
Manik mata Kiyai bergerak ke samping kanan dan kiri. Menatap kedua tamu di depannya bergantian. Melihat tamu wanita yang tidak asing baginya, dialah Sherly yang datang beberapa hari lalu dan tamu pria yang juga pernah menemuinya beberapa waktu lalu.
Yang menjadi pertanyaan, kenapa dengan mereka berdua yang datang bersamaan hari ini? Apa hubungan mereka? Sehingga Kiyai tidak berhenti memandang tamunya itu bergantian.
"Ibrahim?" panggilnya.
Ibrahim adalah pria anak dari temannya. Mereka datang waktu itu untuk melamar Asma. Namun, tiba-tiba hari ini Ibrahim datang meminta Kiyai untuk menikahkannya dengan Sherly.
Bukan menikah secara hukum dan negara melainkan menikah siri. Namun, tetap sah secara agama.
"Ibrahim, kamu datang ke sini bukan untuk melamar salah satu santri di sini. Melainkan untuk menikahi wanita ini. Apa kamu tahu siapa wanita ini?"
"Tahu pak Kiyai. Dan saat ini dia sedang hamil."
Kiyai menghela nafas dalam-dalam. "Memang benar Sherly sedang hamil. Apa kamu pria yang ...."
"Tidak Kiyai," bantah Ibrahim yang mengerti kemana maksud ucapan Kiyai. "Saya tidak menghamili siapapun. Tidak mungkin saya melakukan perbuatan yang sangat dilarang dan benci oleh Allah."
"Lalu bagaimana kalian mengenal? Dan mengapa kamu ingin menikahinya sedangkan wanita yang kamu nikahi sedang mengandung."
Ibrahim menarik nafas dalam-dalam sebelum bercerita awal mula pertemuannya dengan Sherly. Hingga alasan yang memutuskan dirinya untuk menikah. Kiyai dan keluarga tidak kalah terkejut, mendengar cerita dari Sherly yang dipaksa menggugurkan kandungan oleh ibunya dan mereka memuji pada Ibrahim yang berniat menolong Sherly.
"Sehari yang lalu ibumu datang kembali mencari mu," ujar Kiyai pada Sherly. "Setelah mendengar cerita mu kami mengerti kenapa kamu pergi. Kami memujimu karena ingin mempertahankan bayi itu," lanjutnya.
"Apa kalian yakin akan menikah? Dan kamu Ibrahim, bagaimana bisa menikah jika tidak ada wali? Orang tua mu juga tidak hadir dalam pernikahanmu."
__ADS_1
"Saya hanya akan menikahinya dengan cara siri."
"Tetap saja siri ataupun secara hukum menikah harus dengan syarat yaitu dua orang saksi dan wali. Jika tidak ada wali maka tidak sah."
Mereka bingung bagaimana cara memberitahukan pada orangtuanya. Ibrahim ragu jika ayah dan ibunya akan menerima Sherly sebagai istrinya. Begitupun Sherly yang takut amarah ibunya semakin memuncak.
"Maaf Abah." Bukan Ibrahim ataupun Sherly yang berkata, melainkan Hawa yang bertanya.
"Iya ada apa?"
"Begini, bukankah wanita yang hamil di luar nikah haram untuk dinikahi? Kecuali menunggu wanita itu melahirkan."
Kiyai tersenyum. "Kata siapa?"
"Memang ada dua pendapat yang berbeda tentang pernikahan wanita hamil di luar nikah. Ada yang mengatakan sah ada yang mengatakan tidak sah atau haram karena belum habis masa iddah. Tetapi dalam Al-Quran ada tiga ayat yang memperbolehkan pernikahan wanita hamil di luar nikah Q.S An-Nisa ayat 22, 23, dan 24.
Perempuan hamil di luar nikah berbeda dengan perempuan hamil dalam masa iddah atau di tinggal mati suaminya. Maka bagi mereka tidak sah pernikahannya sebelum habis masa iddah atau menikah setelah melahirkan. Sedangkan wanita hamil di luar nikah tidak memiliki iddah karena yang memiliki iddah hanya mereka yang menikah. Jadi wanita hamil di luar nikah tetap sah," jelas Kiyai.
"Jadi diperbolehkan ya? Bagaimana jika yang menikahinya bukan pria yang menghamilinya?" Keingintahuan Hawa terus bertambah, semakin semangat bertanya.
