
"Mas Adam!"
Langkah Adam terhenti saat seorang wanita memanggil namanya. Wanita itu tidak lain adalah Asma, yang mengejarnya keluar dari kantor polisi.
Adam menoleh, bersamaan dengan Ummi dan Aby nya.
"Bisa aku bicara sebentar?" tanya Asma dengan ragu.
Adam menoleh pada kedua orangtuanya. Meminta mereka untuk menunggu di dalam mobil. Sedangkan Adam akan menemui Asma sebentar.
Mereka mengobrol di sebuah taman yang ada di sana, tempat yang ramai banyak orang yang berlalu lalang.
Demi menjauhkan dari fitnah Adam dan Asma duduk di bangku terpisah walau posisi mereka berdampingan tetapi terdapat sedikit jarak.
"Maafkan ayah Asma, jika selama ini ayah sudah khilaf dan melakukan dosa. Asma dan ibu benar-benar tidak tahu jika ayah melakukan itu. Mungkin, ayah masih dendam karena perjodohan kita waktu itu. Tapi Asma, sudah bisa menerimanya dengan ikhlas jika kita memang tidak berjodoh, dan Mas Adam bukanlah jodoh Asma. Asma sudah mengikhlaskannya tetapi ayah …."
Asma tidak bisa melanjutkan lagi perkataannya. Nafasnya begitu terasa sesak, air matapun tidak dapat lagi terbendung.
Adam mendengar suara isakan tangisnya. Namun, tidak mampu untuk melihat. Adam hanya diam membiarkan Asma menangis hingga tangisannya reda.
"Aku tidak bisa menghapus air mata mu, tetapi sapu tangan ini bisa membantu mu."
Adam tetap menatap lurus ke depan, tetapi tangannya mengeluarkan sebuah sapu tangan dari dalam sakunya lalu di berikan pada Asma yang duduk di sampingnya.
Dengan ragu Asma mengambil sapu tangan itu. Diusapkan nya pada mata yang sudah sembab.
"Terimakasih," ucap Asma.
"Aku tahu apa yang kamu rasakan sekarang. Siapa yang tega melihat seorang ayah tinggal di dalam jeruji besi, tetapi jika memang itu karena kesalahannya yang harus kamu lakukan hanya ikhlas menerima apa yang sudah terjadi. Setiap perbuatan pasti ada timbal balik nya. Kita ambil hikmah nya dari semua ini, semoga masalah ini akan menjadi pelajaran untuk ayah mu kelak. Jangan anggap ini sebagai akhir dari hidup mu, tapi anggaplah ini sebagai teguran dan cobaan supaya iman mu lebih kuat lagi. Allah memberikan ujian pada hambanya untuk mengangkat derajatnya. Aku dan keluarga ku sudah memaafkan ayah mu"
Tangisan Asma mulai terhenti, cairan bening pun tidak bercucuran lagi.
"Jujur, aku malu dengan semua yang sudah ayah lakukan. Tapi, aku bisa apa semua sudah terjadi. Mas Adam, kamu benar-benar lelaki yang baik, dan tulus. Itulah mengapa aku jatuh hati pada mu hingga memaksa ayah untuk melakukan perjodohan semua karena aku yang terobsesi pada mu tanpa memikirkan akibat dari perbuatan ku. Dari dulu apa yang aku inginkan selalu terpenuhi dan selalu ayah kabulkan, tetapi aku tidak menyadari jika jodoh hanya Allah yang tahu. Sehingga ku berpikir Mas Adam pun bisa aku miliki. Aku meremehkan takdir, Mas Adam bukanlah sebuah barang yang bisa aku miliki kapanpun aku mau, tetapi Mas Adam adalah manusia yang berhak menentukan pilihannya. Maafkan Asma, Mas Adam."
