
"Saya nikahkan dan kawinkan ananda Azada Devan Ibrahim dengan adinda Sherly Mariska dengan mas kawin berupa uang satu juta rupiah di bayar tunai!"
"Saya terima nikah dan kawinnya dengan mahar satu juta rupiah di bayar tunai."
Dengan tegasnya Ibrahim mengucap kata sakral itu. Di mulai saat Kiyai menghentakkan tangannya. Dalam satu tarikan nafas ijab kabul selesai diucapkan pernikahan pun sah.
Ucapan syukur hamdalah memenuhi ruangan. Senyum bahagia terlukis dari wajah mereka setelah melewati berbagai rintangan. Hawa orang yang paling bahagia melihat pernikahan temannya itu.
Sherly dan Ibrahim hanya saling menatap dalam diam. Mereka bingung harus bahagia atau bersedih? Tidak pernah menyangka jika Ibrahim akan menikahi Sherly wanita yang ditemuinya satu minggu yang lalu. Mungkin Sherly harus sujud syukur karena tuhan menghadirkan lelaki yang tulus dalam hidupnya.
"Alhamdulillah, kalian sudah sah menjadi suami istri. Kiyai hanya bisa berpesan padamu Ibrahim, kelak jika anaknya lahir anggaplah sebagai anakmu jangan pernah mengungkit masalah ini."
"Iya, Kiyai."
"Ingat! Pernikahan bukan untuk dimainkan. Kalian sudah sah menjadi suami istri baik secara agama atau negara. Ingat selalu pesan ku yang tadi." Ibrahim dan Sherly pun mengangguk.
"Semuanya mari makan dulu," tawar Khodijah pada semua tamu. Walau pernikahan mereka hanya dihadiri keluarga.
"Sherly selamat. Aku ikut bahagia."
"Terimakasih Hawa." Sherly tidak dapat melepas pelukannya. Hanya sahabatnya itu yang selalu mendukung.
"Selalu ada hikmah dibalik semua peristiwa. Rencana Allah sangatlah baik, peristiwa yang anggap paling buruk dalam hidupmu ternyata mempertemukan mu dengan seseorang yang begitu tulus. Mas Ibrahim, suami mu tampan juga Sherly. Kamu tidak menyangka 'kan akan menikahi seorang santri."
"Iya. Aku kira jodohku ..."
"Sudah. Jangan diingat lagi pria itu." Hawa sangat kesal jika mengingat laki-laki yang tidak bertanggungjawab itu. "Bagaimana kandungan mu? Apa kamu sering mual Sherly?"
"Hm ... Kadang aku tidak tahan hingga tidak bisa memakan apapun. Kalau kamu?"
"Alhamdulillah aku tidak merasakan hal itu. Malah aku inginnya makan terus."
"Pantas tubuhmu gendutan sekarang. Mas Adam pasti memanjakan mu ya."
"Oh iya, gimana dengan Mira? Apa dia akan dikasih tahu?"
"Aku juga belum memberitahunya jika aku sedang hamil."
"Biar nanti kita kasih tahu. Sekarang kamu harus temani suamimu dulu. Lihat Mas Ibrahim sendirian."
"Aku cukup canggung Hawa. Karena kita tidak begitu mengenal apalagi cinta."
"Cinta akan datang dengan sendirinya." Seperti Hawa dulu yang tidak akan pernah mencintai Adam. Tapi kini begitu manja pada Adam.
__ADS_1
Hawa mencari Adam yang sama sekali tidak terlihat keberadaannya. Namun, yang ditemuinya malah Kiyai sang mertua.
"Banyak makan Hawa."
"Iya Abah. Apa Abah lihat mas Adam?"
"Tidak lihat. Mungkin sedang ke kamar mandi."
"Oh ya Abah. Hawa mau tanya, apa mereka bisa tidur bersama?"
"Mereka maksudmu Ibrahim dan Sherly?" Hawa mengangguk malu. Kiyai hanya tersenyum.
"Tentu bisa, kenapa?"
"Tidak apa-apa Abah." Hawa menjawab dengan cengengesan."
"Kandungannya sehat? Sudah berapa bulan?"
"Dua bulan Abah."
"Jangan terlalu capek, jangan terlalu lama berdiri juga. Duduk di sana bersama Ummi." Tunjuk Kiyai pada istrinya yang sedang bergabung bersama keluarga pengantin. Hawa pun melangkah mendekati mereka tetapi Hawa tidak melihat lantai yang licin akibat seorang tamu menumpahkan minumannya dengan sengaja.
