Kisah Kasih Anak Santri

Kisah Kasih Anak Santri
Bab 52- Tamu Bulanan


__ADS_3

"Ya Tuhan!"


Bola mata Hawa membulat dengan sempurna, saat melihat lingeria hitam transparan yang di pegangnya saat ini. Membuat pikirannya melayang-layang.


"Dari mana mereka membeli pakaian ini."


Lingeria itulah kado dari ketiga sahabatnya yang kini sedang membayangkan dirinya.


"Apa Hawa suka ya dengan kadonya?"


"Menurutku itu terlalu tipis."


"Tapi … Ustadz Adam pasti suka melihatnya."


Ketiga santriwati yang berbaring di atas ranjangnya. Memikirkan kado pernikahan yang mereka beli. Sebuah lingeria yang membuat mereka syok saat melihatnya.


"Astaghfirullah! Pakaian apa ini."


Terkejutnya mereka hingga bola mata itu membulat seperti sebuah tomat. Untuk pertama kalinya melihat pakaian terbuka, transparan bahkan tidak layak untuk dipakai.


"Ade-ade ini gimana sih. Ya ini pakaian untuk pengantin baru."


"Nanti tubuh teman kita terlihat Bu."


Sontak pelayan itu tertawa mendengar kepolosan mereka. "Terlihat juga oleh suami sendiri 'kan? Pokoknya hadiah ini paling bagus di jamin suaminya pasti suka."


"Enggak dosa?"


"Ih, dasar. Justru teman kalian yang akan mendapat pahala. Bukannya dosa."


"Ouh," ucap mereka serempak.


Hawa merasa risih melihatnya. Baginya sama saja dengan bertelanjang.


"Apa itu?"


Lingeria itu langsung disembunyikan saat Adam memanggilnya. Kening Adam mengerut melihat ke belakang punggungnya


"Bukan apa-apa Aby. Ini kado dari teman Hawa."


"Boleh Aby lihat?"


"Mm … tidak usah Aby."


Namun, Adam tetap penasaran dan langsung mengambil pakaian yang Hawa sembunyikan.


"Aby!"


Sudah terlambat.


Adam sudah menggeraikan lingeria itu. Bukannya terkejut Adam malah menatap heran pada Hawa.


"Kapan kamu beli pakaian ini?" Hawa segera menggeleng.


"Tidak Aby bukan Hawa, itu kado dari teman-teman." Hawa sudah merasa takut jika Adam akan marah. Namun, Adam malah tersenyum.


"Aby kenapa senyum? Jangan berpikir aneh-aneh Aby."


"Aby mau lihat istri Aby memakai ini." Hawa terbelalak seketika tidak percaya dengan yang Adam ucapkan. "Pakai ini untuk Aby ya," lanjut Adam.


Adam duduk di atas ranjang menunggu Hawa keluar dari dalam kamar mandi. Hawa membuka pintu, dengan ragu ia melangkah seraya *******-***** bawah lingeria tipis itu.

__ADS_1


Seketika Adam terpesona, betapa indahnya tubuh Hawa yang sangat mulus. Lingeria hitam, dan tipis begitu kontras dengan kulitnya yang putih. Serta rambut hitam yang panjang begitu indah tergerai.


Matanya hampir saja tidak berkedip. Ingin rasanya Adam memeluk tubuh Hawa saat ini, yang sudah membuat burungnya menegang.


"Cantik, istri Aby cantik sekali." Adam berjalan menghampiri Hawa.


"Aby tunggu." Tahan Hawa saat Adam akan memeluknya.


"Kenapa?"


"Maaf Aby- Hawa … sepertinya kita tidak bisa … Hawa kedatangan tamu bulanan Aby," ucap Hawa menyesal. Apalagi Adam sudah menginginkannya sejak tadi pagi.


"Tamu bulanan?" Adam belum paham dengan yang Hawa ucapkan.


Sepertinya Hawa harus menjelaskan apa itu tamu bulanan. Yang berarti datang bulan atau waktunya menstruasi dan Hawa mengerti jika saat datang bulan, sepasang suami dan istri tidak boleh melakukan hubungan.


"Datang bulan Aby, baru saja Hawa cek."


Bahu tegak Adam langsung melorot. Sudah lama ia menanti malam ini dan sudah tidak sabar saat melihat tubuh Hawa yang begitu seksi. Namun, hasratnya harus tertunda hanya karena seorang tamu yang tidak di undang.


Adam gagal mendapatkan jatah dari Hawa. Padahal mereka baru saja melakukannya sekali.


"Aby maaf."


"Tidak apa-apa Aby mengerti. Kenapa harus minta maaf?"


"Aby tidak marah? Atau mau tetap melakukannya? Jika itu membuat Aby senang Hawa akan lakukan."


"Untuk apa Aby marah. Justru Aby yang berterimakasih karena sudah memberitahukan Aby. Jika tidak, mungkin Aby sudah melakukan dosa pada istri Aby."


"Dosa? Justru Hawa yang dosa Aby karena sudah menolak ajakan Aby."