"Sudah Asma, jangan menangis. Hapus air mata mu. Aku tidak ingin ada seseorang yang menangis hanya karena aku. Percayalah Asma, Allah sudah menentukan jodoh hamba-hambanya, jika aku bukan jodoh mu itu artinya Allah sudah menyiapkan jodoh yang lain, yang lebih baik dan tulus dari pada aku. Hanya saja kamu belum bertemu dengannya."
"Apa kita masih bertemu? Walaupun hanya sebatas teman."
"Aku tidak pernah menganggap mu musuh. Dan aku tidak pernah memutuskan tali silaturahmi, pintu rumah akan selalu terbuka untuk mu."
"Terimakasih Mas Adam."
"Sama-sama, ingat! Allah sudah menyiapkan jodoh untuk mu jadi jangan bersedih lagi. Kalau begitu aku pamit Aby dan Ummi sudah menunggu."
"Iya Mas, silahkan."
Adam membungkukkan badannya setelah berdiri lalu pergi meninggalkan Asma yang masih duduk di bangku taman.
__ADS_1
Asma langsung berdiri berniat untuk menyusul ibunya ke dalam. Namun, tiba-tiba tubuhnya bersenggolan dengan seorang pemuda sebagai petugas polisi.
Entah kenapa Asma tiba-tiba teringat ucapan Adam, jika Allah sudah menyiapkan jodoh untuknya hanya saja belum bertemu. Asma sempat berpikir apa mungkin polisi ini jodohnya?.
Namun saat melihat wajah itu, matanya seketika terbelalak, bibirnya mencebik seakan jijik.
"Ehm," deheman petugas itu membuyarkan lamunan nya.
"Hati-hati jika jalan Mba."
"I-iya Pak maaf," ujarnya pada petugas itu yang berlenggang pergi.
"Ya Allah, apa dia jodoh ku? Tidak mungkin, masa jodoh ku bapak-bapak," batinnya yang bergidik ngeri.
Tidak bisa terbayangkan jika dirinya menikah dengan seorang pria seumuran ayahnya. Apalagi kumis tebal masih terbayang olehnya.
"Ih! tidak!" teriaknya seraya menggeleng seolah menepis pikiran buruk itu. Berkali-kali Asma menepuk wajahnya berharap ia tersadar dalam mimpinya.
"Dari pada aku mikir macem-macem lebih baik masuk ke dalam," ujarnya yang melangkah masuk menuju kantor polisi.
Baru saja langkahnya tiba di depan teras dan akan membuka pintu. Tubuhnya kembali bertabrakan dengan seseorang, membuatnya akan terjatuh, beruntung Asma masih bisa menyeimbangkan badan nya.
"Eh! Astaghfirullah."
"Eh, Mba maaf," ujar pria itu yang menabraknya.
"Pak Yusuf"
"Asma"
Dalam waktu bersamaan mereka memanggil.
"Bapak ngapain di sini? Sudah ganti profesi ya jadi polisi. Pantesan gak ngajar lagi."
"Siapa yang bilang jadi polisi. Saya di sini karena ada urusan."
"Oh gitu."
"Sudah saya katakan jangan panggil saya bapak. Saya bukan bapak mu."
Yusuf merasa risih saat di panggil bapak. Baginya dia masih muda dan belum tua tidak pantas di panggil bapak.
"Lalu apa dong? Paman, kakek?" Asma semakin membuat Yusuf kesal, sehingga Yusuf lebih baik meninggalkannya.
"Eh, tunggu Pak? Maksud ku Kak Yusuf."
Yusuf mengembuskan nafas kasar lalu berbalik, dengan datarnya ia menatap Asma lalu memalingkan nya ke sembarang arah.
__ADS_1
"Apa?" Dengan malasnya Yusuf bertanya. Hubungan mereka lebih seperti musuh dari pada guru dan murid.
"Kak Yusuf kapan ngajar lagi?"
"Kenapa? Kangen ya gak lihat wajah saya?"
"Ih! Siapa yang bilang, masih banyak kali cowok yang harus di kangenin tapi bukan kakak. Usia kita beda jauh."
