Kisah Kasih Anak Santri

Kisah Kasih Anak Santri
Bab 24- Bertemu Gio


__ADS_3

Suasana rumah duka terlihat sepi, para pelayad sudah pergi begitupun dengan jenazah pak Marwan sudah di semayamkan ke tempat peristirahatan terakhir. 


Kiyai bersama keluarga masih menemani Yusuf di rumahnya yang kini sedang mengadakan pengajian untuk mendoakan almarhum. 


Yusuf begitu tegar, dia sabar dan kuat. Marwah pun sudah mengikhlaskan kepergian suaminya. Tapi bagaimana dengan Hawa? 


Gadis itu duduk termenung di dalam kamarnya. Wajahnya begitu pucat seperti tidak ada semangat lagi untuk hidup. Kematian sang ayah membuatnya terpukul. 


Masih berpakaian yang sama, masih di tempat yang sama, tubuhnya tidak bergerak sama sekali dari ranjang tidurnya. Punggung itu bersandar pada dinding ranjang, dengan kedua tangan yang memeluk potret sang ayah.


Pintu kamar terbuka, terlihat Yusuf berdiri di ambang pintu, menatap sang adik yang tidak menoleh padanya sama sekali. 


Di tutupnya pintu itu, Yusuf pun melangkah mendekati sang adik dan duduk di samping Hawa. 


"Adikku ini melamun saja." Kata Yusuf seraya mengusap lembut kepala Hawa. 


"Mama memanggil, kita makan sama-sama. Kamu dari pagi belum makan." 


Hawa hanya menggeleng, menandakan menolak ajakannya. 


"Kakak mengerti kamu sayang sama papa, kakak juga. Tapi Allah lebih sayang sama papa sehingga beliau di panggilnya lebih dulu." 


Hawa langsung menoleh pada Yusuf yang duduk di sampingnya. 


"Jika Tuhan sayang kepada papa kenapa mengambilnya lebih dulu. Apa Tuhan tidak sayang pada kita? Kita keluarganya sangat sedih karena di tinggalkan." 


"Apa yang membuatmu sedih? Katakan?" 


Hawa hanya diam, ia bingung untuk menjawab. Karena dirinya pun tidak tahu bersedih karena kehilangan atau karena penyesalan. 


"Ada dua sebab kenapa manusia menangis saat di tinggalkan keluarganya, apalagi orang yang paling kita sayangi. Pertama sedih karena belum siap kehilangan. Kedua, sedih karena penyesalan. Menyesal karena telah menyakitinya atau karena belum bisa membahagiakannya." 


Yusuf ikut menyandarkan tubuhnya pada dinding ranjang, kedua tangan yang dilipat di simpan di belakang kepalanya sebagai bantalan. Tatapannya menerawang jauh. 


"Masih Kakak ingat perdebatan dengan papa belum lama ini. Hanya karena Kakak tidak menuruti kemauannya. Tapi setelah hari ini, barulah penyesalan itu datang. Jika Kakak tahu itu permintaan terakhirnya mungkin Kakak tidak akan menolak dan menuruti kemauannya." 


"Memangnya apa yang papa katakan?" 


Yusuf menoleh pada Hawa di sampingnya, lalu tersenyum dan berkata, "Papa ingin Kakak memimpin perusahaan, sedangkan Kakak malah memilih untuk mengajar," jelas Yusuf. 


Hawa membuang nafasnya kasar. Melemparkan tatapannya ke sembarang arah. 


"Lalu bagaimana denganmu? Apa yang membuatmu sedih?" Yusuf bertanya.


"Hawa sedih, karena belum sempat meminta maaf pada papa, Kak." Sedetik tangisannya pecah. Yusuf langsung memeluk adiknya itu.


"Hawa selalu membangkang, selalu membentak, dan Hawa tidak pernah membahagiakannya. Hawa yang membuat papa sakit." 


Yusuf mengusap lembut punggung itu, membiarkan Hawa menangis dalam pelukannya. 


Tidak hanya Hawa, sebenarnya Yusuf pun merasa menyesal karena belum sempat meminta maaf pada papanya. Lalu bagaimana caranya meminta maaf sedangkan papanya sudah tidak ada. 


Cara satu-satunya dengan mengikhlaskan, mendoakan, dan menjadi orang yang lebih baik, melakukan apa yang mereka minta. 

__ADS_1


Mungkin Yusuf akan mengurus perusahaan papanya itu dan merelakan profesinya sebagai guru. Karena bagi Yusuf, saat ini dia adalah tulang punggung dan penanggungjawab atas keluarganya. Atas ibu dan adiknya. 


"Penyesalan selalu datang terakhir, kita tidak bisa memutar waktu kembali. Yang harus kita lakukan saat ini adalah menjadi orang yang lebih baik, menjadi apa yang beliau inginkan. Kita wujudkan mimpi papa yang tertunda. Buatlah papa bahagia dengan menjadi anak yang berguna. Papa sangat menginginkanmu menjadi santri dan tetap mondok jadi … lakukanlah itu untuk papa." 


Hawa diam, sebenarnya pulang ke rumah adalah hal yang paling di inginkan. Tetapi keinginan kuat sang papa membuatnya harus kembali ke pondok.


"Tapi, Kak? Untuk saat ini Hawa ingin di rumah bersama Mama dan Kakak." 


"Kakak mengerti, kamu bisa kembali ke pesantren setelah 40 hari kematian papa. Untuk sekarang kamu tinggal bersama kami, Mama juga pasti kesepian jika tidak ada kamu." 


"Makasih, kak." Peluk Hawa pada Yusuf. 


