Kita Yang Berbeda

Kita Yang Berbeda
Lamaran Tiba - tiba


__ADS_3

"Yuk kita samperin" ajak Aluna.


"Jangan yank nanti jadi ganggu mereka" tahan Malik.


"Nggak, kabar gembira harusnya diceritakan bukan disembunyikan" protes Aluna.


"Mungkin mereka sedang ada urusan di tempat ini" sambut Malik


"Urusan apa sampai malam - malam begini. Aku bisa lihat gelagat Mutia yang malu - malu meong dan wajah Mas Bian yang terus menatap mata Mutia" ujar Aluna.


Malik masih menahan dan menggenggam tangan Aluna.


"Udah kita samperin aja, cuma menyapa tidak akan mengganggu apalagi ikutan makan. Kita kan udah makan tadi" ajak Aluna penuh semangat.


"Ya sudah terserah kamu deh" jawab Malik pasrah mengalah pada kekuatan seorang wanita hamil.


Aluna menarik tangan Malik dan berjalan sampai ke meja dua temannya.


"Hai ketemu kalian disini, ketepatan kami juga baru selesai makan" sapa Aluna ramah.


Sontak wajah Mutia dan Bian terkejut melihat kehadiran Aluna dan Malik di sini.


"Lu.. Luna" ujar Mutia.


Aluna tersenyum penuh arti kepada Mutia.


"Baru pulang kerja? Tumben makan malam bareng, baru selesai dari acara kantor ya?" selidik Aluna.


"Sayaaang" sapa Malik.


"Sayang ya Mas kita udah makan, kalau gak kan bisa satu meja bareng mereka. Tapi gak enak juga sih gangguin mereka. Mungkin lagi mau pacaran. Kita pulang aja yuk, mudah - mudahan sebentar lagi ada kabar gembira" ujar Aluna.


Aluna pergi meninggalkan Mutia dah Bian seperti orang yang sedang ngambek. Mutia dan Bian tidak sempat mengatakan apapun untuk membela diri. Malik jadi merasa tidak enak hati pada kedua teman mereka.


"Maaf Mas Bian, Mutia atas sikap istriku. Maklumin aja ya soalnya lagi berbadan dua. Udah dulu ya lanjutin makannya aku harus menyusul Aluna. Nanti dia ngambeknya panjang" ujar Malik sambil mengangkat kedua tangannya ke dada meminta maaf.

__ADS_1


Malik juga segera berlalu dan menyusul Aluna dari belakang sambil setengah berlalu. Mutia dan Bian masih shock karena seperti sedang tertangkap basah melakukan tindakan kejahatan.


"Eh tadi Malik bilang apa Pak?" tanya Mutia.


"Aluna sedang berbadan dua" jawab Bian.


"Maksudnya hamil kan? Aluna hamil?" tanya Mutia tidak percaya.


"Ya Allah.. kabar gembira tuh" lanjut Mutia senang.


Bian menatap wajah Mutia yang terlihat senang karena baru mendengar kabar gembira kalau Aluna hamil.


"Mut, kamu mau gak kalau aku ajak nikah?" tanya Bian.


Sontak Mutia terdiam terpaku mendengar perkataan Bian.


"Bapak ajak saya nikah, gitu aja?" tanya Mutia.


Bian juga terdiam dan tersadar kalau dia selancang itu mengajak seorang gadis menikah tanpa persiapan yang matang.


Mutia menundukkan wajahnya karena kelihatannya Bian benar - benar serius.


"Ba.. bapak serius?" tanya Mutia.


"Serius Mut, tapi kalau kamu setuju boleh aku minta tambahan syarat?" tanya Bian.


"Bapak yang ngelamar saya tapi Bapak yang kasih tambahan syarat? Saya kok ngerasa bingung ya?" tanya Mutia.


Mutia menatap wajah Bian. Untuk sesaat mereka saling tatap.


"Iya, syarat tambahannya aku ingin kamu mau memakai jilbab. Nanti kalau kita menikah seluruh tanggung jawab orang tua kamu akan jatuh kepadaku. Kalau istriku tidak memakai jilbab bagaimana aku membela kamu di hadapan Allah?" jawab Bian.


Seketika tubuh Mutia merinding karena mendengar jawaban Bian. Sampai segitunya Bian memikirkannya. Itu artinya Bian memang benar - benar ingin mengajaknya menikah dan benar - benar ingin bertanggung jawab atas dirinya kepada Allah dan orang tuanya.


Pria seperti apa lagi yang ingin Mutia cari. Dia sudah lama mengenal Bian. Mutia sangat tau dan yakin Bian adalah pria yang baik. Malah dia dulu sempat menjodohkan Bian dengan Aluna sahabatnya.

