
Malam ini Bian dan Aluna berjanji untuk mengenalkan Aluna kepada keluarga Bian. Aluna sudah memikirkan bagaimana cara untuk menggagalkan semua rencana ini tapi dia tidak setega itu dan tidak sanggup melakukannya.
Lagi - lagi Aluna hanya bisa pasrah menjalani semua rencana yang sudah disusun Bian. Rencananya Bian dan Aluna akan makan malam bersama dengan kedua orang tuanya.
Bian menjemput Aluna ke rumahnya. malam ini Aluna berdandan sederhana tapi wajah cantiknya tetap terpancar indah.
Bian tersenyum manis saat menatap wajah Aluna. Dia tampak bahagia sekali malam ini membuat Aluna semakin tak tega dan tidak sampai hati mematahkan perasaan Bian.
Aluna masuk ke dalam mobil Bian lalu mereka berjalan menuju sebuah restoran mewah.
"Apakah Papa dan Mama Mas Bian udah datang?" Tanya Aluna.
"Mungkin sudah, tadi saat aku pergi menjemput kamu, mereka juga sudah bersiap - siap menuju kemari" Jawab Bian.
Wajah Aluna tampak sangat tegang karena dia sudah setengah hati bahkan sudah tidak berniat sama sekali untuk melanjutkan rencana ini tapi Aluna tidak bisa menggagalkannya.
"Kamu kenapa Lun, kamu sakit?" Tanya Bian.
"Ah tidak Mas, aku tidak apa - apa. Aku hanya tegang, bagaimana nanti harus bersikap di depan orang tua kamu" Jawab Aluna.
Aluna melirik ke arah Bian yang tampak tenang mengemudikan mobilnya.
"Mas, apa kedua orang tua kamu tau kalau aku ini seorang janda?" Tanya Aluna.
"Tau, aku sudah ceritakan semuanya kepada mereka dan tidak ada yang aku tutup - tutupi" Jawab Bian.
"Oh begitu.. Mereka tidak keberatan?" Tanya Aluna lagi mencoba menenangkan dirinya.
"Kalau mereka keberatan pasti mereka tidak mau bertemu kamu Lun. Udah kamu tenang saja jangan berpikiran yang tidak - tidak" Sahut Bian.
"Tapi Mas aku" Ucap Aluna maju mundur ingin bercerita tentang hatinya yang sudah bercabang.
"Udah kamu tarik nafas panjang, malam ini pasti akan berjalan dengan baik. Kamu tidak perlu khawatir dan setegang ini" Ujar Bian memberikan semangat.
Aluna menarik nafas panjang lalu berusaha duduk dengan tenang disamping Bian. Hingga akhirnya mereka sampai di Restoran yang sudah Bian pesan.
Bian memarkirkan mobil di tempat yang sudah disediakan lalu mereka berjalan masuk ke dalam Restoran. Bian memesan ruangan private khusus untuk mereka.
Kini mereka sudah berada di depan pintu ruangan khusus yang Bian pesan malam ini.
"Mas aku" Ucap Aluna berusaha untuk menghentikan semua ini.
Bian tersenyum lembut menatap wajah Aluna.
__ADS_1
"Mari masuk" Ajak Bian.
Mereka masuk ke dalam ruangan yang ternyata sangat gelap. Aluna tidak bisa melihat apapun yang ada di dalamnya. Jantung Aluna berdetak sangat kencang. Seketika dia merasa takut dengan situasi yang benar - benar diluar prediksinya.
"Mas Bian" Panggil Aluna.
Perlahan - lahan lampu hidup satu persatu di bagian depan. Lalu terlihat tulisan 'Menikahlah Denganku' dalam hiasan lampu berbentuk hati.
Di depan sana berdiri seorang pria yang Aluna tidak bisa melihat secara jelas wajahnya karena ruangan tersebut masih gelap.
Aluna berjalan mengikuti cahaya lampu dimana pria tersebut sedang menunggunya dengan senyuman. Semakin Aluna mendekat dia merasa aneh dan pikirannya tidak karuan.
Aluna sangat mengenal tubuh pria itu, dia bukan Bian melainkan.
"Malik" Satu kata yang keluar dari bibir Aluna.
Saat ini dia sudah bisa melihat dengan jelas siapa pria yang sedang menunggunya dengan penuh senyum kebahagian.
"Aluna Carlisa maukah kamu menikah denganku" Ucap Malik.
"Ta.. tapi, bagaimana ini bisa terjadi? Mana Mas Bian?" Tanya Aluna bingung.
