Kisah Kasih Anak Santri

Kisah Kasih Anak Santri
Bab 69


__ADS_3

"Aby mana pudingnya?"


"Pudingnya Aby simpan lagi di kulkas. Tadi malam kamu nya tidur."


"Kalau begitu Hawa mau makan sekarang By."


"Ya udah tunggu di sini Aby ambilkan dulu." Hawa mengangguk, menunggu Adam pergi mengambil pudingnya.


Sesampainya di dapur Adam langsung membuka pintu kulkas mencari puding yang semalam ia simpan. Namun, puding itu tidak ada di sana.


"Dimana ya pudingnya?"


Adam kembali menutup pintu kulkas dan mencari di tempat lain.


"Ummi itu puding ....," ucap Adam saat melihat puding itu di atas meja yang sedang di nikmati Ummi dan Aby-Nya.


"Mau Dam?" tawar Ummi. "Tadi Ummi nemu di kulkas."


"Pantas Adam cari tidak ada."


"Memangnya kenapa Dam?"


Adam pun mengatakan jika itu puding buatannya semalam karena Hawa menginginkannya. Dan sekarang puding itu sudah dimakan. Namun, masih ada sisa beberapa potong lagi.


"Ya Allah Dam, Ummi gak tahu. Pantas saja Ummi merasa heran saat nemu puding ini karena Ummi tidak merasa buat."


Flashback On


"Ini puding siapa?" tanya Ummi saat membuka pintu kulkas. "Perasaan gak buat puding? Apa lupa kali ya? Lumayan buat cemilan." Ummi pun mengambil puding itu membawanya ke ruang tengah di mana Kiyai sedang duduk santai di atas sofa.


"By, ini ada puding."


"Wah, Ummi buat puding kayaknya enak." Tentu saja mereka berdua langsung melahapnya.


Flashback Off


"Lain kali Ummi tanya dulu punya siapa? Jika Ummi tidak merasa memasaknya."


"Ummi gak tahu By. Kirain Ummi lupa."


"Lain kali Adam juga bilang pada Ummi jika menaruh sesuatu di kulkas agar tidak ada yang mengambil," nasehat Kiyai.


"Maaf By, lupa."


"Ya sudah, sekarang bawakan puding ini untuk Hawa kasihan lagi ngidam. Mumpung nasih tersisa beberapa potong lagi."


"Iya, maafkan Ummi ya Dam."


"Maafkan Adam juga Ummi. Kalau begitu Adam ambil sisanya Ummi."

__ADS_1


Adam segera memasuki kamarnya. Beruntung Hawa tidak mempertanyakan kenapa dirinya lama dan mengapa pudingnya tersisa sedikit. Sepertinya ibu hamil lebih suka yang segar-segar.


*****


Di dalam kamar Asma sedang membuka sebuah paket yang dikirim oleh Yusuf. Asma tidak tahu apa itu isinya. Setelah dilamar seseorang Asma merasa ada yang memperhatikan. Apalagi pernikahan mereka akan berlangsung beberapa minggu lagi.


"Masyaallah, indahnya." Puji Asma saat melihat sebuah gamis dengan motif bunga yang Yusuf berikan. Tidak lupa dengan sedikit untaian kata yang ia selipkan lewat surat.


Semoga kamu suka. Aku melihat ini saat melewati sebuah butik bagiku pakaian ini akan cocok untukmu.


Satu senyuman yang Asma pancarkan. Untuk pertama kalinya ada yang memberikan hadiah untuknya.


"Terimakasih kak Yusuf," ucapnya lalu melipat baju itu lagi menyimpannya di dalam lemari.


Asma berjalan keluar untuk membuang plastik yang membungkus paketnya tadi. Tanpa sengaja Hawa melihat itu dan penasaran apa yang Asma buang.


"Apaan sih ini." Hawa mengambil sisa plastik tadi.


"Kak Yusuf?" ucapnya saat membaca pengirim barang tersebut.


"Kak Yusuf kirim apaan? Kok gak bilang-bilang."


Rasa penasarannya tetap ada yang langsung menghubungi Yusuf sang kakak.


Yusuf baru saja selesai meeting melihat layar ponselnya menyala dan berdering. Dilihatnya satu panggilan dari Hawa sedetik wajahnya tersenyum.


Segera Yusuf menjawab telepon itu.


"Assalamualaikum."


"Walaikumsalam."


"Kakak kirim apaan buat Asma?"


"Kamu tahu dari mana kakak kirim sesuatu buat Asma?"


"Pokoknya kakak jawab saja."


