Kisah Kasih Anak Santri

Kisah Kasih Anak Santri
Bab 48-


__ADS_3

Hawa berlari ke dalam kamarnya. Peristiwa di dekat curug membuat pipinya memerah karena malu. Mungkin saat ini Hawa ingin bersembunyi saja dari Adam. 


Adam hanya tertawa kecil melihat tingkah istrinya itu. Baru saja di kecup bibirnya sudah semerah itu apalagi nanti jika merasakan hal luar biasa dari pada itu.


Hawa jadi malu sendiri, tapi jika diingat lagi bibirnya tersenyum, mengingat ciuman pertama dari suaminya. 


"Ya Allah, kenapa ini hatiku tidak berhenti berdebar." Katanya seraya menyentuh dadanya. 


Berulangkali Hawa hembuskan nafas, tetap saja hatinya berdebar tidak karuan. Tubuhnya berguling-guling membayangkan ciuman itu. 


Berbeda dengan sang adik yang sedang bahagia. Yusuf malah mendapat kejutan tak terduga. Yang di pertemukan lagi dengan Asma. Namun, bukan sebagai murid melainkan sebagai karyawan barunya. 


Tok, tok, tok.


"Masuk!" seru Yusuf saat mendengar seseorang mengetuk pintu ruangan kerjanya. 


Pintu terbuka lebar, seorang staff masuk bersama seorang gadis berhijab yang berada di belakangnya.


"Pagi Pak, maaf ganggu. Saya membawa teman saya yang akan bekerja kemarin." 


"Oh Iya, kamu suruh duduk saja dulu. Saya masih ada yang harus dikerjakan." 


Kata Yusuf, yang masih fokus pada beberapa berkas dokumennya. Staff itu membawa gadis berhijab itu untuk duduk di atas sofa yang sudah tersedia. 


"Kamu tunggu di sini saja. Saya harus pergi," ucap staff itu pada Asma.


"Tapi Bu."


"Jangan takut. Bos ku baik kok." 


Asma mendadak gugup juga takut, untuk pertama kalinya Asma memasuki area perusahaan dan harus melamar pekerjaan. Karena keadaan yang mendesak, sang ibu yang harus di rawat di rumah sakit jiwa dan sang ayah yang mendekam di penjara. 


Tidak pernah terbayangkan bagi Asma, hidupnya akan berakhir seperti ini. Mungkin Asma sudah tidak memikirkan lagi sekolahnya, yang di pikirkannya saat ini adalah mencari uang untuk menyambung hidup. 


Yusuf, merapikan semua berkas yang baru saja ditandatangani. Lalu melirik pada Asma yang duduk di atas sofa tidak jauh dari meja kerjanya. 


Yusuf masih terlihat santai yang melangkah menuju sofa lalu duduk di depan Asma. Keduanya masih belum menyadari jika mereka saling mengenal. 


Namun, saat Yusuf akan bertanya barulah wajah keduanya saling memandang.


"Asma."


"Kak, Yusuf," ucap mereka bersamaan.

__ADS_1


Keduanya merasa terkejut apalagi Asma yang semakin gugup di pertemukan lagi dengan gurunya. 


"Asma, kamu yang melamar kerja? Apa benar?" 


"Kak Yusuf kok ada di sini?" Bukannya menjawab Asma malah balik nanya.


"Jawab pertanyaan saya. Apa benar kamu yang akan melamar kerja? Lalu bagaimana dengan sekolah mu?" 


"Kak Yusuf, mohon sekali jangan bilang pada pemilik perusahaan ini jika Asma masih sekolah." Polosnya Asma berkata seperti itu menganggap Yusuf bukanlah pemilik perusahaan sesungguhnya.


"Asma terpaksa karena membutuhkan pekerjaan." 


"Tapi kamu masih sekolah, apa orangtua mu tidak tahu jika kamu melamar kerja?" 


"Mereka tidak akan peduli. Ayah sudah lama di penjara karena satu kesalahan, dan ibu … saat ini ibu sakit. Semenjak ayah di penjara hidup kami hancur, semua yang kami miliki habis dan sekarang ibu ku berada di rumah sakit jiwa." 


Asma menunduk lemah, malu rasanya mengakui sebagai anak seorang napi dan ibu yang sakit jiwa. Tidak peduli jika semua orang mencemoohnya, menghinanya, itu sudah cukup Asma terima perlakuan dari teman-teman sekolahnya. 


Dan Asma memutuskan untuk berhenti sekolah, dari pada harus menangis mendengar hinaan temannya setiap hari. 


Yusuf, belum mengetahui jika Asma adalah anak Anshor yang membuat fitnah tentang adiknya. Dan pencemaran nama baik pesantren. 


