
Hawa masih berjalan menyusuri sepanjang pondok. Mencari keberadaan Adam yang hilang karena marah padanya. Hingga Hawa menemukan Adam di tengah taman sedang duduk sambil membaca buku.
Dengan ragu Hawa menghampiri suaminya. Takut jika Adam masih marah padanya.
"Aby ...." panggilnya dengan lembut. Adam pun menoleh.
"Hawa, kenapa berdiri duduklah." Adam menepuk kursi disampingnya.
"Aby sudah tidak marah?" tanya Hawa dengan ragu.
"Marah? Siapa yang marah?"
"Aby. Tadi Aby pergi dari kamar."
"Oh itu." Adam tersenyum. "Aby tidak marah, tadi memang Aby mau pergi karena harus bertemu dengan Ustadz Soleh."
"Aby bilang kecewa."
Terjadi kesalahpahaman antara dirinya dan Hawa. Adam pun harus meluruskannya. Ia meminta Hawa untuk duduk barulah Adam menjelaskan tentang sikapnya tadi.
"Maaf, tadi Aby memang kecewa tapi tidak marah. Aby pergi untuk menemui Ustadz Soleh karena ada yang ingin Aby bicarakan dengannya. Bukan karena Aby marah sama istri Aby."
"Tapi tadi ekspresi Aby ...."
"Jujur Aby sangat kecewa. Hawa, jika ingin apapun katakan pada Aby sudah kewajiban Aby untuk membelikan apa yang Hawa inginkan, termasuk pakaian. Aby tidak melarang jika Hawa ingin meminta sesuatu pada kak Yusuf. Tapi bukan dengan cara seperti itu, meminta karena rasa iri. Tidak ada salahnya jika kak Yusuf ingin memberikan sebuah hadiah untuk calon istrinya, kamu jangan marah. Kamu harus terbiasa dengan semua itu. Karena setelah menikah kak Yusuf harus mengutamakan istrinya. Termasuk Hawa jika ingin apapun katakan pada Aby bukan kak Yusuf. Mengerti?" Hawa mengangguk.
"Jangan diulangi lagi ya?"
"Iya By, maaf ya."
"Sudah, jangan meminta maaf lagi." Peluk Adam dengan hangat.
Mereka pun kembali ke rumah. Namun, saat tiba depan rumah mereka melihat seseorang yang mendatangi rumah Kiyai dengan marah-marah.
__ADS_1
"Aby, bukannya itu tante Mariska ibunya Sherly?"
"Iya, tapi untuk apa datang ke sini?"
"Kita ke sana By. Takutnya tante Mariska buat onar."
Entah apa yang diperbuat Mariska. Sepertinya mencari keberadaan Sherly.
"Tante ada apa lagi ke sini?" tegur Hawa membuat Mariska langsung menoleh. Tatapannya sangat tajam.
"Dimana Sherly? Dimana kamu sembunyikan Sherly?"
"Sherly? Bukankah tante yang membawanya kenapa sekarang bertanya padaku? Apa yang sudah tante perbuat sehingga Sherly pergi dari rumah?"
"Diam kamu. Pasti kamu yang menyembunyikan Sherly."
"Silahkan tante cari sendiri. Apa ada Sherly di sini cari hingga sekeliling pondok." Mariska tidak mengatakan apapun yang langsung masuk ke dalam rumah.
Sedangkan Sherly, masih berada di rumah Ibrahim.
Namun, keberadaan Sherly diketahui para tetangga jika Ibrahim menyembunyikan seorang wanita. Mereka tahu jika Ibrahim belum menikah apalagi punya istri. Tetapi di rumah itu tinggal seorang wanita.
Dan saat ini Sherly sedang ketakutan karena masa mengepung rumah Ibrahim. Sedangkan Ibrahim sedang tidak ada di rumah.
"Hey! Keluar kamu."
"Ibrahim! Ibrahim! Keluar. Kami tahu kamu menyembunyikan wanita di dalam."
Sherly semakin ketakutan saat suara itu semakin riuh di iringi ketukan pintu yang keras.
"Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan?"
Ingin keluar dan menemui mereka tetapi apa mereka akan percaya jika ia jelaskan. Terpaksa Sherly hanya diam menunggu Ibrahim datang. Namun, masa lebih dulu membukakan pintu menyeretnya hingga keluar.
__ADS_1
"Ini dia wanitanya. Ayo lkut kami.*
"Mau di apakan saya? Tolong jangan tarik saya seperti ini." Mereka tidak peduli yang langsung menarik Sherly keluar.
"Berhenti! Apa-apaan ini."
Akhirnya Ibrahim datang di saat Sherly akan di bawa oleh warga menuju balai desa. Tetapi semua itu terhentikan oleh Ibrahim.
"Kalian apa-apaan? Kenapa menariknya seperti itu.* Ibrahim menarik tangan Sherly menyembunyikan di belakang punggungnya.
"Ibrahim jangan kamu sembunyikan. Kami sudah tahu ada wanita di dalam rumahmu. Sekarang apa yang mau kamu katakan? Seorang pejaka menyembunyikan seorang wanita di dalam rumah. Apa yang sudah kalian lakukan di dalam? Pasti kalian berbuat."
"Berhenti!" tegas Ibrahim yang mengepalkan kedua tangannya karena kesal. "Dia istriku wajar saja kami tinggal bersama.," ucap Ibrahim.
Sherly terbelalak mendengar kata-kata itu.
"Kalian baru saja berburuk sangka. Jangan asal menuduh jika tidak menemukan bukti. Dan jangan memfitnah."
"Kapan kamu menikah Ibrahim?" tanya seorang warga penuh curiga.
"Kenapa kalian tiba-tiba peduli pada urusan ku? Biasanya kalian tidak akan peduli jika ada warga kalian menikah? Kami sudah menikah itu sebabnya kami tinggal bersama."
"Apa benar kamu sudah menikah?"
"Saya mohon kalian pergi jangan ganggu kami. Lihatlah istri saya sudah ketakutan seperti itu."
Ibrahim terpaksa berbohong demi menyelamatkan Sherly.
"Mas Ibrahim maaf, tadi bilang apa? Kenapa bilang jika kita sudah menikah?" Ibrahim pun tidak tahu kenapa dirinya menjadikan pernikahan sebagai alasan.
"Bagaimana jika keluarga Mas Ibrahim tahu hal ini? Semuanya akan semakin rumit dan aku yang akan disalahkan."
"Tidak akan. Karena aku akan menikahimu."
__ADS_1
"Maksudnya?"