Kisah Kasih Anak Santri

Kisah Kasih Anak Santri
Bab 38- Di Khitbah


__ADS_3

"Ustadz apa Ustadz tahu perjodohan ini sejak lama? Kenapa Ustadz tidak bilang?" Dengan sorot mata tajamnya Hawa bertanya seolah sedang menahan amarah. 


Adam yang tetap berdiri berbalik menghadapnya dalam sekejap, setelah itu kembali ke posisi semula. 


"Kamu pikir aku tidak ragu? Permintaan kakak mu membuat hati ku gelisah sepanjang waktu. Aku sempat ragu apalagi melihat tingkah mu, dan kabar fitnah yang menyebar itu. Aku pernah berpikir untuk mengulang istikhoroh ku tetapi, setiap ku meminta petunjuk pada Allah, selalu engkau yang muncul Hawa. Hingga ku ragu untuk mengatakan pada kedua orang tua ku. Aku takut mereka menentang perjodohan ini. Tapi ternyata ketakutan ku salah, Aby dan Ummi senang dan mendukung perjodohan ini sehingga kami datang kemari untuk mengkhitbah mu." 


"Kenapa Ustadz tidak menolak saja? Ustad tidak malu punya calon istri yang masih kecil, aku masih 19 tahun dan masih sekolah. Sedangkan Ustadz!" 


"Usia kita hanya terpaut 6 tahun. Lagi pula tidak ada dalam hukum islam menikahi wanita yang harus dewasa atau sudah matang. Yang terpenting wanita itu sudah balig. Dan kenapa aku tidak menolak? Jika itu petunjuk dari Allah, dan demi kebaikan dunia dan akhirat aku tidak akan pernah menolak karena itu ibadah."


"Walaupun tidak saling cinta apa itu tidak masalah? Bagiku pernikahan itu harus karena cinta, agar berjalan bahagia." 


"Cinta, aku rasa akan datang dengan sendirinya." 


Adam mengulum senyum tetapi tidak dengan Hawa yang mendelik tajam. Dengan posisi tangan yang di lipat di bawah dada. 


"Baiklah, aku punya syarat. Sebelum cinta itu tumbuh di antara kita jangan pernah menyentuhku sedikitpun walaupun kita sudah menikah. Jika Ustadz setuju aku akan menyetujui perjodohan ini." 


"Bagiku menikah itu adalah ibadah bukan untuk di permainkan." 


"Setuju atau tidak bilang saja!" tegas Hawa, Adam hanya membuang nafasnya kasar. 


Adam, pun tidak akan memaksa jika Hawa belum siap. Terpaksa Adam menyetujui perjodohan dengan syarat itu. Mereka pun kembali ke dalam rumah, berkumpul bersama keluarganya. 


Tidak ada yang tahu perjanjian Adam dengan Hawa. Namun, orang tua mereka merasa senang karena perjodohan berjalan dengan lancar tanpa adanya paksaan. 


Hari ini Hawa Aqila Putri resmi di khitbah oleh Muhammad Adam Alfatih. Sebuah cincin di sematkan oleh Ummi Khodijah ke jari manis Hawa, sebagai pengikat jika Hawa sudah menjadi milik putranya. 


Dan Hawa akan di bawa kembali ke pesantren. Demi menghindari fitnah mereka di larang untuk bertemu berduaan saja, dan demi kenyamanan bersama terutama untuk Hawa, perjodohan itu di rahasiakan sampai dengan waktu yang di tentukan.


***** 


"Alhamdulillah Ma, acaranya sudah selesai. Yusuf merasa tenang karena sudah menyerahkan Hawa kepada laki-laki yang tepat. Semoga saja hubungan mereka langgeng ya Ma." 


"Aamiin. Kamu yang tenang tapi Mama belum tenang. Kapan anak sulung Mama ini nikah? Adik mu saja sudah kamu jodohkan kamu sendiri belum cari jodoh." 


"Jangan pikirkan Yusuf Ma. Yusuf belum memikirkan itu, masih besar tanggung jawab Yusuf, menjaga Mama dan keluarga kita. Apalagi Yusuf juga harus fokus pada perusahaan 'kan Ma, Yusuf belum ingin menikah." 


"Tapi kamu juga harus ada yang urus. Jika kamu punya istri akan ada yang merawat mu. Iya sekarang Mama masih ada bagaimana kalau Mama sudah tiada? Mama ingin melihat kalian berdua menikah bersama pilihan yang terbaik, Mama ingin melihat putra-putri Mama bahagia." 


"Mama jangan berkata seperti itu, insyaallah Mama panjang umur. Dan akan melihat Yusuf dan Hawa menikah, dan bermain bersama cucu-cucu Mama." 


"Apa perlu Mama carikan juga?" 

__ADS_1


"Mama, sudah jangan pikirkan itu. Sekarang lebih baik Mama istirahat." 


Marwah terkekeh seraya di tuntun Yusuf ke dalam kamarnya. Yusuf benar-benar tidak ingin membahas tentang pernikahan. 


*****


Hawa di sambut oleh ketiga temannya. Mereka senang melihat Hawa kembali, tetapi ada yang membuat mereka curiga. Sebuah cincin yang tersemat di jari manis Hawa. 


"Hawa tumben kamu pakai cincin? Cincin tunangan ya?" 