Yusuf, tidak ingin mengizinkan Asma bekerja karena baginya Asma harus tetap sekolah apalagi sebentar lagi akan menempuh ujian akhir. Namun, Yusuf juga tidak tega jika menolak lamaran kerja Asma, karena Asma sangat membutuhkan pekerjaan itu.


"Tapi kak Yusuf, Asma butuh sekali pekerjaan ini.  Tenang saja Asma akan bekerja dengan baik. Mohon terimalah." 


Yusuf, membuang nafasnya berat. Terpaksa Yusuf menerima Asma, tetapi bukan untuk bekerja di perusahaannya melainkan di rumahnya. 


"Turunlah," ujar Yusuf pada Asma setelah sampai di depan rumahnya. 


Asma, mendadak bingung apa yang akan dilakukannya di rumah besar itu. Apa dirinya akan di jadikan seorang pembantu? Entahlah Asma tidak tahu. Namun, jika itu benar Asma hanya akan menjalaninya dengan ikhlas. 


Asma turun dari mobil mengikuti Yusuf memasuki rumahnya. Sesampainya di dalam Asma menyapu setiap sudut rumah, tanpa sengaja Asma menemukan satu foto yang Asma kenali.


"Hawa," ucapnya saat melihat potret Hawa bersama keluarganya. 


"Asma!" 


"Iya." Panggilan Yusuf mengejutkannya.


"Kemarilah, duduk di sini." 


Ingin sekali Asma bertanya apa hubungannya Yusuf dengan Hawa. Namun, sepertinya Asma akan  menanyakan itu nanti.

__ADS_1


"Saya akan jelaskan kenapa saya membawamu ke rumah ini. Saya akan menerimamu bekerja asal kamu tetap harus sekolah."


"Tapi kak Yusuf."


"Tidak ada tapi-tapi. Anggap itu sebagai perintah, saya akan memasukkan kamu ke sekolah dan kamu akan bisa bekerja di sini membantu pekerjaan Mbok Ijah dan kamu saya izinkan bekerja setelah selesai sekolah."


"Tapi Kak." 


"Mau atau tidak? Kamu tidak perlu memikirkan uang sekolah, itu sudah termasuk gajih mu. Dan kamu hanya akan membantu Mbok Ijah dari siang hari hingga sore." 


"Baik." Akhirnya Asma terima, tidak peduli menjadi pembantu atau karyawan, yang penting saat ini Asma memiliki uang untuk membayar pengobatan ibunya.


Asma, berjalan menyusuri koridor rumah sakit. Tatapannya begitu kosong, tidak peduli pada orang-orang yang bertingkah aneh di sekitarnya. 


Rumah sakit jiwa tempatnya berada saat ini. Asma datang untuk menemui ibunya, sungguh sakitnya hati Asma melihat sang ibu yang terkurung di dalam kamar sana. Yang tersenyum sendirian seperti orang linglung.


Asma tidak mampu menahan tangisnya. Sedetik tubuhnya bergetar menumpahkan bendungan air mata yang lama tertahan. 


Setelah menjenguk ibunya Asma pulang ke rumahnya. Membawa semua pakaian dari atribut sekolah dan perlengkapan lainnya. Karena mulai esok ia akan tinggal di rumah Yusuf. 


Asma jadi teringat foto Hawa, apa hubungannya Hawa dengan Yusuf. 


"Kenapa ada foto Hawa di rumah itu?" pikirnya yang menghentikan kegiatan beres beberesnya sesaat. 


Sedangkan Hawa yang dipikirkannya sedang asyik memasak bersama lelaki pujaannya Adam. Bukannya membantu Adam memasak Hawa malah memberantakan dapur. Memecahkan telur saja Hawa tidak bisa, yang ada malah hancur semua bersama cangkang-cangkangnya. 


"Susah sekali sih pecahin telur." 


"Sini biar Aby. Kamu lihatin Aby bagaimana caranya memecahkan telur." 


Adam mengambil satu telur, di ketukkan ke sisi mangkuk. Hawa menatap heran karena telur itu tidak pecah sama sekali. Seketika matanya membulat saat cangkang telur itu terbelah menjadi dua telur pun tertuang dengan sempurna.


"Wah, Aby pintar sekali." 


Adam hanya menggeleng mendapat pujian itu. Dan akhirnya hanya Adamlah yang memasak, sedangkan Hawa hanya duduk manis sambil memperhatikannya. 


Dalam sesaat Hawa terpana melihat Adam. Sangat beruntung mendapatkan suami yang baik, tampan, dan jago masak. Sedetik Hawa senyum-senyum sendiri. 


...----------------...


Jangan lupa tinggalkan jejaknya 🙏


Tetap stay terus karena Hawa dan Adam akan kembali di part selanjutnya ( Sore ini )

__ADS_1


__ADS_2