Entah apa maksud ibu Ibrahim menumpahkan air minuman itu, matanya terus melirik pada Sherly yang baru saja ia panggil dan kini sedang melangkah ke arahnya. Namun, Hawa lebih dulu melangkah melewati Sherly hingga akhirnya Hawa lah yang menjadi korban kecerobohan wanita itu.
Brugh,
"Hawa!" teriak Sherly melihat itu. Semua orang menoleh dan terkejut. Ummi langsung bangun dari duduknya ketika melihat sang menantu tergeletak di atas lantai.
"Aby ..." lirih Hawa yang meringis merasakan nyeri di bagian perutnya. Wanita itu hanya mematung menatap Hawa di bawah kakinya.
"Astaghfirullah Hawa!" Segera Ummi berlari menghampiri menantunya. Begitu juga dengan Sherly dan tamu yang lainnya.
"Ummi sakit Ummi."
"Tolong panggilkan Adam sama Kiyai!" Segera Sherly berlari mencari Adam yang sedang berada di teras bersama Ibrahim. Sedangkan yang lain memanggil Kiyai yang berada di dalam kamarnya.
"Adam! Adam!" Panggil Sherly dengan panik. Yang membuat Adam dan Ibrahim langsung berdiri dari bangkunya, bahkan kopi panas yang baru saja akan diseruput disimpan kembali.
"Adam!"
"Ada apa Sherly?"
"Hawa ..." Sherly menarik nafas dalam-dalam sebelum melanjutkan perkataannya.
__ADS_1
"Kenapa dengan Hawa?" Adam jadi ikut panik.
"H-Hawa jatuh." Mendengar kata jatuh membuat Adam langsung berlari ke dalam rumah. Sherly hendak menyusul tetapi langkahnya tertahan karena Ibrahim mencekal tangannya. Sedetik Sherly pun menatap pada suaminya.
"Jangan lari. Nanti kamu jatuh juga. Ingat kamu sedang hamil."
"I-Iya." Untuk pertama kalinya ada yang memperhatikan Sherly. Hatinya semakin berdebar saat tangan tegap itu menuntunnya masuk ke dalam rumah.
Sejenak Sherly melupakan masalah yang terjadi. Matanya, pikirannya kini hanya pada pria yang menggenggam tangannya yang baru saja menjadi suaminya. Seutas senyum terlukis di wajahnya.
"Hawa!"
"Aby! Sakit By."
"Adam cepat bawa Hawa ke rumah sakit."
"Iya Ummi." Adam segera menggendong tubuh Hawa yang sudah lemah, wajahnya pun sudah sangat pucat. Mungkin untuk bergerak saja Hawa sudah tidak mampu. Sedetik Adam melihat cairan merah yang membasahi lantai, dan ketakutan seorang wanita yang bergetar memegang gelas minuman nya.
Mungkinkah Adam berpikir jika wanita itu yang sengaja menumpahkan cairan merah itu? Namun, Adam tidak ada waktu untuk mempertanyakannya. Keselamatan Hawa dan janinnya lebih penting.
"Ayo Dam, pakai mobil saya saja." Ibrahim ikut mengantar yang membawa mobilnya.
*****
"Kenapa Hawa bisa jatuh?"
"Aku tidak tahu mungkin lantainya licin." Ibu Ibrahim masih bisa mengelak karena tidak ada siapapun yang melihat. Sengaja ia menyembunyikan gelas di belakang punggungnya.
"Aby kita ke rumah sakit sekarang. Ummi takut janin Hawa kenapa-napa."
Janin? Mendengar kata janin ibu Ibrahim semakin takut. Ia sama sekali tidak tahu jika Hawa sedang hamil. Bagaimana jika dia keguguran? Batin Azizah ibu Ibrahim.
"Ma? Mama kenapa kok tegang begitu?"
"Tidak apa-apa Pa." Sama suami sendiri saja Azizah tidak berani jujur. Dia takut disalahkan jika sesuatu yang buruk terjadi pada kehamilan Hawa.
Niatnya jebakan itu akan diberikan pada Sherly. Namun, tak diduga Hawa yang menjadi korban jebakannya. Azizah masih tidak rela jika putranya menikah dengan Sherly hingga muncullah niat buruk itu.
"Papa kita pulang saja."
"Tidak Ma. Kita ke rumah sakit kita lihat keadaan Hawa. Bagaimanapun juga Kiyai kerabat kita tidak mungkin kita pergi saat dia sedang terkena musibah." Ingin rasanya menolak, tapi Azizah tidak bisa membantah ajakan suaminya.
Mereka semua kini pergi menuju rumah sakit.
__ADS_1