Kita Yang Berbeda

Kita Yang Berbeda
Bercerita Masa Lalu


__ADS_3

Sepanjang perjalanan Aluna dengan setia menemani Malik menyetir. Rasa kantuknya hilang begitu saja karena dia sangat bersemangat melakukan perjalanan bersama Malik malam ini.


Dengan cekatan Aluna mengurus semua kebutuhan Malik di mobil. Aluna memberikan minuman dan makanan ringan untuk Malik agar dia tidak mengantuk saat mengendarai mobil.


"Nanti setelah kita menikah hal ini akan semakin sering kita lakukan. Apalagi nanti kita sudah punya anak dan kita akan pulang ke rumah keluarga kamu untuk membawa anak - anak kita" Ujar Malik.


Sontak wajah Aluna memerah membayangkan indahnya apa yang baru saja Malik katakan. Malik sedang membayangkan masa depan mereka.


"Apakah kamu bahagia?" Tanya Malik.


Aluna menganggukkan kepalanya dan tersenyum malu - malu.


"Kalau boleh aku tau mengapa kamu bercerai dengan suami kamu dulu?" Tanya Malik penasaran.


"Jangan bicarakan tentang masa laluku itu Lik" Elak Aluna.


"Aku hanya ingin belajar dari kegagalan rumah tangga kamu dulu dan aku tidak mau kita juga mengalami hal yang sama. Bolehkan aku bertanya seperti ini?" Tanya Malik.


Aluna menarik nafas panjang.


"Nanti saja ya aku cerita setelah kita menikah" Jawab Aluna.


"Apakah sesulit itu bercerita kepadaku?" Tanya Malik.


"Aku rasa saat ini bukan waktu yang tepat. Nanti aku akan cerita semuanya pada kamu" Jawab Aluna.


"Baiklah kalau memang itu mau kamu" Sambut Malik.


Tanpa terasa waktu berlalu Malik dan Aluna kembali mengulang nostalgia mereka.


"Aku jadi ingat dulu waktu mengejar kamu ke kampung. Di dalam bus rasanya aku sudah tidak sabar sekali ingin segera sampai dan bertemu kamu" Ungkap Malik.


"Tapi sayang paginya begitu sampai di kantor kamu malah kamu tolak. Padahal aku sudah jauh - jauh datang dari Kota" Sambung Malik.


"Ya saat itu kan hubungan kita masih terlarang" Jawab Aluna.

__ADS_1


"Aku sangat bersyukur sekali Al kini hubungan kita kembali seperti ini. Bahkan tingkatannya sudah lebih serius. Terus berdoa ya semoga rencana suci kita berjalan lancar. Dan kali ini tidak ada lagi penghalang kita" Pinta Malik.


"Aamiin.. Eh kamu belum cerita gimana tadi tanggapan keluarga kamu waktu kamu kabari perihal rencana kita ini?" Tanya Aluna penasaran.


"Ibu sangat terkejut aku bisa berhubungan dengan kamu lagi. Dan Ibu menyambut niat aku dengan baik. Kamu kan kenal siapa Ibu. Selain kamu, Ibu lah yang paling mengenal aku. Dia tau apa yang aku mau dan butuhkan bahkan tanpa aku minta sekalipun. Selama ini Ibu mengalah karena Bapak. Sebagai istri yang baik, Ibu tidak pernah melawan perkataan Bapak" Jawab Malik.


"Apa kamu cerita pada Ibu tentang statusku?" Tanya Aluna hati - hati.


"Tentu saja aku cerita. Ibu kan tau kalau kamu sudah menikah. Dan saat aku ungkapkan niat baikku pasti Ibu bertanya tentang status kamu. Dan aku sudah cerita semuanya. Ibu hanya berpesan, asalkan aku bahagia dia sudah sangat senang sekali" Ungkap Malik.


Aluna menarik nafas lega. Satu masalah mereka sudah bisa dilewati dan diselesaikan dengan sangat baik. Tinggal bagaimana nanti dia akan meminta restu Mamanya.


Sebenarnya Aluna sangat yakin Mamanya juga akan berkata hal yang sama, sama seperti Ibunya Malik. Hanya saja sebagai anak yang baik dia harus meminta izin Mamanya bersama Malik.


"Kata Ibu nanti setelah pulang kampung dari rumah keluarga kamu. Aku disuruh pulang bersama kamu" Ujar Malik.


Aluna menatap Malik dengan ragu.


"Jangan khawatir, sejak aku masuk Islam banyak yang berubah di rumah kami. Semua keluarga menghormati pilihan hidupku dan mereka sangat tau mana batasan - batasan yang tidak boleh aku lakukan" Sambung Malik.