"Pria yang menghamilinya atau bukan pernikahan itu tetap sah. Namun, walau begitu islam tetap melarang keras bagi mereka yang berbuat zina. Jangan mentang-mentang pernikahannya akan sah kalian bebas berbuat zina yang jelas-jelas dosa besar dan di benci Allah." Lirikan mata Kiyai tertuju pada Sherly, membuat Sherly terus menunduk.
"Paham, Nak Hawa?"
"Paham Abah."
__ADS_1
"Alhamdulillah. Sekarang kita lanjutkan pada permasalahan kalian. Ibrahim, Sherly sebaiknya hubungi orang tua kalian untuk datang kemari. Jika kalian takut biar saya yang menghubungi mereka."
Kiyai dan Ummi pun memberitahukan keluarga mereka masing-masing. Namun, setelah datang tidak langsung menemukan Sherly dengan ibunya demi kenyamanan bersama Kiyai dan Ummi berbicara dari hati ke hati dengan mereka, mencoba memberikan pengertian dan berharap Mariska luluh dan menerima pernikahan putrinya.
"Bagaimana? Pernikahan atau jalan aborsi yang akan kamu pilih untuk putrimu? Yang jika melakukan aborsi sama saja menambah dosa untuk putrimu dan membuatnya menderita. Tapi jalan pernikahan insyaallah jalan terbaik untuk putrimu apalagi ada seorang pria baik dan sholeh yang akan menikahi putrimu."
Mariska dan suami merenung sejenak memikirkan apa yang terbaik untuk putrinya. Dan mereka mengaku salah selama ini sudah menjadi orang tua yang tempramen, dan tidak peduli. Mereka pun setuju dengan pernikahan itu.
Tetapi ada satu yang belum selesai permasalahannya. Orang tua Ibrahim yang sudah pasti akan menentang pernikahan itu. Mereka tidak ingin putranya yang harus bertanggungjawab kesalahan orang lain. Menikahi Sherly bukan karena kesalahannya.
"Tidak bisa Ibrahim. Mama tidak setuju. Apa kata orang nanti jika istrimu tengah hamil mereka akan menganggap kamulah yang melakukannya. Dan bagaimana dengan Mama dan Papa? Kami akan menanggung malu dan hinaan dari mereka."
Semua akan menghubungkannya dengan pandangan orang lain yang belum tentu pandangan mereka seperti apa pada kita? Entah baik atau buruk. Positif atau negatif, belum tentu juga mereka peduli pada kehidupan kita. Tetapi kenapa semua orang selalu peduli dengan pandangan orang lain yang terkadang memandang kita sebelah mata.
"Ibrahim apa tidak ada wanita lain? Masih banyak wanita baik yang bisa kamu nikahi."
"Kenapa Om? Apa Sherly bukan wanita baik?"
Hawa mendengar semua percakapan satu keluarga itu. Hatinya sangat sakit saat temannya direndahkan. Apa orang yang buruk akhlaknya akan selalu dipandang buruk? Bahkan Allah saja bisa mengampuni dosa hambanya yang begitu besar dan memberikan kesempatan untuk bertaubat. Kenapa seorang manusia tidak bisa menerima kekurangan seseorang hanya karena orang itu memiliki noda bahkan memberikan kesempatan pun tidak.
"Islam saja memperbolehkan mereka untuk menikah kenapa kalian tidak? Jika kalian pikir kehamilannya adalah aib besar, menggambarkan bahwa Sherly bukan wanita baik-baik. Lalu apa menurut kalian wanita yang baik itu adalah wanita solehah, taat agama seperti santri misalnya mereka juga pasti punya sisi buruk sebelum menjadi wanita solehah. Semua wanita atau lelaki bahkan pemimpin agama pun pasti pernah mengalami hal yang sulit yang berada di titik ini. Dimana semua orang tidak memandangnya."
Mereka semua terdiam.
"Seharusnya kalian bersyukur memiliki putra seperti Ibrahim, yang dengan tulus akan menikahi wanita dengan niat ibadah untuk menolong dan membimbingnya ke jalan yang benar. Apa kalian sebagai orang tua tidak mendukung niat baik putra kalian?" Dalam sekejap Hawa membungkam mulut mereka.
__ADS_1