"Pakai ini," titah Adam yang tiba-tiba memberikan sebuah sarung pada Hawa, membuat Hawa terheran-heran.


"Untuk apa Aby suruh Hawa pakai sarung?"


"Istri Aby yang cantik pakai dulu ya nanti Aby jelaskan." Suara lembut Adam membuat hatinya luluh.


Seperti yang Adam perintahkan Hawa memakai sarung itu untuk menutupi sebagian tubuhnya dari pusar hingga bawah kaki. Yang tidak lagi memperlihatkan paha mulusnya.


Adam pun membawanya ke atas ranjang, mereka duduk bersandar pada headboar.


"Coba Aby jelaskan kenapa Aby bilang dosa?"


"Sangat dilarang bagi seorang suami mendekati istrinya yang sedang haid atau datang bulan. Kamu sedang datang bulan yang berarti darah kotor sedang keluar. Dan Aby dilarang mendekati istri Aby sebelum ia suci."


"Jadi kita dilarang untuk bersentuhan sama sekali?"


"Tidak juga. Ada bagian tubuh tertentu yang harus di jauhi yaitu antara pusar dan lutut. Itu sebabnya Aby memintamu untuk menutup tubuhmu dengan sarung."


"Jadi … jika di atas pusar Aby boleh …."


Adam mengangguk membenarkan ucapan Hawa yang terhenti. Wajahnya semakin mendekat, membuat Hawa kembali gugup. Malam indah di villa kembali terbayang olehnya.


Walau Adam tidak mendapatkan jatah malam ini, setidaknya hasrat yang tertahan masih bisa tersalurkan walau hanya sebatas sentuhan kecil untuk Hawa. Entah sejak kapan kedua bibir mereka sudah saling menyatu, dan Adam menepati ucapannya yang tidak menyentuh tubuh Hawa selain di atas pusar yang tertutup sarung.


"Aby …"


Suara lembut Hawa membangunkan Adam yang tengah bermimpi. Entah sedang bergumam atau memang nyata memanggil karena suaranya tertahan seperti sedang merasakan sakit.


Benar saja Hawa meringis menahan rasa nyeri pada perutnya. Adam jadi panik saat melihat tetesan air mata yang turun dari sudut matanya.

__ADS_1


"Hawa kenapa?" Adam segera terbangun dari tidurnya.


"Sakit Aby …"


"Apa yang sakit?"


"Perut Hawa Aby," rengeknya seraya mengusap perut ratanya. Adam ingin membantu mengusap lembut perut itu tapi teringat Hawa yang sedang kedatangan tamu bulanannya.


"Ya sudah kita ke dokter ya?"


"Tidak usah. Ini cuma sakit biasa, setiap datang bulan memang suka nyeri."


"Terus Aby harus gimana?"


"Ambilin air hangat Aby untuk kompresin. Masukin dalam botol saja Aby airnya."


Nyeri saat haid sudah biasa bagi perempuan. Namun, rasa nyerinya itu yang luar biasa bahkan ada yang sampai menangis karena tidak kuat menahan.


Adam pergi ke dapur mencari sebuah botol yang bisa dipakai untuk mengompres perut istrinya. Namun, Adam bingung botol seperti apa yang digunakan.


Di saat kebingungannya Ummi datang, yang akan pergi ke kamar mandi. Ummi melihat Adam celingukan seperti orang kebingungan.


"Adam sedang apa Nak?"


"Ummi. Ummi mau kemana?"


"Ummi mau ke kamar mandi, mau ambil wudhu. Sedang apa kamu Adam?"


"Ini Ummi, Adam bingung. Apa ada botol yang bisa untuk kompres?"


"Mau mengompres siapa?"


"Hawa Ummi. Kasian perutnya kesakitan katanya butuh di kompres."


"Apa Hawa sedang datang bulan?"


"Iya Ummi."


Khodijah tersenyum melihat kecemasan Adam. Ia berjalan menuju rak piring membukanya lalu mengambil sebuah panci yang ia simpan di atas kompor.


Mendidihkan air yang dicampur dengan teh, jahe dan sereh.


"Ummi, kenapa memasak teh?"


"Ini Ummi sedang membuat teh jahe untuk Hawa biar perutnya enakan. Setiap datang bulan Ummi selalu meminum ini insya Allah akan meredahkan rasa nyeri."


"Apa setiap datang bulan Ummi juga merasakan hal yang sama?"


"Semua wanita pasti merasakannya. Tapi jangan khawatir karena itu hanya dalam waktu 2-3 hari saja saat awal mentruasi."


Ummi menuangkan air itu ke dalam gelas, lalu diberikannya pada Adam.


"Ini berikan pada Hawa untuk di minum. Dan ini air hangat untuk mengompres."


"Makasih Ummi."


"Sama-sama."


Adam segera pergi menuju kamarnya. Benar apa kata Ummi, minuman jahu itu menghangatkan dan meredahkan rasa nyeri.


Hawa tidak lagi meringis dan tertidur lelap. Adam tetap setia memegang botol itu yang mengompres perut Hawa, agar terasa hangat.

__ADS_1


__ADS_2