"Bagaimana Bapak bisa menerima keputusan kamu tiga tahun yang lalu?" Tanya Aluna penasaran.


"Awalnya semua berat Al. Bapak sangat marah besar bahkan mengancam tidak akan menganggap aku sebagai anaknya lagi. Tapi aku tidak perduli, keputusanku sudah bulat. Bahkan aku sudah masuk Islam lebih dulu baru aku cerita pada mereka" Jawab Malik.


"Kamu kan tau bagaimana kerasnya Bapak. Dia menamparku beberapa kali sangkin marah dan kecewanya padaku. Yah hanya aku satu - satunya anak Bapak laki - laki tapi aku malah mengecawakan hatinya. Aku tau aku salah dalam hal itu tapi aku sangat yakin keputusanku benar dan tidak ada seorangpun yang bisa menggoyahkan nya" Ungkap Malik.


"Walau Bapak marah aku tetap datang dan pulang ke rumah. Meski Bapak mengusirku aku terus datang. Hingga akhirnya Bapak sakit dan aku pulang. Aku bawa Bapak berobat ke Kota dan aku rawat dia dengan baik. Aku tunjukkan kelembutan dan kasih sayang Islam kepadanya. Perlahan - lahan Bapak bisa melihatnya dan menerimaku. Tapi sayang hingga akhir hidupnya aku tidak bisa mengajak Bapak ikut bersamaku" Lanjut Malik dengan perasaan sedih.


Aluna mengerti apa yang Malik rasakan.


"Mungkin semua ini sudah jalan dari Allah Lik. Walau mereka berbeda tetaplah doakan karena kamu adalah anaknya. Serahkan semua pada Allah" Jawab Aluna.


"Jadi mau kan datang ke kampungku?" Tanya Malik.


Aluna tersenyum dan menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Regina gimana kabarnya?" Tanya Aluna yang tiba - tiba teringat sama adiknya Malik.


"Baik, dia sekarang kuliah di Kota A. Sudah semakin dewasa" Jawab Malik.


Aluna tersenyum cerah mengingat adiknya Malik itu. Dulu dia dan Regina sempat akrab dan sering saling telepon. Bahkan saat Aluna mau menjaga Regina sempat menghubunginya dan menangis.


Dia tidak rela Aluna menikah dengan orang lain. Tapi Regina juga tau tidak mungkin Aluna dan Malik menikah saat itu.


"Sebelum aku menikah dulu Regina sempat menghubungi. Dia menangis dan meminta aku untuk menolak pernikahanku. Katanya dia kasihan melihat kamu" Ungkap Aluna.


Malik menatap tak percaya kepada Aluna.


"Oh ya? Gina melakukan itu?" Tanya Malik terkejut.


"Iya tapi aku jelaskan padanya kalau saat itu kita tidak memang tidak bisa bersatu. Dan itu adalah satu - satunya jalan untuk kita berpisah. Akhirnya dia bisa menerimanya dan sejak aku menikah kami tidak pernah berhubungan lagi" Jawab Aluna.


"Ya karena kamu mengganti nomor ponsel kamu" Sambut Malik.


"Aku harus meninggalkan masa laluku saat itu Lik. Keputusan yang sangat berat, aku hidup dan tinggal jauh dari keluarga. Ikut suami yang tidak bertanggung jawab. Akh... sudahlah, akhirnya nanti aku jadi cerita sama kamu padahal kan aku sudah bilang kalau waktunya belum tepat" Elak Aluna.


"Kamu sendiri yang nyinggung ke situ" Timpa Malik.


"Iya.. iya aku yang salah" Sambut Aluna.


"Kalau Gina tau rencana kita ini dia pasti akan sangat senang sekali. Selain Ibu, Gina adalah orang kedua di keluarga yang mendukung keputusanku pindah agama. Sejak dulu dia memang selalu mendukung dan dekat denganku" Ungkap Malik.


Aluna tersenyum manis mendengarnya.


"Salam buat Gina ya. Nanti kapan - kapan aku akan telepon dia" Sambut Aluna.


"Wah pasti senang banget dia. Apalagi tau kalau kamu akan jadi Kakak iparnya. Impiannya terkabul" Sahut Malik sambil tersenyum bahagian.


Aluna juga tersenyum bahagia. Kini kebahagiaan sudah berpihak pada Aluna dan Malik. Malam panjang ini sama panjangnya dengan perjalanan mereka. Tapi tidak terasa karena mereka lalui bersama dengan kebahagiaan.


.

__ADS_1


.


BERSAMBUNG


__ADS_2