
Dengan menggunakan motor sport Adam menyusuri setiap kota. Bukan untuk touring, melainkan demi mendapatkan satu buah rambutan yang Hawa inginkan.
Adam merasa heran pada tingkah Hawa akhir-akhir ini. Permintaan yang aneh, dan harus dikabulkan jika tidak dia akan marah.
Sepanjang jalan Adam tidak melihat ada penjual buah rambutan. Namun, saat tiba di kota Sukabumi bibirnya melengkung, kuda besi segera ia hentikan saat melihat buah rambutan yang terpajang di pinggir kios.
Alhamdulillah, puji syukur Adam panjatkan. Setelah seharian berkeliling akhirnya Adam menemukan buah yang Hawa inginkan.
*****
"Aisyah? Asiyah kalian darimana? Dan … apa itu yang kalian bawa?" Ummi Khodijah tidak sengaja berpapasan dengan mereka berdua saat akan masuk ke dalam rumahnya.
"Ini Ummi, pesanan Hawa. Tadi Hawa minta dibelikan yang segar-segar. Kebetulan Aisyah punya pohon mangga di rumah.
" Oh gitu. Berapa harganya biar Ummi bayar."
"Tidak usah Ummi. Apa Hawa ada di dalam Ummi?"
"Ada di kamarnya masuk saja ya."
"Baik Ummi."
Mereka berduapun masuk ke dalam rumah Khodijah.
"Kenapa Hawa tidak bilang ya mau mangga, kan saya bisa belikan." Pikir Khodijah lalu melangkah masuk ke dalam rumah.
Hawa, mulai malas pergi kemana pun. Yang dilakukannya hanyalah berbaring di atas ranjang empuknya. Bahkan untuk makan saja Hawa malas. Maunya buah-buah segar dan makanan pedas.
Baru saja Adam selesai membeli rambutan. Hawa sudah mengatakan permintaannya lagi. Mengetahui Adam sedang berada di kota Sukabumi Hawa pun meminta dibelikan oleh-oleh khas Sukabumi. Dan seblak yang paling disukainya.
"Pak, maaf mau tanya jualan seblak dimana ya?" tanya Adam pada tukang rambutan.
"Biasanya banyak dipinggiran jalan. Lurus saja terus nanti ada pasar Cibadak. Pasti ada di situ."
"Makasih ya Pak."
"Sama-sama. Ujang darimana? Kayanya bukan orang sini?" tanya si penjual rambutan. Ujang yang berarti panggilan untuk laki-laki.
"Saya dari Bogor Pak."
"Oh dari Bogor. Dekat atuh. Sengaja datang ke sini buat beli rambutan?"
"Iya Pak. Istri saya tiba-tiba pengen rambutan."
"Lagi ngidam ya istrinya Mas."
"Ngidam? Enggak juga Pak." Adam memang tidak tahu bagaimana ciri orang ngidam. Dan Hawa belum diketahui sedang hamil.
__ADS_1
Adam kembali melanjutkan perjalanannya setelah mendapatkan apa yang Hawa minta. Membawanya pulang ke pondok.
"Adam pulang darimana?" tanya Ummi pada Adam yang baru saja memarkirkan motornya.
Adam belum menjawab perkataan Ummi sebelum tangannya membuka helm fullface yang dia pakai.
"Adam abis dari sukabumi Ummi. Membeli rambutan untuk Hawa."
"Tumben. Baru saja tadi Hawa makan mangga. Yang dibawakan Aisyah dan Asiyah. Adam apa keinginan Hawa sangat aneh? Atau harus dikabulkan."
"Iya Ummi. Kemarin Hawa marah karena somay yang Adam beli dimakan sama Ustdaz Soleh dan sebagai gantinya Hawa pengen rambutan. Adam juga heran Ummi."
Ummi sudah menduga pasti menantunya itu sedang ngidam. Ditariknya tangan Adam untuk mendekat. Dengan ceria Ummi mengatakan kecurigaannya pada Adam dan berharap itu benar.
"Adam, kemungkinan Hawa sedang hamil. Dia pasti sedang ngidam pasti permintaannya aneh-aneh."
"Tapi Ummi Hawa tidak bilang apa-apa."
"Pokoknya ikut Ummi kita suruh Hawa untuk tespack." Dengan langkah semangat Ummi menuntun Adam memasuki rumahnya. Sepertinya Ummi sangat berharap jika Hawa benar-benar hamil.
