Kisah Kasih Anak Santri

Kisah Kasih Anak Santri
Bab 27- Permintaan Yusuf


__ADS_3

Kedatangan Hawa membuat heboh seisi kamar. Tentu saja Aisyah, Asiyah, dan Minah sangat senang Hawa kembali. Mereka semua terkejut dan langsung menghambur memeluk Hawa. 


"Assalamualaikum." 


"Waalaikumsalam. Hawa!" 


"Aduduh, bisa gak sih satu-satu meluknya," protes Hawa yang tubuhnya terasa pengap karena di peluk ketiga temannya itu. 


"Hawa, kita udah itu kangen banget. Gak ada kamu kamar sepi," ungkap Minah.


"Tumben. Bukannya aku nyebelin ya? Buktinya selama aku di sini banyak yang tidak suka sama aku." Mata Hawa mendelik pada Minah.


"Hawa jangan bahas itu lagi." Minah merasa tersinggung. Namun, tiba-tiba merangkul tubuhnya dan tersenyum.


"Aku bercanda kok. Jadi bener ya sekarang kamu tidak benci lagi sama aku." 


"Ya iya atuh sesama muslim kita tidak boleh saling membenci itu dosa," tutur Aisyah. 


Hawa memutar bola matanya malas. Ketika mendengar ceramah temannya itu. Namun, justru itulah yang membuat Hawa betah. 


Berbeda dengan teman-temannya di kota, mereka malah membawa nya ke jalan yang sesat. Sherly dan Mira yang di anggap sebagai teman terbaik tapi tidak setelah kejadian di caffe. Saat mereka meninggalkan Hawa berduaan dengan Gio, dan membuat di marahi oleh kakaknya. 


Gio, lekaki yang di idolakan di sekolahnya. Semua siswi mengaguminya termasuk Hawa. Rupanya yang tampan, tinggi, cool, jago basket dan pintar, bagaimana Hawa tidak tertarik. 


Tapi setelah pertemuan itu, Hawa jadi tahu sisi buruk Gio, yang ternyata arogan tidak lebih dari pemaksa. Menyentuh tubuhnya tanpa izin dan merendahkannya sebagai wanita. 


Tapi tidak dengan santri di sini. Hawa bisa melihat Adam, memandangnya pun Adam tidak pernah yang selalu memalingkan wajahnya. Bahkan saat ia salah pun tidak pernah sedikit pun Adam menyentuh tubuhnya, hanya dengan sebuah buku Adam memukul tangannya tanpa menyentuh. 


Dalam sesaat Hawa membandingkan Gio dengan Adam. 


"Hawa! Hawa!" teriak ketiga temannya membuat Hawa terkejut. Ternyata Hawa larut dalam lamunan. Membayangkan Adam dan Gio. 


"Kamu kenapa melamun Wa?" 


"Tidak apa-apa hanya lelah. Aku mau tidur dulu sebentar." 


"Eits … tidak bisa." Tahan ketiga temannya ketika Hawa ingin mendaratkan tubuhnya ke atas ranjang tidurnya. 


"Kenapa?" tanya Hawa kesal. 


"Sebentar lagi magrib. Kita siap-siap pergi ke mesjid." 


"Huh." Hawa membuang nafasnya kasar. Inilah yang membuat dirinya malas dan tidak betah. Sedikit-sedikit ibadah dan terus ibadah tidak ada waktu untuk dirinya bersantai. 

__ADS_1


"Ayo Wa." 


"Iya," jawab Hawa malas. 


'Hawa sisp-siap saja. Tidak akan ada waktu untuk bersantai' batinnya yang melangkah malas keluar dari kamarnya.


***** 


"Kak Yusuf mau langsung pulang? Sebentar lagi magrib lebih baik menginap saja," tawar Adam yang sedang berjalan sore dengan Yusuf, mengelilingi pondok.


"Mungkin habis magrib saya pulang Dam, soalnya besok saya harus kembali bekerja." 


"Tidak mudah menjadi tulang punggung keluarga. Sekarang kak Yusuf selain menjadi kakak juga harus menjadi ayah bagi Hawa. Harus menjaga kedua wanita yang paling di cintai. Tapi Adam yakin kak Yusuf pasti bisa." 


"Entahlah Dam, insya Allah saya akan berusaha." 


"O ya Adam, jika boleh tahu apa kamu sudah punya calon istri? Maaf jika saya lancang. Saya pernah dengar katanya kamu sudah di jodohkan dengan santri di sini." 


"Dari mana Kak Yusuf tahu?" 


"Ya, adalah." 


Adam masih memasang wajah tenang. Tatapannya menatap fokus pada para santri pria yang akan pergi menuju masjid. 