__ADS_1


Itu Mutia lakukan karena memang melihat Bian profil pria dan suami yang baik nanti setelah menikah. Sekarang Bian mengajak dia menikah dengan serius apakah Mutia harus berpikir lagi?


"Ta.. tapi kita tidak sedang dalam ikatan hati yang saling mencintai Pak. Aku tau Bapak masih patah hati karena di tinggal Aluna menikah. Aku juga masih belum punya perasaan apapun kepada Bapak?" tanya Mutia.


"Saat aku mengikhlaskan Aluna menikah dengan Malik semua kisahku dengan Aluna sudah selesai. Dia memang pantas menikah dengan Malik mengingat perjuangan cinta mereka selama sembilan tahun. Jadi jangan kamu sangsi kan hatiku masih terjerat cinta pada Aluna" jawab Bian.


Bian menarik nafas panjang.


"Kita memang belum saling mencintai. Tapi kalau kita memiliki visi misi pernikahan yang sama yaitu untuk mencari ridho Allah insyaallah semua bisa kita jalani bersama Mut. Asalkan kita sama - sama berjanji pada hati kita masing-masing. Apapun yang akan kita hadapi dalam rumah tangga kita jangan pernah berniat untuk berpisah. Jangan ada kata bercerai. Aku jalani serius tugas dan fungsi ku sebagai suami begitu juga kamu. Tujuan kita bahagia dunia dan akhirat, bagaimana?" tanya Bian.


Mutia menatap manik mata Bian. Mencoba menyelami perasaan Bian saat ini.


Gila.. apa memang tipe Pak Bian seperti ini ya, suka nembak dadakan. Dulu Aluna juga cerita Pak Bian ngelamar dia dadakan, di mobil lagi. Kalau aku masih untung di tempat seperti ini. Walau memang kebersamaan kami ini karena mobilku lagi dipinjam adikku. Dan aku melihat Pak Bian tadi mau pulang ketepatan aku juga mau pulang makanya aku numpang sama dia. Tapi mengapa jadi begini ujungnya? Dapat ilham dari mana Pak Bian tiba - tiba saja muncul ide untuk mengajakku menikah. Walau memang sebagai seorang laki - laki Pak Bian ganteng, baik dan bertanggung jawab. Jabatannya juga bagus pasti banyak cewek yang mau diajaknya menikah. Apakah aku harus meminta waktu untuk berpikir? tanya Mutia dalam hati.


"Ma.. maaf Pak, ini terlalu tiba - tiba bagiku dan aku tidak punya persiapan ataupun jawaban untuk saat ini. Bolehlah saya meminta waktu untuk berpikir?" pinta Mutia.


"Silahkan Mut, kamu butuh waktu berapa lama? Tapi jangan lama - lama ya Mut, waktu terus berjalan, usia kita juga semakin bertambah" jawab Bian.


"Tapi ada satu prinsip yang penting dalam hubungan saya dengan mantan - mantan saya sebelumnya Pak. Saya gak suka hubungan jarak jauh atau LDR. Nanti kalau Bapak pindah tugas lagi ke daerah gimana?" tanya Mutia.


Bian tersenyum tipis, dia memang mengetahui Mutia tidak suka hubungan jarak jauh. Terakhir dia putus dengan pacarnya karena pacarnya pindah kerja ke luar kota.


"Saya bukan ajak kamu pacaran. Saya ajak kamu menikah. Kalau kamu sudah menjadi istri saya itu artinya saya sudah siap untuk memenuhi segala kebutuhan kamu. Apa jabatan dan gaji saya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup kamu Mut? Kalau saya pindah ke luar kota ya kamu kan bisa ikut saya. Kamu bisa resign dan hanya menjadi ratu di rumah kita" jawab Bian.


Ratu? A.. aku harus bahagia atau bersedih ya. Maksud Pak Bian aku jadi ibu rumah tangga? Aduh aku belum memikirkan hal itu. Batin Mutia.


"Saya pikir - pikir dulu ya Pak, selama ini begitu saya tamat kuliah saya langsung bekerja Pak dan tidak pernah menganggur. Saya sudah terbiasa bekerja di kantor dan saya kurang pintar atau tidak bisa melakukan pekerjaan rumah seperti Aluna yang pintar masak dan lainnya. Apakah Bapak bisa menerima keadaan saya yang begini?" tanya Mutia jujur.


"InsyaAllah saya siap asal kamu terus mau memperbaiki diri. Ya sudah pikirkan baik - baik ya. Saya sabar kok menunggu jawaban kamu" jawab Bian.


.


.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2