*****
Di depan toilet, Adam Ummi dan Kiyai menunggu dengan gelisah. Apalagi Ummi Khodijah yang tidak berhenti mondar-mandir menunggu Hawa keluar dari kamar mandi.
Sedangkan Hawa masih ragu untuk melihat hasil tespacknya. Hawa belum siap jika harus menjadi seorang ibu. Tapi jika memang dia hamil Hawa tidak bisa melakukan apapun.
"Hawa!" teriak Khodijah yang sudah tidak sabar menunggu.
"Hawa, sudah belum? Ayo keluar tunjukkan pada Ummi."
Nafas panjang Hawa hembuskan. Dengan pelan ia membuka matanya yang terbelalak seketika. Dua garis merah yang mucul dari benda tipis.
"A-aku hamil! Jadi di dalam perutku ada …"
"Hawa!" panggilan itu kembali terdengar membuat Hawa terkejut hingga melempar alat tespack itu ke dalam closet.
"Aduh, kok jatuh." Ingin diambil tapi jorok, terpaksa Hawa membuang tespack itu terbawa arus air yang membersihkan closet.
Hawa membuka pintu, merasa risih karena dipandang oleh mertua dan suaminya. Ummi terlihat sumringah. Menghampirinya yang bertanya langsung tentang tespack itu.
"Hawa, gimana hasilnya?"
"Maaf Ummi. Tespack nya jatuh terbawa air."
"Tapi kamu masih ingstkan? Garisnya dua atau satu?"
"Dua Ummi."
__ADS_1
"Alhamdulilah, Aby kita akan punya cucu." Khodijah begitu senang yang langsung memeluk suaminya. Adam hanya bengong entah harus berekspresi seperti apa.
Sedetik senyumnya terukir lalu berjalan menghampiri Hawa dan memeluknya. Bagi Adam itu adalah anugrah yang Tuhan berikan.
Kini mereka berkumpul di meja makan. Menemani Hawa yang sedang menikmati seblak kesukaannya.
"Ummi tidak mau?"
"Tidak. Buat Hawa saja. Habiskan ya."
Hawa merasa malu karena terlalu diperhatikan oleh mertuanya.
"Jika mau apa-apa Hawa tinggal bilang saja pada Ummi."
"Iya Ummi. Tapi … kenapa Hawa tidak merasa mual atau pusing ya Ummi? Hawa merasa sehat."
"Orang ngidam itu berbeda-beda. Kalau Hawa tidak merasa mual itu bagus, Hawa jadi sehat dan juga bayi dalam kandungan Hawa."
"Ini kabar baik. Apa tidak sebaiknya kita syukuran atas kehamilan Hawa?"
"Iya Aby betul. Kita juga harus sampaikan kabar baik ini pada besan kita. Bu Marwah dan Yusuf pasti senang."
Kabar bahagia itu terdengar oleh seluruh santri. Yang memberikan selamat pada Adam dan Hawa. Acara syukur pun segera dilakukan dengan cara berdoa bersama.
******
Hawa masih tidak menyangka jika dirinya akan hamil secepat itu. Diusianya yang masih muda Hawa harus belajar menjadi seorang ibu.
"Istri Aby kenapa melamun? Lagi hamil jangan tidur malam-malam."
"Aby … gimana kalau sudah lahir ya By?"
"Loh, kok ngomong gimana sudah lahir. Hamilnya saja belum besar."
"Hawa masih muda Aby. Belum siap jadi ibu. Gimana kalau Hawa tidak bisa urus bayi kita. katanya saat melahirkan itu kita harus ini harus itu."
Adam hanya tersenyum mendengar ocehan Hawa.
"Kan ada Aby kenapa harus bingung? Aby akan bantu Hawa untuk jaga anak kita. Pokoknya jangan bingung masalah itu. Kita seharusnya bersyukur karena diberikan rezeki oleh Allah yang memberikan kita turunan. Masih banyak diluaran sana yang menunggu sangat lama untuk diberikan momongan. Malahan ada yang berobat kesana kemari untuk mendapatkan itu. Sedangkan kita tidak perlu melakukan semua itu Allah sudah memberikan rezekinya untuk kita."
"Tapi Aby, apa jika sedang hamil kita bisa melakukan …"
"Tidak ada larangan," balas Adam menjawab ucapan yang terpotong. "Apa istri Aby mau …."
Hawa mengangguk malu. Adam tersenyum simpul.
"Aby wudhu dulu. Istri Aby jangan lupa siap-siap ya. Tunggu Aby," bisik Adam membuat pipi Hawa merah merona.
__ADS_1