*****


Hari-hari berlalu, Hawa masih berada di rumahnya. Dan Yusuf fokus pada perusahaannya. 


Keadaan perusahaan yang sempat guncang dan pailid tidak semudah itu mengembangkannya. Yusuf yang tidak tahu tentang bisnis harus bekerja keras membangun kembali perusahaannya dari nol. 


Sehingga Yusuf sibuk dan tidak pernah ada waktu untuk ibu dan adiknya. Marwah pergi ke rumah orang tuanya untuk menenangkan diri. Dengan niat melupakan kenangan bersama suaminya yang sulit di lupakan. 


Sedangkan Hawa selalu menyendiri di dalam rumahnya, yang hanya di temani asisten rumah tangga. 


Suara bel berbunyi, tidak membangunkan Hawa yang sedang asyik merebahkan tubuhnya sambil menonton drama kesukaannya. 


Sudah lama ini Hawa tidak pernah melakukan hal yang ia sukai, yang di lakukannya hanyalah menghapal, mengaji, dan terus belajar. Sehingga Hawa menjadikan kesempatan ini untuk melakukan apa yang dia inginkan.


"Non, ada tamu," ujar seorang wanita yang menjabat sebagai ART di rumahnya. 


"Katanya sih temen Non." 


"Ya udah makasih Bi." 


Hawa pun bangkit berdiri lalu melangkah menuju ruang utama. Dua orang gadis duduk santai di atas sofa sebelum akhirnya berdiri saat melihat Hawa. 


"Hawa!" teriak mereka langsung berlari menghambur memeluk Hawa. 


Mereka bukanlah teman santrinya, pakaian mereka pun tidaklah tertutup yang hanya menggunakan rok mini dan kemeja sebagai penutup tubuhnya. Mereka tidak lain adalah Sherly dan Mira. 


"Hawa kami turut berduka atas meninggalnya ayahmu. Yang sabar ya?" 


"Makasih," balas Hawa, lalu membawa mereka duduk kembali. 


"Kalian ngapain datang ke sini?" 


"Kita mau ngajak kamu jalan, biar kamu enggaksedih lagi." 


"Maaf ya Mir, Sher, aku gak bisa. Aku harus minta izin kak Yusuf, dia gak ada di rumah." 


"Ya ampun Wa, kita main gak kemana-mana. Cuma ke cafe, atau ke mall masa kakak kamu tidak izinin." 


"Gimana ya?" 


"Ayo Wa, please!" mohon Sherly. "Sudah lama 'kan kita gak jalan bareng." 

__ADS_1


Hawa terlihat berpikir, lalu berkata, " Aku telepon kak Yusuf dulu." 


"Oke deh, terserah lo." Mira dan Sherly sedikit kesal karena Hawa tidak se asyik dulu. 


"Gimana Wa?" tanya Sherly setelah Hawa mematikan teleponnya.


"Tidak di angkat." 


"Mungkin kakakmu lagi sibuk kali, udah yuk kita berangkat saja. Kamu kirim whatsapp saja bisa 'kan?" 


"Ya udah deh aku ganti baju dulu." 


"Nah gitu dong. Kita tunggu ya." 


Sepuluh menit lamanya Hawa kembali turun dengan pakaian yang berbeda. Namun, di mata Sherly dan Mira pakaian Hawa tidak ada bedanya sama sekali.


Mereka sedikit risih. Baginya pakaian Hawa sangat memalukan. 


"Hawa kita gak akan ke pondok. Ngapain pakai baju begitu." Tunjuk Mira pada pakaian Syar'i yang Hawa gunakan.


"Aku sudah terbiasa berpakaian begini. Lagian kita cuma mau ke cafe dan mall 'kan?" 


"Ya udah deh, yuk jalan." 


Terpaksa Mira dan Sherly mengizinkan Hawa berpakaian semaunya. Mereka sampai di sebuah mal. Hawa kira mereka hanya akan bermain dan nongkrong saja. 


Namun ternyata Sherly mempertemukan Hawa dengan seorang pria. Pria itu adalah Gio lelaki yang ia sukai di sekolah. Namun kali ini perasaan Hawa berbeda, rasa sukanya pada Gio sudah hilang. 


"Gio?" 


Lelaki yang di panggil Gio itu tersenyum, lalu mendekat, mengulurkan tangannya untuk saling berjabatan. Namun Hawa hanya menangkup kedua telapak tangannya di angkatnya sampai dada. 


Gio menatap tangannya yang tidak di sentuh Hawa sama sekali. Sherly dan Mira pun merasa heran dengan perlakuan Hawa saat ini. 


Gio merasa malu karena di abaikan, tetapi tidak dengan Hawa, karena dia tahu hukum wanita dan pria yang bukan mahrom. Sedikit demi sedikit Hawa mempelajarinya. 


"Kita langsung pesan makanan saja ya," ujar Mira memecah kecanggungan. 


Sherly pun membisikan sesuatu pada Mira, lalu tiba-tiba mereka meninggalkan Hawa dan Gio berdua. 


"Hawa aku ke toilet dulu," ujar Sherly dan Mira. 


"Aku ikut." 


"Jangan! Kamu di sini saja hanya sebentar kok." Sherly dan Mira langsung berlari seolah mereka sengaja meninggalkan Hawa dan Gio. 


Hawa tidak tinggal diam, ia pun bangun dan ingin mengejar temannya, tetapi Gio menahannya dengan menyentuh tangannya. 


Sedetik Hawa berpaling menatap tajam pada sebuah tangan yang menggenggamnya. 


Ckrek, 


Seseorang dari jauh telah mengambil potret mereka.

__ADS_1


__ADS_2