
Fitnah sangat mudah tersebar. Orang-orang tidak akan mencari tahu tentang kebenarannya tidak peduli itu benar atau tidak, mereka hanya akan percaya pada apa yang sudah mereka lihat dan baca.
Di pondok pesantren An-nur kini sedang marak dan riuhnya tentang postingan itu. Bahkan masyarakat mulai menghakimi ada juga para wali santri yang mendengar kabar itu berbondong-bondong mendatangi pesantren, hanya untuk protes.
Nama baik pesantren sudah tercemar.
Dan yang jadi korban adalah Hawa, mereka meminta Hawa untuk pergi bila perlu di usir dari pesantren itu.
Kiyai belum mengetahui apa yang terjadi. Adam selalu meminta Aby dan Ummi nya untuk diam di dalam rumah, tidak mengizinkannya keluar.
Namun, ada seseorang yang menghubungi Kiyai Abdullah. Orang itu adalah temannya yang menanyakan tentang kebenaran fitnah itu.
Kiyai hanya diam tidak bisa menjelaskan apapun karena dirinya tidak tahu. Di waktu itu teman Kiyai langsung mengirim sebuah foto yang memperlihatkan Hawa dan Gio tengah berpelukkan.
"Astagfirullah."
Tentu saja Kiyai sangat syok. Satu tangannya tetap berada di atas dada, menekannya sekuat mungkin. Seperti sedang menahan rasa sakit.
"Kenapa Adam merahasiakan kabar sepenting ini. Ya Allah …"
Dadanya terasa sesak hingga tubuhnya terjatuh, tidak sanggup lagi menahan rasa sakit pada dadanya.
"Ya Allah Aby," teriak Ummi yang melihat suaminya sudah terkapar di atas lantai kamarnya.
*****
"Mau kemana Asma?"
"Asma mau pergi sebentar ayah."
"Kemana?"
"Ke pesantren An-nur."
Tatapan sang ayah menjadi tajam, di tariknya tangan Asma agar tidak bisa pergi ke tempat yang dia tuju.
Pesantren An-nur, nama itu masih melekat di hati Anshor. Tempat yang sudah mempermalukan keluarganya, tolakan Adam saat itu masih tidak bisa ia terima.
"Masuk!" Dengan tegasnya Anshor berkata.
"Tapi Ayah."
"Masuk!" Ayah tidak akan pernah mengizinkan kamu untuk menginjak lagi pesantren itu. Yang sudah menginjak harga diri kita."
"Tapi Ayah, Asma hanya ingin bertemu Mas Adam, untuk memberitahukan kabar yang sudah mencemarkan nama baik pesantrennya."
__ADS_1
"Biarkan saja. Itu pantas mereka dapatkan."
Dengan tangisan, Asma berlari ke dalam kamarnya. Ayahnya benar-benar tegas, dan kekeh pada apa yang sudah ia katakan.
Dalam hati Asma sudah mengikhlaskan, jika Adam bukan jodohnya. Dan sangat ingin bertemu Adam, setidaknya masih bisa berhubungan baik. Walau hanya sebatas teman.
Namun, karena keegoisan sang ayah membuatnya terkekang dan sedih. Yang di lakukannya hanya bisa menangis.
"Ada apa ini?" tanya Jaenab saat melihat
Asma, berlari ke dalam kamarnya.
"Kenapa dengan Asma? Apa yang kamu lakukan pada putri mu?" tanyanya pada suaminya.
"Putri mu akan pergi ke pesantren An-nur. Ya jelas saya larang."
"Tapi jangan sekeras itu."
"Ingatkan lagi pada Asma jangan pernah berniat untuk mengunjungi pesantren itu lagi." Anshor bertkata dengan penuh amarah lalu melangkah pergi. Jaenab langsung melangkah menuju kamar putri nya.
*****
Di tempat lain Hawa mengurung diri di dalam kamarnya untuk menghindari amukan masa. Di temani ketiga temannya Aisyah, Asiyah, dan Minah.
"Aku tidak bisa diam di sini aku harus jelaskan itu tidak seperti apa yang mereka pikir. Kalian harus percaya aku tidak memeluk, Gio yang ingin memeluk ku tapi itu juga hampir dan tidak terjadi." Hawa meyakinkan teman-temannya.
"Iya benar Wa. Kita tidak punya bukti 'kan?"
"Kenapa tidak ada yang percaya pada ku sih!" Hawa sudah sangat kesal.