"O ya! Awas jika kamu suka sama saya."
"Ih! Makin ngaco saja."
"Saya enggak akan ngajar lagi, jadi jangan tungguin saya apalagi kangenin."
"Sebenarnya niat gak sih ngajar. Kalau gak niat jangan ngajar, Kak."
'Ini anak nyebelin banget. Tidak di sekolah tidak di luar," batin Yusuf lalu berlenggang pergi.
"Itu cowok pede nya kebangetan," umpat Asma lalu melangkah masuk.
*****
Yusuf masuk ke satu ruangan untuk mempertemukannya dengan seorang napi. Ternyata, yang Yusuf temui adalah Anshor lelaki yang menjadi penyebab fitnah itu.
Mereka berdua memang tidak saling mengenal, tetapi ada rasa benci dan amarah pada diri mereka jika menatap satu sama lain.
"Siapa kamu kenapa ingin bertemu dengan ku?" tanya Anshor dengan ketus.
"Saya Yusuf, kakak dari seorang wanita yang telah anda fitnah."
Tidak ada rasa takut ataupun merasa bersalah pada diri Anshor, saat mendengar perkataan Yusuf. Bahkan, meminta maaf pun tidak. Diri Anshor tetap angkuh dalam keadaan apapun.
"Apa tujuan anda menyebarkan fitnah itu? Menjadikan adik saya sebagai kambing hitam. Gadis yang tidak bersalah, yang anda fitnah begitu saja demi kepentingan pribadi."
Yusuf menatapnya dingin.
"Kenapa anda ingin tahu? Anda tahu saya punya masalah dengan siapa? Pesantren Annur, siapapun yang berhubungan dengan tempat itu berarti ada hubungannya dengan saya. Dan perlu anda tahu saya benci orang-orang yang sok alim yang sudah berani menyakiti keluarga saya terutama pada putri saya."
Yusuf mendekat, dengan tenangnya ia berkata.
"Bukankah anda seorang haji? Perlu berapa lama anda mendapatkan gelar itu? Mungkin anda mampu dan hanya dalam waktu singkat anda bisa mendapatkan gelar itu. Sekarang saya tanya berapa uang yang sudah anda habis 'kan untuk mendapatkan gelar itu? Pasti tidak sedikit 'kan. Mungkin bagi anda yang kaya sangat sedikit tidak membutuhkan biaya besar. Tapi sungguh sangat di sayangkan, percuma anda habiskan uang berjuta-juta, menghabiskan waktu berminggu-minggu hanya untuk mendapatkan gelar haji, tapi hati anda masih menyimpan dendam, dengki, iri, dan dzolim. Lebih baik buang saja gelar itu jika hati anda masih kotor. Jika saya jadi anda saya sudah sangat malu dengan sikap saya."
"Jangan menilai orang lain, belum tentu anda pun benar."
"Saya tidak mengatakan saya benar dan pintar. Saya hanyalah orang biasa yang tidak luput dari dosa. Namun, mencoba menghindari dosa. Apa anda sadar? Setan sudah merasuki anda sehingga anda terjerumus ke dalam golongan orang-orang musyrik. Anda percaya pada dukun, dan bangsa Jin. Mengirim sesuatu yang buruk untuk mencelakakan orang lain. Semua itu karena rasa dendam dalam hati anda sehingga anda tidak bisa melihat mana yang benar dan salah. Saya hanya ingin mengingatkan, kembalilah ke jalan yang benar, bersihkan hati anda dengan hal-hal yang baik. Saya tidak benci pada anda karena telah memfitnah adik saya, dan saya berharap semoga Allah mengampuni dosa anda dan menunjukkan ke jalan yang benar."
Anshor terdiam, tidak membantah atau mengatakan sepatah kata pun. Setelah mengatakan itu Yusuf berlenggang pergi meninggalkan nya yang masih merenung.
__ADS_1