
Asma masih belum sadarkan diri. Yusuf hanya bisa ikhlas atas kepergian bayinya. Ini musibah yang sudah Allah takdirkan untuknya.
"Pak Yusuf. Dokter ingin bicara dengan anda,* tutur seorang suster. Membawa Yusuf ke ruangan Dokter. Sepanjang jalan Yusuf bertanya-tanya ada masalah apa sehingga dirinya harus menghadap Dokter.
"Ada apa ya Dok? Apa ada masalah lain?"
"Begini Pak Yusuf. Setelah di periksa lebih lanjut istri anda mengidap kanker rahim."
"Kanker Dok?" Yusuf sangat terkejut.
"Iya. Itulah yang menyebabkan pendarahan yang sering dialaminya selama hamil." Dokter terlihat berat mengatakan semua itu pada Yusuf. Namun, bagaimanpun juga Yusuf harus tahu keadaan Asma.
"Kanker adalah penyakit mematikan yang akan mempengaruhi sistem reproduksi wanita. Artinya tingkat kesuburan seorang wanita yang mengidap kanker akan sangat menurun. Sehingga kemungkinan untuk hamil menjadi sangat kecil. Jika pun hamil wanita penderita kanker tersebut memiliki resiko tinggi untuk mengalami keguguran."
"Jadi ... Istri saya tidak akan bisa hamil Dok?"
"Saya tidak mengatakan jika istri anda tidak bisa hamil. Namun, jika hamil resikonya akan sama yaitu keguguran. Walaupun di pertahankan hingga bayi itu lahir. Resikonya akan sangat besar mengancam keselamatan istri anda "
"Apa itu berbahaya untuk istri saya Dokter?"
"Mungkin masih ada harapan untuk sembuh. Karena kanker yang di derita Asma masih stadium awal. Lebih baik anda konsultasikan pada Dokter khusus yang ahli menangani kanker." Hanya hembusan nafas berat yang bisa Yusuf lakukan. Bukan karena tidak bisa memiliki keturunan. Tapi yang Yusuf pikirkan adalah kesehatan Asma.
"Yusuf, kamu dari mana?" tanya Marwah mengagetkan Yusuf yang hendak masuk ke kamar Asma.
"Habis, jalan-jalan Ma."
"Jalan-jalan. Asma kamu tinggal."
Yusuf terpaksa berbohong, karena tidak ingin membuat Marwah khawatir dan sedih. Ada kemungkinan Yusuf dan Asma tidak akan bisa memberikannya cucu. Walaupun dipaksakan itu akan mempengaruhi kesehatan Asma nanti.
"Apa Asma sudah bangun Ma?"
__ADS_1
"Belum. Biasanya jika sudah operasi suka sangat lama. Jangan khawatir."
Bukan itu yang Yusuf khawatirkan Ma. Tapi kesehatan Asma, batin Yusuf.
"Kak Yusuf, Mama!" panggil Hawa dari ujung lorong bersama Adam dan keluarganya.
"Kakak!" Hawa langsung memeluk Yusuf. Karena Dia tahu Yusuf sedang bersedih saat ini. Namun, Yusuf masih bisa tegar dan tersenyum membalas pelukan Hawa.
"Kakak yang sabar ya. Setelah ini Asma pasti memberikan anak-anak yang lucu untuk Kakak. Dibalik peristiwa pasti ada hikmahnya."
"Iya. Terimakasih ya Hawa. Adik kakak sekarang sudah dewasa ya, bisa menenangkan kakak."
"Kakak!" Hawa jadi kesal bisa-bisanya Yusuf mengejeknya.
"Adam, Ummi, Kiyai?"
"Sabar ya Suf."
"Mama, lebih baik pulang. Bawa mereka semua ke rumah untuk istirahat. Biar Yusuf yang jaga Asma. Lagi pula Asma belum siuman. Jika ada apa-apa nanti Yusuf beri kabar."
"Yakin? Kamu bisa sendiri Suf?" Yusuf mengangguk. "Ya sudah Mama duluan. Jika nanti Asma sadar, katakan dengan pelan-pelan jangan sampai ia syok mendengar kabar buruk ini."
"Iya Ma."
Mereka pun pergi meninggalkannya. Benar apa kata Marwah. Sekarang yang harus Yusuf pikirkan adalah bagaimana cara mengatakan kabar buruk itu pada Asma. Akankah Asma ikhlas menerima ujian yang telah Allah berikan.
****
"Lagi hamil jangan banyak melamun," ujar Adam yang melihat Hawa melamun di dalam kamarnya. Adam pun duduk disampingnya.
"Bukan melamun By. Hawa hanya memikirkan kak Yusuf."
__ADS_1
"Aby mengerti. Kak Yusuf sekarang sedang bersedih."
"Bukan itu By. Hawa merasa ada yang kak Yusuf sembunyikan. Hawa mengenal kak Yusuf dengan sangat baik. Kak Yusuf tidak akan menyembunyikan apapun dari Hawa."
"Jangan suudzon. Mungkin saja kak Yusuf sedang memikirkan Asma dan bayinya."
"Tidak By. Hawa kenal betul seperti kak Yusuf. Apa ada masalah dengan kehamilan Asma ya By?"
"Jangan berpikir negatif. Lebih baik kita doakan supaya Asma cepat sadar dan pulang. Lalu di berikan keikhlasan atas cobaan yang menimpanya."
"Aamiin," jawab Hawa.
****
"Mas Yusuf?"
"Asma." Akhirnya Asma tersadar. Yusuf segera memanggilkan Dokter yang segera datang untuk memeriksa Asma. Dan alhamdulillah kondisinya sudah stabil.
"Mba habis menjalani operasi. Jadi jangan terlalu banyak gerak ya Mba?"
"Operasi?" Asma mulai bingung. Apa maksud ucapan suster? Yang tidak pernah merasa melakukan operasi. Akhirnya Asma bertanya pada Yusuf.
"Mas, aku sudah melakukan operasi apa?" tanyanya Yusuf hanya diam.
"Mas, jawab. Ah .... apa ini?" tanyanya saat merasakan perih di bagian perutnya. Saat diraba terdapat sebuah perban yang menonjol.
"Mas? Kenapa dengan perutku? Apa yang terjadi Mas katakan? Aku sudah menjalani operasi apa?* Asma tidak kuat menahan tangis. Yusuf segera memeluknya dan mengatakan jika dirinya baru saja keguguran.
"Tidak Mas. Tidak mungkin."
"Sabar Asma. Mas juga terpukul dan sedih kehilangan bayi kita. Tapi kamu jangan khawatir masih ada hari, bulan, dan waktu. Kita akan menjalani hari-hari dimana kamu mengalami masa ngidam. Sekarang yang harus kita lakukan hanyalah ikhlas."
__ADS_1
Asma terus menangis. Baginya sangat sulit untuk mengikhlaskan bayi yang sudah ia nantikan.