
"Hawa!"
Hawa mengerjap saat mendengar suara Adam. Wajah panik Adam sangat jelas menghampiri Hawa yang terbaring di atas ranjang.
Dari mana Aby tahu? Mungkin itu yang ada di pikiran Hawa saat ini. Dari mana Adam tahu dia ada di klinik. Padahal hatinya kini sedang kesal pada suaminya itu.
"Aby …."
"Kenapa tidak bilang jika sedang sakit."
"Tiba-tiba perut Hawa sakit By jadi datang ke sini."
"Kan bisa pulang ke rumah. Makanya sama suami itu nurut tadi Aby sudah bilang jangan masuk kelas istirahat saja."
Adam tidak bisa menyembunyikan kecemasannya. Sedikit perhatian Adam meluluhkan hatinya. Hawa benar-benar sudah jatuh cinta pada suaminya itu, tidak bisa lagi menahan rasa cemburu.
"Aby apaan sih malu tahu."
Hawa merasa risih saat pandangan semua santri melihat dirinya di peluk Adam. Bisikan-bisikan mulai terdengar entah apa yang mereka katakan.
Adam tidak peduli pada pandangan mereka. Yang langsung menggendong Hawa menuju rumahnya.
"Aby turunin. Malu By …."
"Kenapa malu? Mereka sudah tahu kita suami istri."
"Tapi nanti turunin ya jika sampai rumah malu di lihat Ummi dan Abah." Abah yang di maksud adalah pak Kiyai.
Namun kenyataannya Ummi dan Kiyai malah senang melihat keharmonisan putra dan menantunya. Hati mereka sedikit tenang. Walau pernikahan Adam dan Hawa karena di jodohkan Adam bisa sehangat itu pada istrinya.
"Aby Ummi gak sabar jadi pengen punya cucu."
"Aamiin … insya Allah Ummi doakan saja kita sudah mendapat sinyal," ujar Kiyai yang melihat kemesraan Adam tadi bersama menantunya.
*****
Yusuf termenung di dalam kamarnya. Pikirannya saat ini hanya pada Asma. Entah kenapa semenjak kepergiaan Asma hatinya seringkali gelisah memikirkan keadaannya di sana.
Apakah Asma nyaman atau tidak tinggal di pesantren itu.
"Ya Allah … kenapa aku terus memikirkan gadis itu."
"Gadis siapa Suf? Siapa yang sedang kamu pikrkan?"
"Mama …."
Yusuf cukup terkejut melihat Marwah ada di dalam kamarnya. Entah kapan ibunya itu masuk karena tidak terdengar ketukan sebuah pintu.
"Kamu belum menjawab perkataan Mama Suf, siapa yang kamu pikirkan?" tanya Marwah penuh selidik.
"Bukan apa-apa Ma. Tidak ada yang Yusuf pikirkan."
"Apa kamu sedang memikirkan seorang gadis? Siapa calon istrimu?"
__ADS_1
"Mama …."
"Tidak ada salahnya 'kan kalau Mama berharap."
Bibir Marwah mencebik menanggapi ucapan Yusuf. Marwah sangat berharap sekali jika putranya akan menikah. Namun, sampai saat ini jangankan calon membayangkan seorang gadis saja Yusuf tidak pernah.
"Mama kangen Hawa tidak? Kenapa tidak suruh Hawa datang saja Ma. Kita juga belum pernah kedatangan Adam 'kan Ma?"
"Iya juga ya? Kalau gitu Mama telepon Bu Khodijah ya, mungkin saja besok Adam dan Hawa akan datang."
Pintarnya Yusuf mengalihkan pembicaraan. Setidaknya Yusuf bebas dari pertanyaan ibunya tentang wanita.
Wajah Marwah telihat murung, sepertinya obrolannya dengan Khodijah tidak menyenangkan atau mungkin mereka tidak mengizinkan Hawa dan Adam untuk datang.
"Mama kenapa kok murung? Bagaimana jawabannya Ma?"
"Sepertinya Hawa tidak bisa datang, karena sedang ujian. Mungkin minggu depan itu sangat lama."
Itulah penyebabnya. Memiliki anak yang sudah menikah dan dibawa oleh pihak suami akan sangat sulit untuk bertemu. Marwah sangat merindukan purtrinya tetapi Hawa tidak akan bisa pulang karena sedang melaksanakan ujian akhir.
Yusuf, tetap tenang dan tersenyum. Baginya ibunya terlalu rindu sehingga tidak berpikir panjang. Jarak rumah ke kota santri tidaklah jauh cukup ditempuh 2 sampai 3 jam saja. Mereka bisa bertemu dengan Hawa.