Sebenarnya Adam malas mengungkit lagi masalahnya dengan Asma, tapi demi menjauhkan dari fitnah lebih baik Adam mengatakan yang sebenarnya. 


"Maksudnya kamu menolak?" 


"Mungkin lebih tepatnya kami tidak berjodoh. Ya semoga dia mendapatkan lelaki yang baik lebih dari saya." 


Yusuf terdiam, entah kenapa tiba-tiba Yusuf menanyakan hal itu. Apa hanya sekedar obrolan atau ada maksud lain.


"Adam boleh aku tahu siapa wanita yang muncul dalam mimpimu?" 


Seketika Adam menoleh, menatapnya dengan bingung. Tiba-tiba Adam pun tersenyum.


"Aduh, kak Yusuf ini saya merasa di introgasi."


"Tidak apa-apa mengintrogasi calon ipar." 


"Apa?" 


Yusuf langsung membungkam mulutnya. Apa yang dia katakan? Kenapa mengatakan itu, tetapi sepertinya Adam mendengar jelas perkataannya. 

__ADS_1


"Adam bisa kita bicara di sana!" tunjuk Yusuf pada sebuah kursi di tengah taman. "Saya ingin bicara serius, tidak nyaman jika berdiri seperti ini." 


Mereka pun melangkah menuju kursi itu, lalu duduk berdampingan. Hati Adam mendadak gelisah, sedangkan Yusuf mendadak gugup. 


"Mau bicara apa kak Yusuf?" tanya Adam. Yusuf masih terlihat mengatur nafas untuk menghilangkan kegugupannya. Sebelum akhirnya berkata,


"Adam … jika saya meminta kamu untuk jadi ipar saya apa kamu mau?" 


"Maksudnya?" 


"Saya ingin melamar kamu untuk adik saya. Maukah kamu menikahi adikku Hawa Aqila Putri?" 


Deg, 


Jantung Adam berdetak lebih cepat. Bola mata itu membulat tanpa berkedip. Tidak kah salah Adam mendengar? Jika Yusuf melamarnya untuk Hawa. 


Untuk wanita yang selama ini membuat Adam kesal. Santri yang paling nakal, bar-bar, dan pembangkang. Mungkinkah wanita itu yang akan menjadi istrinya. 


"Sebagai kakak saya takut tidak bisa menjaga adik saya. Dan saya percaya ku orang yang tepat yang bisa menjadi imam untuk adik ku Hawa. Tidak hanya menjaga dan melindunginya, kamu juga bisa mendidik Hawa ke jalan yang benar. Tidak ada lelaki yang saya percayai selain kamu Adam. Dan kita sudah mengenal sangat lama begitupun dengan Aby dan Ummi mu." 


Adam tertegun, tidak dapat mengatakan apapun bibirnya terasa kelu. 


"Saya tidak meminta kamu menjawabnya sekarang. Kamu bisa melakukan sholat istikhoroh sebagai petunjuk untuk jawaban atas permintaanku. Hawa memang bukan gadis yang baik dan sempurna, tetapi kamu bisa menyempurnakan hidupnya dan menjadikan akhlaknya lebih baik lagi. Kamu bisa menuntunnya menuju Jannah ( Surga )." 


"Insya Allah tapi saya tidak bisa memberi jawaban untuk saat ini." 


"Tidak apa-apa kamu bisa melakukan istikhoroh berulang-ulang." Yusuf mengusap pundaknya dengan lembut. 


Suara adzan berkumandang. Terdengar begitu merdu memanggil para hamba Allah untuk menuju rumahnya. Kaum adam dan hawa berbondong-bondong menuju tempat mulia dan suci itu. 


Para lelaki sudah siap dengan pakaian komo dan sarungnya tidak lupa berbagai macam peci sebagai penutup kepalanya. 


Begitupun dengan para wanita yang sudah rapih memakai mukena berwarna-warni sungguh indah dan cantik nya ciptaan mu Tuhan. 


Dengan penuh semangat mereka mengambil air wudhu, menghamparkan sajadah di atas lantai marmer yang mengkilap dan bersih. Dengan shaf yang rapih dan berjajar menghadap kiblat. 


Yusuf dan Adam pun menghentikan percakapan mereka untuk melakukan sholat berjamaah terlebih dulu. 


"Sudah magrib kita sholat dulu Kak Yusuf," ajak Adam dengan tenang walau sebenarnya merasa canggung. 


"Iya, mari," balas Yusuf. Lalu mereka berdua melangkah bersama menuju mesjid.


...----------------...

__ADS_1


Kira-kira Adam terima tidak ya?


Kita tunggu saja deh hasil dari istikhoroh Adam.


__ADS_2