Tadi saat di depan pintu dia masuk bersama Bian. Memang mereka tidak berpegangan tangan. Tapi Aluna yakin Bian juga masuk ke dalam ruangan gelap ini.
"Saat ini hanya ada aku dan kamu di sini. Jangan pikirkan yang lainnya cukup kita berdua saja. Tanya hati kamu, apa yang kamu rasakan saat ini? Apakah kamu masih mencintaiku?" Tanya Malik dengan lembut.
Air mata Aluna jatuh perlahan. Karena suasananya yang memang sangat mendukung Aluna tidak bisa memikirkan orang lain saat ini. Yang ada di pikiran dan hatinya hanya Malik bahkan hanya ada Malik satu - satunya pria di matanya yang selalu menarik perhatiannya.
Aluna menganggukkan kepalanya perlahan.
"Iya, aku masih mencintai kamu" Jawab Aluna jujur.
Malik tersenyum bahagia.
"Alhamdulillah, terimakasih ya Allah. Terimakasih Al, kamu masih mencintaiku. Maukah kamu menikah denganku? Menemani hari - hariku dan berada di sisiku sampai nanti kita tua bersama. Membesarkan anak - anak dan melihat tumbuh kembang mereka dan mengantarkan mereka hingga ke gerbang kebahagiaan mereka. Apakah kamu mau Al?" Tanya Malik lagi.
Air mata Aluna semakin deras mengalir. Jika ini mimpi mengapa terlihat begitu nyata. Mungkin ini adalah mimpi terindah yang pernah dia alami dan Aluna tidak ingin terbangun dari mimpi indah ini.
"Aku mau Lik" Jawab Aluna.
"Bisa kamu ulang dengan jelas?" Tanya Malik.
"Aku mau menikah dengan kamu" Jawab Aluna dengan suara bergetar karena menahan tangisnya.
__ADS_1
Tiba - tiba seketika lampu terang benderang dan pintu ruangan terbuka lebar. Satu persatu teman - teman Aluna masuk ke dalam ruangan tersebut.
Ada Bian, Gadis, Mutia, Budi dan Randi. Semua tersenyum bahagia dan bertepuk tangan menyambut malam bahagia Aluna dan Malik.
Aluna terkejut dan merasa heran dengan apa yang sedang terjadi saat ini. Mata dan pipinya terlihat jelas basah karena air matanya.
"I.. ini bukan mimpi?" Tanya Aluna.
"Ini bukan mimpi Al, ini nyata" Jawab Malik dengan senyuman terindahnya.
"Ma.. Maaaas Bian" Ucap Aluna menatap Bian dengan rasa bersalah.
Dengan besar hati Bian tersenyum tulus membalas tatapan Aluna.
"Aku tau beberapa hari ini kamu sangat galau menatapku. Kamu merasa bersalah dan berhutang janji karena sudah menerima tawaranku. Benar kata Gadis, hingga akhir kamu tidak akan berani untuk menyakitiku. Kamu lebih memilih berkorban dan tersakiti" Ungkap Bian.
"Kamu sangat baik Al tapi sayang wajah kamu tidak bisa menyembunyikan isi hati kamu. Aku sangat sadar kamu tidak akan pernah bisa mencintaiku karena cinta kamu hanya kepada Malik. Hati kamu sudah milik Malik sejak dulu" Lanjut Bian.
"Kami merencanakan semua ini dan akhirnya rencana kami sukses" Potong Mutia.
"Kalian bekerjasama?" Tanya Aluna bingung.
Malik tersenyum penuh bahagia dan lega.
"Ya semua berkat kerjasama semuanya. Mas Bian, Gadis, Mutia, Budi dan Randi mau membantu aku untuk merencanakan malam indah ini untuk melamar kamu" Jawab Malik.
"Dengan catatan kalau kamu menolak Malik berarti aku yang akan menikahi kamu" Potong Bian.
"Itu tidak akan pernah terjadi, aku sangat yakin itu" Sambut Malik penuh percaya diri.
"Kalian berbohong di belakangku" Ucap Aluna dengan wajah marah.
Sontak semua terdiam dan tidak menyangka Aluna akan bersikap sepet itu.
Aluna memeluk Gadis dan Mutia bersamaan karena merek berdiri berdekatan. Aluna kembali menangis terisak.
"Terimakasih kalian sudah membuat aku merasa lega. Dari tadi aku sangat merasa tegang dan merasa bersalah" Ucap Aluna.
Semua dapat kembali bernafas lega karena sebelumnya mereka menduga kalau Aluna akan marah karena telah dibohongi seperti ini.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG