Kisah Kasih Anak Santri

Kisah Kasih Anak Santri
Bab- 49 Malam Sunnah


__ADS_3

Malam kedua di villa. Adam dan Hawa masih saling diam di atas ranjang yang sama. Keduanya sedang berada dalam pikirannya masing-masing.


Hawa ingin tertidur, tapi takut karena ada Adam di sampingnya. Sebagai pria normal Adam ingin sekali memeluk istrinya. Namun, Adam takut Hawa ketakutan lagi.


Entah kenapa berada di ranjang yang sama begitu gugup tidak seperti berada di dapur mereka bisa nyamannya masak berdua.


"Aby akan tidur di luar," ucap Adam yang hendak turun dari ranjang. Namun, Hawa menghentikan itu.


"Tidur di sini saja Aby. Di luar sangat dingin," ucap Hawa yang terbangun.


"Aby tidak mau jika kamu tidak nyaman tidur dengan Aby."


"Tidak apa-apa. Aby boleh tidur di sini."


Hawa kembali berbaring, di tutupnya tubuh itu dengan selimut lalu berbalik membelakangi Adam.


Adam bingung harus tidur di sana atau keluar. Adam takut jika nanti dirinya khilaf, dan malah menyentuh Hawa. Perlahan Adam membaringkan tubuhnya, tidur menyamping membelakangi Hawa.


"Tidurlah jangan berpikir apapun. Aby tidak akan menyentuhmu."


Adam tahu jika Hawa belum tertidur. Itu sebabnya ia mengatakan itu. Hawa, memang masih takut dan belum siap. Namun, entah kenapa masalah itu mengganggu pikirannya. Tiba-tiba saja pertanyaan konyol muncul di benakknya.


"Aby?" panggil Hawa, Adam yang di panggil hanya menyahut dengan gumaman.


"Mmm …." Hawa ragu untuk bertanya.


"Ada apa Hawa? Ada yang ingin kamu kamu katakan?"


Posisi mereka masih saling membelakangi. Karena tidak ada sahutan dari Hawa, Adam langsung membalikkan posisi tubuhnya menyamping menghadap istrinya.


"Berbaliklah Hawa, tidak baik jika saling bicara tanpa melihat lawan bicaranya. Aby tidak akan berbuat macam-macam. Berbabaliklah."


Dengan ragu Hawa berbalik menghadap Adam. Kini posisi tubuh mereka saling berhadapan dengan jarak yang cukup lebar dan ada guling sebagai pembatas.


Hawa malu untuk mengatakan yang selama ini ia pikirkan. Namun, jika di pendam itu semakin mengganggu pikirannya.


"Hawa katakan ada apa? Jangan membuat Aby penasaran."


Dengan ragu Hawa bertanya, "Aby, jika melakukan hubungan suami istri apa bisa tidak menyebabkan hamil?"


Adam terbelalak seketika setelah mendengar pertanyaan itu. Adam tidak pernah menyangka jika soal itu yang akan Hawa tanyakan.


"Kenapa bertanya seperti itu? Apa kamu sudah siap?"


"Bukan begitu Aby. Hawa tahu jika sudah kewajiban seorang istri untuk melayani suaminya. Hawa, pernah dengar saat mengaji sebuah hadis menerangkan bahwa Allah marah pada seorang istri yang menolak ajakan suami. Bila seorang suami memanggil istrinya ke ranjang lalu tidak dituruti, hingga sang suami tidur dalam keadaan marah kepada istrinya niscaya para malaikat melaknati wanita sebagai istrinya sampai Subuh, Kita sudah menikah dan Hawa tidak pernah melayani Aby sebagaimana seorang istri. Bahkan Hawa sudah membuat Aby marah hingga menendang kejantanan Aby. Itu sebabnya Hawa bertanya apa bisa kita melakukannya tapi tidak akan menyebabkan hamil."


Adam terdiam, ia bingung harus menjawab apa.


"Ya, itu benar salah satu hadist dari Abu Hurairah. Tapi Aby juga akan berdosa jika mengajak istri Aby berjima karena terpaksa. Insya Allah Aby akan menunggu Hawa setelah Hawa siap. Aby tidak akan marah dan mengerti."

__ADS_1


"Baiklah lakukan saja Aby, Hawa … Hawa sudah siap."


Adam tercekat. Haruskah Adam bahagia karena malam ini akan mendapatkan hak miliknya. Namun, Adam masih ragu jika Hawa belum siap melainkan takut karena dosa sudah menolak ajakan suami. Apalagi saat berkata Hawa terus menunduk tanpa melihatnya.


"Hawa lihat Aby, pandang wajah Aby."


Dengan lembut tangan Adam menyentuh dagunya, mengangkat wajah Hawa agar menatapnya.


"Sekarang Aby ingin bertanya, jawab dengan jujur apa kamu sudah siap menyerahkan seluruh tubuhmu untuk Aby?"


Hawa masih diam.


