Kita Yang Berbeda

Kita Yang Berbeda
Kangen Masakan Kamu


__ADS_3

Esok harinya pagi - pagi sekali setelah shalat subuh tiba - tiba ponsel Aluna bergetar tanda pesan masuk. Aluna meraih ponselnya dan membuka pesan yang ternyata dari Malik.


Malik


Assalamu'alaikum Al, aku kangen masakan kamu. Nanti aku datang siang, bolehkan makan di rumah kamu?


Aluna tersenyum membaca pesan Malik. Dengan cepat dia langsung membalas pesan pria yang sebentar lagi akan melamarnya kepada orang tuanya.


Aluna


Wa'alaiakumsalam. Kamu mau dimasakin apa?


Malik


Apa aja yang penting masakan kamu.


Aluna


Baiklah, kalau begitu temani aku berbelanja.


Malik


Wah boleh juga, kalau begitu sebentar lagi aku akan langsung ke rumah kamu.


Malik langsung meletakkan ponselnya di atas nakas kamarnya lalu mengganti pakaiannya dan menyalakan mobilnya. Tak lama kemudian dia langsung berangkat menuju rumah Aluna.


Sekitar jam setengah tujuh Malik sudah sampai di depan rumah Aluna. Said heran melihat Aluna sudah rapi pagi hari di hari libur.


"Mau kemana Kak?" Tanya Said.


"Mau belanja ke pasar" Jawab Aluna.


"Kok gak bilang aku. Aku belum siap - siap lho" Sambut Said yang terkejut karena Aluna tidak ada berpesan padanya kalau pagi ini mereka akan berbelanja ke pasar.


"Kakak gak pergi sama kamu" Ujar Aluna.


"Jadi sama siapa?" Tanya Said penasaran.


"Tuh orangnya sudah sampai" Aluna melirik ke arah depan.


Mobil Malik baru aja sampai.

__ADS_1


"Gila pagi amat udah sampai ke rumah orang, padahal tadi malam juga baru aja ketemu. Masih tujuh jam udah kangen berat, dahsyat banget ya cinta itu" Sindir Malik.


Aluna hanya tersenyum manis dan penuh arti.


"Udah ya, Kakak mau ke pasar dulu sama Malik" Ujar Aluna dan berlalu pergi dari hadapan Said.


Malik terlihat segar dengan pakaian santai. Celana training abu - abu muda dan baju kaos warna hitam. Begitu juga Aluna yang hanya memakai celana joger bahan katun berwarna navy dan baju kaos lengan panjang berwarna abu - abu, ditutup dengan jilbab senada.


"Udah siap?" Tanya Malik sambil tersenyum menyambut kedatangan Aluna.


"Udah, yuk" Sambut Aluna.


Aluna dan Malik naik dan masuk ke dalam mobil Malik lalu mereka segera menuju pasar terdekat rumah Aluna. Sesampainya di pasar dengan penuh kesabaran Malik menemani Aluna membeli bahan - bahan masakan.


Hampir satu jam mereka berbelanja. Malik masih dengan sabar berjalan disamping Aluna sambil membawa banyak bungkusan yang berisikan belanjaan mereka.


"Sarapan di sana yuk Lik, lontong pecalnya terkenal enak lho" Ucap Aluna menunjuk ke arah gerobak penjual pecal di depan pasar.


"Boleh tapi letakin barang - barang di mobil dulu ya" sambut Malik.


Setelah semua barang - barang disimpan di bagasi mobil barulah Aluna dan Malik berjalan menuju warung pecal.


Setelah selesai sarapan mereka kembali ke rumah Malik dan disambut hangat oleh Said. Said membantu Malik untuk mengangkat barang - barang belanjaan Aluna ke dapur.


"Said, Mas akan melamar Aluna secepatnya ke keluarga di kampung. Tapi sebelumnya Mas izin dulu sama kamu karena kamu kan wali nikahnya Aluna" Ucap Malik.


Said merasa terharu karena walaupun umur Said jauh dibawah Malik tapi Malik begitu menghormati posisi Said.


"Alhamdulillah Mas. Aku sangat senang mendengarnya dan aku akan sangat mendukung sekali niat baik Mas Malik" Sambut Said.


"Kak Luan pernah gagal sekali dan aku juga merasa bersalah serta bertanggung jawab selaku wali nikahnya. Bagiku saat ini yang terpenting adalah kebahagiaan Kak Luna. Dulu keluarga kami menentang hubungan Mas dengan Kak Luna karena beda keyakinan. Kini tidak ada lagi penghalang bagi kalian. Tolong Mas bahagiakan Kak Luna. Dia adalah kebanggan keluarga. Kak Luna pernah merasakan pahitnya berumah tangga. Dua tahun dia jauh dari keluarga dan dua tahun itu dia memendam kesedihannya sendiri" Ungkap Said dengan wajah sedih.