"Eh, siapa. Emang kalau pakai cincin itu harus tunangan saja. Ini cincin biasa kok," elak Hawa dengan gugup. Lalu menutupi jarinya dengan gamis. 


"Bagus, pasti mahal." 


"Udah ah, jangan ngomongin cincin aku mau istirahat." Hawa berjalan menuju ranjangnya. Merebahkan tubuhnya di atas kasur empuknya. 


"Hawa, Gio itu teman kamu? Kok tega memfitnah kamu." 


Hawa yang akan tertidur pun langsung terbangun, setelah mendengar pertanyaan dari Aisyah. Mereka semua memang sudah tahu kabar tentang Gio, dan tentang ayah Asma yang di penjara termasuk orang di balik fitnah itu.


"Iya, aku juga gak percaya. Ayahnya Asma adalah pelakunya, bagaimana dengan Asma sekarang." Minah masih memikirkan temannya itu. 


"Tidak semuanya orang yang kita anggap baik itu baik. Dulu, aku memang menyukai Gio, tapi setelah tahu perlakuannya aku merasa benci karena dia tidak bisa menjaga kehormatan wanita. Aku menyesal telah menyukainya. Dan untuk Asma, sepertinya ayahnya punya alasan sendiri kenapa melakukan itu." 


"Aduh, gimana ya kalau mereka tahu jika aku udah tunangan dengan Ustadz Adam, pasti heboh nanti," batin Hawa yang masih memikirkan hubungannya dengan Adam. 


"Hawa kenapa melamun?" 


"Siapa yang melamun. Aku hanya lelah." 


"Ya sudah kamu istirahat saja. Nanti kamu bangun saat adzan ashar. Kita mau ke aula dulu mau latihan." 


"Latihan apa?" 


"Marawis, untuk lomba nanti. Karena pesantren kita ikut serta di perlombaan antar santri satu provinsi," jelas Asiyah.


"Marawis itu apa?" Hawa tidak mengerti apa itu marawis, baru ia dengar kata-kata itu.


"Marawis itu alat musik rebana atau gendang yang di iringi lagu arab atau sholawatan. Sebenarnya masih sama dengan alat musik lainnya sebagai pengiring lagu hanya saja alat musik marawis ini sejenis gendang yang di tepuk bukan seperti gitar atau alat band lainnya." 


"Kalian yang memainkan nya?" 


"Iya, kamu mau ikut?" 

__ADS_1


"Iya deh aku mau." 


Hawa pun ikut bersama teman-teman nya menuju aula. Melihat mereka memainkan musik marawis, Hawa pun sempat mencoba tetapi tidak bisa.


"Kenapa gak pake gitar, piano, dari pada pake ginian," keluh Hawa. 


"Hawa ini namanya alat musik tradisional. Jangan salah, alat musik ini berasal dari Arab tepatnya dari Hadramaut Yaman. Coba deh, kamu dengarkan." 


Hawa hanya diam mendengarkan ke tiga temannya untuk memainkan alat musik marawis. Seorang pelatih menyarankan untuk menunjuk seseorang sebagai vokalis, dan mereka pun menunjuk Hawa yang ada di hadapannya. 


Namun, Hawa menolak baginya menyanyikan lagu Arab sangat memalukan, di bandingkan dengan lagu-lagu populer. 


Namun, mereka terus membujuk Hawa, agar Hawa mau berpartisifasi dalam lomba. Dengan terpaksa Hawa terima tawaran itu, ia pun mencoba menyanyikan sebuah lagu. 


Sungguh indah dan merdu suara Hawa, membuat mereka semua terpana. 


"Masyaallah Hawa, bagus sekali suara mu." 


"Iya. Kita pasti menang." 


"Memangnya kapan lombanya?" 


"Minggu depan. Biasanya Asma yang akan menjadi pelantun lagu suaranya juga sangat merdu. Dan sekarang kamu adalah penggantinya." 


Hawa tidak terima di sebut pengganti, membuat Hawa ingin tampil lebih bagus lagi dari pada Asma. Apalagi saat mendengar jika Adam, pernah memuji suara Asma. 


"Kalian belum tahu saja aku. Aku pernah ikut lomba satu provinsi, dan juara. Dari dulu aku sudah pandai bernyanyi. Dan kau Minah, jangan sebut-sebut nama teman mu itu dia sudah tidak ada di sini." 


"Wah, bagus dong. Jadi kamu siap ya Hawa untuk jadi vokalis." 


"Hm," jawab Hawa. 


Semenjak itu Hawa jadi santri aktif, selalu mengikuti berbagai macam acara, kegiatan di pesantren. Dan lebih berbaur dengan teman-temannya. 


Semua santri yang ikut dalam acara lomba sudah bersiap-siap, baik dalam berpakaian dan yang lainnya. Hawa, masih berada di dalam kamarnya merapikan gamis dan hijabnya. Namun, tiba-tiba Hawa tidak melihat cincin yang melingkar di jari manisnya. 


Hawa, panik cincin itu hilang.


"Lo, di mana cincinnya?" 


Segera Hawa berlari ke arah kamar mandi, mencari cincin yang mungkin saja terjatuh atau tertinggal. Namun, tidak ia temukan walaupun di cari di seluruh kamar, dan setiap laci dan lemari. 


Hawa, benar-benar tidak tahu di mana cincin nya. 

__ADS_1


"Aduh! Di mana cincin itu. Kok bisa hilang." 


__ADS_2