"Hawa, Aby tanya lagi apakah Hawa sudah siap, ridho dan ikhlas jika Aby meminta hak Aby malam ini? Aby tidak ingin kamu terpaksa karena itu tidak akan berkah dalam hubungan kita."


Hawa diam kembali, masih ragu dengan apa yang sudah di ucapkannya. Namun, Hawa tidak akan terus-menerus merasa berdosa.


Hawa mengangguk lalu berkata, "Insya Allah Aby Hawa siap," jawabnya. "Tapi … seperti yang Hawa tanyakan apa Aby bisa tanpa Hawa harus hamil. Bukannya Hawa tidak mau karena sekarang Hawa belum lulus."


Adam tersenyum. Hati Hawa semakin berdebar saat wajah Adam semakin mendekat. Dengan lembut jari tangannya membelai rambut panjangnya.


Perlahan Adam menidurkan tubuh Hawa yang berada di bawah kungkungannya. Hawa semakin gugup.


"Kamu yakin sudah siap?" Adam kembali bertanya Hawa hanya mengangguk.


"Bismillahi Allahumma Jannibna as-syaithana wa jannibi as-syathana maa razaqtana," ucap Adam membacakan doa sebelum berhubungan.


Di belainya dengan lembut wajah itu, membuat Hawa terbuai karena sentuhannya. Hingga tidak sadar saat bibir Adam mulai **********.


"Terimakasih Hawa, telah mengizinkan Aby untuk menyentuhnya," ucapnya lalu kembali mengecup bibir itu dengan lembut.


Tangan Adam mulai bergrilya menyusuri setiap inci tubuh Hawa. Saat tangan itu mulai menyentuh paha mulusnya Hawa mengerjat, terkejut masih belum terbiasa.


"Kenapa?"


"Aby …."


"Izinkan Aby membukanya." Adam memindahkan tangan Hawa yang menahan bajunya. Perlahan Adam membuka pakaian itu yang menghalangi tubuh indah istrinya.


Dalam sedetik, Adam terpana melihat indah tubuh Hawa tanpa sehelai benang pun. Air liur seakan tidak berhenti tertelan.


Hawa yang malu langsung menutup tubuhnya dengan selimut.


"Aby malu."


"Jangan malu, hanya Aby yang lihat. Sekarang apa Aby boleh melakukannya?"


"Takut Aby."


Hawa merasa takut jika akan terasa sakit nantinya. Namun, Adam tetap tersenyum, membelai lembut wajah Hawa, hingga tidak sadar saat Adam mulai memasukkan benda miliknya.

__ADS_1


Hawa menjerit sesaat saat benda itu mulai memasuki area sensitifnya. Rasa nyeri dan perih ia rasakan sehingga tidak bisa menahan air matanya.


"Maafkan Aby. Aby akan melakukannya dengan pelan."


Adam mulai menghentakkan tubuhnya dengan perlahan. Tangannya tidak berhenti menyentuh setiap inci tubuh Hawa.


Suara indah dan merdu mulai terdengar dari keduanya. Hingga pelepasan terakhir mereka mengakhiri kegiatan sunnah itu.


"Terimakasih Hawa," ucap Adam lalu mengecup keningnya lembut.


"Apa masih terasa sakit?"


Hawa menggeleng lalu tersenyum.


"Sakit sih By, tapi … mau lagi."


Adam, terbelalak seketika. Tidak percaya dengan apa yang Hawa katakan. Baru saja Adam merasa takut dan bersalah karena telah membuatnya sakit. Tapi ternyata perkataan Hawa membuatnya senang.


Tentu saja Adam melakukannya dengan senang hati. Karena setiap berhubungan suami istri jika seorang istri belum puas maka sebagai suami harus memuaskannya. Hingga mereka melakukannya berkali-kali.


*****


"Selamat pagi istriku."


Hawa menggeliat mendengar suara Adam yang begitu lembut. Saat membuka matanya senyuman Adam yang pertama kali terlihat.


Hawa merasa malu saat mengingat malam panasnya. Adam semakin menggoda melihat pipi Hawa yang semakin memerah.


"Eits … kenapa ditutup wajahnya? Aby gak bisa lihat dong wajah cantik istri Aby."


"Aby ih, jangan goda terus."


Adam semakin tergelak, merasa lucu karena sudah menggoda Hawa.


"Ayo mandi dulu. Sebentar lagi Adzan subuh."


Adam membantu Hawa untuk bangun, tiba-tiba Hawa meringis merasakan perih pada bagian sensitifnya. Adam, terkejut dan panik.


"Ada apa?"


"Sakit By."


"Masih perih?" tanya Adam, Hawa langsung mengangguk.


"Biar Aby gendong."


Hawa semakin malu saat Adam menggendongnya, membawanya ke dalam kamar mandi, memasukkan Hawa ke dalam bathtub.


"Loh, Aby belum keluar? Kan Hawa mau mandi."

__ADS_1


"Kenapa harus keluar. Kita mandi bareng saja."


"Apa!"


__ADS_2