Kita Yang Berbeda

Kita Yang Berbeda
Curiga


__ADS_3

"Jadi ini sebabnya kamu gak enak badan?" tanya Malik sambil tetap tersenyum penuh bahagia.


Aluna menganggukkan kepalanya dengan penuh bahagia.


"Iya Mas dan tadi saat ke Apotek aku beli ini. Bisa - bisanya Pak Baskoro yang tau duluan kalau aku hamil. Dia suruh aku pulang dan singgah ke Apotek untuk beli alat tes kehamilan" jawab Aluna.


"Pak Baskoro emang hebat ngalahin dokter" sambut Malik.


"Itu karena dia lebih berpengalaman" potong Bu Maysaroh.


Bu Maysaroh berjalan menuju pintu dan meninggalkan Aluna dan Malik berdua saja di kamar menikmati kabar bahagia dalam rumah tangga mereka.


Malik mengecup lembut kening Aluna.


"Nanti malam kita ke dokter ya, lebih baik kita segera memeriksakannya sedari awal. Agar tumbuh kembangnya bisa kita perhatikan sejak dini" ucap Malik sambil mengelus lembut perut Aluna.


"Iya Mas" jawab Aluna.


"Tapi.. " ujar Malik.


"Tapi apa Mas?" tanya Aluna bingung.


"Ini bukan hasil di hotel kan?" tanya Malik khawatir.


Aluna tersenyum mendengar pertanyaan Malik dengan wajah panik.


"Ya memang hasil di Hotel" jawab Aluna.


"Ya Allah, semoga anak kita jadi anak soleh atau solehah" doa Malik.


"Ini anak kita hasil di Hotel Bali sayang. Saat itu aku sedang dimasa subur. Yang di Hotel kemarin kan baru berlalu beberapa hari yang lalu. Jadi bisa dipastikan bukan disana terjadinya" jawab Aluna.


Malik menarik nafas lega. Entah mengapa perasaannya tidak tenang kalau seandainya hasil di Hotel kemarin membuahkan hasil.


Saat itu Malik dibawah alam kesadaran sedang berfantasi se*sua*. Walau mereka melakukannya secara halal tapi Malik tidak tenang.


"Syukurlah" sambut Malik.


"Kamu mandi dulu Mas, sebentar lagi adzan maghrib. Aku sudah siapkan pakaian ganti kamu. Kita rada cepetan ya perginya. Usai shalat Isya langsung berangkat" ajak Aluna.


"Oke sayang" sambut Malik.


***


Kini Aluna dan Malik sudah berada di salah satu praktek dokter kandungan kenalan Dimas. Dokter kandungan ini adalah teman Dimas dulu waktu kuliah kedokteran.


"Masih punya hubungan kekeluargaan dengan Dokter Dimas?" tanya Dokter dengan ramah.


"Iya Dok, Mas Dimas itu sepupu saya. Saya lama tinggal di rumah Mas Dimas waktu kuliah sampai menikah" jawab Aluna.


"Oh keluarga dekat, pantas Dimas langsung hubungi saya tadi" sambut Dokter tersebut.


"Jadi ada yang bisa saya bantu?" tanya Dokter perempuan itu dengan ramah.

__ADS_1


"Tadi sore saya periksa pakai alat tes kehamilan dan hasilnya positif Dok, saya sudah telat seminggu datang bulannya" jawab Aluna.


"Kalau begitu mari kita periksa ya. Silahkan naik ke atas tempat tidur" perintah Dokter.


Malik membantu Aluna naik ke atas tempat tidur. Aluna langsung menjalani pemeriksaan.


"Alhamdulillah kamu memang hamil. Selamat ya atas kehamilan anak pertamanya" ucap Dokter.


"Alhamdulillah" sambut Aluna dan Malik penuh bahagia.


"Ada keluhan?" tanya Dokter.


"Tadi siang sehabis makan siang saya muntah hingga semua makanan yang saya makan habis keluar. Sore tadi saya juga makan mie rebus setelah makan semua makanan saya keluarkan kembali" jawab Aluna.


"Baiklah kalau begitu saya kasih resep obat mual ya. Tapi mualnya cuma setelah makan saja ya? Kalau lainnya tidak?" tanya Dokter.


"Tidak Dok" jawab Aluna.


"Kalau penciuman?" tanya Dokter.


"Biasa saja. Kalau sesudah makan saja yang langsung mual. Padahal sebelum makan rasanya biasa - biasa saja. Saya cepat merasa lapar dan akhir - akhir ini suka merasa kelelahan dan ngantuk berat" ungkap Aluna.


"Itu hal wajar untuk calon ibu muda. Tidak apa, yang sabar dinikmati aja. Indah kok semuanya apalagi nanti setelah anaknya lahir. Lupa semua kesusahan yang sudah kita lewati" sambut Dokter.