"Kakak kirim baju gamis untuknya. Memangnya kenapa? Ya, kakak gak sengaja lihat gamis cantik saat melewati butik kakak pikir itu akan cocok untuknya."


Inilah yang Hawa takutkan. Jika Yusuf lebih mementingkan Asma dibandingkan dirinya. Buktinya Yusuf selalu ingat Asma dan melupakannya.


"Kakak hanya ingat sama Asma saja tidak sama aku? Mentang-mentang sudah punya calon istri lupa sama adiknya." Kata Hawa dengan dingin yang langsung mematikan ponselnya.


"Astaghfirullah," ucap Yusuf setelah panggilan itu berakhir.


Yusuf tidak pernah menyangka jika perbuatannya itu akan menjadi masalah. Membuat Hawa cemburu. Namun, Yusuf benar-benar lupa tidak mengingat Hawa saat itu..


Yusuf pun mengatakan masalah itu pada Marwah.

__ADS_1


"Wajar saja Hawa cemburu dia adalah adik satu-satunya yang selalu kamu perhatikan. Dan sekarang perhatian itu kamu berikan pada wanita lain. Bukannya Mama melarang kamu untuk memberikan apapun mau berbentuk barang atau uang pada Asma karena dia juga calon istrimu. Tapi jika kamu punya rezeki lebih belikan juga untuk Hawa, karena dia adalah adik mu. Jangan sampai Hawa merasa tersaingi karena usia Asma dan Hawa tidak jauh berbeda."


"Yusuf tidak kepikiran ke sana Ma. Kalau begitu Yusuf akan belikan untuk Hawa. Semoga Hawa tidak marah lagi."


"Sabar ya. Kamu harus berbuat adil. Apalagi sekarang tidak ada papa pasti Hawa menjadikan mu sebagai pengganti papa."


"Iya Ma. Terimakasih sarannya."


"Sama-sama."


Akhirnya Yusuf mengirimkan barang yang sama untuk Hawa. Namun, bukannya senang Hawa semakin cemberut karena baju yang dipakai sangat sama dengan Asma. Hanya berbeda warna saja.


"Kalian adik ipar dan calon kakak ipar kompak bener. Bajunya samaan lagi salut," cibir Mira yang membuat Hawa kesal. Aisyah dan Asiyah juga ikut tertawa.


"Ih ... Nyebelin banget kak Yusuf ini." Dengan wajah cemberut Hawa melangkah pergi meninggalkan teman-temannya. Asma merasa canggung dan tidak enak hati karena cibiran Mira.


"Mira jangan katakan itu lagi nanti Hawa kesal dan marah."


"Maaf aku gak bermaksud," ucap Mira menyesal.


"Ya sudah tidak apa-apa. Lain kali jangan diulangi lagi."


"Iya." Mira pun menyesal.


Hawa masih cemberut di dalam kamarnya. Entah kenapa semenjak hamil membuat moodnya naik turun dan emosi.


"Assalamualaikum." Bahkan ucapan salam Adam tidak ia jawab.


"Salam itu wajib lo dijawab. Aby ucapkan salam kok gak di jawab?"


"Walaikumsalam."


"Nah gitu dong jawab. Kenapa sih akhir-akhir ini istri Aby cemberut terus. Sebentar lagi 'kan kak Yusuf nikah seharusnya senang dong."


"Senang gimana sekarang saja ngeselin. Kak Yusuf gak sayang lagi sama Hawa."


"Kenapa bilang begitu?"


Hawa pun menceritakan awal mula permasalahannya. Kenapa dan mengapa dia marah. Hingga masalah baju gamis yang dipakainya. Adam merasa tersinggung dan marah dengan perbuatan Hawa. Bukan karena pakaian yang sama melainkan karena permintaan Hawa pada Yusuf.


"Aby kecewa. Kenapa Hawa begitu ingin mendapat pakaian dari kak Yusuf? Aby sangat malu dan kecewa."


"Kenapa kecewa?"


"Kamu meminta hingga marah pada kak Yusuf hanya karena sebuah pakaian? Kamu sama saja merendahkan Aby sebagai suami mu. Apa Aby tidak sanggup memberikan mu pakaian sehingga harus meminta pada kak Yusuf?"


"Hawa tidak ada maksud seperti itu By."


Namun, jawaban Hawa tidak bisa dijadikan alasan. Adam sangat kecewa dan marah hingga meninggalkan Hawa di dalam kamarnya.

__ADS_1


"Aby tunggu!"


Adam merasa direndahkan oleh istrinya sendiri.


__ADS_2