Hawa terus berpikir bagaimana caranya membuktikan bahwa fitnah itu tidak benar. Sempat terlintas dalam pikirannya untuk menemui Gio, agar Gio menjelaskan kebenarannya. Tapi apakah Gio, akan menolongnya?.
"Ustadz Adam," ucapnya.
Mungkin Adam akan percaya padanya. Segera Hawa pergi keluar untuk menemui Adam. Aisyah dan Asiyah ingin mencegah, tetapi tidak bisa.
Hawa terus berjalan tanpa melihat sekitarnya. Banyak yang memperhatikan, ada juga yang menatap sinis padanya. Namun, Hawa tidak peduli. Yang di pikirkannya saat ini adalah menemui Adam.
Sesampainya di ruangan Adam, Hawa tidak menemukan Adam. Ruangan itu kosong tanpa penghuni. Hawa berniat pergi ke rumah Kiyai karena kemungkinan Adam ada di sana.
Namun, saat hendak berbalik Hawa berpapasan dengan Adam, yang akan masuk ke dalam kantornya.
Dalam beberapa saat mereka terdiam. Sebelum akhirnya Adam berkata, "Apa yang kamu lakukan di sini?"
"Ustadz aku mau menjelaskan tentang foto itu. Itu tidak seperti yang anda lihat. Aku tidak berpelukan seperti itu Ustadz."
__ADS_1
"Tapi kamu tidak menyangkal jika itu memang dirimu 'kan?"
"I-iya, itu memang aku tapi …."
"Apa yang perlu di jelaskan lagi?" sanggah Adam. "Itu memang kamu yang sedang bersama seorang pria. Seharusnya kamu bisa menjaga diri sebagai perempuan dan bisa menjaga nama baik kita semua di sini."
"Tapi Ustadz, aku berani bersumpah aku tidak melakukannya. Jika tidak percaya mari kita temui pria itu dia adalah teman ku Gio pasti bisa menjelaskan." Hawa tetap membela diri.
Adam mengembuskan nafasnya kasar. Tangan kanannya merogoh ponsel dalam sakunya. Di bukanya layar datar itu lalu di perlihatkan pada Hawa.
"Ini yang kamu maksud penjelasan?"
Mata Hawa terbelalak dengan sempurna. Tidak percaya apa yang di katakan Gio dalam video itu.
"Gio, lelaki yang bersamamu sudah mengatakan kebenarannya pada seluruh dunia. Jadi untuk apa kamu menyangkal lagi."
"Tapi itu tidak benar. Pria itu berbohong."
"Jadi maksudmu pria ini berbohong dan kamu benar? Bukti sudah menjelaskannya." Kata Adam yang langsung berbalik meninggalkan Hawa.
Hawa terduduk lemah di bawah lantai. Pria yang di harapkan satu-satunya ternyata tidak mempercayainya. Bahkan semua orang di sana tidak ada yang percaya dengan kata-katanya.
Seburuk itukah perlakuannya? Sehina itukah dirinya, di saat ingin merubah sikap dan bertaubat di saat itu pula orang-orang meninggalkannya.
"Kenapa tidak ada yang percaya pada ku," lirih Hawa, cairan bening mulai turun dari sudut matanya.
"Hawa!" panggil Yusuf, yang baru saja datang.
Hawa mendongak menatap wajah kakaknya. Akankah kakaknya juga percaya dengan fitnah itu, lalu pada siapa dirinya akan mengadu.
"Kak Yusuf."
Yusuf langsung memeluk Hawa yang semakin terisak.
"Kak, semua orang tidak percaya Kak. Aku tidak melakukan itu Kak."
"Tenang Hawa, jangan nangis. Kakak janji akan menyelesaikan masalah ini."
"Tapi Gio, Kak. Dia …." Tangis Hawa kembali pecah.
"Laki-laki itu akan mendapatkan hukumannya. Kakak tidak akan membiarkan hidupnya tenang."
Gio lah orang yang membuat keadaan semakin buruk. Dari akun resminya Gio, melakukan vlog berdurasi beberapa menit. Yang mengatakan jika foto itu adalah benar dirinya yang bersama Hawa.
Bahkan Gio mengatakan jika mereka berdua sudah lama berpacaran. Pengakuannya itulah yang membuat fitnah semakin membesar.
__ADS_1
Di saat semua orang terpengaruh pada sebuah foto, Gio memberi pengakuan yang mengejutkan, membuat semua orang marah, kecewa, dan menyudutkan Hawa.
Begitupun dengan Adam, di saat ingin percaya tiba-tiba pengakuan seseorang membuat dirinya ragu untuk percaya.