"InsyaAllah Said aku akan membahagiakan Aluna karena kebahagiaan Aluna adalah kebahagiaanku" Sambut Malik.


"Aaah aku lega sekali Mas akhirnya kamulah nanti yang akan menikah dengan Kak Luna. Beberapa bulan yang lalu Kak Luna cerita padaku kalau dia dan Mas satu kantor. Saat itu aku sempat sangat khawatir kalian akan menjalani hubungan terlarang seperti dulu tapi Kak Luna mengatakan padaku kalau Mas Malik sudah muallaf. Aku terkejut dan berkata pada Kak Luna. Kalau sudah begitu sudah tidak ada penghalang bagi kalian. Tapi Kak Luna tidak mau karena status dia sekarang yang sudah menjanda" Ungkap Said.


"Itulah selama ini yang menjadi penghalang dia mau kembali padaku. Seandainya sejak awal dia katakan padaku kalau dia sudah sendiri lagi pasti hal ini akan terjadi lebih cepat. Tapi Aluna memang tidak berubah, aku mengerti keputusannya itu. Walau sedikit lebih lama tapi aku bersyukur semua terbongkar sebelum terlambat. Untung saja aku bisa menyelesaikannya dengan Mas Bian dan dia mau mengalah demi kebahagiaan Aluna" Sambut Malik.


"Aku yakin Mama pasti sangat terkejut jika mendengar berita ini" Ujar Said.


Malik tersenyum tipis mendengar ucapan Said.

__ADS_1


"Aku akan memanggil Mama untuk datang ke sini jadi Mas Malik bisa bertemu dan meminta izin Mama" Sambung Said.


"Tidak perlu Said, biar kami saja yang ke sana. Kasihan Tante jadi capek datang ke sini" Cegah Malik.


"Baiklah Mas kalau begitu" Ujar Said.


"Tapi bagaimana Mas bisa masuk Islam. Aku sangat penasaran sekali?" Tanya Said.


Malik tersenyum sembari menarik nafas panjang.


"Panjang ceritanya Said. Intinya tiga tahun yang lalu aku sangat patah hati karena Aluna menikah. Hampir setiap malam aku bermimpi melihat dan mendengar Aluna memakai jilbab dan mengaji. Padahal saat itu setahu aku Aluna belum memakai jilbab" Jawab Malik.


"Kak Luna memakai jilbab tepat saat dia akan menikah Mas" Sambut Said.


"Mungkin kontak batin kali ya, aku ingat sekali mimpiku yang pertama tepat di malam sebelum Aluna ijab kabul. Aku mendapat kabar dari Mutia kalau Aluna akan menikah dengan pria yang di jodohkan keluarga. Saat itu sangat galau sekali tapi tidak bisa berbuat apapun untuk mencegahnya" Ungkap Malik.


"Perjuangan cinta kalian menang sangat hebat sekali Mas" Puji Said.


Malik kembali tersenyum tipis. Tanpa terasa waktu berlalu begitu saja setelah mereka mengobrol panjang. Aluna datang dengan tampilan memakai apron masak.


"Lik, Said makan yuk. Apa kalian tidak lapar setelah ngobrol panjang lebar?" Tanya Aluna.


"Laper donk" Sambut Said.


"Yuk Mas kita makan, sebelum Kak Luna marah" Bisik Said.


Malik tertawa kecil mendengar ucapan calon adik iparnya itu. Mereka berjalan menuju ruangan makan. Disana ternyata sudah tersaji beberapa menu makanan yang dimasak Aluna dengan cepat.


Mereka duduk bertiga di depan meja makan dan mulai menikmati hidangan makan siang. Aluna memasak ayam gulai, lalapan dan sambel terasi.


Malik mulai makan dengan sangat antusian. Masakan ini memang sudah lama sekali rasanya dia rindukan. Begitu makanan sampai di mulut Malik, dia tidak bisa berkata - kata lagi.


"Gimana Mas, enak kan?" Tanya Said.


Malik melirii wajah Aluna yang sedang tersipu malu. Rasa rindu pada masakan Aluna terbayar sudah. Mulai saat ini dan dimasa yang akan datang dia pasti akan selalu dimanjakan Aluna dengan masakan - masakannya.


"Enak, enak sekali. Aku udah kangen banget makan masakan kamu Al" Puji Malik.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2