"Iya Dokter" jawab Aluna.


Dokter kembali ke meja kerjanya dan menuliskan resep obat dan vitamin untuk Aluna.


"Ini resepnya dan jangan lupa datang lagi bulan depan untuk pemeriksaan selanjutnya" pesan Dokter dengan ramah.


"Nanti obat yang ini diminum sebelum makan ya. Ini mencegah rasa mual setelah makan" ujar Dokter.


"Baik Dok, kalau begitu kami pamit" sahut Aluna.


Malik dan Aluna segera menebus resep obat baru setelah itu mereka singgah ke salah satu Restoran untuk makan malam.


Kini Aluna dan Malik sudah berada di dalam restoran dan sedang sibuk memesan makanan. Aluna sudah meminum obat mualnya sebelum makan.


"Mbak saya mau pesan nasi pakai sup kepiting dan steak" pinta Aluna.


Malik tersenyum melihat pilihan istrinya itu. Sepertinya memang benar saat ini Aluna sedang kelaparan.


"Minumnya Bu?" tanya pelayan.


"Jus jeruk dan jus kuini" jawab Aluna.


"Baik tunggu sebentar ya Bu, biar kamu siapkan" ujar Pelayan.


Pelayan hendak berbalik badan tapi Aluna mencegahnya.


"Mbak.. Mbak belum selesai pesannya" panggil Aluna.


"Eh mau pesan lagi Bu?" tanya Pelayan.

__ADS_1


"Iya donk, suami saya kan belum pesan" jawab Aluna


"Lho" sahut wanita itu bingung.


"Yang saya pesan tadi itu untuk saya. Suami saya pesan seafood asam manis, cah kangkung dan nasinya ya Mbak" pinta Aluna.


"I.. iya Bu" jawab wanita itu.


Malik tertawa kecil melihat reaksi Sang Pelayan.


"Sudah semua Bu?" tanya wanita itu.


"Sudah cukup itu dulu nanti kalau ada yang lain saya pesan lagi" jawab Aluna.


"Baik kalau begitu sama permisi" ujar wanita itu.


Sang Pelayan berbalik badan lalu pergi meninggalkan Aluna dan Malik.


"Dia pasti heran sayang, badan sekecil kamu ternyata makannya banyak" ujar Malik.


"Biarin aja, emang aku pikiran. Aku udah laper banget" sambut Aluna cuek.


Sikap Aluna seperti ini sangat lucu sekali, seperti anak - anak. Mungkin bawaan hormon kehamilan makanya Aluna bersikap seperti ini.


Biasanya dia selalu bersikap dewasa dan selalu menjaga tingkah lakunya. Tapi entah kemana terbangnya semua kedewasaan Aluna malam ini.


"Iya sayang apapun yang kamu mau pesan aja. Aku mau kamu dan anak kita tumbuh sehat hingga di lahir kedunia ini" ujar Malik.


"Nanti kalau sudah sampai rumah jangan lupa Mas kabari Ibu di kampung. Ibu pasti senang banget sebentar lagi penerus Abraham akan lahir" sambut Aluna senang.


"Aku pasti kabari Ibu karena dia juga sudah sangat menunggu kabar gembira ini" jawab Malik dengan senyuman penuh kebahagiaan.


Pesanan Malik dan Aluna sudah datang. Mereka langsung menyantapnya dengan semangat. Terlebih Aluna yang sudah sangat lapar sedari tadi.


Mudah - mudahan setelah makan dia tidak mual dan muntah lagi. Tapi apapun yang terjadi Aluna ikhlas yang penting dia tetap bisa makan. Walau nanti harus dimuntahkan tapi setidaknya ada yang terserah tubuh untuk perkembangan janin yang ada di dalam rahimnya.


Usai makan malam Malik menunggu reaksi Aluna. Tapi sepertinya obat dari Dokter sangat ampuh. Buktinya Aluna tenang saja setelah makan dua porsi penuh plus icip - icip makanan Malik.


Malik sampai tertawa kecil sambil geleng - geleng kepala melihat nafs* makan istrinya.


"Sudah bisa kita pulang?" tanya Malik.


"Sudah Mas, ayo" jawab Aluna semangat.


Malik menggenggam tangan Aluna dan mereka berjalan beriringan.


"Eeeh Mas lihat siapa disana?" Aluna menunjuk ke arah meja yang tak jauh dari tempat mereka makan.


Malik melirik ke arah yang ditunjuk Aluna. Dia melihat sepasang temannya ada di sana.


"Mutia... Mas Bian?" jawab Malik.


.

__ADS_1


.


BERSAMBUNG


__ADS_2