"Jika Hawa tidak bisa, besok kita pergi ke sana ya Ma."
"Sungguh? Memangnya kamu tidak kerja?"
"Apa gunanya punya asisten jika Yusuf tidak bisa andalkan."
****
Di dalam kamar Hawa duduk gelisah menunggu kepulangan Adam dari mesjid. Ingin sekali bertanya apa yang di bicarakannya dengan Asma saat di kelas.Namun, hatinya ragu takut jika Adam marah padanya.
"Assalamualaikum." Suara Adam membuyarkan lamunannya.
"Waalaikumsalam."
Baru masuk saja Adam sudah tersenyum pada Hawa, senyuman yang menyejukkan meluluhkan hatinya.
"Istri Aby belum tidur? Gimana sudah enakan perutnya?"
"Aby …." Bukannya menjawab Hawa, malah memanggil.
"Iya?" Adam duduk di sampingnya. Berpikir jika Hawa sedang ingin bermanja padanya.
"Hawa mau tanya tapi Aby jangan marah."
"Tanya apa?"
"Tadi di kelas Aby bicara apa sama Asma? Aby seneng ya ketemu lagi sama Asma."
Adam diam sejenak, sedetik bibirnya melengkung mengingat sikap Hawa padanya tadi siang.
"Pantes, tadi siang Aby di cuekin. Jadi istri Aby cemburu nih."
__ADS_1
"Siapa juga yang cemburu," ketus Hawa.
Gengsi dong jika harus mengakui. Masih Hawa masih ingat perkataannya dulu 'mustahil jika dirinya jatuh cinta pada Adam, apalagi harus cemburu' Namun, perasaanya kali ini berkata lain.
"Yakin nih gak cemburu? Ya sudah kalau gitu untuk apa Aby kasih tahu."
"Loh, kok Aby gitu curang dong. Dalam rumah tangga itu harus jujur tidak boleh ada yang disembunyikan."
"Lagian bukan obrolan penting. Apa yang Aby sembunyikan."
"Ih, Aby …."
"Katanya gak cemburu, tapi kok kaya yang cemburu gitu." Adam semakin ingin menggoda Hawa, sampai mana dia akan gengsi menahan rasa cemburunya.
"Ngapain juga aku cemburu. Kan Hawa gak cinta sama Aby."
"Oh ya? Padahal Aby sangat cinta … sama istri Aby. Dari pertama kali kita menikah Aby sudah jatuh cinta."
Perkataan Adam yang lembut dan tatapannya yang tulus, meluluhkan hati Hawa. Memang dari pertama kali menikah tidak pernah ada ungkapan cinta dari keduanya.
Namun, tidak ada yang tahu perasaan mereka seperti apa. Entah Adam tulus mengatakan cintanya atau hanya gurauan. Dan mungkinkah Hawa memang jatuh cinta yang tidak bisa mengendalikan kecemburuannya saat ini.
Mereka saling pandang dalam waktu yang cukup lama. Sebelum akhirnya Adam berkata, "Aby mencintaimu Hawa."
"Aby …."
"Aby dan Asma tidak membicarakan apapun. Kita hanya saling tukar kabar." Adam menjelaskan kesalahpahaman demi menghindari kecemburuan.
"Tapi dulu Aby …."
"Apapun yang terjadi dulu tidak ada hubungannya dengan sekarang. Apa Aby dan Asma harus saling benci? Silaturahmi hal yang penting, yang harus kita jaga. Allah akan membenci hambahya yang saling bermusuhan."
Hawa menatap Adam penuh curiga.
"Lalu bagaimana perasaan Aby? Setidaknya Aby punya rasa 'kan?"
"Rasa apa? Strowbery, cokelat?"
"Ih … Aby." Hawa kesal karena Adam mengajaknya bercanda padahal dirinya bertanya dengan serius.
Adam tergelak melihat ekspresi Hawa, yang jelek dengan bibir yang cemberut. Lalu tangannya mengusap lembut kepala Hawa.
"Kan Aby sudah bilang Aby cintanya sama istri Aby, ya … walau cinta Aby tidak terbalas."
Adam memasang wajah sedih.
Namun, berhasil memikat Hawa hingga dia berkata, " Aby … Hawa juga cinta sama Aby."
Adam terkejut juga bahagia mendengar ungkapan cinta dari istrinya. Tidak pernah terbayangkan oleh Adam, kata-kata indah itu akan keluar dari mulut istrinya.
...----------------...
Minta like, vote plus komentarnya dong biar author semangat ☺.
__ADS_1