah apa Aby."
"Aby yakin?" tanya Khodijah pada suaminya. Kiyai Abdulllah pun mengangguk, merekapun pergi bersama menuju kantor polisi.
*****
Kantor Polisi
Adam dan keluarganya baru saja sampai. Saat melangkah masuk, mereka tidak sengaja berpapasan dengan Asma dan Jaenab.
Dalam waktu singkat mereka saling pandang terutama Asma dengan Adam, yang sudah lama tidak bertemu. Segera mungkin Adam mengalihkan pandangannya dari wanita yang bukan muhrim.
"Bu Jaenab, Asma?" panggil Ummi Khodijah. Yang di panggil masih diam. "Sedang apa kalian di sini?" tanya nya.
Jaenab bingung mau jawab apa, tidak mungkin juga mengatakan jika suaminya di tangkap atas kasus kriminal. Jaenab memilih untuk melemparkan pertanyaan.
"Khodijah sedang apa kamu di sini? Menjenguk seseorang?"
__ADS_1
"Tidak, kami mendapat panggilan. Beberapa hari lalu ada seseorang yang meneror keluarga kami dan alhamdulillah hari ini orang itu sudah tertangkap," jelas Khodijah.
"Oh begitu." Jaenab merasa malu.
"Bagaimana kabar kalian?" Kiyai tidak pernah menyimpan dendam, bahkan selalu menanyakan kabar sahabatnya.
Namun, sebelum Jaenab menjawab Kiyai sudah terlebih dulu melihat sahabatnya yang berpakaian orange dengan tangan yang di ikat borgol.
Jaenab tidak bisa mengatakan apa-apa setelah melihat suaminya. Ada rasa malu juga kasihan, tetapi Jaenab yakin jika suaminya di fitnah dan hanya korban.
"Pak Hj. Anshor?" panggil Kiyai pada pria yang begitu sangar menatapnya tidak suka.
"Suami saya di fitnah, tidak mungkin suami saya melakukan tindakan kriminal." Jaenab langsung berkata seolah menjelaskan pada Kiyai Abdullah yang batal menjadi besannya.
Adam dan Asma hanya saling diam.
"Pak Abdullah?" panggil seorang petugas membuat Keluarga Kiyai Abdullah langsung mengikuti intruksi pertugas itu yang membawa mereka ke satu ruangan.
Sedangkan Jaenab dan Asma masih menunggu Anshor, bicara dan mencoba bertanya pada petugas apa kesalahannya.
"Ayah?" panggil Asma
"Mas, kenapa kamu di tahan? Apa salah mu? Aku sudah membawa pengacara dan ku yakin kamu pasti pulang."
"Lebih baik kalian pergi, aku tidak akan kembali dan akan tetap di sini."
"Maksud kamu apa Mas? Kamu tidak benar-benar bersalah kan?"
"Suami ibu sudah bersalah, beliau di tangkap karena tindakan pencemaran nama baik juga teror, membuat resah orang yang telah di terornya."
Asma dan Jaenab tercengang, tidak percaya anshor melakukan semua itu.
"Teror seperti apa Ayah? Siapa yang Ayah Teror?" Asma mencoba bertanya. Tanpa mereka tahu keluarga yang di teror adalah keluarga Adam.
"Kami yang mendapat teror itu," ujar Adam setelah keluar dari dalam ruangan.
Asma, tercengang merasa malu juga tidak percaya jika ayahnya melakukan itu. Namun, penjelasan petugas polisi membenarkan itu dan Anshor masih di tahan belum dapat di bebaskan.
"Tidak mungkin. Mas! Kamu tidak mungkin melakukan itu 'kan? Ini pasti fitnah."
"Ayah memang tidak mungkin melakukannya. Pak Polisi aku mohon selidiki lagi tidak mungkin ayah saya bersalah. Mas Adam, Asma yakin ayah tidak melakukannya. Tolong … jangan biarkan ayah di tahan."
Asma memohon, tetapi Adam tidak bisa mengatakan apa pun
"Polisi sudah mengatakannya Asma. Jika kamu ingin bertanya, tanyakan saja pada ayahmu. Untuk apa dia melakukan itu, mengirim ayam busuk yang berdarah, meminta bantuan pada dukun untuk memperdaya kami. Coba kamu bayangkan ada darah segar dan bau anyir di dalam kamar mu, siapa yang mengirimnya jika bukan karena bantuan Jin. Aku tidak tahu apa salah Aby, Ummi dan aku pada kalian, tapi … jika aku pernah menyakiti hati kalian aku dan keluargaku mohon maaf, jika ada yang tersinggung karena perkataan kami. Tapi tolong janganlah kalian berbuat musyrik hanya untuk membalaskan dendam. Aku percaya kamu dan keluargamu paham agama Asma."
"Tidak! Kalian jangan asal nuduh, mungkin saja polisi salah. Suami ku tidak mungkin melakukan itu." Jaenab tidak terima dengan semua perkataan Adam.
Adam mencoba tenang, walau hatinya ingin sekali marah dan emosi. Karena bagaimanapun tindakan Anshor sudah meresahkan keluarganya juga membahayakannya.
__ADS_1